Bersama Kita Bisa

Sultan Brunei Hassanal Bolkiah dalam rangkaian acara pesta pernikahan Putri Hafizah Sururul Bolkiah, di Istana Nurul Iman di Brunei (19/9). Putri Hafizah adalah putri kelima Sultan, salah satu orang terkaya di dunia
credit ;AFP

Menjadi raja dan ratu sehari, itulah istilah bagi pengantin yang bersanding di pelaminan. Disebut raja dan ratu karena pengantin duduk di pelaminan, bak raja dan ratu. Namun bagi Putri Hafizah Sururul Bolkiah, tak cukup hanya sehari bersanding di pelaminan tapi selama seminggu pernikahannya dirayakan. Dengar-dengar biaya yang dihabiskan mencapai 400 milyar. Wow, fantastik!

Wajarlah, Putri Hafizah adalah putri Sultan Hasanal Bolkiah, Raja Kesultanan Brunei Darussalam, sebuah negara kecil di wilayah utara pulau Kalimantan. Biarpun wilayahnya tak seberapa, Brunei dikenal amat kaya dengan minyak dan gas bumi. Kedua tambang inilah yang menempatkan Brunei sebagai negara terkaya nomor 5 versi majalah Forbes.

Indeks Pembangunan Manusia di Brunei mencapai 0,855, berada di peringkat 30 dunia dan peringkat 2 di ASEAN. Nilai IPM inilah yang menempatkan Brunei sebagai salah satu negara maju di dunia.

Pada April 2013 silam, Brunei menjadi tuan rumah KTT Asean ke 22. Pertemuan ini mengangkat tema “Our People, Our Future Together”, dimana yang menjadi pokok pembicaraan adalah pembentukan badan persatuan Asean dengan tiga pilar yaitu persatuan keamanan, persatuan ekonomi dan persatuan sosial budaya. Pertemuan ini mengamanatkan pembentukan badan persatuan tersebut harus selesai sebelum Desember 2015. Ini merupakan langkah persiapan bersama dalam menyambut Asean Economic Community 2015.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, mengatakan bahwa masa sekarang adalah masa percepatan kesiapan negara-negara anggota Asean menuju AEC 2015. Persiapan tersebut meliputi menyiapkan peraturan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat dan implementasinya.

Negara-negara Asean memang berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan persiapan tersebut. Padahal masalah yang dihadapi oleh masing-masing negara beragam. Persoalan seputar kondisi ekonomi masing-masing negara menjadi salah satu yang harus dipercepat. Negara seperti Kamboja, Laos dan Myanmar adalah tiga negara yang harus mengejar ketertinggalan dibidang ekonomi.

Indonesia sendiri menghadapi persoalan pada kurangnya sosialisasi AEC pada level UMKM, padahal mereka nantinya akan face to face dengan pesaing dari negara Asean. Di sektor tenaga kerja terampil, kita juga tergagap-gagap. Tenaga kerja yang siap face to face dengan tenaga kerja dari negara Asean lainnya adalah kelompok dokter gigi dan akuntan.

Nada keraguan mengenai kesiapan Indonesia diungkapkan oleh Kadin, bisa dibaca di sini. Negara-negara Asean yang dinilai paling siap menuju AEC 2015 adalah Singapura, Thailand dan Malaysia. Dengan kondisi yang timpang seperti ini, perlu kesadaran dan usaha serius untuk mengejar ketertinggalan agar pilar persatuan ekonomi bisa diwujudkan.

Sementara itu pilar keamanan menghadapi masalah yang  rawan menimbulkan konflik. Konflik ini bisa menganggu perdamaian dan stabilitas kawasan. Persoalan sengketa perbatasan dan kepemilikan pulau menjadi isu utama di sini. Sengketa Singapura-Malaysia atas Pedra Branca, Indonesia-Malaysia atas perairan Ambalat. Selanjutnya the most critical conflict adalah menyangkut Laut Cina Selatan yang disengketakan Brunei, Malaysia, Filipina dan tetangga kita RRC serta Taiwan.

Laut Cina Selatan
credit:timegenie.com

Pilar sosial dan budaya sepertinya yang menonjol adalah persoalan klaim kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia. Persoalan ini beberapa kali sempat mengemuka dan memicu sentimen negatif. Unjukrasa dan pembakaran bendera sempat membuat kisruh suasana dan menimbulkan situasi yang tidak nyaman bagi hubungan kedua negara. Ini bisa menjadi batu sandungan dalam mewujudkan persatuan sosial budaya.

Persoalan-persoalan tersebut menjadi penghambat terbentuknya tiga pilar yang kokoh. Oleh sebab itu, masing-masing anggota harus menyadari pentingnya memperkuat persamaan dan meminimalkan perbedaan. Persamaannya terletak pada tujuan masing-masing anggota tergabung dalam Asean. Jadi fokus saja pada usaha tercapainya tujuan bersama. Sementara perbedaan yang berpotensi membuat runyam situasi segera buang jauh-jauh dengan menekan ego masing-masing anggota.

Menguatkan Komitmen dan Kerja

Setiap komunitas dibentuk pasti berdasarkan tujuan yang baik untuk semua anggota. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan komitmen yang kuat pada awalnya. Jangan sampai terjadi “janji di atas ingkar” ataupun “mendua”, ini berbahaya sebab bisa membuat rencana menjadi gagal.

Komitmen untuk serius mewujudkan tujuan bersama melalui serangkaian usaha yang diperlukan. Asean telah melakukannya, anggota Asean telah menyepakati terbentuknya AEC 2015 untuk mencapai kemajuan ekonomi kawasan.

Usaha menciptakan cetak biru AEC 2015 pun tengah dikebut. Semoga bisa selesai tepat waktu. Selain itu, usaha mempersiapkan berbagai regulasi di masing-masing negara juga terus dikerjakan.

Evaluasi dari setiap tahap persiapan harus rutin dilakukan agar bisa diketahui bagian mana yang masih kurang, negara mana yang masih tertinggal dalam persiapan. Sehingga bisa diupayakan sesegera mungkin untuk dapat mengatasinya.

Masing-masing negara anggota harus aware dengan kondisi negara anggota yang lain. Berperanlah sebagai seorang partner, memberi suntikan semangat. Katakan pada mereka yang sedang mengejar ketertinggalan, come on, you can do it!.

Keberhasilan dalam meraih tujuan bersama ini ditentukan oleh semua anggota Asean. Jika masing-masing negara berhasil menjalankan usahanya maka keberhasilan meraih tujuan bersama berada dalam genggaman.

Bersama Kita Bisa

Ditengah berbagai perbedaan yang kerap menimbulkan perselisihan apakah mungkin mewujudkan “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan” bisa diwujudkan?.

Anggota Asean harus menyadari bahwa cita-cita tersebut bisa terwujud ketika semua anggota bergandengan tangan dalam melaksanakannya. Kita tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri. Jika tujuan kita sama maka kita harus berada dalam barisan yang sama.

Ingat, ketika dalam barisan yang sama maka langkah kita pun harus seirama, tu,wa,ga,pat. Ketika ada langkah yang tak seirama segeralah menyesuaikan diri agar bisa sampai garis finish dan menjadi pemenang.

Lalu bagaimana menyatukan masyarakat Asean dalam satu barisan?. Sosialisasi terus-menerus harus dilakukan, yang jelas tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah masing-masing negara. Rakyat yang telah melek mengenai AEC 2015 bisa menjadi mentor bagi kalangan masyarakat yang belum memahami AEC 2015 dan segala konsekuensinya.

Caranya? sebarkan informasi ini kepada orang-orang dalam jangkauan Anda. Jika Anda seorang guru, sebarkanlah pada murid-murid Anda. Jika Anda seorang dosen, sebarkanlah ini pada mahasiswa Anda, agar mereka siap menghadapi persaingan dunia kerja yang bakal bertambah ketat. Jika Anda pelaku UMKM, sebarkan pada kawan-kawan UMKM lainnya agar mereka meningkatkan kualitas produk atau jasa mereka sehingga mampu bersaing di AEC 2015.

Sebuah cita-cita besar harus diwujudkan dengan optimis. Sebab tanpa rasa optimis berarti kita menyerah sebelum bertanding, rugi dong!. Jadi, mari kita bergandengan tangan dan katakan “Bersama Kita Bisa”.

credit:sitegoogle.com

#10daysforASEAN #day 9

Sumber:

polkam.go.id

wikipedia

Tribunews

Berita Satu

Antara Kalbar

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *