Move On, Follow My Passion

diambil dari : Relations Stuff

Sebuah chat di sebuah  media sosial dengan kawan-kawan lama, ternyata menjadi titik balik buatku. Chat yang sejatinya hanya menanyakan kabar semata setelah bertahun-tahun tak bersua, ternyata telah berhasil menohok jantungku. Telah membuatku merasa, oh ternyata aku bukan siapa-siapa sementara mereka telah menjadi seperti yang mereka  impikan.

Apa yang aku rasakan saat itu? Ada ngilu di sudut hati, ada banyak tanya berkecamuk di benakku?.  Benarkah aku telah merugi? Benarkah aku menyia-nyiakan pendidikanku? Benarkah aku orang yang gagal? Benarkah ini? Benarkah itu?. Pertanyaan-pertanyaan itu  telah membuat dadaku bergemuruh dan otakku berpikir keras.

Aku memang memiliki alasan untuk memilih apa yang aku jalani sekarang, sebagai ibu rumahtangga. Meskipun, alasanku  ternilai buruk di mata orang lain. Aku  mengikuti naluriku sebagai seorang ibu yang ingin senantiasa dekat dengan anak-anak. Menyaksikan perkembangan anak-anak hari demi hari tanpa terlewat satu pun karena itu memang membuatku bahagia. Jika aku  bahagia, mengapa pula harus gundah gulana ketika mendapati kenyataan kawan-kawan seperjuangan telah terbang tinggi sementara aku hanya berada di rumah.

Lagi-lagi, aku harus memeras otak dan menjernihkan hati untuk bisa menemukan jawabannya. Hmm, aku bahagia dengan kondisiku saat ini, namun ada yang mengusikku. Cara pandang orang lain terhadap ibu rumahtangga memang kadang negatif, sebagai pengangguran, tukang gosip, tidak produktif dan lain-lain. Cara pandang ini, mau tidak mau mempengaruhiku. Kenyataannya aku di rumah saja, tanpa penghasilan, tanpa pangkat apalagi jabatan formal.

Beruntung, suamiku adalah suporter terbesarku. Darinya aku belajar untuk bisa berdamai dengan kenyataan. Pelan-pelan, aku mulai bisa menetralisir rasa pahit dan menyembuhkan ngilu di hatiku. Aku pun kembali larut dalam duniaku.

Sampai suatu ketika, aku asyik membuka folder dalam PC ini. Awalnya aku hanya ingin mengurangi beban memorinya dengan menghapus file yang bukan milikku. Ceritanya, suamiku membeli PC bekas dari temannya yang pindah tugas ke luar pulau. Yang bersangkutan belum sempat menghapus semua filenya, jadi saat senggang kadang aku menghapus satu persatu file yang ada. Menghapus file itu membosankan, saat itu aku lebih suka Facebookkan.

Sampai suatu saat mataku kemudian tertuju pada sebuah file, yang judulnya “Tutorial Membuat Blog Bagi Pemula”. Dahiku langsung mengerinyit, aku baca satu demi satu kata yang tertulis di sana sembari berusaha memahaminya. Banyak hal belum bisa aku mengerti. Akhirnya, aku praktekkan langsung isi tutorial itu. Penuh dengan trial and error, karena asli, saya gaptek.

Butuh waktu dua bulan hingga aku bisa membuat dan mengoperasikan sebuah blog pribadi. Semua aku lakukan di sela waktu senggangku yang tidak banyak. Akhirnya aku pun mulai menulis. Awal yang berat, untuk memulai kalimat pertama. Entah mengapa, saat itu aku justru semangat menjalaninya, tidak mengenal kata berhenti. Jika mentok maka aku akan jeda sejenak. Untuk kemudian melanjutkan tulisanku lagi. Tak terasa, blog pertamaku Mom Corner, memasuki usia 5 tahun.

Percaya diriku tumbuh, bak cendawan dimusim hujan. Aku pun membuat blog kedua bernama Mata Rembulan. Di blog inilah aku rajin mengikuti lomba blog. Walaupun, aku hanya mampu meraih juara hiburan untuk beberapa kali dan belum pernah sekalipun menjadi pemenang utama. Patah semangatkah diriku? Tidak, semangatku tetap menyala. Akupun mulai memberanikan diri mengirim tulisan ke media cetak. Beberapa tulisanku, berhasil dimuat dan sebagian besar ditolak. Berhenti menuliskah diriku? Tidak juga, aku terus menulis, menulis dan menulis.

