Menjadi Tuan Rumah yang Baik

“Siapa suruh datang Jakarta

Siapa suruh datang Jakarta,

Sendiri susah, sendiri rasa,

Edoe…sayang”

Lagu ini lekat banget sama sisi buram Jakarta. Ketika orang berbondong-bondong ke Jakarta untuk mengadu nasib dan akhirnya menjadi gelandangan, hidup susah di kolong jembatan, atau meskipun punya pekerjaan dan penghasilan tetap pun tak mampu mengimbangi ritme hidup di Jakarta maka lagu ini memang sindiran telak.

Saya sih bukan warga Jakarta, baru beberapa kali ke Jakarta. Sejauh mata saya memandang wajah Jakarta seperti ada dua sisi. Satu sisi, Jakarta memiliki wajah modernitas, gedung -gedung bertingkat, mobil-mobil mewah, mal-mal, hotel -hotel bintang lima, tempat hiburan mewarnai satu sisi Jakarta.

Sementara di sisi yang lain, kali penuh sampah, kolong jembatan penuh bilik-bilik kardus, macet dan banjir membuat wajah Jakarta menjadi terbelakang. Potret kemiskinan bersanding dengan potret kemakmuran.

Jakarta memang seperti gula dan seperti kata pepatah ada gula ada semut. Namanya semut datang pasti tidak sendirian, awalnya dia hanya sendiri kemudian memanggil kawannya. Satu persatu kawan-kawannya pun datang ikut menikmati manisnya gula. Begitupun Jakarta, laju urbanisasi seolah tak terbendung meski banyak yang akhirnya terpental diantara kerasnya kehidupan Jakarta.

Sederet persoalan itu ternyata tak mengurangi wibawa Jakarta ditengah-tengah ibukota negara Asean lainnya. Terbukti sejak tahun 1976, Jakarta dipercaya menjadi Sekertariat Asean. Kini, menuju Asean Economic Community 2015, Jakarta kembali dipercaya The Diplomatic City alias markasnya Asean, wow!.

Dipilihnya Jakarta sebagai markas Asean tentu membuat kita bangga dong!. Sekaligus bertanya-tanya, mengapa Jakarta? Ada Singapura yang lebih maju atau Kualalumpur yang keren. Menurut tautan ini, Jakarta memiliki posisi strategis dalam hubungan dengan kota-kota besar seperti Sidney, Singapura, Tokyo dan New Delhi.

Dalam relasi internasional, keanggotaan Indonesia dalam kelompok G20 ternyata dipandang sebagai faktor yang membuat Jakarta layak sebagai markas Asean. Selain itu Jakarta juga dianggap mampu menampung staf Asean yang bertugas mengawal AEC 2015 dan mengurusi 10 negara anggota Asean.

Jika melihat kembali kontribusi Indonesia pada Asean sih, memang layaklah Indonesia kebagian jatah ini. Masih ingat dipostingan ini?, Indonesia secara aktif menjadi penengah ketika ada konflik internal anggota Asean. JIM (Jakarta Informal Meeting) yang menjembatani proses perdamaian antara Vietnam dan Kamboja menjadi salah satu bukti jika Indonesia memiliki peran penting dalam komunitas.

Raih Manfaatnya dan Antisipasi Dampak Negatifnya

Menjadi tuan rumah dari sebuah komunitas besar tentu akan membawa dampak bagi Jakarta. Berkaca dari Brussel yang menjadi markasnya Uni Eropa, bahwa terjadi penguatan disisi ekonomi. Indonesia pun harus bisa memetik manfaat ini. Jakarta akan kedatangan banyak diplomat dan stafnya, tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang, investor dan wisatawan. Ini potensi ekonomi yang harus dimaksimalkan. Mereka tentunya butuh tempat tinggal, butuh makan, butuh tempat rileks, dll. So, para wirausahawan punya kesempatan nih untuk merebut pasar ini.

