Menjadi Juara Sejati

Stock Illustration - 3d winner with a gold trophy in the hands. fotosearch - search clipart, illustration posters, drawings and vector eps graphics imagesPostingan ini terinspirasi kekalahan Timnas U23 di final sepakbola Sea Games Myanmar dan sekaligus  kegagalan Indonesia mempertahankan predikat juara umum. Kenyataan yang menyakitkan sebetulnya tapi  harus bisa diterima secara sportif.

Jadi ingat, tahun 2011 lalu saat Sea Games digelar di Palembang, aku ikut merasakan euforianya. Walaupun nggak banyak pertandingan yang aku saksikan tapi hangatnya suasana gelaran pesta olahraga ini terasa.

Sempat kecewa juga karena tidak bisa masuk arena pertandingan bola voli karena penonton membludak. Lebih kecewa lagi ternyata even regional ini menyisakan persoalan korupsi yang belum tuntas hingga saat ini.

nasib..gak bisa masuk hall
nasib..gak bisa masuk hall

Bicara soal sepakbola, ya walaupun aku bukan maniak sepakbola yang rajin menonton pertandingan sepakbola, punya tim favorit, punya poster, kaos dan segala merchandise sepakbola tapiiiii aku ini pendukung Timnas sejati, qiqiqi.

Jika Timnas bertanding, aku pasti menonton, ya kasih support sih dengan teriak-teriak di depan tivi, hehehe. Kalau Timnas menang, senangnya bukan main. Sementara kalau kalah pastinya kecewa tapi tak sampai membuatku turut memberikan komentar miring, pedas, bahkan menghujat.

Sebenarnya sih ngenes juga melihat prestasi Timnas Sepakbola, ditingkat Asia Tenggara saja kok ya kalah melulu. Jika permainan yang ditunjukkan Timnas bagus tapi ternyata kalah, buatku sih belum lucky.

Beda soal jika permainan Timnas buruk bahkan sampai kebobolan banyak gol, sempat kepikiran aja, dimana ya kontribusi kompetisi yang diagung-agungkan sebagai kompetisi sepakbola yang bermutu. Hehehe, kebanyakan pemain asing kali ya jadi jam terbang pemain lokal jadi terbatas (tsaah, sok jadi pengamat..).

Bicara soal kegagalan beruntun Timnas sepakbola aku jadi teringat sebuah tulisan Bambang Pamungkas di official websitenya yang berjudul “Saya Adalah Generasi Yang Gagal”. Bambang Pamungkas (Bepe)mengungkapkan isi hatinya tentang kontribusinya di Timnas.Bepe harus menerima kenyataan pahit bahwa tak satupun gelar juara bergengsi sempat dipersembahkan.

Sedih, pastilah sempat dirasakan oleh Bepe. Mempersembahkan gelar juara adalah impiannya bersama Timnas. Bahkan demi impiannya Bepe sempat berjanji akan setia pada Timnas. Namun kondisi persebakbolaan Indonesia yang penuh gejolak membuat Bepe memilih mundur dari Timnas pada April 2013 dan gelaran Piala AFF 2012 adalah pertandingan terakhirnya bersama Timnas.

Menjadi juara sejatinya bukan sekadar mengangkat tropi. Lebih dari itu, menjadi juara itu bersedia berjuang untuk mencapai impian. Tak soal apapun hasilnya, sukses ataupun gagal. Bersedia berkeringat dan menanggung resiko atas sebuah pilihan adalah sebuah kemenangan atas ego untuk mendapat hasil baik tanpa mau bekerja.

Bepe yakin sekali jika kecintaannya pada sepakbola dan Indonesia itu tak bisa diganggu gugat apapun resikonya. Ketika Indonesia memanggilnya maka dengan mantap dia bergabung dengan Timnas meskipun harus menghadapi stigma sebagai penghianat bagi kelompoknya.

Sanggup mengambil pilihan secara merdeka sesuai dengan kata hati meskipun harus menentang arus rupanya itulah yang dilakukan Bepe. Membela kehormatan bangsa dengan mempertaruhkan karir sepakbolanya, menunjukkan Bepe tahu menempatkan prioritas.

Juara itu soal mentalitas, ketika kita mau berjuang mencapai impian dengan rela berkeringat, bersedia melampui apapun rintangannya dan tekun berusaha seberapapun lama impian itu tercapai maka sesungguhnya kitalah juaranya.

Bepe memang gagal mempersembahkan tropi kemenangan tapi Bepe itu bermental juara. Bersedia berjuang hingga titik darah penghabisan demi impiannya memberi gelar juara bagi Indonesia.

Medali, tropi atau apapun namanya memang sebuah bentuk pengakuan atas prestasi. Hendaknya pencapaian prestasi apapun, diraih dengan cara-cara jujur sehingga sebutan juara sejati layak disematkan. Jika prestasi dicapai dengan cara-cara tidak sportif maka sebutannya jadi juara abal-abal, hehehe.

 

 

 

 

16 thoughts on “Menjadi Juara Sejati

  1. Juara beneran memang membanggakan karena dapat mengangkat nama sendiri, keluarga, klub, negara, atau apapun.
    Yang lebih penting adalah daya juang dan kesungguhan dalam mengikuti kejuaraan apapun. Jika sudah terjun ke arena, tak ada polihan lain kecuali bekerja dengan serius. Soal kalah menang itu urusan lain.
    Juara sejati juga dapat diartikan mereka yang mampu mengalahkan ego, ketakutan,ketidak PDan, dan lain sebagainya.
    Terima kasih artikelnya yang membangun.
    Salam hangat dari Indonesia.

    1. Nah itu Pakde, pasti bangganya bukan main jadi juara sungguhan. Kalau sudah berjuang mati-matian dan kalah meski kecewa tapi kan tak terlalu gelo. Kalau berjuangnya asal-asalan dan kalah baru kecewa berat. Soal berani bersikap benar apalagi harus berbeda dengan mayoritas menjadi renungan bagi saya. Karena yang satu ini juga tak mudah. sama-sama Pakde. Salam dari Karanganyar

  2. Siip… tulisan yg menginspirasi… juara sesungguhnya adalah yang mengenali kekuatan & kelemahan dirinya & memanfaatkan seoptimal mungkin untuk pencapaian impiannya.. 🙂

  3. meyedihkan sekali timnas sepakbola tidak bisa memberikan prestasi terbaik di ajang ini, walaupun sang ketua umum sudah berganti 😛

  4. Menjadi juara memang penting, tapi usaha dan kerja keras untuk meraihnya, itu jauh lebih penting. Adalah bijak bagi kita untuk memberi penghargaan atas usaha yang dilakukan.

    Kami juga suka nonton timnas bertanding. Ada rasa bangga ketika timnas berhasil meraih kemenangan, meski juga tidak bisa disembunyikan bila mereka beroleh kekalahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *