Menebarkan Pesona The Sunrise Of Java

banyuwangi
— eastjava.com —

Pernah mendengar suku Osing?. Bagaimana penampilan fisiknya, di mana mereka tinggal, darimana asal-usulnya dan seperti apa ragam budayanya. Atau jika saya sebutkan penampilan fisiknya serupa dengan suku jawa,  bahasa yang mereka pergunakan adalah Bahasa Jawa kuno dan adat budayanya mirip-mirip dengan budaya Bali. Sudah bisa menebak di mana keberadaan suku Osing?.

Suku Osing atau Using ternyata salah satu etnis yang mendiami tempat yang dahulu merupakan wilayah  Kerajaan Blambangan sekarang disebut sebagai Kabupaten Banyuwangi. Konon ketika kejayaan Majapahit berakhir, perang saudara terus terjadi. Sebagian rakyat memilih untuk meninggalkan wilayah Majapahit. Ada yang memilih tinggal di lereng Gunung Bromo, ada yang pergi dan menetap di daerah Blambangan  dan selebihnya memilih tinggal di Pulau Bali. Mereka yang memilih menetap di Blambangan inilah yang menjadi moyangnya suku Osing. Suku Osing sering disebut sebagai wong blambangan atau dikenal sebagai penduduk asli Banyuwangi.

Posisi Menentukan Potensi

Sebagai wilayah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi memang yang merasakan lebih dulu terbitnya sinar matahari dibanding wilayah lainnya di Pulau Jawa. Disaat yang lain masih lelap dalam peraduan, Banyuwangi telah berbegas menyambut hangatnya mentari pagi. Nah, kondisi inilah yang membuat Banyuwangi dijuluki sebagai The Sunrise of Java.

— banyuwangikab.go.id —

Secara geografis Banyuwangi memang strategis. Bagaimana tidak, Banyuwangi berbatasan langsung dengan selat Bali. Jadi, Banyuwangi itu pintu gerbang Pulau Jawa di sebelah timur. Menjadi pintu gerbang tentulah amat menguntungkan. Banyak orang hilir mudik melalui Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk dan sebaliknya.

Di sebelah utara, Banyuwangi berbatasan dengan Kabupaten Situbondo. Sementara di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember. Di sebelah selatan Banyuwangi terbentanglah Samudera Indonesia nan luas.

Sebagian wilayahnya menyimpan potensi pertanian dan perkebunan. Banyuwangi di kenal sebagai penghasil kopi robusta. Komoditas kopi ini sebagai komoditas ekspor andalan. Hm, bagi pecinta kopi, saatnya untuk mencicipi nikmatnya kopi Robusta Banyuwangi. Sekali seduh kita bersaudara, beginilah cara Banyuwangi menyambut para penikmat kopi.

Menikmati kehangatan secangkir kopi di Banyuwangi terasa semakin nikmat dengan ditemani sepiring pisang goreng. Buah pisang ternyata tumbuh subur di sini. Buah yang bisa dibuat berbagai macam kudapan ini merupakan salah satu hasil pertanian yang diandalkan. Tak ayal lagi jika Banyuwangi mendapat julukan sebagai kota pisang.

Selain itu Banyuwangi memiliki hasil komoditas laut yang juga besar dan menjadi sumber pendapatan daerah. Dengan garis pantai sepanjang 175 kilometer, Banyuwangi menjadi surganya biota laut. Bahkan pelabuhan Muncar merupakan pelabuhan ikan terbesar kedua di Indonesia dan merupakan pusat industri perikanan.

Posisi geografis Banyuwangi memang berperan dalam menentukan potensi yang dimilikinya. Termasuk potensi wisata yang amat kaya. Diapit selat dan samudera membuat Banyuwangi memiliki potensi wisata bahari yang memikat. Pantainya yang panjang membentang, menjanjikan keindahan dan sensasi menantang bagi  yang hobi bercengkerama dengan ombak yang tinggi.

