Universitas Terbuka, Inovasi Atasi Keterbatasan

Dalam Bahasa Jawa, Guru itu memiliki makna “digugu lan ditiru” artinya seorang Guru itu dipercaya dan diteladani pemikiran dan sikapnya. Mau tidak mau, guru akan menjadi referensi para siswa baik keilmuannya maupun sikapnya. Pemahaman ini sejalan dengan peran guru dalam mengajar dan mendidik siswanya.

Peran guru dalam mengajar berkaitan dengan kapasitas keilmuan yang dimilikinya. Oleh karena itu menjadi seorang guru harus menempuh pendidikan tertentu agar memiliki kapasitas sebagai guru yang profesional. Guru yang profesional diharapkan mempu menghasilkan anak didik yang cerdas intelektualnya dan baik sikapnya.

Profesionalitas guru masih menjadi momok bagi pendidikan di Indonesia. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2010, sebanyak 54 % guru di Indonesia memerlukan peningkatan standar kualifikasi. Kondisi ini ditengarai sebagai faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.

Data dari Kemendikbud di atas mengonfirmasi sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Programme For International Study Assesment) . Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2012, kualitas pendidikan Indonesia berada diperingkat kedua terbawah dari 65 negara. Indonesia kalah dari Malaysia, Singapura bahkan Filipina.

Indonesia tentu harus mengejar ketertinggalannya. Salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan meningkatkan kualitas guru. Pemerintah Indonesia telah memulainya dengan mencanangkan program sertifikasi guru.

Semua guru diwajibkan memenuhi standar kualifikasi yang ditetapkan. Jika memenuhi kualifikasi seorang guru akan mendapat sertifikat pendidik sebagai bukti pengakuan akan profesionalitasnya.

Sementara itu dari hasil sertifikasi guru yang telah dilakukan, guru yang memenuhi syarat kualifikasi hanya sekitar 2,08 juta atau sekitar 70,5 %. Sebanyak 86.167 guru belum memenuhi syarat kualifikasi. Data tersebut diungkap Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, Edi Tri Baskoro.

Standar kualifikasi guru disebut dalam Pasal 8 UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Disana disebutkan bahwa Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, sertikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Dengan ketentuan tersebut tentu para guru yang belum memenuhi kualifikasi akademik harus menempuh pendidikan lagi guna mendapat ijazah S1 atau D4. Seorang guru dengan kewajiban mengajar setiap hari harus menempuh kuliah?.

Meninggalkan kewajiban mengajar jelas tidak mungkin. Sementara itu universitas yang dimaksud belum tentu ada di kota tempat tinggalnya. Ditambah lagi usia yang tak lagi muda. Bisakah para guru ini mengejar kualifikasi yang disyaratkan?.

Jawabannya bisa! dengan menempuh kuliah di Universitas Terbuka.

Universitas Terbuka Pilihan Tepat 

Universitas Terbuka (UT) adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh. Perkuliahan di UT tidak dilakukan dengan tatap muka seperti perguruan tinggi pada umumnya.

UT menerapkan sistem belajar jarak jauh melalui media cetak dan non cetak. Media cetak seperti modul dan media non cetak yang biasa digunakan adalah audio/video, komputer dan internet, maupun siaran radio dan televisi.

Cara belajar yang digunakan di UT adalah belajar mandiri. Mahasiswa UT diberi keleluasaan dalam menyediakan waktu belajar. Hal tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi sehari-hari dari mahasiswa yang bersangkutan.

Selain belajar secara mandiri, mahasiswa UT diberi kesempatan untuk belajar di bawah bimbingan seorang tutor. UT menyediakan 4 jenis tutorial, yaitu:

  1. Tutorial Tatap Muka (TTM), ada dua jenis TTM yaitu TTM wajib dan atas permintaan mahasiswa. TTM ini diterapkan pada mata kuliah yang memang menuntut untuk tatap muka karena tingkat kesulitan mata kuliah tersebut.
  2. Tutorial Online, terdiri atas tutorial online mata kuliah, tugas akhir program dan bimbingan karya ilmiah. Semua tutorial ini bisa diakses melalui wesite UT.
  3. Tutorial melalui media radio, televisi maupun media cetak.
  4. Tutorial webinar yaitu tutorial web seminar dengan menggunakan jaringan internet.

Semua tutorial tersebut bertujuan agar proses belajar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Misalnya untuk TTM wajib, tidak dilakukan setiap hari. TTM biasanya dilakukan hari Sabtu dan Minggu sehingga bagi mahasiswa UT yang bekerja tidak akan terganggu rutinitasnya.

Sementara itu untuk bisa menempuh kuliah di UT tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar dan frekuensi ujian. Inilah yang dimaksud dengan terbuka. Jika ada batasan maka itu adalah calon mahasiswa harus lulus SLTA.

Dengan fakta tersebut UT adalah pilihan tepat bagi guru yang ingin menempuh pendidikan S1 atau D4 guna memenuhi syarat kualifikasi akademik yang disyaratkan oleh undang-undang.

Guru tetap bisa menjalankan kewajibannya mengajar di sekolah sembari kuliah. Waktu belajar tinggal disesuaikan dengan kondisi masing-masing guru.

Fleksibilitas yang dimiliki UT mampu mengatasi keterbatasan yang dimiliki para guru seperti terbatasnya waktu, usia yang tak lagi muda maupun tahun ijazah yang sudah lama.

Selain itu, UT sangat menghargai keberadaan guru. Sebuah portal disediakan untuk para guru agar bisa mengakses sumber belajar dengan cepat, mudah dan murah. Portal ini disebut dengan Guru Pintar Online (GPO). Kata “Pintar” sendiri merupakan kependekan dari “Pintu Interaksi Antar Guru”. GPO bisa diakses di http://gurupintar.ut.ac.id/

 

GPO menyediakan sarana antara lain :

  1. Laboraturium pembelajaran.
  2. Materi pengayaan pembelajaran.
  3. Video pengayaan pembelajaran.
  4. Forum komunikasi guru sebagai media diskusi antar guru.

Dengan adanya portal ini, guru diharapkan bisa aktif berdiskusi dan berinteraksi guna meningkatkan pengetahuan dan profesionalitasnya dalam mengajar dan mendidik para siswanya.

Guru adalah ujung tombak pendidikan, tak berlebihan jika harapan  peningkatan kualitas pendidikan Indonesia disandarkan pada mereka. Meningkatnya kualitas guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas para siswa yang dididiknya. Jadi, kesempatan untuk berprestasi bertambah luas.

Kuliah menjadi jalan wajib bagi guru guna meningkatkan kualitas dirinya. Universitas Terbuka hadir dengan inovasi sistem belajar telah membuat kesempatan guru untuk kuliah lagi menjadi mudah. Universitas terbuka telah membantu meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia demi Indonesia berprestasi.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-30. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.“

Sumber:

http://www.ut.ac.id/

http://harianterbit.com/read/2014/05/09/1981/33/22/Kualitas-Guru-di-Indonesia-Masih-Banyak-yang-Rendah

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/07/14/guru-diberi-waktu-hingga-2015-penuhi-kualifikasi-minimal-strata-satu

http://www.academia.edu/4655193/Maksud_dan_tujuan_sertifikasi_guru

http://www.academia.edu/3633244/PENINGKATAN_KUALITAS_GURU

http://kampus.okezone.com/read/2014/05/02/560/979356/kualitas-guru-ri-nyaris-terbawah-di-dunia

 

 

10 thoughts on “Universitas Terbuka, Inovasi Atasi Keterbatasan

  1. UT memang bisa jadi pilihan buat mereka yang punya banyak kendala ketika harus kuliah dengan tatap muka. Ternyata banyak yang sukses ketika belajar di UT, UT juga dikelola dengan sangat profesional dan bertanggungjawab ya. Sip Mba@Ety maju terus. kompor gas hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *