Lain Ladang lain Belalang

Gambar Belalang Sembah di Atas Rumput
sumber gambar di sini

Plong akhirnya bisa ngeblog lagi setelah beberapa minggu ini lost control. Saya harus belajar sama Pakde Cholik nih soal menjaga konsistensi ngeblog, sungkem dulu sama Pakde.

Berhubung masih suasana Idul Adha maka cerita saya kali ini pun tentang perayaan Idul Adha di tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup saya. Pertama, soal perayaan Idul Adha di kota kelahiran saya, Banyumas. Suasananya memang tidak seramai ketika Idul Fitri mungkin karena tidak begitu banyak yang mudik.

Malam takbiran sih selalu terlihat meriah karena suara takbir keras terdengar di masjid-masjid maupun di setiap langgar. Tak hanya orang dewasa saja yang kerap mengumandangkan takbir, anak-anak juga bersemangat menyerukan kalimat takbir. Bagi anak-anak, malam takbiran adalah saat mereka bisa begadang, dihari biasa mana boleh mereka tidur larut malam.

Pagi harinya, masyarakat nampak berbondong-bondong menuju Alun-alun Banyumas yang letaknya persis di depan Masjid Agung Nur Sulaiman. Ada yang berjalan kaki, tak sedikit juga juga yang memilih naik motor atau mobil menuju alun-alun. Kami sekeluarga biasanya berjalan kaki, selain jaraknya yang tidak jauh, berjalan kaki lebih seru karena dari setiap gang terlihat orang berjalan beriringan. Jalanan pun terlihat seperti lautan manusia.

Alun-alun ini memang biasa dijadikan tempat sholat ied baik sholat Idul Fitri maupun sholat Idul Adha. Alun-alun di kotaku terbagi dua, alun-alun barat dan alun-alun timur. Keduanya dipisahkan oleh jalan yang dihiasi pohon beringin kembar yang menghubungkan kedua sisi alun-alun. Biasanya sholat Ied dilakukan di alun-alun barat. Tempatnya yang luas selalu dapat menampung masyarakat di kotaku.

Namun memang ada yang berbeda jika dibandingkan saat sholat Idul Fitri yaitu jumlah shafnya lebih sedikit ketika Sholat Idul Adha. Begitu juga dengan kendaraan yang diparkir diseputar tempat sholat, tidak sebanyak ketika Idul Fitri.

Ada yang terasa sama olehku yaitu suasana khidmatnya hari raya, yaitu takbir yang menggema bersahutan. Selain itu ada yang selalu saya rindukan ketika sholat di alun-alun, yaitu bau rumput basah dan hangatnya mentari pagi. Ini sesuatu banget.

Selepas sholat maka kaum lelaki disibukkan dengan urusan memotong hewan kurban dan membagikannya kepada kaum dhuafa. Hanya itu? iya begitulah, setidaknya itu yang saya ingat dari belasan tahun tinggal di sana, tak ada ketupat ataupun kue lebaran. Ini kenyataan yang ada di rumahku lho? dan sepertinya di rumah sebelah dan tetanggaku yang lain juga sama, kok tahu?. Ya, soalnya tetanggaku kan ya Budeku, Bulekku, Pamanku, Nenekku baik dari pihak Ayah maupun Ibu, hihihi jadilah saya tahu. Keluarga besar kami memang sebagian besar berkumpul di satu RT.

Suasana berbeda saya temukan ketika berlebaran Idul Adha di Palembang. Di sini meriahnya Idul Adha terlihat dari hidangan yang tersaji di rumah-rumah seperti saat Idul Fitri. Soal yang satu ini saya mengakui Palembang memang juaranya dalam memeriahkan hari raya.

Aneka kue lebaran moderen maupun tradisional tak absen, ditambah dengan aneka masakan tradisionalnya yang terkenal beragam dan enak rasanya. Jadi sehari sebelum hari raya, pemandangan yang wajar ketika kaum ibu sibuk menyiapkan aneka hidangan di dapur.

Untuk sholat Idul Adha, kebanyakkan dilakukan di masjid-masjid, saya belum pernah sholat ied di lapangan terbuka seperti di kampung halamanku. Memang sih, ini menjadi sesuatu yang terasa berbeda, tak ada bau rumput basah dan sinar matahari yang menghangati tubuh.

Satu hal yang saya suka, budaya besanjo atau berkunjung dari rumah-ke rumah saat hari raya masih begitu kental. Tak heran jika setiap rumah bersiap dengan aneka hidangan untuk memanjakan para tetamu.

Lalu bagaimana suasana Idul Adha di tempat tinggal sekarang? hehehe, yang jelas aman terkendali. Untuk suasana malam takbiran, di komplek perumahan yang saya tinggali relatif sepi, meskipun jumlah masjid ada empat dan letaknya tidak terlalu jauh. Sholat Ied biasanya dipusatkan di salah satu masjid. Setiap tahun masjid-masjid ini akan mendapat jatah sebagai tempat sholat secara bergiliran.

Untuk sholat Idul Adha tahun ini, tempat sholat Ied adalah masjid yanga letaknya tak jauh dari rumah, cukup berjalan kaki tiga menit saja sudah sampai. Alhamdulilah, ini adalah nikmat kemudahan bagi kami sekeluarga.

Jumlah jamaah yang banyak membuat tempat sholat meluber hingga ke jalan depat masjid. Bagi mereka yang sholat di luar masjid tentu bisa menikmati hangatnya mentari pagi meskipun tak ada bau rumput basah melainkan bau aspal. Tak apalah, bukankah ini juga nikmat yang patut disyukuri karena bukan hujan yang diturunkan. Bayangkan jika hujan tiba, mereka yang berada di luar masjid bisa urung melaksanakan sholat ied.

Seusai pelaksanaan sholat ied, kesibukan nampak di keempat masjid itu. Kaum lelaki bergotong royong menyembelih hewan kurban sementara kaum ibu menyiapkan makanan untuk bapak-bapak yang sedang bekerja. Sementara itu suasana di rumahku dan sekitarku terlihat sepi. Tak ada kue lebaran, tak ada ketupat apalagi rendang.

Sampai-sampai anakku pun bertanya, “Ini lebaran bukan sih? kok sepi banget ya?”. Sambil tersenyum saya katakan, ini memang lebaran Nak, lebaran Idul Adha, lain tempat lain pula suasananya.

Seperti kata pepatah, lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Setiap tempat memiliki cara yang berbeda dalam merayakan Idul Adha. Yang terpenting adalah semangat Idul Adha itu terpatri dalam jiwa bahwa ketaatan kepada Alloh SWT adalah di atas segalanya.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1434 H, semoga Idul Adha kali ini tidak sekedar merasakan daging kurban tapi menjadi momentum untuk meningkatkan ketaatan kepada Alloh SWT.

 

 

 

4 thoughts on “Lain Ladang lain Belalang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *