To Be A Better Man

masjid2

Waktu kecil, saya suka sekali mengumpulkan makanan untuk dimakan saat buka puasa. Siang hari, saat perut keroncongan menahan lapar, mata juga ikut lapar, lihat makanan ini itu kepengen, air liur sudah di ujung lidah. Gengsi dong kalau harus berbuka sebelum maghrib, karena itu disimpanlah dulu makanan-makanan tadi. Memang lihat aneka makanan di mana? hehehe, ya di warung, warung ibu saya.

Ceritanya, ibu saya punya warung. Barang jualannya juga tidak hanya kebutuhan bulanan seperti sabun, odol, gula ,tepung dan minyak. Ada juga sayuran dan aneka jajan anak-anak, plus kalau puasa ada aneka makanan khas, semacam cendol, dan teman-temannya itu.

Biasanya sepulang dari pasar, Ibu saya segera menata jualannya. Bukannya membantu, saya malah asyik memilih makanan buat buka puasa nanti, lalu menyimpannya di lemari. Si Ibu sih sepertinya maklum, soalnya cuek aja, belakangan saya tahu kalau itu cara ibu memotivasi saya untuk berpuasa.

Bedug maghrib yang ditunggu tiba, maka saatnya pembalasan, hehehe, kan seharian tidak makan apa-apa. Semua makanan yang saya kumpulkan sejak pagi,  akhirnya saya makan satu-satu. Ditambah makan nasi dan lauk yang sudah disiapkan ibu untuk berbuka. Awalnya sih semangat banget makannya tapi lama-lama kok perut terasa penuh dan sebah, nggak enak banget, kenyang tapi sakit, hft.

Kata ibu saya kekenyangan, lalu ibu mengambil centong nasi dan perut saya pun dicentongi sama ibu. Hehehe, ibu pura-pura mengambil makanan dalam perut saya pakai centong sambil berkata, ini makanannya buat yang belum makan, buat yang lagi kelaparan, dan bla-bla gitu. Efeknya, waktu itu sih saya merasa enakan dan kebiasaan ini berlaku ketika saya kekenyangan.

Tidak masuk akal tapi itulah cara ibu memberi tahu kalau lain kali tidak boleh makan sampai kekenyangan. Segala yang berlebihan itu tidak baik. Apalagi perut seharian kosong, maka makan pun harus secara bertahap. Tapi, yang namanya masih anak-anak sekali itu ingat eh besoknya sudah lupa lagi.

Begitulah puasa saya waktu masih anak-anak, saat saya baru belajar menahan lapar dan haus. Apa yang saya dapat dari puasa saya saat itu ya cuma lapar dan haus saja. Ketika usia sudah berlipat dari usia saat saya belajar puasa, malu ah kalau puasa saya sekarang juga hanya mendapat lapar dan haus saja.

Ramadhan berasal dari kata ramidhayarmadhu yang memiliki makna membakar. Di bulan ini Alloh SWT telah berjanji akan mengampuni dosa hamba-hambanya, maka Ramadhan pun disebut sebagai bulan penuh ampunan. Kalau mau tobat, ini ada saat yang tepat, bersihkan semua dosa-dosa kita selama setahun ini.

Dianjurkanlah kita untuk memperbanyak ibadah seperti perbanyak dzikir, sholat malam, membaca dan mengkaji Al Quran, serta Itikaf.  Muamalah kita juga harus ditingkatkan, rajin bershodaqoh, berinfaq ataupun menolong orang lain yang membutuhkan. Disamping ampunan dosa, Alloh SWT juga melipatgandakan semua amal baik di bulan Ramadhan.

Gambar-Anak-Anak-Sedang-Belajar-Mengaji-Bersama-Untuk-Diwarnai
credit

Selain itu Ramadhan juga bermakna mengasah, jiwa manusia akan diasah agar lebih bersih, lebih peka, lebih tangguh, lebih sabar melalui puasa. Puasa secara fisik memang hanya menahan lapar dan haus, namun puasa yang bernilai ibadah haruslah melibatkan jiwa dan raga secara sekaligus.

Orang berpuasa itu seperti orang sedang berjihad atau berperang, bedanya musuhnya adalah hawa nafsunya sendiri, bukan orang lain. Nah, yang satu ini terus terang saya masih harus berjuang mati-matian, maksudnya ya berusaha keras. Menaklukan hawa nafsu adalah pekerjaan berat. Harus bisa menahan semua anggota badan untuk tidak berbuat tercela. Tidak boleh menggunjing, marah, berkelahi harus bisa menahan dirilah pokoknya.

Bukannya di hari biasa yang begitu itu juga tidak boleh? iya sih, maksudnya kalau hal-hal itu dilakukan saat puasa maka yang kita dapat dari puasa ya hanya lapar dan haus saja tanpa ada perbaikan perilaku. Jadi esensi puasa itu yang tidak bisa kita dapatkan, kan maksudnya selama satu bulan berpuasa itu untuk menempa diri agar mampu berperilaku baik. Harapannya setelah Ramadhan berakhir maka kita terlahir suci kembali dan menjadi manusia yang berperilaku baik.

Makanya, saya juga harus berusaha keras untuk bisa sukses berpuasa. Banyak hal dalam diri ini yang harus diperbaiki. Sebagai manusia, saya jelas banyak lemahnya, banyak alpanya, tapi saya juga tidak mau mendapatkan akhir yang buruk di kehidupan saya. Ramadhan ini tidak boleh saya sia-siakan. Keinginan saya sama seperti orang lain, ingin menjadi manusia yang lebih baik, meraih berkah Ramadhan ini untuk bekal hidup saya selanjutnya.

“Marhaban Ya Ramadhan”

8 Comment

  1. hana sugiharti says: Reply

    Wah saya juga dulu suka ngumpulin makanan sekaranga nak saya juga hehe

    1. memang hal yang umum ya buat anak-anak ngumpulin makanan buat buka puasa.

  2. Hehe, orang tuaku juga suka spt itu caranya, Mak, tapi media yang digunakan adalah sendok, kami, anak-anaknya, kok iya percaya penuh dengan sugesti itu, lho! Dan efeknya, beneran, setelah di’sendok’, rasa kepenuhan di perut mereda deh! Haha.

    Selamat menyambut Ramadhan ya, Mak, semoga Ramadhan ini, amal ibadah kita bisa lebih baik dari Ramadhan sebelumnya yaaa. 🙂

    1. Hahaha, ternyata sama saja ya, itu cara yang diwariskan turun-temurun Mak. Terimakasih, Amin

  3. nitaninit kasapink r ror says: Reply

    Ibu memang sosok yng pengasih dan bijaksana ya mbak…

    Selamat menyambut hari mengekang nafsu… jangan kekenyangan lagi sewaktu buka puasa 😀

    1. Betul Mba Nita, terimakasih, hehehe, masa itu mah sudah lewat.

  4. waaah, suggestinya mengena sekali. Baru tau loh saya gaya anak centong. Selamat menjalankan ibadah puasa mak Ety.

    1. Hihihi, betul Mak,sugesti seorang ibu. Sama-sama Mak Vica

Leave a Reply