Soal Kacamata

pixabay.com
pixabay.com

Pakai kacamata itu enak nggak sih teman-teman?. Mau pakai kacamata kok ya males. Perasaan nih, kalau biasa pakai kacamata mata jadi kelihatan sembab ketika kacamata dilepas. Bener nggak sih? apa cuma penglihatanku saja?.

Terus terang, setiap bangun tidur mata ini sembab. Mengempiskannya tuh lama, harus dikompres pakai timun, baru deh kempis dan fresh mata ini. Menurut penglihatanku (sekali lagi) kalau pakai kacamata, mata bakalan tambah sembab.

Jadi, sampai sekarang saya tuh masih ogah pakai kacamata meskipun kalau baca tulisan yang kecil mata saya mulai harus dipicingkan. Saya belum memakai kacamata dengan alasan kenyamanan meskipun mata saya sudah butuh memakai kacamata.

Rupanya kecenderungan saya adalah kenyamanan dibanding dengan kebutuhan. Hehehe, salah nggak sih?. Adakah teman-teman punya pendapat berbeda dengan saya tentang kacamata?.

Btw, sebetulnya saya mau ngomongin hal lain tapi masih soal kacamata kok. Lagi hangat dibicarakan, soalnya kan momennya bulan depan dilaksanakan namun hingar bingarnya telah berlangsung beberapa bulan terakhir. News feed saya tiap hari penuh dengan kampanye pilpres.

Sempat dibuat pusing, dengan beragam isu yang diangkat sebagai materi kampanye bahkan seringkali kampanye negatif dan kampanye hitam tak terelakkan lagi. Buat saya ini kok jadi serupa perang dimana semua senjata dikeluarkan untuk mematikan lawan, arrrgh.

Kedua Capres dikuliti dari urusan pribadi hingga rekam jejaknya. Sebetulnya sih nggak papa ya kita tahu bagaimana kepribadian dan rekam jejak calon presiden kita. Asalkan jangan dijadikan sebagai bahan untuk menjatuhkan martabat mereka.

Hadeeeh, pening deh kepala! melihat sisi negatif capres kita itu diulik-ulik dan jadi bahan olok-olokan. Seolah lupa bahwa capres itu juga manusia pastilah ada sisi kurangnya. Jangan-jangan kita memang sedang bermimpi, mendambakan sosok manusia tanpa cela menjadi Presiden Indonesia. Pertanyaan saya, adakah sosok yang demikian?.

Ah, jika setiap manusia punya sisi lemah dan punya masa lalu tak sempurna berarti tak satupun dari kita layak menjadi Presiden bukan?.

Kepribadian dan rekam jejak penting sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan, Capres mana yang lebih mumpuni pribadi maupun rekam jejaknya untuk memimpin Indonesia, sekali lagi bukan untuk dijatuhkan martabatnya.

Capres yang satu berpribadi tegas dan berapi-api, sedangkan capres yang satu lagi kalem dan sederhana. Tak ada yang salah dari kepribadian keduanya. Masing-masing pun punya pengalaman dalam memimpin. Yang satu memimpin pasukan elit (keren kan?) dan yang satu lagi memimpin daerah dan dicintai rakyatnya (ini juga keren). Masing-masing ada lebih dan ada kurangnya.

Kalau begitu mengapa kita tidak fokus saja pada apa yang akan mereka lakukan jika memimpin Indonesia. Saya rasa ini lebih penting untuk dibicarakan dan didiskusikan.

Bicara soal Capres adalah bicara soal manusia. Untuk yang satu ini saya setuju dengan pendapat kawan saya bahwa bicara manusia itu hanyalah soal kacamata. Bagi pendukungnya, Prabowo itu yang terbaik. Bagi pengikutnya, Jokowi itu yang terbaik.

Jadi, selamat memilih Presiden RI. Jika bisa pilihlah secara rasional mana yang tepat untuk Indonesia 5 tahun kedepan. Meskipun, saya sendiri tak janji mampu memilih secara rasional. Jujur, saya mendamba orang ketiga, maksudnya???.

Maksudnya ada calon ketiga gitu, ya serupa Anies Baswedan ataupun Dahlan Iskan. Apa hendak dikata calon cuma ada dua, mau nggak mau harus pilih salah satu.

Hingga detik ini, saya masih bingung, calon mana yang akan saya pilih. Mungkin saja di detik-detik terakhir, saking mumetnya, saya tidak lagi memilih secara rasional, tidak berdasarkan visi misi dan bla-bla-bla. Hanya berdasarkan hasil ngitung kancing baju, aaargh.

*edisi nggak tahan nggak ikut ngomong*

4 Replies to “Soal Kacamata”

  1. betul ya mak.. namanya manusia tak ada yg sempurna, maka jangan saling menjelekkan satu dgn yg lainnya.

    1. Begitulah seharusnya Mak..merindu kampanye damai…

  2. apa kabar Mbak? Lama saya tak mampir ke sini. Saya juga mendambakan Anies, tapi apa daya sekarang cuma dua. Ya…

    1. Kabar baik Om Belalang. Senang bisa dikunjungi panjenengan lagi.
      Ya, begitulah, membuat pilihan jadi sulit..

Leave a Reply