Memberikan Hati pada Dunia

-- khezo.com --
— khezo.com —

Setiap pagi, salah satu rutinitas yang aku lakukan adalah mengantar Si Bungsu ke sekolah dengan naik sepeda onthel. Aktifitas yang menguntungkan sebetulnya buatku. Seperti kata pepatah sambil menyelam minum air, sekali mengayuh sepeda dua pekerjaan sekaligus diselesaikan. Mengantar anak sekolah dan berolahraga.

Maklum selama ini aku malas berolahraga, sekarang jadi terbantu dengan naik sepeda ini. Olahraga menjadi tidak terasa berat dan membosankan. Tubuhku bugar dan sekarang lebih langsing, qiqiqi.

Jalanan komplek tidak terlalu jadi masalah buatku tapi sebagian jalan yang berada di samping pabrik yang aku lewati memang berlubang. Kala musim hujan, lubang-lubang akan penuh dengan air. Kadang ketika berpapasan dengan sepeda motor atau mobil maka tercipratlah air hujan kecoklatan itu kepadaku.

Hehehe, sempat kesal pada awalnya tapi dipikir-pikir untuk apa pula kesal, baju kotor toh bisa dicuci. Kalau dituruti, musim hujan begini bisa-bisa kesal setiap hari, wah bakal rusak moodku sepanjang waktu. Lebih baik dinikmati dan tetap tersenyum, sambil berharap semoga ada yang peduli dan memperbaiki jalan itu.

Sampai diujung jalan, aku harus menyeberang jalan raya. Jalan raya ini selalu ramai setiap pagi. Kendaraan berlalu lalang tak ada putus-putusnya. Maklumlah, pagi hari adalah saat semua orang memulai aktifitasnya. Ada yang ke sekolah, ke kantor, ke pasar semua melewati jalan utama itu.

Sering sekali aku harus menunggu lima hingga sepuluh menit bahkan hari ini 15 menit, menunggu selo untuk bisa menyeberang. Aku menyadari sepeda onthelku tak bisa lari kencang seperti motor maka menunggu sampai benar-benar longgar adalah pilihan terbaik.

Tak ada rambu, tak ada zebra cross dan tak ada polisi lalu lintas yang mengatur jalanan di depan sekolah anakku. Padahal setiap hari hilir mudik kendaraan di situ. Tak hanya diriku yang merasa sulit menyeberang jalan. Ibu-ibu lain yang naik motor pun merasakan hal yang sama denganku.

Sekolah memang menyediakan satpam untuk berjaga dan sesekali menyeberangkan. Aku bilang demikian karena seringkali satpam hanya duduk di pos jaga atau mengobrol dengan penjual buah atau tukang tambal ban yang ada di sekitar sekolah.

Awalnya aku dibuat heran dengan hal ini, mengapa satpam itu tidak rutin melaksanakan tugasnya, sepertinya seenaknya sendiri. Memang aku dengar cerita tentang satpam yang meninggal karena ditabrak pengendara motor yang tak mau diatur. Mungkinkah ada kekawatiran akan keselamatan ketika mengatur lalu lintas? mungkin saja memang demikian. Kusisakan maklum di sudut hatiku.

Dunia sungguh membutuhkan peran siapa saja agar tercipta kehidupan yang baik dan harmonis. Siapapun kita, apapupun pekerjaan atau tugas yang kita emban, besar ataupun kecil sesungguhnya memberikan pengaruh pada wajah dunia.

Jika setiap melakukan apa yang menjadi tugas kita kecil apalagi besar hanya karena rutinitas maka akan ada fluktuasinya. Jika sedang bersemangat dan mood bagus maka tugas akan tertunai dengan baik. Namun jangan harap itu terjadi ketika sedang berada dalam kebosanan atau suasana hati yang tidak bagus.

Melibatkan hati dalam setiap apapun yang kita lakukan sesungguhnya menjadi kebaikan yang meski kecil tapi membahagiakan orang lain bahkan mungkin meringankan bebannya.

Seorang satpam bisa sepenuh hati menjalankan tugasnya meski ada resiko yang mengancam jiwanya karena dia paham, itu adalah amanah yang diembannya dan harus ditunaikan. Bukankah ada banyak orang yang terbantu karena apa yang dikerjakannya? ini bukan semata melaksanakan kewajiban namun sebuah kebaikan, membantu oranglain untuk menyeberang jalan.

Para pengendara motor maupun mobil, bisa memberikan hatinya dengan memacu pelan kendaraannya ketika melihat satpam memberi tanda agar pelan-pelan, bukan malah memacu lebih kencang kendaraan agar terbebas dari aturan berhenti sejenak dan memberi kesempatan pada penyeberang jalan.

Para penyeberang jalan pun bisa memberikan hatinya dengan bersabar tidak mnyerobot sehingga tak perlu ada klakson keras-keras dari pengguna jalan lain yang merasa terganggu dengan ulahnya itu.

Dunia memang penuh warna. Rupa-rupa manusia ada di dalamnya. Seandainya semua bisa senantiasa melakukan banyak hal tak sekedar sebagai rutinitas belaka namun sanggup melakukannya dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab, alangkah indahnya dunia ini.

Sekecil apapun peran kita, ketika hati terlibat di dalamnya maka aktifitas itu menjadi lebih bermakna.

Cerita galor- ngidul ditemani hujan yang turun di pagi ini….

 

 

 

Leave a Reply