Guru dalam Kenangan

animasi bergerak belajar
gambar dari sini

Kenangan manis itu masih selalu aku ingat. Menempel kuat seolah ada lemnya. Bukan hanya rasa manis karena pujian seorang guru namun hal yang selalu jadi pengingat tentang apa yang sesungguhnya ada dalam diriku.

Sudah berpuluh tahun berlalu, ketika aku duduk di bangku SD, aku mengenalnya sebagai guru yang displin, pinter nembang jowo dan kadang sedikit galak. Meskipun sedikit galak justru beliaulah yang berjasa membawaku pada titik ini.

Sosok berkacamata dengan rambut ikal itu selalu bersepeda jengki ketika menuju ke sekolah. Ada yang masih ingat sepeda jengki? aku sih nggak paham jengki itu jenis sepeda atau merek sepeda ya? hihihi, pokoknya sepeda roda dua aja yang jadul itu.

samping kiri
penampakkan sepedanya, kira-kira seperti ini
gambar : 3sasongko

Sebetulnya kalau boleh jujur, selalu ada perasaan takut ketika harus berhadapan dengan guru tersebut. Bawaannya gugup melulu dan takut salah. Soalnya suka ngeri dengan suara kerasnya ketika marah.  Tapi, siapapun yang jadi siswanya akan bangga ketika pujian dilontarkan oleh beliau. Secara, susah bangeeeet merebut hatinya.

Ceritanya nih, beliau memberikan tugas mengarang indah mengenai liburan sekolah. Masing-masing wajib mengumpulkan tugas sehabis liburan usai. Duh, waktu itu sempat bingung, secara diriku tidak pergi berlibur kemana-mana, hanya di rumah saja.

Apa yang bisa kuceritakan ya, tentang kegiatanku di rumah? ah, nggak keren banget deh, begitu pikirku saat itu. Kucoba mengingat-ingat tugas yang diperintahkan guruku itu, itu kan mengarang. Namanya mengarang kan menulis sesuai dengan imajinasi sendiri bukan menceritakan kembali pengalaman liburan.

Tsaah, langsung saja imajinasi aku mainkan. Entah dapat wangsit darimana saat itu, kok ya aku begitu lancar menulis pengalaman libur di rumah kakek dengan setting pedesaan yang penuh dengan hamparan sawah nan hijau.

Seingatku saat itu aku benar-benar membayangkan diriku berada di suatu tempat sesuai setting yang aku inginkan. Kubiarkan diriku larut di dalamnya dan mengalirlah cerita itu.

Liburan usai saatnya tugas dikumpulkan, dag dig dug, hatiku berdebar-debar menunggu hasil koreksian Bu Guru. Ahaa, tak disangka dan tak diduga ternyata ceritaku mendapat pujian  bahkan beliau membacakannya di depan teman-temanku. Uhuk, senang banget rasanya, dipuji sama Bu Guru yang terkenal keras itu.

Kejadian itu jadi kenangan manis yang masih kuingat hingga kini. Jika dipikir-pikir apa yang terjadi kala itu dan dihubungkan dengan aktifitasku saat ini memang ada kaitannya. Apa yang kujalani sekarang adalah mengikuti apa yang menjadi passionku. Bu Guruku saat itu seolah sedang menunjukkan, ini lho Ty potensimu! meskipun aku baru menyadarinya setelah lama berlalu.

Aku sudah seharusnya bersyukur bertemu dan mendapat kesempatan diajar dan didik oleh beliau. Beribu terimakasih, aku rasa takkan pernah sebanding dengan apa yang telah beliau berikan. Biarlah Alloh yang membalas kebaikannya itu.

Sepanjang hidupku di sekolah memang banyak tipe guru kutemui. Ada yang galak, suka menyindir, suaranya lirih, suka menghukum fisik dll. Dulu sih suka bete dan mengeluh, ih begini amat ya tuh guru. Sekali lagi pemahaman baru kudapat setelah semua berlalu sangat lama.

Sebuah quotes menarik dalam status facebook seorang teman menyentak kesadaranku. Begini nih quotesnya

“Never blame anyone you meet in your life

Good people give you happines

Bad peole give you experience

Worst people give you lesson

Best people give you memories”

Ternyata rupa-rupa orang termasuk tipikal guru yang kita temui bukan tanpa alasan. Alloh memiliki alasan mempertemukan mereka dengan kita. Keberagaman mereka turut mewarnai indahnya dunia. Seperti pelangi, berkurang indah ketika ada satu warna yang hilang.

Guruku yang dulu kusebut galak ternyata menjadi orang yang memberikan pengalaman, pelajaran, kenangan sekaligus kebahagiaanku sekarang. So, jangan pernah sesali ketika bertemu dengan orang buruk sekalipun, setidaknya dia memberikan pelajaran bagi kita.

Untuk mengenang Bu Guru Sugiyanti ” Selamat Hari Guru, Mendidik dan Mengajar adalah tugas utama seorang Guru”

 

 

 

4 thoughts on “Guru dalam Kenangan

  1. Saya juga selalu mengenang semua guru – guru saya mbak, yah dari SD sampai kuliah semua berjasa. Terkadang jika ada waktu dan kebetulan lewat ke kotanya saya sempatkan untuk mampir ke rumahnya. Kalau guru SMA dan kuliah sudah sering ketemu di media online

    1. Iya Pak Edi, merekalah yang berjasa pada kita..saya mah jarang ketemu guru-guru saya dulu..pengin sih kalau mudik bisa menyempatkan ketemu, silahturahmi gitu. Sama Pak kalau guru-guru sma rata-rata dah melek teknologi jad bisa ketemu di dunia maya beda dengan guru sd saya, mereka dah pada sepuh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *