Indonesia, The Diamond Of Asia

Ada yang tahu dengan yakin berapa jumlah suku di Indonesia?

Atau jumlah bahasa daerah yang ada di negeri tercinta ini?

Atau seberapa banyak kesenian tradisional yang hidup di tengah-tengah rakyat Indonesia?

Atau juga seberapa banyak tempat-tempat indah yang layak untuk dikunjungi?

Lalu berapa banyak makanan tradisional Indonesia yang nikmat dan layak disajikan kepada para turis?

Kalau saya hanya bisa menjawab banyaaaaak!

Saya lahir dan di besarkan di Pulau Jawa. Dari kecil bahasa sehari-hari yang saya gunakan adalah bahasa Jawa. Namun, bahasa Jawa yang saya gunakan berbeda dengan bahasa Jawa teman-teman yang tinggal di daerah lain. Bahasa Jawa saya adalah bahasa Banyumas dengan logat ngapak-ngapak. Meskipun demikian bukan berarti Bahasa Banyumas sama persis dengan Bahasa Jawa orang Tegal yang juga ngapak-ngapak. Sama ngapaknya tapi banyak kosakata yang berbeda. Belum lagi Bahasa Jawa orang Jogya dan Solo, atau Bahasa Jawa orang Surabaya bahkan orang Madura. Jadi, baru Pulau Jawa saja, sudah terlihat keragaman bahasanya. Padahal pulau-pulau di Indonesia ribuan jumlahnya.

Bicara soal kuliner, saya beruntung sempat merasakan tinggal di daerah yang terkenal memiliki kekayaan kuliner, yaitu Sumatera Selatan. Setelah menikah, saya diboyong suami tinggal di kota Palembang. Kuliner Palembang bukan hanya pempek cin, ada tekwan, model, pindang patin, pindang tulang, burgo, laksa, celimpungan, brengkes tempoyak, srikayo, engkak ketan, masuba, lapis legit, lapis keju, lempok, kemplang, kue delapan jam, mei celor dan masih ada lagi yang lain. Itu baru satu daerah, bagaimana dengan kuliner daerah lain? sama saja, banyak macamnya dan enak rasanya.

Apalagi? hm, mengenai adat istiadat..ini dia, dari Sabang sampai Merauke, masing-masing daerah memiliki adat istiadat yang beragam. Ada tarian, seni pertunjukan, seni beladiri, upacara adat dll. Kita tentu mengenal tarian dari tanah Sumatera seperti tari seudati, tari piring, tari tanggai. Dari tanah Jawa ada beragam kesenian tradisional seperti wayang orang, wayang golek, kethoprak, jathilan, ludruk dll. Upacara adat di negara kita juga tak kalah banyaknya, ada ngaben, sekaten, barapen, tabuik dll. Wah, jika disebutkan satu persatu bakal berhalaman-halaman tulisan ini.

Tempat wisata yang kita miliki juga tak kalah indah dari negara-negara lain. Sebut saja wisata bahari di Lampung, Kepulauan Seribu, Bunaken dan Raja Ampat. Ini baru sebagian kecil saja.

alam2
credit:pesona indonesia

Meskipun keberagaman etnik dan budaya itu eksis, namun kita hidup damai berdampingan. Nggak yakin? mungkin ada yang bilang bagaimana dengan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi, teror bom, dan gangguan keamanan lainnya, bukankan ini tanda bahwa kehidupan masyarakat Indonesia kurang harmonis?.

Kita harus berpikir jernih, berapa banyak konflik yang terjadi dan bandingkan dengan kedamaian yang ada bumi Indonesia. Tentu ketidakharmonisan itu hanya sebagian kecil saja dan dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak menyadari arti indahnya perbedaan yang ada.

Masih belum yakin?. Jika keharmonisan hubungan antar orang perorang dengan latarbelakang berbeda tidak ada, bukankah, kita semua tidak akan dalam keadaan bebas? bebas bekerja, bebas bepergian, bebas berwirausaha, dan jangan lupa bebas ngeblog seperti yang kita lakukan ini.

Keindahan Indonesia bukan semata karena keindahan alamnya namun juga karena harmonisasi yang terjalin diantara penduduknya. Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, etnik dan budaya Indonesia lebih beragam. Suku Asmat di Papua adalah satu etnik yang memberi warna berbeda bagi Indonesia. Upacara ngaben di Bali adalah satu upacara adat yang membuat Indonesia menjadi negara kaya akan budaya tradisional. Luasnya wilayah Indonesia juga memberi lebih banyak pilihan tempat wisata.

Ibarat kata, kekayaan yang Indonesia miliki berupa keragaman etnik dan budaya beserta kekayaan alamnya itu layaknya berlian, berliannya Asia. Jadi tepat bukan tagline “Indonesia, The Diamornd Of Asia”, sebagai branding Indonesia tidak hanya di ASEAN tapi juga dunia.

Branding ini harus dipromosikan secara kontinyu, agar image Indonesia baik dan aman untuk tujuan wisata maupun investasi. Sehingga tidak ada lagi travel warning yang dikeluarkan negara lain terhadap Indonesia.

Mengapa Branding Nation Diperlukan?

Negara-negara di belahan dunia manapun pasti bersaing dalam menarik investasi masuk ke negaranya maupun menarik turis agar berwisata ke negara tersebut. Agar bisa merebut hati para investor dan wisatawan maka suatu negara harus mampu meyakinkan bahwa negaranya layak dijadikan tempat investasi maupun tujuan wisata.

Caranya tentu dengan membangun branding nation yang kuat. Jangan kawatir, setiap negara pasti memiliki kekuatan dan kelemahan. Yang dibutuhkan Indonesia adalah promosikan daya tarik yang dimiliki sebagai kekuatan dan sigap membenahi segala kelemahan yang ada.

Apakah dengan membuat tagline persoalan branding nation selesai? tentu belum, branding nation itu lebih dalam dari sekedar membuat tagline. Branding nation adalah upaya agar Indonesia mampu bersanding sejajar dengan negara-negara Asea dan negara di belahan dunia lainnya.

Upaya itu antara lain dengan membangun infrastruktur yang baik, mempermudah akses investasi, jaminan keamanan dan tak ketinggalan adalah perbaikan sikap dari masyarakat Indonesia seperti, mampu menjaga kebersihan tempat-tempat tujuan wisata dan sarana pendukungnya seperti kamar mandi. Selain itu sikap ramah tamah danĀ  ketulusan yang harus terus dipupuk. Jadi branding nation bukan sekedar tagline tanpa bukti nyata. Jika tagline tersebut tidak sesuai kenyataan maka investor dan turis akan kapok kembali ke Indonesia.

No worry lah ya, jika Malaysia populer dengan Trully Asia, karena Indonesia, The Diamond Of Asia.

So, Welcome To Indonesia

#10daysforASEAN

4 thoughts on “Indonesia, The Diamond Of Asia

  1. sebenernya Indonesia gak kalah kok ma Trully Asia,,banyak lebihnya malah,,cuma pemerintah kalah cepet aja,,jd ya kalah pamor ma trully Asia,,tagline yg bagus mba,,diamond of asia,,

    1. Betul Bunda Aisykha…apa yang kita punya itu lebih banyak, namun kalah dalam soal infrastuktur, promosi dan kebiasaan masyarakat yang kurang aware pada tempat wisata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *