Mengenalkan Bahasa Daerah Pada Anak

Bagi saya Bahasa Jawa Banyumas adalah bahasa daerah sekaligus bahasa ibu. Saya mengenal Bahasa Banyumas dari keluarga saya. Bahasa Banyumas adalah Bahasa Jawa dengan dialek ngapak-ngapak. Saya biasa menggunakan Bahasa Banyumas dalam percakapan sehari-hari makanya saya pun lancar jaya dalam berbahasa Banyumas

banner-giveaway-aku-cinta-bahasa-daerah-ala-niar-ningrum

Bahasa Banyumas memang terkenal dengan dialek ‘a’ dan ‘k’. Jika ada kata yang berakhiran a maka tetap dibaca a bukan o seperti Bahasa Jawa dialek Jogya dan Solo. Begitu juga jika ada kata berakhir dengan huruf k maka akan dibaca dengan jelas k nya tidak seperti Bahasa Jawa Jogya maupun Solo yang dibaca samar huruf k nya.

Contoh:

lunga dalam Bahasa Banyumas dibaca “lunga” sedangkan dalam Bahasa Jawa Jogya dan Solo dibaca “lungo”

tindak dalam Bahasa Banyumas dibaca tindak dengan lafal k yang jelas sedangkan dalam Bahasa Jogya dan Solo dibaca tinda’ dengan lafal k yang samar.

Sejak menikah saya diboyong suami ke kota Pempek, Palembang. Di kota ini saya mulai mengenal bahasa daerah selain Bahasa Banyumas. Meskipunย  tidak lancar-lancar amat tapi bisalah untuk percakapan sehari-hari dengan tetangga ataupun teman.

Bisa mengenal dan menguasai bahasa daerah tempat dimana kita tinggal banyak manfaatnya lho, selain untuk mengakrabkan diri dengan masyarakat asli, ada juga manfaat lainnya. Bagi saya bisa berbahasa daerah Palembang, bisa jadi senjata untuk menawar harga ketika belanja di pasar. Hahaha, ini bermanfaat bagi ibu rumahtangga seperti saya. Kalau transaksi di pasar memakai Bahasa Indonesia, dikasih harga lebih tinggi dan susah nawarnya. Lain halnya jika menawar pakai bahasa setempat.

“Yu, berapo sikoknyo?” Saya bertanya berapa harga satu barang sambil menunjuknya

“Tigo ribu!” Ayuk penjual mengatakan harganya tiga ribu.

“Tengah duo be?” Saya menawar seribu limaratus.

“Embek lah ?” Ayuk penjual setuju dengan penawaran saya. Horee, dapat separuh harga.

Kedua anak sayapun lahir di Palembang dan meraka mendapat julukan “Pujakesuma” artinya putra Jawa kelahiran Sumatera. Tinggal di Palembang telah menyebabkan bahasa daerah yang pertamakali mereka kenal adalah Bahasa Palembang bukan Bahasa Jawa. Apa sebab? Saya ingin mereka bisa mengenal bahasa daerah dimana mereka tinggal. Dengan begitu saya berharap anak-anak akan bisa menghargai budaya setempat termasuk bahasa daerahnya. Selain itu anak-anak tentu bisa akrab kala bermain dengan teman-temannya yang merupakan penduduk asli.

Sejak bulan juni 2012, kami sekeluarga pindah ke Jawa, meskipun tetap saja merantau jauh dari kampung halaman. Saat inilah saya mulai mengenalkan lebih intensif Bahasa Jawa pada anak-anak. Caranya tentu dengan sesuatu yang amat disenangi anak-anak yaitu menyanyi. Melalui tembang (lagu) dolanan anak seperti gundul-gundul pacul, menthok-menthok, jaranan, suwe ora jamu, kidang talun dan masih banyak lagi.

Setiap hari, CVD tembang dolanan anak kami putar. selain menyanyi anak-anak bisa juga menari karena tembang itu diiringi tarian. Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, dengan melihat VCD anak-anak bisa menyanyi sekaligus menari Jawa. Upaya kecil untuk bisa melestarikan kebudayaan leluhur.

Ternyata cara ini memang efektif, melalui menyanyi anak-anak tidak merasa sedang belajar Bahasa Jawa. Sekarang anak-anak mulai fasih berbahasa Jawa. Anak-anak memang bisa cepat beradaptasi dengan bahasa baru.

Amat bijak pepatah yang mengatakan “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Sebagai perantau tentu kami harus menghormati dan menjunjung tinggi budaya di tanah rantau. Salah satunya adalah dengan mengenal bahasa daerah setempat. Anak-anak juga harus dibiasakan untuk bisa menghormati budaya masyarakat dimana mereka tinggal termasuk bahasanya sebagai wujud toleransi dan menumbuhkan kecintaan pada bahasa daerah yang beragam di negeri bernama Indonesia.

Tulisan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway

Sumber:
Wikipedia

6 Comment

  1. Cara lain mengajarkan Bahasa Jawa (ngapak) -> setelin Curanmor ๐Ÿ˜€

    1. wakaka, medeni nemen nek curanmor..

      1. hahahahahahahaha…. pencurian sepeda motor…. ehh syalah…curahan perasaan dan humorrr….
        Wkwkwkwkwk…tapi kuwe jan bener-bener efetip mbekayu…nyong karo bojo senenge ora lumrah nek nyetel curanmor, pamaning sing bagian ANTONIIIMMM…
        hahahahahaha…
        Mbakyu bener tuh bahasa daerah memang perlu diajarkan sejak dini ya, saya juga berencana akan menuturkan bahasa daerah dulu ke anak saya nanti…. (minta doanya mbakyu…) ^_^

        1. Walah dalah ujarku pencurian sepeda motor, wkwkwwk jebule, siaran nang ngendi sih kuwe? inyong nembe tau krungu, suwe nang sumatera marakna kuper kiyeh..

  2. Wah anak2nya lahir di palembang neh, keren yaa putra jawa gitu ๐Ÿ˜€

    eeh tapi seru lho anak kecil seperti spons bisa nangkep apah ajah seperti lagu2 keren deh bu ๐Ÿ˜€

    Makasih ya abu sudah ikutan, dicatet PESERTA ๐Ÿ˜€

    1. iya mba niar, terimakasih sudah dicatat

Leave a Reply