Cerita dari Myanmar

Masih ingatkah dengan permen jadul yang semriwing ini?.

Kalau saya masih ingat, permennya kecil berbentuk kotak agak tipis dan berwarna hitam. Kemasan permen unik dan menarik karena memakai kaleng tanpa dibungkus dengan plastik terlebih dahulu. Selain bentuk kemasannya, yang menarik perhatian saya adalah gambar pada kemasan itu.

Waktu kecil saya tidak tahu nama bangunan dalam gambar tersebut. Saya pikir Pagoda itu nama permen, hahaha..kuper ya. Ternyata itu adalah nama untuk kuil yang atapnya bersusun-susun seperti terlihat pada kemasan permen itu.

Pagoda biasanya ditemukan di negara-negara yang banyak dihuni oleh umat Budha seperti Thailand dan Myanmar . Di Yangon, Myanmar terdapat Pagoda Shwedagon yang berusia 2600 tahun. Pagoda Shwedagon ini besar dan megah. Warnanya kuning emas sehingga tampak menonjol.  Sekarang, selain sebagai tempat peribadatan, pagoda tersebut juga dikunjungi para turis.

Myanmar itu seperti Hidden Paradise, surga yang selama ini tersembunyi karena ketertutupan negara itu. Padahal potensi wisatanya besar, siapa bisa menyangkal keindahan bangunan pagoda yang banyak terdapat di sini. Ada Kuthodow Pagoda, Bagan Pagoda, Mahamuni Pagoda, Kaba Aye Pagoda, dll. Potensi wisata Myanmar tidak hanya Pagoda, pantai-pantainya memukau, seperti Ngapali Beach.

Bicara soal Myanmar, saya jadi ingat satu nama tokoh pergerakan yang menjadi tahanan rumah yaitu Aung San Su Kyi. Tokoh perempuan ini juga adalah peraih hadiah nobel perdamaian. Wow, 20 tahun menjadi tahanan rumah? memangnya apa yang terjadi di Myanmar?.

Dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, Myanmar memang tidak begitu terdengar gaungnya. Meskipun, negara ini sebenarnya memiliki potensi yang besar. Gejolak politik dalam negeri lah yang menyebabkan negara ini tertinggal dari negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Selama puluhan tahun Myanmar berada dibawah kekuasaan junta militer yang otoriter. Dalam melanggengkan kekuasaannya, rezim yang berkuasa tidak memberikan kebebasan pada warganya, turut atau ditahan. Seperti itulah yang dialami oleh Aung San Su Kyi, menjadi tahanan rumah karena kritis pada pemerintah yang otoriter dan menurutnya korup.

Myanmar pun mengisolasi diri dari dunia luar. Ini dilakukan oleh pemerintah tentu dalam upaya untuk mempertahankan kekuasaan selama mungkin. Wajar, jika negara-negara ASEAN lain melaju mengikuti perkembangan jaman. Myanmar sibuk dengan urusan dalam negeri yang terus-menerus dilanda konflik.

Foto Jembatan U Bein, Amarapura
Jembatan U Bein

Foto Jembatan U Bein ini merupakan hak milik TripAdvisor

Angin perubahan pun datang pada tahun 2010, saat pemerintah kemudian melepaskan secara bertahap para tahanan politik, termasuk Su Kyi. Demokrasi dan keterbukaan kini hadir di Myanmar. Pembangunan infrastruktur pun terus dilakukan, apalagi tahun 2013 ini Myanmar akan menjadi tuan rumah SEA GAMES dan tahun 2014 menjadi tuan rumah ASEAN Summit. Myanmar benar-benar berbenah diri.

Keterbukaan juga ditunjukan dari diperbolehkannya perayaan tahun baru. Ini baru pertamakali terjadi, selama ini junta militer melarang perayaan semacam itu. Disisi lain Myanmar juga mulai terbuka di bidang telekomunikasi dan internet. Myanmar telah membuka diri untuk roaming internasioanal. Meskipun untuk mendapatkan koneksi internet masih susah.

Keterbukaan di Myanmar memang belum lama, belum ada lima tahun. Jadi, jika Myanmar masih terlihat hati-hati itu wajar. Negara-negara ASEAN lainnya telah membebaskan berkunjung tanpa visa. Namun Myanmar masih mewajibkan visa bagi siapapun yang ingin berkunjung ke negara itu.

Visa Inggris
credit:theluggagestories

Visa merupakan ijin yang diberikan suatu negara kepada seseorang untuk bisa masuk ke negara tersebut. Jika visa diterima maka orang tersebut boleh masuk, jika ditolak berarti orang tersebut tidak boleh masuk. Ya, suka-suka tuan rumahnya saja.

Jika paspor adalah dokumen yang bukti identitas diri yang berupa buku, kalau visa biasanya berupa stiker yang tempel di paspor. Di beberapa negara bahkan telah menggunakan e-visa atau visa elektronik.

Saya suka berpesan sama anak sulung saya ketika dia di rumah dan saya tinggal pergi walaupun cuma sebentar, “Kalau ada tamu yang mba ndak kenal jangan dibukain pintu ya!”. Ini namanya kewaspadaan, hehehe. Takutnya, tamu tak dikenal itu punya niat jahat.

Nah, mungkin kewaspadaan serupa sedang dilakukan oleh pemerintah Myanmar. Di era perdagangan bebas seperti ini banyak negara telah membebaskan ijin masuk bagi siapapun. Myanmar rupanya masih membutuhkan waktu untuk bisa melakukannya. Saya yakin banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah Myanmar.

Ngurus visa kan repot! Kata siapa? Katanya!. Kalau saya belum punya pengalaman mengurus visa, belum pernah ke luar negeri je, kasian deh gue!. Jika ingin tahu prosedur mengurus visa tinggal googling saja. Ada banyak blog yang mengulas tentang visa dan cara memperolehnya.

Sebagai tamu kita hendaknya menghormati tuan rumah, dengan menaati apa yang menjadi aturan di sana jika ingin berkunjung. Seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung yang artinya hormatilah adat dan kebiasaan di tempat kaki kita berpijak.

#10daysforASEAN #day 4

Sumber:

Wikipedia

Okezone

Okezone

 

 

 

2 thoughts on “Cerita dari Myanmar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *