Pesan Kematian

sepi
titintitan.wordpress.com

Satu hal yang hingga saat ini masih membuat saya merasa belum siap adalah kematian. Baik menghadapi kematian diri saya maupun harus kehilangan orang-orang yang saya cintai. Entahlah, padahal berulangkali secara terus menerus saya senantiasa diingatkan tentang kematian melalui banyak peristiwa yang terjadi di seputar kehidupan saya. Dan yang lebih membuat cemas, apakah bekal saya cukup untuk mendapatkan kehidupan yang baik setelah kematian menjemput.

Dua bulan yang lalu, Mbah Jono, tetangga saya yang berjualan sayur matang, meninggal setelah terjatuh di dapur. Padahal paginya, perempuan sepuh ini masih berjualan dan sempat menyapa saya ketika lewat di depan warungnya. Sapaan yang kini menjadi kenangan, dan saya suka kangen ketika lewat depan warungnya tanpa sapaan hangat beliau.

Sebagai penghuni yang belum lama tinggal di komplek ini, disapa dan dikenal oleh warga lain tentu sesuatu banget buat saya, jiaaaah,ketahuan deh pengin diperhatikan. Walaupun sapaannya standar tapi kok saya senang ya disapa Mbah Jono almarhum.

Paling-paling menyapa dengan pertanyaan, tindak pundi bu?. Atau kalau saya pergi sendiri biasanya Mbah akan tanya, kok piyambakan, de Zahira mboten tumut?. Pernah sekali waktu, saya harus pergi pagi-pagi ke Jogya, jadi 5 pagi saya sudah ke warungnya untuk membeli sayur dan lauk untuk sarapan. Meskipun warungnya belum buka, mbah masih sibuk menata masakan. Tapi, dengan hangatnya beliau melayani saya, tumben mruput bu? badhe tindak pundi?.

Makanya kematian yang begitu tiba-tiba itu mengejutkan dan membuat kehilangan. Saya kembali diingatkan akan kematian yang begitu dekat. Sudah siapkah saya? ah, selalu ragu-ragu untuk bisa menjawab siap.

Bagi yang percaya adanya kehidupan setelah kematian, tentu fase itu adalah sesuatu yang harus dipersiapkan secara sungguh-sungguh. Tak terkecuali saya, tapi, mempersiapkannya tidak mudah. Banyak godaan yang melenakan saya untuk bisa secara konsisten mempersiapkan diri.

Padahal, satu-satunya bekal untuk kehidupan setelah kematian adalah amal. Berat manakah diantara kedua amal itu, amal baik atau amal buruk?. Sebaik-baik bekal tentu saja amal yang baik. Seberapakah amal baik kita? cukupkah itu untuk membeli kehidupan yang terbaik di alam nan kekal?. Inilah yang harus dipersiapkan, amal baik sebanyak-banyaknya. Amal baik yang harus dikerjakan selama di dunia, sebelum kematian menjemput, karena inilah satu-satunya kesempatan kita.

Huhuhu, jadi ingat lagunya Opick , “bila waktu telah memanggil, teman sejati tinggalah amal”. Tuh kan, harta dan segala yang kita miliki didunia, bukan teman sejati yang bakal menemani kita. Hmm, jadi pengingat supaya saya tidak jadi budak dunia

Untungya, Alloh Maha Besar senantiasa memberi kesempatan dan masih memberi kesempatan pada saya untuk bersiap diri. Entahlah jika kesempatan itu berakhir tiba-tiba, dan saya ternyata saya belum siap. Alangkah meruginya saya.

Hari ini, dua berita kematian sampai ke telinga saya. Kembali saya harus mengambil hikmahnya. Pertama, kematian seorang anak muda yang tidak saya kenal sebetulnya, namun ramai dibicarakan orang-orang. Dia meninggal karena menabrak kereta api, padahal semua orang di sana sudah berteriak mengingatkan agar berhenti, namun naas, seolah dia tidak mendengar dan akhirnya harus meninggal dalam kecelakan.

Sungguh, kematian memang sesuatu yang pasti akan menimpa setiap yang hidup, tidak ada satu pun yang kuasa menolaknya ketika telah datang saatnya. Pun anak muda itu, dia “seolah-olah” tidak mendengar suara kereta api yang keras dan teriakan orang-orang. Begitupula dengan orang yang membonceng dibelakangnya. Hmm, bukan, bukan anak muda itu tak mendengar, namun itu memang waktunya dia untuk kembali, sehingga seberapapun kuatnya orang mengingatkan tidak berguna untuk mencegah peristiwa itu.

