Lestari Empon-emponnya, Lestari Jamunya

Empon-empon, pernahkah Anda mendengar kata ini?. Empon-empon ini memiliki andil dalam melestarikan jamu. Mengapa? karena sebagian bahan baku jamu terbuat dari empon-empon atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan rimpang. Sudah bisa membayangkan apa itu empon-empon?.

Ya, empon-empon (rimpang) adalah jenis tanaman yang umbinya bercabang-cabang seperti jari. Macamnya banyak, ada jahe, kunyit, temulawak, lengkuas, bangle, temukunci, temuireng, kencur dan lain-lain. Bagi Ibu-ibu rumahtangga, empon-empon tersebut tidak asing lagi. Selain sebagai bahan baku jamu, beberapa empon-empon di atas digunakan sebagai bumbu masakan.

Sudah sejak berabad-abad lalu, empon-empon terbukti memiliki khasiat mengobati bermacam penyakit. Dulu, nenek moyang kita belum mengenal obat-obat kimia. Jamu inilah yang menjadi sumber pengobatan. Tak hanya sebagai obat, jamu juga digunakan untuk merawat kecantikan dan menjaga kebugaran tubuh.

Misalnya, jamu beras kencur diyakini berkhasiat mengobati batuk, dan menghilangkan lelah dan pegal-pegal pada tubuh. Jamu beras kencur ini dibuat dari campuran beberapa empon-empon seperti kencur, kunyit, jahe dan campuran bahan lainnya.

Saya dan banyak perempuan Indonesia gemar mengonsumsi jamu kunyit asam saat haid. Jamu kunyit asam dipercaya dapat melancarkan haid, mengurangi pegal-pegal, dan menyegarkan badan serta mengobati panas dalam maupun sariawan. Jamu ini terbuat dari campuran kunyit, asam temulawak dan bahan baku lainnya.

Begitupula dengan jamu lainnya seperti jamu paitan, sinom, uyup-uyup dan kunci suruh. Selain mengobati penyakit jamu tersebut juga bermanfaat dalam menjaga kesehatan.

Trend jamu sebagai obat sempat tergeser oleh obat-obat kimia. Mengukur khasiat obat kimia dipandang lebih mudah karena sudah terstandarisasi baik bahan maupun dosis pemakaiannya. Sementara jamu, sebagian masih diproduksi secara sederhana dan belum terstandarisasi baik bahan maupun dosisnya.

Seiring dengan semakin mahalnya harga obat kimia dan efek samping yang menyertainya maka trend kembali ke alam mulai tumbuh lagi. Salah satunya kembali mengonsumsi jamu sebagai obat dan sarana menjaga kesehatan.

Kabar baiknya, kalangan akademisi dari perguruan tinggi pun mau turun tangan dalam upaya mengembangkan jamu menjadi sumber pengobatan beragam penyakit. Seperti yang dilakukan oleh Biofarmaka IPB, selain mengadakan penelitian mengenai khasiat tanaman obat yang ada di Indonesia.

Biofarmaka IPB juga membina para petani dalam membudidayakan tanaman obat termasuk budidaya empon-empon. Seperti yang dilakukan di Kecamatan Nanggung, Bogor, petani diberi pengetahuan cara bertanam empon-empon dengan metode Agroforestry. Metode ini memanfaatkan lahan kosong dibawah tegakkan pohon dan peningkatan kesuburan tanah melalui pemupukan.

Ketersediaan empon-empon dalam jumlah yang memadai akan membuat produksi jamu baik skala rumahtangga maupun industri bisa terus berjalan. Jika empon-empon yang tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi jamu tentu pilihan impor empon-empon bisa dihindari.

Empon-empon memang mudah ditanam, baik di pot maupun di pekarangan. Namun untuk keperluan produksi jamu, budidaya yang dilakukan tentu harus sesuai standar agar empon-empon yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik.