Perjalananku terus berlanjut, ini adalah blog ketigaku. Ada asa yang tercurah pada blog ini, bahwa aku akan terus menulis dan membagi apa yang aku punya. Semoga bisa dipetik manfaatnya.

Kini aku menyadari, bahwa aku suka menulis. Bersamanya aku tidak pernah bosan, justru kecanduan.  Dulu, aku ibu rumahtangga tanpa keahlian, kini aku seorang Blogger. Mungkin ada yang bertanya, berapa banyak yang sudah aku dapatkan dengan menjadi seorang blogger. Jika parameternya adalah materi, maka aku jawab belum banyak. Aku katakan belum, karena peluang mendapat materi seperti blogger yang lain terbuka luas. Suatu hari, Insyaalloh aku bisa seperti mereka. Jika parameternya adalah apa yang ada dalam hatiku, maka aku merasa senang. Senang karena aku bisa menuangkan isi pikiranku. Senang karena aku bisa melakukan sesuatu yang aku sukai. Senang karena aku berani menjadi diri sendiri. Senang karena aku tidak takut lagi terhadap persepsi orang padaku. Dan senang karena aku tumbuh dan bergerak maju.

Pertanyaan-pertanyaan yang dulu ada mulai bisa aku jawab satu persatu. Merugikah diriku? Tidak, dulu aku tidak bisa menulis, sekarang aku rutin menulis di blog dan beberapa tulisanku pernah dimuat di media cetak. Ini sebuah keuntungan bukan kerugian.

Apakah aku menyia-nyiakan pendidikanku? Tentu saja tidak, pendidikan tinggi yang berhasil aku jalani menunjang aktifitas menulisku. Tidak hanya ilmu namun pola pikirku adalah hasil dari proses panjang pendidikan yang aku lalui. Termasuk pola pikir terhadap arti kesuksesan buatku.

Gagalkah diriku? Aku boleh gagal dalam satu hal, namun aku memiliki kesempatan meraih sukses dalam hal yang lain. Tidak ada alasan lagi buatku untuk ciut, apalagi mundur untuk meraih apa yang menjadi passionku kini.

Aku menyadari, kita semua dilahirkan berbeda. Pengalaman hidup telah membentuk persepsi kita terhadap satu hal menjadi berbeda pula. Aku menghargainya, dan kini pun aku yakin dengan pilihanku. Bergerak maju, mencapai sesuatu yang aku benar-benar inginkan. Aku merasa tidak perlu menjadi sesuatu untuk memenuhi persepsi orang lain. Aku hanya perlu mengikuti passion ku yaitu menulis, dengan atau tanpa tepuk tangan.

Kalimat ini, senantiasa aku ingat, untuk mengobarkan semangat dalam dada agar terus maju: “Never too late, never too old, never give up.” So, Let’s Move On.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Chic Blog Competition 2013

7 Replies to “Move On, Follow My Passion”

  1. terharu membacanya 🙂

    1. hehehe, makasih dah rajin kemari Mba Rahmah

  2. iri sama umi ety nih,,, tulisan2nya sudah bisa naik cetak di media media. Salut dan terus berkarya umi ety…

    jangan lupa ke blog saya ya 😀

    1. hehehe, tulisan gaya emak-emak tulen, keseharian dengan anak-anak, bukan tulisan serius tingkat dewa yang bikin berkerut..oke nanti saya main kesitu

  3. ajarin dong mba jadi blogger sejati 🙂

    1. blogger sejati?wah, saya juga belum paham tuh. Kalau saya sih,rutin nulis saja, sambil rajin blogwalking, terus belajar sedikit-sedikit tentang blog yang belum saya ketahui.

  4. Dian Maretha says: Reply

    Tulisannya semakin menyemangati saya yang masih sangat baru dalam dunia tulis menulis hehehe. Dan kalimat terakhir itu keren banget

Leave a Reply