Salon Thailand Datang, Salon Lokal Maju Tak Gentar

Saya sebenarnya jarang sekali ke salon. Kalaupun ke salon, paling-paling urusan potong rambut, itupun setahun sekali. Sedangkan creambath di salon, duluuu pernah beberapa kali. Ini terjadi saat saya masih dalam masa menemukan kumbang di taman, jiaaah. Masa-masa jaim lah, kalau sekarang setelah dimiliki oleh satu kumbang malah kagak pernah, hiks,hiks,hiks. Urusan lain seperti rebonding, smoothing, facial, menicure, pedicure, dan lain-lain malah belum pernah hihihi gak gaul banget deh.

Perkembangan dunia salon dan kecantikan memang pesat banget. Kalau dulu, orang yang berambut lurus ingin rambutnya keriting bisa dilakukan di salon. Sementara yang berambut bergelombang dan keriting kalau ingin meluruskan rambut cuma bisa gigit jari, ngiriii!. Sekarang? yang berambut keriting/bergelombang seperti rambut saya bisa jingkrak-jingkrak karena bisa meluruskan rambut dengan cara reboonding maupun smoothing.

Meskipun jarang banget ke salon saya bisa ikut peduli, jika nanti akan bermunculan salon-salon dari Thailand. Salon Thailand datang ke Indonesia, bahkan menjamur di lingkungan sekitar kita, mungkinkah? Jawabannya mungkin saja. Adalah Asean Economic Community (AEC) 2015 yang memungkinkan hal itu terjadi. Ditambah reputasi tenaga kerja Thailand yang profesional dengan sertifikat internasional tentu bisa menjadi pesaing kuat bagi salon-salon lokal.

AEC 2015 memang telah disepakati oleh seluruh anggota Asean, sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing kawasan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Asean. AEC nantinya mengarah kepada Asean Single Market, yang akan memiliki konsekuensi aliran barang, jasa, tenaga kerja dan investasi akan bergerak bebas diantara anggota Asean.

Hal ini berarti di tahun 2015 nanti saat AEC mulai diberlakukan akan terjadi serbuan barang dan jasa impor, tenaga kerja impor, maupun investasi dari negara Asean yang masuk ke Indonesia, termasuk salon Thailand beserta tenaga penata rambut dan kecantikannya. Hm, bisakah salon lokal  bersaing? Bisaaa! harus optimis dong! Ini barang sudah di depan mata soalnya, tidak ada waktu untuk pesimis.

Bergegaslah….

2015 tinggal 1,5 tahun lagi, namun di lapangan justru masih banyak pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang belum tahu mengenai AEC dan konsekuensinya. Padahal usaha salon banyak yang merupakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Ini menjadi tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat diantaranya blogger seperti kita untuk turut mensosialisasikan AEC 2015 dan apa yang harus disiapkan.

Mengingat waktu yang semakin sempit, pemerintah sebagai pemangku kewenangan hendaknya secara terencana mengajak para pelaku UMKM termasuk usaha salon untuk meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing. Pemerintah tentu harus menggandeng organisasi profesi penata rambut dan kecantikan dalam hal ini Tiara Kusuma untuk mengadakan pelatihan-pelatihan agar kemampuan para penata rambut dan kecantikan kita bisa bersaing dengan tenaga kerja dari Thailand.

Kehadiran salon Thailand yang profesional dan bersertifikat internasional tentu harus dihadapi dengan profesionalisme serupa dari salon lokal dan bersertifikat internasional pula. Disini pemerintah diperlukan perannya dalam memberikan kemudahan akses pada salon lokal untuk bisa memiliki sertifikat internasioanal. Ini baru seimbang namanya, ibarat kata mau perang, modal senjatanya sama. Bukannya yang satu bambu runcing yang satunya senapan, bakalan butuh waktu lama  si bambu runcing bisa ngalahin senapan. Itupun harus pakai strategi gerilya pula, jiaah.

Disini dibutuhkan peran pemerintah dalam memberi kemudahan akses bagi pelaku usaha salon lokal untuk bisa mendapat sertifikat internasional. Maklum lah, pelaku UMKM biasanya terkendala dana, sehingga perlu difasilitasi oleh pemerintah. Sedangkan organisasi profesi yang menaunginya bisa memberikan pendampingan bagi anggotanya dalam rangka meningkatkan kemampuannya.

Teman saya yang memiliki keterampilan tata rambut dan kecantikan pernah bercerita, bahwa ia enggan untuk membuka salon karena harus sering mengikuti pelatihan dan seminar mengingat perkembangan trend tata rambut dan kecantikan yang terus berkembang. Jika Anda  pelaku usaha salon tentu tidak boleh seperti teman saya tadi, enggan jika harus mengupgrade keterampilannya. Tantangannya sekarang bertambah bo, tidak hanya trend yang cepat sekali berkembang namun juga persaingan yang ketat dengan salon-salon dari Thailand.

Salon Thailand Menggeser Salon Lokal?

Jika pelaku usaha salon lokal mampu meningkatkan daya saing dan profesional dalam memberikan pelayanan, mereka akan percaya diri face to face dengan salon Thailand bahkan bisa memenangkan persaingan dan merambah ke negara-negara Asean lainnya. Salon-salon bersertifikat ini akan bersaing merebut pasar menengah ke atas. Pasar inilah yang memiliki daya beli yang baik, mereka memiliki kemampuan memilih. Mereka biasanya lebih aware terhadap kualitas layanan suatu salon.

Bagaimana dengan salon lokal yang belum bersertifikat internasional, apakah mereka otomatis tergeser?. Hm, masih ada peluang untuk bertahan,  yaitu dengan menggarap kelas menengah ke bawah. Bagi masyarakat dengan daya beli terbatas, mereka tidak punya banyak pilihan. Mereka biasanya lebih peduli pada terpenuhinya tujuan bukan pada kualitas. Sebagian kelas menengah juga tidak terlalu peduli dengan kehadiran barang dan jasa impor. Mereka ada juga yang cinta produk dan jasa dalam negeri.

Serius nih?. Lihatlah, tumbuhnya waralaba makanan asing sampai ke kota kabupaten tidak otomatis membuat mereka bisa meraih sebanyak-banyaknya pembeli. Tetap ada warung tegal yang juga mampu eksis, waralaba lokal juga mampu tumbuh, warung-warung kaki lima lainnya juga mampu bertahan.

Begitupun dengan salon lokal, tetap ada orang seperti saya yang kantongnya hanya cocok mendapatkan layanan di situ. Tetap ada orang seperti saya yang cocok dengan produk perawatan diri dari produsen lokal. Apalagi, beberapa produsen kosmetik lokal telah memiliki branding yang kuat.

Jadi, semua ada ditangan pelaku usaha salon lokal, mau bermain di pasar yang mana. Walaupun tentu akan jauh lebih baik jika pangsa pasar menengah ke atas di negara-negara Asean mampu dikuasai salon lokal.

#10daysforASEAN-day 1

 

Sumber :
Vibiznews
Warta Ekonomi

 

Leave a Reply