Di Indonesia sendiri telah memiliki pedoman untuk mendapatkan tanaman obat yang berkualitas melalui GAP (Good Agricultural Practice/ cara budidaya yang baik). Jika ingin memperoleh empon-empon yang berkualitas baik harus diperhatikan bibit yang ditanam, cara menanamnya, pemeliharaannya, cara mengolah pasca panen dan distribusinya sebelum diolah menjadi jamu.

Mengingat peran penting empon-empon dalam turut melestarikan jamu maka perlu ada upaya meningkatkan kuantitas maupun kualitasnya, antara lain dengan :

  1. Penyediaan Bibit Empon-empon yang baik. Bibit yang baik tentu akan menghasilkan tanaman empon-empon dengan kualitas yang baik pula. Pemerintah diharapkan mampu menyediakan bibit empon-empon ini melalui koperasi tani untuk disalurkan pada petani.
  2. Petani dikenalkan pada cara budidaya baik. Setelah mendapat bibit yang baik, petani dikenalkan dengan cara menanamnya, pemupukan, pemeliharaannya, pengolahan pasca panen. Empon-empon harus diolah dengan baik agar sesuai standar yang dibutuhkan oleh produsen jamu skala rumahtangga maupun industri.
  3. Dibentuk sentra tanaman empon-empon. Misalnya di wilayah A, produksi empon-empon jahenya bagus baik kuantitas maupun kualitasnya maka wilayah itu ditetapkan sebagai pemasok empon-empon jahe. Ini dimaksudkan agar petani mau menjadikan empon-empon sebagai produk unggulan bukan lagi produk sampingan.
  4. Memberikan bantuan mesin pengolah empon-empon pascapanen seperti mesin pencacah dan mesin pengering. Dengan menggunakan mesin, prosesnya bisa lebih cepat dan higienis. Pengolahan pasca panen yang baik akan membuat bahan baku jamu yang didapat juga baik. Keadaan ini tentu menguntungkan petani empon-empon karena industri jamu tentu akan memilih empon-empon dengan kualitas yang baik.
  5. Menjaga harga jual yang menguntungkan bagi petani. Ini  menyangkut kesejateraan petani empon-empon. Harga jual yang kompetitif tentu akan menarik petani untuk menanam empon-empon. Sebaliknya, jika harga jualnya terlalu murah, petani akan kapok menanam empon-empon.
  6. Melibatkan Lembaga Riset. Lembaga ini dibutuhkan perannya untuk meneliti khasiat tanaman obat termasuk empon-empon, menemukan cara tanam yang paling efektif, menemukan teknologi pengolahan bahan baku dan cara penyimpanannya, meneliti dosis jamu yang tepat agar bermanfaat bagi kesehatan.

Menanam empon-empon adalah salah satu cara untuk melestarikan jamu. Jangan sampai petani enggan menanam empon-empon karena tidak menguntungkan. Jamu adalah produk asli Indonesia yang dibuat dari bahan tanaman yang tumbuh di tanah Indonesia.

Penggunaan bahan lokal harus tetap dipertahankan agar harga jamu tetap terjangkau oleh masyarakat luas. Selain itu, penggunaan bahan baku lokal akan mempengaruhi kelancaran produksi. Jika bahan baku jamu harus diimpor tentu akan mempengaruhi produksi ketika harga impor bahan baku tersebut naik atau bahan baku tersebut langka di pasaran.

Masih ingat bukan ketika kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe naik maka terjadi kesulitan produksi. Ironi dari sebuah makanan lokal namun berbahan baku impor karena produksi kedelai dalam negeri belum bisa diandalkan memenuhi permintaan produsen tahu tempe.

Hal ini tidak boleh terjadi pada jamu. Tidak boleh ada impor empon-empon. Apa kata dunia jika Indonesia sebetulnya surganya empon-empon itu harus kekurangan karena petani enggan menanamnya.

Agar jamu tetap lestari, semua pihak harus bekerjasama. Petani tanaman obat, produsen jamu, pemerintah dan lembaga riset harus bahu membahu mengembangkan jamu.