Selain itu menjadi Diplomatic City tentu membuat perfomance Indonesia di kancah dunia semakin diperhitungkan. Kesempatan emas bagi Indonesia untuk bisa lebih berperan dalam komunitas yang lebih luas. Ya, bisa lebih dianggap gitu! selama ini kan kalau bicara pendapatan perkapita kita selalu kalah pamor dari Singapura. Menjadi markas Asean bisa mengangkat sisi positif Indonesia dimata dunia.

Namun, kita juga perlu mengantisipasi sisi negatif yang mungkin timbul dari posisi Jakarta sebagai markas Asean. Tahu sendiri, kemacetan Jakarta itu telah membuat pusing banyak Gubernur. Semakin hari, semakin penuh saja Jakarta dengan parade mobil-mobil itu. Menjadi pusat kegiatan Asean tentu menambah padat kegiatan dan jumlah orang yang hidup di Jakarta. Jika tak dipikirkan secara cermat ini bisa jadi bumerang bagi Jakarta sendiri.

Persoalan daya dukung Jakarta sebagai ibukota negara, pusat perdagangan, industri, politik dan kini pusat kegiatan komunitas Asean yang semakin padat. Daya dukung lingkungan perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Ditambah dengan dinamisnya demokrasi di negara kita yang berdampak pada sering terjadi aksi-aksi demonstrasi  yang kerap berujung ricuh, juga harus diantisipasi.

Memasuki pasar bebas Asean, aktifitas tentu sangat dinamis, segalanya amat berharga. Semboyan time is money menjadi relevan dengan semangat pasar bebas. Macet, jelas menghambat produktifitas. Oleh karena itu upaya yang selama ini sedang dilakukan seperti busway, mrt, yang bertujuan untuk mengatasi kemacetan hendaknya terus dilanjutkan.

Seperti upaya yang dirintis oleh Departemen Luar Negeri untuk membuat Diplomatic Zone perlu didukung semua pihak. Ini bertujuan untuk kelancaran koordinasi dalam AEC 2015. Rencananya, wilayah Kebayoran baru akan menjadi zona diplomatik dengan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi para diplomat dan stafnya seperti sekolah internasional, rumah sakit, dan layanan jasa lainnya.

Beri Kesan yang Baik

Berkunjung atau bahkan tinggal disuatu tempat dapat meninggalkan kesan mendalam. Kadang kesan itu timbul bukan karena kemewahan lingkungannya namun karena kehangatan para penghuninya dalam menyambut kita dan berinteraksi.

Pembangunan infrastruktur untuk kelancaran pelaksanaan AEC 2015 tentu harus dilakukan. Masyarakat Jakarta juga harus siap menyambut banyak tamu. Tampilkan wajah Jakarta yang bersih, teduh dan ramah. Soalnya, Jakarta bakal menjadi sorotan nih.

Kalau mau protes atau mau demo yang tertib, jangan bikin rusuh pakai bakar-bakar ban  atau bahkan memblokir jalan. Supaya Jakarta tetap aman terkendali, aman buat kita, aman pula buat para tamu.

Selain itu hentikan membuang sampah di sungai atau di selokan. Memangnya ngaruh? bukannya Diplomatic Zone itu kawasan yang eksklusif, pastinya kan bersih, rapi, indah. Ini bicara mengenai daya dukung lingkungan. Jika Jakarta bersih secara keseluruhan kan nyaman. Kawatirnya nih, sampah yang menumpuk lagi-lagi membuat sungai jadi berkurang daya tampungnya dan ujung-ujungnya kan banjir. Nggak enak kan kalau tamunya ikut kebanjiran?.

Tuan rumah yang baik akan meninggalkan kesan yang baik dihati para tamu. Mari kita sambut Asean Economic Community 2015 dan katakan

“Welcome To Jakarta”

#10daysforASEAN #day10

Sumber:

Jakarta Post
Asean.org
VOV World

 

2 thoughts on “Menjadi Tuan Rumah yang Baik

    1. Makasih Mak Winda…hiihihi, akhirnya berakhir juga ya, bisa nyante nih malam ini, kagak lembur lagi, otak juga bisa rileks. 10 hari digeber tema-tema berat, cenut-cenut..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *