Serumpun, Senada, dan Seirama

Bagi yang hidup di era 1980 an, mungkin masih ingat dengan tagline di atas. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Hiburan masa itu hanya dipasok oleh TVRI sebagai satu-satunya televisi di Indonesia. Jadi, banyak acara-acara TVRI melekat kuat di ingatan saya. Serial Si Unyil, Aneka Ria, Kamera Ria, Berpacu Dalam Melodi dan jika bicara tentang kata serumpun, jangan lupakan acara ini: Titian Muhibah.

Acara yang diselenggarakan oleh TVRI dan RTM ini memang dimaksudkan untuk menjalin hubungan baik diantara Malaysia dan Indonesia. Acara hiburan ini melibatkan artis kedua negara. Pemirsa di Indonesia dan Malaysia disuguhi beragam hiburan. Tidak hanya nyanyian yang dibawakan penyanyi papan atas kedua negara, ada juga tarian dan kesenian tradisional lainnya. Pembawa acara terlihat harmonis dalam bertegur sapa dan berinterksi. Sesuai dengan tagline acara tersebut serumpun, senada, seirama, elok nian!.

Mengingat hubungan Indonesia Malaysia kerap mengalami pasang surut maka acara seperti ini menjadi semacam oase. Sekaligus menunjukkan bahwa sebenarnya kedua bangsa bisa berinteraksi secara santun dan berbudaya. Tak ada sumpah serapah, cacian dan olok-olok seperti yang sering terlihat manakala hubungan kedua negara memanas.

Setelah jaman kejayaan TVRI berakhir, hilang pula acara Titian Muhibah dari peredaran. Ketika Orde Baru berakhir, perselisihan kerap timbul. Apalagi jika bukan mengenai batas wilayah dan klaim kebudayaan. Hmm, hubungan yang terlihat elok kala itu jadi coreng-moreng.

Hubungan antara Indonesia dan Malaysia memang memiliki akar persamaan etnik dan budaya, yaitu Melayu. Bukan hal aneh jika kemudian ada kemiripan dari budaya Melayu Indonesia dan Melayu Malaysia. Kenyataan inilah yang menyebabkan Indonesia dan Malaysia dikatakan sebagai negara serumpun.

Lalu benarkah, semua anggota Asean adalah serumpun?. Mengingat Candi Borobudur di Indonesia memiliki kemiripan relief dengan Angkor Wat di Kamboja.

 Gambar Candi Borobudur - Objek Wisata Foto
Foto Candi Borobudur ini merupakan hak milik TripAdvisor

Foto Angkor Wat - Objek Wisata Gambar
Foto Angkor Wat ini merupakan hak milik TripAdvisor

Menilik dari beberapa sejarah yang ditulis, Negara anggota Asean sebetulnya berada di daratan yang sama. Daratan itu kemudian terpisah-pisah lantaran peristiwa alam luar biasa. Jika melihat ini maka bisa dimungkinkan sesama anggota Asean adalah serumpun. Bukankah hal yang masuk akal jika kemudian ada kemiripan diantara kedua candi tersebut mengingat sejarah tersebut. Tentu, untuk membuktikannya perlu riset mendalam tentang asal-usul penduduk Asia Tenggara.

Saya ingat pesan orangtua ketika hendak merantau….

“Kami ini tinggal jauh darimu, jadi tetangga dekat itulah saudaramu.”

Saya bisa jadi tidak memiliki hubungan darah, keterikatan etnis maupun agama dengan tetangga di rantau. Namun, karena kami hidup berdampingan maka kami adalah saudara. Kami akan saling membantu dan saling menjaga. Ketika kepepet tetanggalah yang akan saya mintai tolong pertamakali bukan teman, saudara atau orangtua yang tinggal nun jauh di sana. Saya sudah membuktikannya.

Saat usia kehamilan saya memasuki usia 37 minggu, ada rasa sakit yang menyerang di bagian perut, pinggang hingga tulang belakang. Rasa sakitnya membuat saya susah untuk berjalan. Saat itu suami masih di tempat kerja dan butuh waktu satu jam lebih untuk bisa sampai di rumah. Disaat genting itulah tetangga datang menolong saya, layaknya saudara.

Jika pesan di atas dimaknai dalam konteks hubungan antara negara-negara Asean, maka sebenarnya tak perlu menunggu adanya hasil penelitian yang valid yang menyatakan jika semua anggota Asean adalah serumpun. Faktanya wilayah negara-negara Asean saling berdekatan. Kedekatan secara geografis telah membuat kita semua bersaudara.

Bukankah terbentuknya Komunitas ASEAN itu didasarkan pada kesadaran bersama bahwa, semua negara anggota adalah senasib sepenanggungan? Lalu mengapa masih mempersoalkan serumpun atau tak serumpun. Untuk kepentingan ilmu pengetahuan, riset memang harus terus dilakukan apakah negara ASEAN itu satu nenek moyang. Namun untuk kepentingan kemajuan para anggotanya, mari kita kesampingkan dulu persoalan ini.

Masyarakat Ekonomi Asean 2015 telah disepakati bersama, hendaknya masing-masing negara Asean fokus pada upaya pencapaian tujuan bersama dengan fokus pada pengembangan potensi yang dimiliki. Tentu saja dengan meminimalisir potensi konflik yang akan menghambat kemajuan bersama.

Hubungan masing-masing negara harus dipelihara dengan cara yang santun. Setiap persoalan yang timbul hendaknya diselesaikan secara elegan tanpa olok-olok dan caci maki sekaligus merendahkan martabat.

Sudah saatnya negara-negara Asean menyelaraskan nada dan irama dalam membangun komunitas yang mapan dan solid. Sudah saatnya pula potensi besar Asean mampu memberikan kemakmuran bagi semua anggota.

#10daysforASEAN #day 2

 

Leave a Reply