Berita kedua datang dari kematian Ust. Jefri Al Buchory, meninggal dalam kecelakaan tunggal. Sekali lagi saya harus mengambil hikmah. Kematian memang seperti tamu rahasia, datangnya tidak bisa dipastikan, kadang disaat yang tak terduga dan tiba-tiba serta bisa menimpa siapa saja.

Ah, membayangkan istri Ust. Jefri dengan keempat anaknya yang masih kecil, membuat saya berkaca, seandainya saya yang mengalami itu, apa yang akan saya kerjakan untuk melanjutkan hidup sementara saya tidak bekerja.

Alloh memang telah menjamin rezeki setiap ciptaanNya, tapi, bukankah semua itu harus diikhtiarkan?. Tak akan datang begitu saja, jatuh dari langit ketujuh, tanpa membuat sulit dan kekurangan.

Ya, ikhtiar itu yang perlu dipersiapkan. Menjadi berdaya dan memiliki penghasilan bagi seorang istri menjadi penting. Ini bukan soal eksistensi apalagi emansipasi, tapi ini soal manajemen resiko ketika kehilangan tulang punggung keluarga.

Mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dengan amal baik dan mempersiapkan diri kehilangan orang-orang yang saya cintai dengan ikhlas serta jika harus kehilangan tulang punggung keluarga, saya pun harus bersiap dengan manajemen resiko itu.

Kematian pasti datang, jadi mempersiapkannya menjadi hal mutlak. Ketika mulai lupa, ingatlah kematian yang terjadi di seputar kita, sehingga kita akan kembali mendapatkan kesadaran untuk mempersiapkan kehidupan setelah mati. Ya, Alloh jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa mengingat Mu dan mendapatkan kehidupan terbaik setelah mati.

16 Comment

  1. heuheu… Aamiin…
    meng-amin-kan doa yang disemat di akhir tulisan 🙂

    1. Terimakasih Mba Nurul..

  2. Sama mak, saia juga masih minim persiapan….ayuk belajar bareng menyiapkan diri 🙂

    1. Yuk mari, semoga bisa konsisten ya.

  3. Sesungguhnya, sebaik-baik guru adalah kematian. Tapi, kenapa saya suka melupakannya? Hiks.

    1. Betul mba Haya, mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan..

  4. Kematian adalah tamu rahasia
    Betul mak..sama, aq.jg blm siap 🙁
    Aq follow ah blognya, keren sih. Follow back ya mak.matur suwun

    1. Iya Mba Egi, makasih ya, nanti aku folbek blognya

  5. tulisan yang sangat menyentuh, yang akan selalu mengingatkan akan datangnya kematian. Hiks

    1. Terimakasih ataskunjungannya Mba Artie, semoga bisa bermanfaat buat kita semua.

  6. Kykny krn berita uje ya? Pikiranku jg jd ga jauh beda dgn isi postingan ini.. Hiks. Hiks…

    1. Salah satunya Mba Ristin…Thanks sudah mampir kesini

  7. Saya juga termasuk yang belum siap jika kematian menjemput Mbak Ety. Padahal kalau emang sudah saatnya tiba, siap gak siap harus diterima ya..Nah perasaan saya mengenai kematian cukup ambigu..Satu sisi mengatakan ah kan hanya perpindahan dunia..Kalau sekarang di dunia tak fana menjadi fana..Tapi disisi lain, peristiwa kematian di sekeliling membuat saya merasa terpencil. Hari ini mereka besok giliran saya..Kayaknya menggigil deh hati membayangkannya 🙂

    1. Begitu ya Mba Evi,sensasinya memang beda, ketika melihat kematian yang ada disekiling kita, baru terasa sebenarnya kita berada dalam antrian panjang. Kalau saya, yang suka buat menggigil adalah dunia fana yang mana yang akan saya tempati. Terimakasih atas kunjungannya.

  8. semoga saat kita pergi, suami + anak2 + keluarga kita bisa bangga pernah memiliki kita dalam hidupnya.

    1. Amin mba De..senang berkenalan denganmu.

Leave a Reply