Siapa yang bisa menyangkal keindahan pantai-pantai di Banyuwangi seperti terlihat dalam gambar di atas. Bagi yang gemar memacu adrenalin bisa mencoba ganasnya ombak di pantai Plengkung. Pantai yang disebut juga G-Land atau Grajagan Land ini dikabarkan memiliki ombak besar yang terbaik di dunia, sehingga cocok sekali untuk surfing. Pantaslah jika Plengkung disebut sebagai surganya untuk para peselancar.

Selain itu ke pantai tak lengkap jika tidak menikmati hasil lautnya yang segar, di pelabuhan Muncar aneka macam ikan dan hasil laut lainnya siap memanjakan lidah. Di sini kita bisa menikmati riuhnya aktifitas pelabuhan. Ada banyak perahu tradisional dengan beragam bentuk, ada juga upacara tradisonal yang kerap dilakukan nelayan untuk mengharap berkah.

Tempat wisata yang tak kalah menariknya adalah Segara Anak Bedul yang  merupakan hutan mangrove yang masih alami. Berperahu sambil menikmati keindahan mangrove bisa juga dilakukan sambil memancing ikan. Masih banyak potensi wisata bahari seperti Pantai Rejegwesi, Pulau Tabuhan, Pulau Merah, Teluk Ijo, Pantai Blimbingsari dan Pulau Lampon yang juga memiliki keindahan yang sayang untuk dilewatkan.

Banyuwangi juga memiliki dataran rendah dan tinggi yang subur, memberikan berkah berupa potensi agrowisata yang tak kalah menarik. Daerah penghasil komoditas pertanian dan perkebunan pun bersolek agar wisatawan tertarik untuk mengetahui dan menikmati kekayaan hasil bumi dari tanah blambangan ini.

Agrowisata Malangsari dikenal sebagai penghasil kopi robusta yang tersohor. Malangsari memiliki produk andalan yaitu kopi lanang. Selain Malangsari, kopi juga bisa dijumpai di agrowisata Bayulor dan Kalibendo. Sementara itu bagi pecinta coklat, agrowisata Glenmore pilihan tepat untuk dikunjungi. Ada pula agrowisata yang menarik untuk dikunjungi  yaitu Kaliklathak, di sana aneka macam rempah, coklat, karet dan cengkeh bisa dijumpai.

Jajaran pegunungan juga memberi sumbangan besar bagi potensi wisata pegunungan nan menyejukkan mata. Terlebih lagi Banyuwangi memiliki kekayaan berupa hutan yang dihuni beragam flora dan fauna. Memiliki kawasan konservasi bagi flora dan fauna merupakan berkah lain bagi potensi wisata Banyuwangi. Bahkan kawasan hutan merupakan kawasan yang paling luas di Kabupaten Banyuwangi.

Ada Gunung Raung dan gunung Merapi serta yang tak kalah eksotis adalah Kawah Ijen dengan api birunya (blue fire) yang muncul kala subuh atau penangkaran penyu terdapat di Pantai Sukamade. Di sinilah upaya pelestarian penyu dilakukan. Selain penyu, beragam fauna dalam berbagai habitat bisa dilihat di Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo.

Beragam suku yang tinggal di Banyuwangi telah membuat warna-warni indah dalam khasanah budaya yang dimilikinya. Setidaknya ada suku Osing, Jawa, Madura, Bali, Bugis, Thionghoa dan Melayu, hidup rukun satu sama lain. Masing-masing suku memiliki adat istiadat yang khas. Meskipun memiliki perbedaan namun adat istiadat itu hidup secara lestari dari generasi ke generasi hingga kini.

Diantara banyak adat istiadat itu adalah kesenian jaranan, kuntulan, janger, gandrung, barong dan gedhogan. Masyarakat adat di negeri ini juga akrab dengan berbagai upacara tradisional, begitu juga di Banyuwangi ada banyak upacara tradisional yang masih bisa disaksikan seperti upacara kebo-keboan, upacara jamasan dan pameran pusaka tosan aji, petik laut grajagan, surauan, petik laut lampon, puter kayun, barong idher bumi, edhog-edhogan, rebo wekasan dan seblang.

--cap go mee (banyuwangitourism.com)--
–cap go mee (banyuwangitourism.com)–

Masyarakat Banyuwangi dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh tradisi nenek moyang. Namun demikian masyarakat Banyuwangi tidak menutup diri dari perkembangan jaman. Terbukti, dengan kreatifitasnya, muncullah aneka festival kebudayaan yang digelar guna menarik wisatawan agar mau berkunjung ke Banyuwangi. Sebut saja BEC atau dikenal sebagai Banyuwangi Ethno Carnaval.

Sebagai even kebudayaan, BEC dimaksudkan sebagai penghubung  antara modernitas dengan budaya daerah agar memiliki nilai jual yang lebih baik sehingga mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan. BEC dikemas dengan sangat apik dan kreatif dengan menampilkan kostum-kostum yang indah dan semarak.

Selain BEC, jika berwisata ke Banyuwangi, para wisatawan bisa melihat festival lainnya seperti Festival Kuwung. Festival ini merupakan festival tahunan sebagai media untuk memamerkan budaya asli Banyuwangi baik berupa kekayaan adat istiadat maupun potensi unggulan lainnya. Beberapa festival yang rutin diadakan setiap tahun adalah festival HUT Banyuwangi, HUT Kebesaran yang Mulia  Kong Co Tan Hu Cin Jin Ke 227, Festival Cap Go mee, dan Taur Agung Kasongo.

Jalan-jalan mengunjungi tempat wisata, kurang afdol jika tak menikmati kuliner khasnya. Urusan perut adalah urusan pokok yang harus dipenuhi. Selain itu makan juga urusan petualangan rasa yang bakal meninggalkan kesan tak terlupakan. Banyuwangi dikenal kaya dengan aneka kuliner, seperti kebanyakan daerah di Indonesia. Ada sego tempong, sego cawuk, pindhang koyong, pecel thotol dan sate kalak siap mengoyang lidah siapa saja.

Uniknya beberapa kuliner merupakan perpaduan antara dua jenis masakan seperti rujak soto dan pecel rawon. Penasaran kan dengan sensasi rasa antara soto dipadu dengan rujak atau juga sensasi rawon dicampur pecel. Bagaimana rasanya, tentu tidak bisa dibayangkan, afdolnya harus dicoba dengan berkunjung ke Banyuwangi.

Puas dengan jalan-jalan dan makan-makan jangan lupa untuk membawa oleh-oleh khas Banyuwangi. Aneka hasil kerajinan masyarakat Banyuwangi bisa menjadi buah tangan yang unik dan bisa menjadi penghias interior rumah yang menarik. Ada boneka gandrung yang terbuat dari fibreglass. Boneka gandrung tersedia dalam beragam benda seperti patung, gantungan kunci dan hiasan dinding.

Selain boneka gandrung, Banyuwangi juga memiliki kerajinan daur ulang kayu akar daun, kerajinan tenun kerta pisang abaka, kerajinan bambu, kerajinan kayu, kerajinan besi aneka senjata,dan batik tradisional Banyuwangi. Semua bisa dipilih sesuai selera dan sesuai kantong masing-masing.

Mengenalkan “Si Paket Komplit” pada Semua

Banyuwangi sebagai tujuan wisata bisa diibaratkan sebagai si paket komplit, semua ada di Banyuwangi. Dari wisata pantai hingga  gunung, dari perkebunan hingga ke hutan, dari wisata budaya hingga kuliner ditambah lagi dengan suguhan kreatifitas melalui festival BEC dan lainnya serta buah tangan yang unik siap memikat hati siapa saja.

Nah, bagaimana agar si paket komplit ini ramai dikunjungi wisatawan. Tak lain dan tak bukan, hal yang harus dilakukan adalah promosi, promosi dan promosi. Medianya bisa beragam, yang paling umum adalah melalui iklan diberbagai media. Apalagi jika iklan dikemas dengan menarik disertai tagline yang mudah diingat.

Cara lain adalah dengan menjalin kemitraan dengan pihak lain yang bisa diajak bekerjasama dalam mempromosikan wisata Banyuwangi. Apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan mengadakan lomba menulis tentang Banyuwangi adalah salah satu upaya untuk lebih mengenalkan Banyuwangi pada masyarakat luas.

Upaya ini bisa ditambah dengan kerjasama yang apik dengan para traveller blogger. Bisa diwujudkan dengan mengundang mereka berwisata gratis ke Banyuwangi dan meminta mereka untuk mereview tempat wisata yang ada di Banyuwangi.

Membuat paket wisata yang menarik dan bertema bisa dipilih sebagai salah satu cara memasarkan wisata Banyuwangi. Contohnya adalah membuat paket wisata bulan madu. Bukankah Banyuwangi memiliki banyak tempat eksotis yang cocok untuk berbulan madu?. Paket wisata ini bisa dirangkaikan dengan  jadwal festival yang ada sehingga menjadi semakin menarik. Selain bulan madu, wisatawan juga disuguhi hiburan kebudayaan yang atraktif.

Benahi Dulu, Baru Tebar Pesona

Kita tentu sepakat bahwa Banyuwangi memiliki potensi wisata seabreg. Kecantikan alam dan kekayaan budaya merupakan magnet yang bisa menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Dengan upaya yang telah disebutkan di atas sudah bisa mendatangkan wisatawan untuk berlibur.

Membuat wisatawan berkunjung untuk pertamakalinya lebih mudah karena orang tentu penasaran dengan daya tarik Banyuwangi. Namun, membuat wisatawan datang kembali dan membawa efek semakin banyak yang berkunjung itu butuh upaya lebih keras.

Pernahkah berkunjung ke tempat wisata yang keren tapi kemudian merasa ill feel karena toiletnnya kotor dan bau? atau, sampah yang berserakan sehingga menganggu keindahan. Ini dia nih, yang maaf-maaf, suka ditemui di tempat wisata. Kelihatannya hal sepele yah tapi menurut saya ini penting.

Mungkin jika wisatawannya orang Indonesia maklum dengan keadaan ini, bagaimana dengan wisatawan asing?. Wuih, bisa-bisa mereka kapok berkunjung lagi, sayang kan.

Jadi, bersediakah Banyuwangi berbenah?. Mulai tengok kanan kiri, barangkali ada toilet  yang masih kotor dan bau, atau tempat wisata mana yang masih banyak sampah berserakkan. Menyiapkan tenaga kebersihan toilet yang siap bertugas menjaga agar toliet bersih dan wangi dan tenaga penyapu sampah memang lazim dilakukan.

Namun ada hal yang lebih penting sebetulnya yaitu membiasakan masyarakat untuk menjaga kebersihan seperti membuang sampah pada tempatnya dan biasakan mengguyur bersih toliet ketika habis dipakai, jadi aromanya tidak menguap kemana-mana.

Jika sudah tak ada lagi toilet kotor dan sampah berserakan, wisatawan kan bisa ikhlas berdecak kagum. Tidak ada lagi yang berkomentar, “Indah sih pemandangannya tapi sayang begitu ke toliet jadi ill feel deh, bauuuu!”.

Oh ya, satu lagi yang suka membuat ill feel buat wisatawan dengan kantong tipis seperti saya adalah harga makanan dan souvenir di tempat wisata kok mahal ya. Seperti sudah menjadi rahasia umum, kalau di tempat wisata harga yang berlaku adalah harga turis alias lebih mahal, hehehe.

Kalau di tempat saya dibilang harganya “nuthuk”. Ada aji mumpung yang dilakukan para penjual. Buat yang berkantong tebal mungkin nggak masalah tapi kan nggak semua wisatawan berkantong tebal. Menurut saya lebih baik harga jualnya yang wajar saja lah. Ini kan salah satu cara menyambut tamu dengan baik.

Jadi, siapkah Banyuwangi menebarkan pesonanya hingga ke ujung dunia?. Berbenahlah dan kemudian tersenyum, katakan pada dunia:

“Welcome to Banyuwangi, The Sunrise Of Java”

Gambar pemandangan matahari terbit indah
— gambar.co —

 

4 thoughts on “Menebarkan Pesona The Sunrise Of Java

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *