Saatnya Akan Tiba

zahira mikirSaya ingat waktu masih kecil dulu, minta sesuatu maunya maksa. Saat itu minta, saat itu juga harus dipenuhi. Jurus yang biasa dipakai kalau tidak merengek ya menangis. Tidak peduli dan tidak pernah mikir betapa beratnya kondisi orangtua saat itu. Tidak tahu jika untuk mendapat uang Bapak harus bekerja dulu dan baru sebulan kemudian baru dibayar, itupun pas-pasan buat biaya hidup sekeluarga. Juga tidak pernah berpikir, betapa pusingnya Ibu harus mencukupkan diri dengan gaji Bapak yang tidak seberapa itu.

Kadang suka sih menghibur diri, namanya juga anak-anak, wajar saja jika belum bisa berpikir sejauh itu. Kalau diingat-ingat sebenarnya permintaan saya umum diminta anak-anak sebaya. Seperti minta jajan, baju baru, sepatu baru, ataupun mainan, tuh kan anak-anak lainnya pastinya juga wajar meminta itu semua. Jiah, pake membela diri pula….

Setelah lama berlalu barulah saya menyadari, bukan soal apa permintaannya namun bagaimana kondisi orangtua saat itu. Bagi orangtua yang memiliki banyak uang tentu mudah saja jika memenuhi permintaan anaknya tapi bagi bapak yang penghasilannya pas saja, permintaan saya tentu seringkali sulit untuk dikabulkan.

Tapi, orangtua mana sih yang tidak ingin membahagiakan anak-anaknya, tul nggak?. Setiap orangtua tentu bermaksud membahagiakan anak-anaknya. Memenuhi kebutuhan hidupnya secukup mungkin. Makanya, ketika beberapa kali permintaanku belum dipenuhi, Bapak sepulang kerja biasanya akan pergi, entah kemana, selama berhari-hari. Setelah itu biasanya, pulang-pulang Bapak membawakan sesuatu yang saya inginkan.

Belakangan saya tahu, kalau Bapak mencari penghasilan tambahan agar kami, anak-anaknya bisa seperti anak-anak yang lain. Tidak enak rasanya, tahu semua ini setelah semuanya berlalu. If I could turn in back dan memperbaiki semua, tapi itu tidak mungkin kan?.

Memasuki masa lulus SMU, ada perdebatan mengenai pilihan sekolah selanjutnya. Bapak menginginkan saya bersekolah di sekolah kedinasan dan saya dengan sotoynya memilih kuliah di sebuah PTN. Then i know, bahwa maksud Bapak adalah agar saya bisa langsung bekerja tanpa repot mencari kesana-kemari setelah lulus kuliah. Kadang terselip penyesalan dihati mengapa tak menurut saja apa kata orangtua, tidak perlu ngeyel dan keras kepala.

Dulu sebagai anak saya merasa perlu mendapat semua fasilitas yang dibutuhkan untuk pendidikan. Jika tidak memiliki fasilitas seperti teman-teman yang lain, minderlah saya ini. Begitulah, saya melihatnya dengan bingkai yang amat kecil. Pada suatu saat, mata hati saya melihat, mereka yang berada dalam keterbatasan fasilitas ternyata mampu bisa meraih cita-cita seperti mereka yang hidup dengan gelimang fasilitas.

Jika ingat hal itu saya jadi berpikir, mengapa dulu harus merepotkan orangtua dengan banyak permintaan, toh dengan fasilitas terbatas orang lain pun bisa meraih apa yang diinginkannya. Seandainya saya tahu lebih awal, apa mungkin kejadiannya akan berbeda. Ah, saya tak mau berandai-andai karena semua telah terjadi.

Banyak hal yang telah terjadi dalam hidup saya, tidak mungkin juga saya ceritakan satu persatu karena pasti akan panjang. Satu yang pasti banyak hal yang saya pahami justru tiba saat semuanya sudah jauh berlalu hingga tak mungkin lagi memutar waktu dan mengubahnya menjadi lebih baik. Finally, saya menyadari bahwa saatnya akan tiba ketika akhirnya pikiran saya dibukakan untuk bisa memahami apa yang telah terjadi. Awalnya semua seperti terlihat sia-sia, namun sesungguhnya ada pelajaran penting yang harus saya ambil.

Saya tidak mungkin mengubah apa yang telah terjadi, karena memang sudah demikian garis takdirnya. Namun, saya masih bisa mendapatkan sesuatu yang baik dibalik semua takdir itu. Ya, pemahaman, semoga ini bisa menjadikan saya sebagai manusia yang jauh lebih baik ke depannya.

 

 

 

 

 

6 Comment

  1. Samaaa mb, mengapa saya tidak mengikuti kemauan bapak dulu untuk mengambil S1 PGSD, sy ngotot…hasilnya sampai detik ini bapak masih ‘menganggapku’ sebagai pengangguran, kerjaannya di depan laptop doang…hahaha * semoga bisa membahagiakan beliau dengan cara yang indah, tepat pada waktunya…

    1. Amin, semoga dikabulkan keinginannya..

  2. Kita sering merasakan hal seperti itu ya mak. Terlambat mengetahui maksud baik orang tua untuk kita. Sekarang, setelah membpunya anak, hal itu terasa sekali.

    Mak Ety, saya undang untuk partisipasi dalam GA Menyemai Cinta
    http://forgiveaway.blogspot.com/2013/06/give-away-menyemai-cinta.html

    1. Iya mba Niken, wah terimakasih undangannya. semoga bisa ikut. Sukses ya untuk GA nya

  3. Mba Ety, saya jadi merasa bersalah kepada Bapak. Aku mengikuti arahan Bapak, namun karena menjalaninya enggak ikhlas…no result.

    Ya Allah, ampuni hamba Ya Rabb. Tulisannya bagus Mba,

    Salam
    Astin

    1. Wah, ndak bermaksud nih membuat Mba Astin merasa bersalah begini…Semoga Alloh mengampuni kita semua.. Amin

Leave a Reply