Berani Berkata Tidak

Akhirnya bisa update blog lagi. Kali ini saya ingin bicara soal pelecehan seksual yang kerap menimpa anak-anak. Miris dan sedih melihat anak-anak yang lugu dan seharusnya dilindungi justru menjadi korban perbuatan amoral. Lebih menyakitkan lagi jika ternyata pelakunya adalah ayah kandungnya sendiri.

Urusan yang satu ini selalu mengaduk-aduk emosi sayaah. Kalau mendengar berita begitu saya langsung mrebes mili. Kok tegaaaaa ada orang yang merusak masa depan mereka?????? mereka itu lugu, tingkahnya kadang lucu menggemaskan, mereka seharusnya disayangi, dijaga baik-baik.

Sayangnya hukum di negeri ini juga mandul, hukuman yang diberikan terlalu ringan sehingga tidak memberikan efek jera. Paling tinggi ancaman hukuman tindak pidana perkosaan hanya 12 tahun penjara. Pada prakteknya vonis yang dijatuhkan lebih ringan dari itu. Okelah, alat bukti dan saksi mungkin alasan yang membuat vonis tidak maksimal. Dan sepertinya dalam RUU KUHP yang sedang digodok di DPR ,ketentuan tersebut belum berubah.

Lalu apa kemudian kita jadi kehilangan harapan untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia dari pelecehan seksual? tentu tidak. Upaya untuk mencegahnya bisa kita lakukan bersama-sama dengan cara membekali anak untuk mampu berkata tidak/menolak terhadap ajakan jahat itu.

Namanya juga anak-anak, mereka belum paham benar apa yang terjadi. Mereka biasanya menuruti kemauan pelaku karena ketidaktahuan dan ketakutan akan ancaman pelaku. Makanya penting sekali membekali anak-anak dengan pengetahuan tentang bagian-bagian tubuhnya. Memberi pengertian bahwa dia harus menolak atau berteriak ketika ada orang yang menyentuh bagian tertentu.

Membentuk ketegasan anak agar berani berkata tidak ketika ada orang yang akan melecehkannya tentu bukan perkara mudah. Ini harus dilakukan terus menerus, namanya juga anak-anak, sekarang ingat, besok kadang lupa lagi. Masing-masing orangtua tentu punya cara berbeda dalam membangun komunikasi dengan anaknya. Ini tak jadi soal, yang penting pesannya bisa dipahami anaknya.

Anak-anak harus bisa memperlakukan tubuhnya sebagi sesuatu yang berharga, tak ada sesuatupun atau orang lain berhak melukai bahkan mengambil keuntungan darinya. Sesuatu yang berharga tentu harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Hal yang kerap jadi kambing hitam dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak adalah lemahnya pengawasan orangtua terhadap anak-anaknya. Padahal tidak semua kasus pelecehan itu serta merta karena lemahnya pengawasan terhadap anak. Ini bukan berarti orangtua ngeles dari kewajiban.

Sebagai orangtua tentu kita tidak selalu bisa di sisi anak apalagi jika anak sudah bersekolah atau mulai bermain dengan teman sebayanya. Yang bisa dilakukan adalah membekali anak dengan pengetahuan sekaligus kemampuan menangkis perbuatan jahat itu. Tentu sebagai orangtua kita harus memilih lingkungan yang sehat untuk anak-anak kita agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Lingkungan yang ideal seperti itu kan bukan hanya tergantung satu atau dua orang saja melainkan setiap elemen masyarakat. Mari bersama-sama membangun lingkungan yang sehat dan aman bagi anak-anak kita.

Jika pribadi anak kuat, niscaya dia akan mampu untuk melindungi dirinya dengan berkata tidak ketika ada orang yang akan membuatnya terhina. Sehingga mereka pun bisa terhindar dari akibat yang lebih buruk yaitu menjadi korban eksploitasi seks.

Saya pernah menulis tentang fenomena eksploitasi seks pada anak, dari sudut pandang upaya pencegahannya. Tulisan ini dimuat di majalah Potret Edisi 54 Tahun IX.

majalah potret edisi 54 th IX
majalah potret edisi 54 th IX

 

 

8 Replies to “Berani Berkata Tidak”

  1. yup, mbak.. harus bersama-sama.. mari kita ciptakan lingkungan yang baik bagi generasi penerus ini.

    1. Yuk mari bukan kerja mudah, tapi harus dilakukan demi masa anak-anak kita.

  2. Jika masih saja sering terjadi kasus pelanggaran hukum dalam hal apa saja, saya rasa hukumnya emang tidak pernah memberikan efek jera dan takut pada setiap pelakunya.

    Coba deh, misal ada satu saja pelaku korupsi dihukum tembak mati, saya rasa yang lain banyak yang keder korupsi. Demikian juga halnya dengan pelaku pelecehan anak, hukum saja seumur hidup, sebab korban juga akan mengalami trauman seumur hidup. Bisa jadi yang lain akan takut melakukan pelecehan pada anak-anak. Itu sih teori saya, tak tahu lah apa kata komnas HAM hahaha

    met puasa mbak Ety

    1. Kayaknya nggak bakalan setuju sama Uncle tuh Komnas Ham, hehehe. Itulah uncle, hukum kita itu memang tidak memberi efek jera, makanya tuh LP dimana-mana over kapasitas. Met puasa Uncle Lozz

  3. Menurut saya, anak-anak itu janganlah dijadikan “steril”, tapi mustilah “imun”. Melarangnya untuk mengetahui apapun di dunia ini, tentulah tidak bijak. Sebab, ia takkan pernah siap menghadapi kenyataan tersebut jika suatu saat menemukannya. Biarkan ia mengetahui apa adanya dunia ini, namun orangtua harus memberi pengarahan tentang apa yang baik dan tidak serta bagaimana mereka bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya nanti, dan itulah yang saya sebut sebagai “suntikan imunisasi” dari orangtuanya..

    1. betul Uda, imun lebih realistis ya kalau steril kawatir malah jadi nggak tahu situasi. Terimakasih sharingnya Uda Vizon.

  4. Keren dah bisa dimuat di majalah

    1. Alhamdulilah Mas Roqib..

Leave a Reply