Cinta Di Atas Luka

Perempuan keduaJudul        : Perempuan Kedua

Penulis    : Siti Rofikoh

Penerbit : Narasi, Yogyakarta

Hal            : 152 halaman

ISBN         : 978-979-168-178-0

Laras tak pernah menyangka jika rumahtangganya dengan Pradipta akan hancur berantakan. Selama ini ia merasa hubungan mereka baik-baik saja. Ayahnya lah yang terlalu banyak menuntut materi pada Pradipta. Seperti duri dalam daging, hal ini kemudian membuat hati Pradipta pun beralih untuk perempuan lain dan berakhirlah perkawinan yang telah dikaruniai seorang anak itu.

Diantara kepingan hatinya yang hancur, Laras mencoba bertahan demi Yoga, anak semata wayangnya. Jayapura menjadi kota tumpuan harapannya. Dengan bantuan Cici, kawan semasa sekolahnya, Laras pun meneguhkan niatnya meski bekerja sebagai pelayan cafe. Bukan pekerjaan yang  memuaskan tapi ia tak punya pilihan lain.

Awalnya Laras tak ingin seperti Cici, yang memanfaatkan pekerjaannya untuk bersenang-senang dengan pengunjung cafe. Ia hanya ingin bekerja saja. Namun, kenyataan justru bicara sebaliknya. Sejak pertemuannya dengan Daffa, dunianya pun seketika berubah.

Daffa adalah laki-laki perantau seperti Laras. Bedanya, Daffa itu laki-laki beristri. Hati kecil Laras bukannya tak pernah berontak ketika mendapati dirinya jatuh cinta pada laki-laki beristri seperti Daffa. Namun, Laras tak kuasa mengendalikan perasaannya.

Daffa yang tinggal jauh dari istrinya merasa ada sisi kosong yang diisi oleh Laras telah membuat dirinya merasa nyaman. Hubungan cinta Laras dan Daffa pun berlanjut hingga jauh. Hubungan cinta yang dibangun di atas luka Asha, istri Daffa.

Lambat laun Asha pun akhirnya mengetahui jika ada perempuan lain di hati suaminya. Hancur, sedih, kecewa dan marah dirasakan Asha. Istri manapun tak akan rela ada perempuan selain dirinya di hati suaminya.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Daffa pun merasa menyesal telah mengkhianati kesetiaan istrinya. Ia amat terpukul jika mengingat kebaikan Asha. Sesungguhnya, Asha istri yang cantik, baik dan Asha pun telah membantu keuangan rumahtangga mereka.

Memilih kembali pada Asha dan menata kembali hidupnya atau memilih Laras, perempuan yang telah mewarnai hari-harinya akhir-akhir ini? sebuah keputusan berat bagi Daffa. Rasa bersalah pada Asha dan Laras menghantuinya. Apa hendak dikata, selalu ada yang terluka jika bicara cinta segitiga.

Tema dalam novel ini telah jamak diangkat dalam banyak novel. LDR yang dijalani sepasang suami istri yang harus terganggu hadirnya perempuan lain sehingga terjadi perselingkuhan. Novel ini mencoba memberi sentuhan setting kota Jayapura. Sayangnya, setting ini kurang detil di deskripsikan sehingga saya tidak mendapat gambaran yang utuh. Sebagai novel dewasa, bahasa dalam novel ini sederhana dan tidak liar ketika menggambarkan unsur seksualitas.

“Kadang para pria tertentu membutuhkan dua perempuan, dimana yang satunya sangat pas dibawa kondangan karena status sosial, melahirkan anak-anaknya dan dipajang di rumah. Sementara perempuan satunya cukup disimpan untuk bersenang-senang.” (Perempuan Kedua, hal.14)

 

 Makasih buat Mba Uniek Kaswarganti, atas hadiah buku ini.

 

 

12 Comments

  1. Uniek Kaswarganti

    December 24, 2013 at 10:50 am

    Wow, udah diresensi aja nih mba Ety 🙂 Sungguh bingung harus komen apa mba, sesaat setelah membaca quote hawanya kepengin nglabrak yg ‘pria tertentu’ itu hihihi…
    Resensinya manis banget mba, semanis mba Ety 😉

    1. Ety Abdoel

      December 24, 2013 at 12:35 pm

      Iya Mba Uniek, langsung saya baca bukunya tempo hari, merinding disco dengan judulnya, qiqiqi..Aih, kalimat terakhir bikin saya nggreges

  2. lieshadie

    December 24, 2013 at 1:01 pm

    Quote terakhirnya itu lhooooo…..hadeuuhhh !!!

    1. Ety Abdoel

      December 24, 2013 at 1:03 pm

      Lha, itu aku cuplik utuh Mba Lies dari novel itu.Pada kenyataan ada toh yang demikian..

  3. Anies Septivirawan

    December 26, 2013 at 6:18 am

    very nice book, maen ke blogku yo rek: http://www.prosatv.blogspot.com

    1. Ety Abdoel

      December 26, 2013 at 7:57 am

      Oke rek tak main ke blognya..

  4. Pakde Cholik

    December 30, 2013 at 6:45 am

    LDR memang rentan godaan. Jika tak dikelola dengan baik bisa menimbulkan ekses yang tak terduga-duga.
    Mantep tenan resensinya
    Saya juga baru posting book review CINEUS karya Evi Sri Rezeki.Ethok2 nya belajar menulis resensi he he he
    Salam hangat dari Surabaya

    1. Ety Abdoel

      December 31, 2013 at 1:38 am

      Betuuul Pakde..qiqiqi, review kilat kok Pakde..nanti saya baca tulisan Pakde. Makasih kunjungannya. Salam Hangat dari Karanganyar

    1. Ety Abdoel

      January 2, 2014 at 1:49 pm

      qiqiqi, komen tersingkat..makasih Mba Titik

      1. Titik

        January 2, 2014 at 2:06 pm

        speechless, mb 😀

        1. Ety Abdoel

          January 2, 2014 at 2:24 pm

          Jadi yang pertama opo kedua dalam novel ini pokoke ngenes..

Leave a Reply