Jangan (Lagi) Ada Sengketa Antara Singapura dan Malaysia

Sovereignty over the strategically located island of Pedra Branca (foreground) was awarded to Singapore. Middle Rocks in the background go to Malaysia.Bicara soal kepemilikan tanah ataupun wilayah memang sensitif. Coba perhatikan, dimana-mana jika ada sengketa lahan ataupun rumah seringkali mudah membuat urat leher menjadi tegang. Bahkan tak jarang pengerahan masa dilakukan guna mempertahankan sesuatu yang dianggap sebagai miliknya.

Apalagi persoalan kepemilikan wilayah suatu negara, ini seperti api dalam sekam. Jika tidak diselesaikan secara tuntas, berpotensi menimbulkan gejolak perselisihan diantara negara yang mengaku berhak atas suatu wilayah.

Masih ingat bukan? ketika kapal perang Indonesia dan Malaysia saling berhadapan di perairan Ambalat beberapa tahun lalu. Kejadian ini tak lepas dari belum tuntasnya penyelesaian batas wilayah yang diklaim masing-masing negara.

Jika sudah bicara soal wilayah negara, selalu muncul sentimen nasionalisme dan unjuk kekuatan militer yang menimbulkan ketegangan dikedua negara dan menganggu stabilitas kawasan.

Sengketa kepemilikan sebuah pulau juga menimpa Singapura dan Malaysia. Dua negara ASEAN yang berbatasan ini mengklaim berhak atas kepemilikan gugus pulau Pedra Branca atau pulau Batu Puteh, Middle Rock dan South Ledge. Sengketa kepemilikan ini telah berlangsung lama yaitu sejak tahun 1979 ketika Malaysia menerbitkan peta Wilayah Perairan dan Landas Batas Kontinen Malaysia. Dalam peta ini Malaysia memasukkan Pulau Pedra Branca masuk ke dalam wilayahnya. Hal tersebut di protes oleh pemerintah Singapura yang mengklaim bahwa Pedra Branca adalah miliknya.

Gambar Singapura - Foto Wisatawan
merlion-singapura

Foto Singapura ini merupakan hak milik TripAdvisor

Berbagai upaya penyelesaian sengketa secara bilateral tidak menuai hasil membuat kedua negara sepakat untuk menyelesaikan sengketa ini ke Mahkamah Internasional (International Court Of Justice/ICJ). Pada tanggal 23 Mei 2008, ICJ akhirnya mengambil keputusan tentang sengketa itu, salah satunya menyatakan bahwa kepemilikan pulau Pedra Branca ada pada Singapura. Sementara pulau Middle Rock, dinyatakan sebagai milik Malaysia. Sedangkan untuk pulau South Ledge, diserahkan pada kedua negara.

Well, Singapura pasti bahagia dengan keputusan ini. Sementara Malaysia tentu kecewa, masyarakat Malaysia pun belum bisa menerima keputusan bahwa pulau yang mereka sebut Batu Puteh itu harus jatuh ke tangan Singapura. Adanya keputusan ICJ ternyata tak serta merta menyelesaikan sengketa. Masih memerlukan proses agar pemerintah dan rakyat Malaysia bisa menerima bahwa Pedra Branca/Batu Puteh menjadi milik Singapura.

Menanti Peran ASEAN

Sebagai sebuah organisasi regional yang telah lama berdiri, ASEAN sesungguhnya harus bisa berperan dalam menyelesaikan sengketa yang dialami para anggotanya. ASEAN sendiri telah memiliki Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara (Treaty Of Amity cooperation In Southeast Asia). Dalam perjanjian tersebut telah disepakati code of conduct atau tatacara berperilaku dalam kerjasama antar anggota ASEAN. Masing-masing negara telah menyepakati bahwa dalam pelaksanaan kerjasama tersebut akan meninggalkan kekerasan dan mengedepankan cara-cara yang damai dalam menyelesaikan sengketa diantara anggota.

Namun faktanya, jika terjadi konflik diantara anggota, peran ASEAN belum terlihat dalam upayanya mencari penyelesaian. Negara-negara ASEAN lebih memilih lembaga internasional untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Contohnya ya sengketa Singapura dan Malaysia ini, atau juga sengketa antara Indonesia dan Malaysia atas pulau Sipadan dan Ligitan. Mahkamah Internasional menjadi pihak pendamainya.

Logikanya kan jika ada tetangga yang berselisih, tetangga dekat akan mendamaikan dulu atau pengurus RT menjadi pihak penengah. Diharapkan peran tetangga dan pemimpin di wilayah itu mampu menyelesaikan masalahnya. Jika telah diupayakan ternyata tak menuai hasil, baru dipersilahkan menyelesaikan di pengadilan.

Nyatanya selama ini jika ada anggota ASEAN yang bersengketa, kedua negara itu berusaha menyelesaikan sendiri. Sementara ASEAN sebagai komunitas tidak mengambil inisiatif untuk membantu menyelesaikan sengketa.

Indonesia justru telah mengambil peran dalam proses perdamaian antara Vietnam dan Kamboja. Melalui JIM (Jakarta Informal Meeting) memediasi kedua negara yang bertikai tersebut. Hasilnya, Vietnam akhirnya mau menarik pasukannya dari Kamboja. Perdamaian pun akhirnya tercipta diantara kedua negara tersebut.

Nah, ASEAN bisa mengambil peran tersebut sebenarnya. Melalui pendekataan yang lembut, hehehe. Bukan menggunakan sanksi seperti yang kerap dilakukan DK PBB.

Gambar Malaysia - Foto Wisatawan
petronas tower-malaysia

Foto Malaysia ini merupakan hak milik TripAdvisor

Singapura-Malaysia

Untuk kasus Singapura dan Malaysia ini ASEAN bisa mengambil peran dengan melakukan pendekatan dengan cara kekeluargaan kepada kedua negara. Bicara dari hati ke hati kepada pihak yang dikecewakan yaitu Malaysia agar menaati keputusan ICJ tersebut. ASEAN juga bisa berperan dalam mendorong pemerintah Malaysia untuk menyosialisasikan keputusan ICJ tersebut untuk mencegah konflik di tingkat bawah antara masyarakat Malaysia dan Singapura.

Sedangkan pendekatan kepada Singapura dilakukan agar pihak Singapura mampu menahan diri dari tindakan-tindakan provokasi kepada Malaysia. Selain itu, Asean bisa mengajak Singapura untuk mengantisipasi pelanggaran atas keputusan ICJ tersebut dengan cara-cara damai.

Menuju Komunitas ASEAN 2015

Keberhasilan Komunitas Asean 2015 ikut ditentukan oleh stabilitas kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu segala potensi konflik harus dihilangkan. Jika masih ada sengketa diantara kita hendaknya ASEAN turut aktif dalam menyelesaikan konflik tersebut agar tidak berlarut-larut dan membahayakan stabilitas regional.

Kemampuan ASEAN dalam menyelesaikan konflik internal tentu akan meningkatkan kredibilitas ASEAN sebagai sebuah komunitas yang mapan. Jika ASEAN sanggup memainkan perannya dalam menyelesaikan konflik diantara anggotanya, bukan tidak mungkin ASEAN akan memiliki peran besar dalam mewujudkan perdamaian dunia.

 #10daysforASEAN #day 7

Sumber:

Haguejusticeportal
Setkab
Ibrahimjr
Kompas

1 Comment

  1. […] Indonesia pada Asean sih, memang layaklah Indonesia kebagian jatah ini. Masih ingat dipostingan ini?, Indonesia secara aktif menjadi penengah ketika ada konflik internal anggota Asean. JIM (Jakarta […]

Leave a Reply