Opini Pertama Di Majalah Potret

Tulisan ini adalah opini pertama yang dimuat di media cetak. Sebuah majalah lokal Aceh yaitu Potret, di Edisi 52 tahun 2011. Bisa menulis opini pertama adalah hal yang melegakan karena hal ini tidak mudah bagi seorang pemula seperti saya. Proses menemukan ide tulisan sih tidak lama, saya sudah punya ide ini sebelumnya namun belum pernah dituangkan dalam tulisan. Namanya pengalaman pertama, susah disana sini terjadi, kelihatannya sepele, sudah ada ide di kepala tinggal nulis, ternyata untuk memulai kalimat pertama susaaaah. Berkali-kali harus menulis kemudian menghapus, begitu terus sampai menemukan kalimat pembuka yang sreg di hati.

dokumen pribadi
dokumen pribadi

Menulis opini adalah hasil belajar bersama-sama teman-teman di IIDN Interaktif (Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif). Bergabung di komunitas kepenulisan telah membuka kesempatan dan juga wawasan tentang dunia kepenulisan. Judul opininya adalah “Mendukung Ibu Menyusui Kala Bencana”, tidak jauh dengan dunia saya kan? saya seorang ibu maka hal yang saya tulis adalah hal yang saya ketahui dan dekat dengan keseharian. Berikut versi asli tulisan saya:

 

 

Mendukung Ibu Menyusui Kala Bencana

Bencana memang selalu datang tiba-tiba. Tak mengenal tempat dan waktu. Terjadi menurut kehendak Sang Empunya. Bencana juga selalu menimbulkan kerugian baik harta benda maupun korban manusia. Lihat saja dalam setiap bencana baik yang berskala kecil maupun besar. Kerugian menjadi hal yang tak terelakan lagi. Apalagi jika bencana itu sebesar Tsunami Aceh tahun 2004 silam.

Masih lekat dalam ingatan ketika menyaksikan perjuangan perempuan Aceh menyelamatkan diri dari terjangan Tsunami. Mereka berlarian dengan wajah ketakutan, tak jarang harus terjatuh karena keterbatasan fisiknya. Apalagi jika sang perempuan adalah seorang ibu. Dia pasti berlari sambil menggendong atau menuntun anaknya atau keduanya sekaligus. Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Itulah naluri seorang Ibu, dia tidak akan meninggalkan anak-anaknya dalam kondisi bahaya seperti itu. Meskipun harus tertatih-tatih menyelamatkan diri.

Kondisi pasca bencana di pengungsian juga tak kalah memprihatinkan. Tempat pengungsian memang selalu seadanya. Kondisi darurat selalu menjadi alasan keterbatasan fasilitas pengungsian. Padahal, telah banyak bencana terjadi seharusnya menjadi pelajaran untuk bisa mempersiapkan tempat pengungsian selayak mungkin. Apalagi bagi perempuan yang memiliki bayi atau Ibu Menyusui, ini harus mendapat perhatian yang serius. Kenapa? Tentu ini menyangkut beratnya beban yang harus ditanggung seorang Ibu Menyusui di pengungsian dan masalah kesehatan bayinya tersebut.

Bencana selalu menyisakan trauma, beban trauma ini juga dirasakan bagi seorang Ibu Menyusui. Padahal kondisi mental akan mempengaruhi produksi ASI ibu yang bersangkutan. Jika Ibu dalam kondisi tertekan maka hormon oksitosin yang mengatur produksi ASI akan turun yang berakibat pada sedikitnya ASI yang diproduksi. Jika ASI yang diproduksi sedikit maka bayi akan kekurangan nutrisi.(Sumber: http://www.ayahbunda.co.id/)

Hal ini berbahaya jika dibiarkan sementara pemberian susu formula saat kondisi bencana justru berbahaya karena bisa menimbulkan persoalan lain seperti diare. Seperti kita ketahui kondisi pasca bencana selalu membuat persediaan air bersih terbatas. Padahal untuk menyajikan susu formula membutuhkan air bersih baik untuk menyeduhnya maupun mensterilkan wadahnya. Dalam kondisi demikian ASI tetap yang terbaik buat bayi.

Unicef dan WHO telah mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian. Apa yang terjadi pasca bencana Gempa di Bantul Yogyakarta hendaklah dijadikan pelajaran. Pemberian susu formula kala itu justru meningkatkan terjadinya diare pada anak dibawah usia dua tahun. Dimana ternyata 25 % dari penderita itu meminum susu formula. Angka ini dua kali lipat dari bayi yang tidak minum susu formula.(Sumber: http://www.unicef.org/indonesia/id/media_12924.html)

Lalu apa yang harus dilakukan agar Ibu Menyusui dapat memberikan ASI yang cukup bagi bayinya? Tentu dibutuhkan dukungan dari semua pihak yang terlibat dalam Tanggap Darurat Bencana. Pertama, siapapun yang terlibat di pengungsian baik petugas kesehatan, relawan, pemerintah dan pihak-pihak lain harus memahami benar tentang ASI dan pentingnya ASI bagi bayi. Selama ini kurangnya pemahaman terhadap ASI telah menghambat pemberian ASI di pengungsian. Terlebih pada petugas kesehatan hendaknya telah paham lebih dulu dan bisa mengajak pihak lain untuk tetap memberikan ASI saat bencana.

Yang kedua adalah dukungan berupa pendampingan secara psikologis. Diperlukan tenaga-tenaga pendamping yang memiliki kompetensi dalam hal kejiwaan. Ini akan membantu Ibu Menyusui dalam mengelola stress sehingga bisa rileks dan mampu memproduksi ASI yang cukup. Stres pasca trauma yang dialami biasanya berupa panic, cemas, sulit tidur, berkurang atau berhentinya produksi ASI dan lain-lain. Stres Ibu Menyusui harus segera dipulihkan agar kegiatan menyusui bisa terus berlanjut.

Yang ketiga diperlukan relawan ASI, yang mendampingi dan memantau pemberian ASI di pengungsian. Kondisi stress tak jarang membuat produksi ASI sedikit bahkan terhenti sama sekali. Untuk itu diperlukan tindakan Relaktasi yaitu proses menyusui kembali setelah sempat berhenti beberapa waktu. Proses Relaktasi ini sebenarnya hanyalah membiarkan bayi menyusu kembali sesering mungkin. Namun prosesnya sungguh memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Mengapa? Karena prosesnya memerlukan kondisi Ibu yang rileks agar ASI keluar dan membiasakan bayi kembali menghisap puting terkadang memerlukan waktu yang tidak singkat. Jika dalam kondisi normal artinya tidak dalam bencana proses akan lebih mudah. Melihat kondisi pengungsian yang crowded tentu dibutuhkan usaha lebih keras lagi. Disinilah letak pentingnya Relawan ASI yang tidak hanya paham seluk-beluk ASI juga bersedia memberikan seluruh hati, jiwa dan waktunya untuk mendampingi Ibu Menyusui di pengungsian. Sosok Relawan ASI harus tahan akan tekanan dan harus lebih sabar daripada Ibu Menyusui tadi.

Yang Keempat, berikan cairan yang cukup bagi Ibu Menyusui, meski dalam kondisi kekurangan gizi ringan jika tetap cukup cairan maka ASI tetap bisa diproduksi.

Yang Kelima, ini adalah yang paling penting karena memayungi dari keempat langkah lainnya, yaitu adalah manajemen pasca bencana yang padu. Menangani bencana hendaknya jangan dipandang sebagai sesuatu yang musiman. Hanya pikir dan dilakukan kala bencana datang. Sungguh ini sangat terlambat. Selagi bencana belum datang persiapakan dahulu hal-hal yang diperlukan dalam penanganan bencana. Seperti pembekalan pengetahuan penyelamatan diri, pembekalan kesiapan mental dalam menghadapi bencana, pembekalan di pengungsian termasuk tempat, peralatan dan koordinasi jika bencana tiba, dan terkoordinasinya bantuan dalam satu pintu sehingga memudahkan dan transparan.

Ini memang bukan pekerjaan sehari dua hari namun kerja panjang yang menuntut perubahan pola pikir dan sikap dalam menghadapi bencana. Tinggal di wilayah yang ditakdirkan berpotensi bencana hendaknya membuat seluruh komponen bangsa ini sadar. Bersiap menghadapi bencana bukanlah mengharap bencana itu datang. Bersiap dengan baik dapat mengurangi dampak suatu bencana. Dampak yang akan dirasakan Ibu Menyusui dan bayinya. Maka dari itu, demi masa depan bayi-bayi yang akan menjadi penerus bangsa ini, Mari Kita Dukung Ibu Menyusui untuk tetap menunaikan tugasnya meski terjadi bencana.

Selamat Hari Ibu

 

 

 

 

4 thoughts on “Opini Pertama Di Majalah Potret

  1. Selamat
    Ayo terus menulis dan kirimkan ke majalah POTRET. Kini juga ada majalah Anak cerdas lho

    Salam

    tabrani Yunis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *