Kembali ke Asal

sunrise kala itu
sunrise kala itu

Idul Fitri (lebaran) di Indonesia memang identik dengan tradisi mudik. Tradisi yang entah siapa yang memulainya namun faktanya tradisi ini hidup di tengah masyarakat hingga sekarang. Social media yang begitu marak belum mampu menggeser tradisi mudik lebaran yang cuma setahun sekali itu. Bagi sebagian masyarakat, social media mungkin bisa menggantikan fungsi mudik untuk saling bertemu dengan orangtua dan handai taulan guna saling bermaaf-maafan. Bagi sebagian yang lain bermaaf-maafan tanpa mudik kurang afdol rasanya meskipun harus dibayar dengan bermacet-macetan di jalan ataupun berdesak-desakkan di kendaraan umum.

Buat saya pribadi, kesempatan mudik adalah kesempatan emas untuk berkumpul dengan keluarga besar yang sudah berpencar-pencar tempat tinggal. Plong rasanya jika bisa berlebaran di kampung halaman. Beda memang rasanya ketika harus berlebaran dirantau. Selama merantau di Palembang, saya telah menghabiskan 8 kali lebaran tanpa mudik. Ada sejumput rasa sedih di relung hati, meskipun dirantau saya punya banyak teman dan kolega yang rutin kami kunjungi.

Rasa sedih itu mengisi sudut hati, seolah berkata” Engkau seharusnya tidak di sini, seharusnya engkau kembali, ke tempat dimana engkau pernah dilahirkan dan dibesarkan.” Tarikan itu kuat dan terus menerus hadir setiap lebaran tiba. Namun, saat itu hanya telepon lah yang bisa dilakukan. Di ujung sana suara bapak dan ibu terdengar sedih, mengiringi setiap nasehat yang senantiasa mereka berikan untuk saya. Sementara saya sekuat tenaga menahan airmata. Saya tidak ingin terdengar sedih dan lemah, ingin rasanya saat itu bisa bersimpuh dikaki mereka, bisa memeluknya dan meminta maaf atas semua salah yang telah saya buat.

Kembali ke kampung halaman buat saya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Selalu ada kerinduan untuk kembali kesana, puncaknya adalah ketika lebaran. Selain bertemu orangtua dan saudara, kunjungan saya ke kampung halaman juga napak tilas perjalanan hidup saya. Berkeliling kampung melihat kampung saya kini dan mengenang kampung saya tempo dulu, ketika saya hidup di dalamnya. Sebagian besar telah berubah, kampung semakin padat dan ramai. Jalanan pun semakin ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.Yah, dulu tidak seramai ini, sekarang kampungku begitu hidup.

Tidak hanya itu kampungku kini semarak dengan toko-toko yang menjual aneka macam dagangan. Padahal dulu, sepanjang jalan cuma ada toko kelontong, bengkel, warung bakso dan wartel. Kini, toko baju, toko mainan, toko roti, minimarket bahkan pom bensin telah hadir menghidupkan kampungku. Tak pernah kubayangkan sebelumnya jika kampungku akan berubah seperti ini. Belasan tahun tinggal disana, rasanya tidak ada perubahan drastis.

Dulu, saya masih bisa bersepeda santai ke Sungai Serayu untuk menikmati matahari terbit, kini saya harus ekstra hati-hati karena motor-motor bersliweran dengan kecepatan tinggi mengganggu niat untuk bersepeda santai. Ah, perubahan yang patut disyukuri atau disayangkan?. Melihat kehidupan ekonomi yang begitu semarak saya tentu senang, semoga masyarakat di kampungku semakin sejahtera. Begitu juga dengan usaha Adik saya, semoga usahanya bisa jaya. Bukankah ini hal yang harus disyukuri!

Selalu ada sisi lain dari sebuah kemajuan bukan?. Kemampuan ekonomi yang meningkat, membuat siapapun mudah memiliki kendaraan, terutama motor. Jika tak diringi dengan kesadaran untuk tertib berlalulintas tentu bisa fatal akibatnya. Disisi yang lain, jumlah manusia yang bertambah tentu akan mengurangi lahan-lahan terbuka, semoga saja tidak menggerus lahan-lahan produktif, yang menghidupi kampung selama ini. Hehehe, ini edisi kawatir, dua komplek perumahan telah berdiri di sawah yang dulu menjadi tempat saya melepas pandangan, soalnya hijauuuuu, membuat damai ketika memandangnya. Kini, sebagian sawah itu telah ditanami beton-beton yang semakin lama semakin luas.

Delapan tahun merantau, saya telah melewatkan banyak perubahan dari kampung tempat saya dilahirkan. Bayangan keindahan kampung ini dulu bersliweran di ingatan. Ada kerinduan untuk bisa kembali ke masa itu namun saya tahu itu tidak mungkin. Perubahan memang sebuah keniscayaan, akan selalu terjadi dimana pun. Saya akan selalu menyimpan kenangan indah itu rapat-rapat dalam ingatan dan hati saya. Semoga perubahan ini akan membawa kebaikan bagi semua warga kampung. Dan semoga semakin banyak anak-anak kampung ini yang mampu meraih cita-citanya setinggi bintang di langit.

Ah, semoga juga halaman rumah ini akan senantiasa asri, meskipun kebun di seberang rumah, tahun depan tidak memberikan semilir angin lagi, karena akan berdiri sebuah rumah. Semoga tidak ada semilir angin itu digantikan oleh kehangatan atas kehadiran tetangga baru.

Selamat Idul Fitri 1434 H Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Banyumas, 10 Agustus 2013

 

 

2 Replies to “Kembali ke Asal”

  1. Hi hi kayaknya saya pendatang baru nih hiehiehiheie. Saya sudah liat dan baca beberapa artikelnya. Oh ya mangap eh maaf sudah ada adsense camp nongol nih di blog mu hiehiehiehiee

    Sudah pernah dibayar sama Adsense Camp? Saya sudah sekitar dua kali, dan pendapatannya sangat memprihatikan rata rata di bawah 100 ribu rupiah dalam sebulan, tapi teteup di atas 50 ribu rupiah hiehiehiehiehe.

    Kalau Google Adsense baru dua kali, dan rata rata earning saya kalau dirupiahkan sekitar 1,5 Juta rupiah. Loh kok malah ngomongin duit ya saya ini hahahahaha. Salam kebal eh kenal ya dari Blogger Pontianak

    1. Hahaha, ngomongin duit memang asyik. Blm pernah dapat, baru ada sebulan pasang. Wah, gitu ya, makasih nih masukannya.Wah, mau dong google adsense…harus belajar dulu nih biar tembus google adsense. Salam kenal balik deh buat blogger pontianak.

Leave a Reply