Jamu yang baik harus memenuhi standar mutu obat tradisonal yang ditentukan WHO. Meliputi penentuan farmaseutikal, bahan baku tanaman obat, preparasi tanaman dan produk akhir.

Jamu yang terstandarisasi itu bagus bahan bakunya, diproses secara higienis, tepat dosisnya dan aman dikonsumsi. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tak lagi ragu mengonsumsi jamu. Selain itu jamu yang berkualitas akan mampu bersaing di pasar dunia.

Seperti diketahui, jamu yang diproduksi di Indonesia sekarang ini sudah merambah ke luar negeri. Beberapa produsen jamu telah berhasil menjual jamunya ke Australia, Amerika dan Eropa. Satu prestasi yang membanggakan.

Upaya melestarikan jamu harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Hal yang penting di sektor hulu adalah penyediaan bahan baku jamu yang berkualitas termasuk empon-empon. Lestarinya empon-empon berarti lestarinya jamu Indonesia.

 “Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Jamu DiBlog Biofarmaka IPB”

Sumber;

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/587-quality-of-herbal-medicine-plants-and-traditional-medicine-2013

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/748-fgd-in-the-framework-of-market-development-jamu-industry-in-sukoharjo-central-java-2013

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/778-application-of-agroforetry-practice-at-sub-district-nanggung-of-district-bogor-2013

http://darfaherba.blogspot.com/2008/06/empon-empon-berkhasiat-obat.html

38 thoughts on “Lestari Empon-emponnya, Lestari Jamunya

  1. Waktu SMP dulu, karena sy susssaaah bgt kalo disuruh makan, ibu buatin sy jamu dari temulawak. Efeknya sampe skrg, doyan makan..he he.. Good luck Mba ety…:)

    1. Jamu temulawak bisa juga buat ngobatin jerawat, Ibuku suka bikin jamu ini buat adeku yg SMA. Kemarin waktu mudik ikut minum, rasanya sih masih enak kunyit asem tapi khasiatnya nggak kalah.

  2. iya mak betul banget empon-empon memang harus dilestarikan..malu aja kalau sampai beli empon-empon kok malah ke luar negeri..hehehe

  3. wah, bicara jamu memang ga ada habisnya ya mak, ternyata Biofarmaka IPB juga punya binaan petani, keren 🙂 semoga semakin menebar banyak manfaat 🙂

  4. wah baru tahu kalo namanya empon-empon, info bagus mak. sepengetahuandan pernah mencoba juga, kalo tanaman obat itu mudah dibudidayakan, tidak sesulit tanaman horti, mudah2an karena dia mudah dibudidayakan jadi makan banyak orang yang tertarik untuk menanam

  5. Apapun namanya yang jelas bahan baku jamu tersebut mudah tumbuhnya… Bahkan di daerahku ada yang mengkhususkan menanam jahe, kunyit, temulawak…semuanya itu sebagai bahan baku terutama jamu2an… Aku sejak kecil sudah mengenal jamu bahan sejak SD sudah ikut2an mama minum jamu gendong… Menginjak remaja mama membelikanku jamu gadis remaja yg iklannya itu lho Chicha Koeswoyo… Hingga kini aku masih minum jamu gendong yang dijual si embo jamu yang setiap pagi jualan di samping kantorku…

    1. Betul Mak Rita, mau di pekarangan rumah atau di pot bisa tumbuh. Wah, penggemar jamu ya rupanya. Saya dari dulu suka minum jamu gendong.
      Sekarang yang jualan jamu di komplek saya nggak nggendong jamu tapi naik motor dan yang jual bapak, bukan embok.

  6. kunjungan ke dua…..
    manfaat banget website/Blog nya…..
    keep posting yang positif gan/sist..
    ijin lihat-lihat blog/website nya ya…..

    jangan lupa kunjungi website saya ya :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *