Belajar Menulis

Membaca memang memberi kontribusi pada seseorang untuk bisa menulis. Hal ini juga dialami oleh anak sulung saya Azizah. Sekarang dia gemar sekali membaca buku kumpulan cerita karya teman-teman sebayanya. Setiap bulan ada jatah satu buku  baru untuknya. Biasanya di awal bulan setiap habis gajian, saya dan suami membawa anak-anak ke toko buku, dan masing-masing memiliki jatah membeli satu buku.

Kebiasaan ini ternyata ampuh untuk menumbuhkan minat baca anak-anak. Sebetulnya, semua sudah saya awali sejak mereka masih balita. Saya selalu menyediakan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Kini, ketika Azizah sudah bisa membaca sendiri maka membelikan buku setiap bulan mampu memelihara minat bacanya. Biasanya setelah selesai membaca buku yang dibelinya, dia akan menceritakan pada saya isi buku tersebut.

Saya berpikir, mengapa tidak belajar menulis sendiri, dengan banyak membaca, kosakata yang dia miliki bertambah banyak. Akhirnya saya memancingnya untuk mau menulis. Tidak usah banyak-banyak, saya bilang padanya cukup satu atau dua paragraf saja. Saya memintanya menulis apa saja yang dialami atau dilihatnya. Awalnya sih Azizah menolak, alasannya karena dia tidak bisa menulis. Oke deh, saya tidak memaksanya karena dia belum mau.

Zizah nulis

Di hari yang lain saya menunjukkan puisi yang berhasil dia buat meskipun cuma satu bait. Hmm, dia langsung tersenyum, biasanya ini adalah tanda jika dia mau melakukan apa yang saya minta. Benar juga, Azizah langsung bersemangat menulis. Tulisan pertamanya masih acak-acakan kalimatnya, saya tidak memahami apa maksud tulisan tersebut. Tapi, saya acungkan jempol atas usahanya.

Sejak saat itu, diam-diam Si Sulung ini suka menulis tanpa saya suruh. Soal hasilnya, saya tidak pernah risau, karena saya sedang membangun kebiasaan, nah yang seperti ini kan perlu waktu. Sampai akhirnya, kemarin dia menunjukkan hasil tulisannya. Azizah berhasil menulis lebih panjang dari biasanya, ada tujuh paragraf. dari ketujuh paragraf tersebut, empat diantaranya sudah cukup baik sementara tiga paragraf lainnya masih belum pas. Wah, ini sebuah kemajuan yang harus diapresiasi.

Menulis memang sebuah keterampilan, yang bisa diasah dengan terus menulis, itu saya katakan padanya. Menulis akan lancar ketika ada sesuatu untuk dibagi. Nah, untuk memiliki sesuatu yang bisa dibagi membaca buku adalah salah satu caranya. Dia jadi tambah semangat membaca buku dan minta tambah jatah buku bacaannya. Hihihi, tenang Nak, nanti jatahmu akan ditambah, semoga rejeki kita selalu lancar.

Memberi kesempatan Azizah belajar menulis memang tidak serta merta akan membuatnya menjadi penulis cilik yang memiliki karya, apalagi sampai dibukukan. Tujuan saya di sini adalah memberi bekal untuk bisa survive. Kemampuan menulis dalam pendidikan formal dibutuhkan dalam mengerjakan tugas mengarang, membuat essai, skripsi, tesis bahkan disertasi. Saya ingin dia bisa mengerjakan tugas-tugas tersebut sendiri, tanpa nyontek atau bahkan dibuatkan orang lain.

Lebih dari itu, menulis bisa menjadi media untuk mengungkapkan ide maupun perasaan, ini bisa menjadi self terapy. Jika dia bisa menulis tentu dia bisa mengungkapkan apa yang dia pikir dan rasakan. Saya rasa ini kebiasaan sehat, agar otak tidak overloaded.

8 Comment

  1. wah hebat..
    umurnya brp mak?

    1. Hehehe, belumlah mba, kalau hebat spt penulis di KKPK itu, dia baru belajar menyusun kalimat..terimakasih kunjungannya.

  2. salam mbak Ety, saya Inci yg di IIDN juga, suka ngeliat blognya. pengen ngeblok lagi pasca MP mati:-)

    1. Salam kenal Mba Inci, bagus mba, MP mati bukan berarti semangat ngeblog ikutan mati.Semangat…

  3. wah komennya masuk dua-duanya hehehe, kirain yg pertama gak masuk. iya, tp kayaknya yg di MP dulu lebih seru, lebih rame:-)

    1. Hehehe, nggak papa Mba, mungkin karena buat jual beli juga kali ya jadi rame. terus terang saya malah ndak begitu kenal MP, pernah beberapa BW tapi ndak punya akun di MP

  4. setuju mbak ety…., memberi kesempatan pada anak untuk menulis lambat laun akan memancingnya untuk semakin mencintai kegiatan ini. Saya juga mengalaminya pada anak sulung saya.
    semoga azizah bisa semakin terampil menulis ya ^_^

    1. Wah sama ya Ummu salamah, betul dia sekarang rajin membaca buku dan menulis diari. termasuk kala dia lagi sebel sama saya juga ditulisnya, qiqiqiqi

Leave a Reply