Mengenal Konsultan Pajak

Image negatif pernah lekat pada konsultan pajak. Dianggap sebagai pihak yang mencari celah hukum untuk membebaskan wajib pajak terhadap kewajibannya membayar pajak. Bahkan, konsultan pajak disebut sebagai pencuri pajak. Image negatif ini yang ingin dihapus oleh Zeti Arina, Konsultan Pajak dari Artharaya Consult.

Dengan diberlakukannya Sistim Self Assessment maka wajib pajak diberi kepercayaan untuk menghitung dan melaporkan pajaknya sendiri. Tidak semua orang memahami cara menghitung pajak apalagi untuk skala perusahaan yang tentu lebih rumit penghitungannya. Belum lagi banyaknya peraturan perpajakan yang harus dipahami. Disini peran konsultan pajak dibutuhkan dalam mendampingi wajib pajak memenuhi kewajibannya.

Tugas yang tidak ringan, untuk itulah diperlukan proses panjang menjadi seorang konsultan pajak. Zeti Arina menuturkan untuk menjadi konsultan pajak, ada beberapa tahapan yang harus dilalui diantaranya prasyarat pendidikan yang harus dipenuhi sebagai langkah awal menjadi Konsultan Pajak.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.111/PMK.03/2014 yang terbit tanggal 9 Juni 2014, disebutkan bahwa untuk memperoleh sertifikat konsultan pajak maka orang perseorangan harus memiliki ijazah starta 1 (S1) atau Diploma IV (D4) program perpajakan dari perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Panitia Penyelenggara Sertifikasi Konsultan Pajak, lulus ujian sertifikasi Konsultan Pajak, atau mengikuti kegiatan penyetaraan sertifikasi bagi pensiunan pegawai Dirjen Pajak.

Selain itu, ada syarat menempuh pendidikan profesi berkelanjutan hingga Brevet C sebanyak 60 SKPPL dalam setahun. Sementara itu bagi pensiunan pegawai pajak yang ingin menjadi konsultan pajak, ijin tidak langsung diberikan melainkan harus menunggu selama 2 tahun. Menanggapi ketentuan ini Zeti, yang telah kenyang pengalaman memberi respon positif, bahwa ini dimaksudkan demi profesionalisme konsultan pajak.

Mengenai tingkatan sertifikasi, dalam perpajakan dikenal dengan Brevet A, Brevet B, dan Brevet C. Masing-masing berbeda kewenangannya. Konsultan pajak dengan sertifiaksi Brevet A, berwenang memberi konsultasi wajib pajak perorangan. Brevet B, berwenang memberi konsultasi pajak bagi wajib pajak perusahaan. Sementara itu untuk Brevet C, berwenang memberikan konsultasi untuk wajib pajak perseorangan, perusahaan dan wajib pajak asing.

Awal terjun menjadi konsultan pajak pasti ada kendala yang lazim dihadapi, yaitu kepercayaan klien. Seperti halnya membangun bisnis baru. Berdasarkan pengalamannya, konsultan pajak harus terus menambah pengetahuannya, menjadi pembicara di seminar-seminar, mengajar, dan membidik klien dengan tepat, ini dilakukan agar klien percaya akan kemampuan konsultan pajak.

Zeti menambahkan agar edukasi terhadap wajib pajak harus dilakukan diantaranya agar wajib pajak bisa melakukan tertib administrasi, membayar pajak dengan hemat dan menghindari dari denda ataupun sangsi. Dengan demikian anggapan bahwa konsultan pajak itu sama dengan pencuri pajak akan terkikis.

Leave a Reply