Mendidik Anak Melek Finansial

Mewariskan harta tanpa mewariskan cara mengelolanya sama saja mewariskan kesulitan pada anak dikemudian hari.

Mengapa? Harta bisa saja habis dalam sekejap dan kehidupan pun berubah 180 derajat. Dari banyak harta menjadi miskin. Tentu, sebagai orangtua kita tidak menginginkan kesulitan akan mendera hidup anak-anak kita. Tapi, apakah sebagai orangtua kita pernah berfikir apa yang harus dilakukan agar anak-anak tak terjebak pada kesulitan finansial kelak?.

“Mi, minta uang dong, mau beli isi binder!” Si Sulung merajuk.

“Mi, pengin beli jajan, kayak Tasya itu lho!” Giliran Si Bungsu minta uang.

“Kholil tadi beli ikan lho Mi, murah cuma 1000 an, boleh ya beli ikan?” Rajukan dilain waktu.

Setiap hari, silih berganti anak-anak meminta uang. Untuk beli jajan lah, mainan, beli ikan dan masih banyak lagi. Terus terang Saya sempat pusing dibuatnya. Kalau tidak dituruti anak-anak terus merajuk bahkan sampai menangis dan ngambek. Namun, menuruti permintaannya setiap saat juga bukan kebiasaan sehat.

Saya kawatir anak-anak Saya menjadi manja dan tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Apa saja yang harus dipenuhi saat itu juga, dan apa yang bisa ditunda pemenuhannya. Saya tak menginginkan kebiasaan tersebut terbawa hingga mereka dewasa. Oleh karenanya, Saya pun mulai mengenalkan uang dan cara mengelolanya.

Awalnya Saya memberi pemahaman kepada anak-anak, namun tetap saja mereka belum bisa menangkap pesan yang Saya sampaikan. Rupanya Saya lupa satu hal, bahwa nasehat itu masih terlalu abstrak buat anak-anak. Nasehat harus diikuti upaya konkrit yang melibatkan mereka. Saya pun mulai mengenalkan uang dan fungsinya.

Pertama, mengenalkan uang sebagai nilai tukar.

Saya mengajak anak-anak bermain peran jual beli. Saya berperan sebagai penjual dan anak-anak sebagai pembeli. Lain waktu kami bertukar peran. Lama-kelamaan kedua anak Saya bisa bermain peran sendiri. Kadang Kakak jadi penjual, di lain hari giliran Adik yang jadi penjual.

Selain itu mengajak anak-anak belanja ke warung, dari hal ini anak-anak dikenalkan bahwa jika ingin membeli sesuatu itu harus pakai uang. Jika tidak punya uang maka kita tidak bisa membeli apapun. Lama kelamaan anak-anakpun mengerti, kalau membeli sesuatu itu harus pakai uang. Mereka tidak pernah, tiba-tiba pergi ke warung sendiri dan beli jajan tapi tidak membawa uang.

Kedua, memberi tahu bahwa untuk mendapatkan uang, kita harus bekerja seperti yang dilakukan Ayahnya setiap hari atau berdagang seperti yang dilakukan Eyangnya.

Selanjutnya, mereka Saya ajak mengidentifikasi mengenai kebutuhan dan keinginan.

Saya jelaskan bahwa kebutuhan itu sesuatu yang harus dipenuhi saat ini juga seperti makan, minum, bayar listrik, bayar air dan sebagainya. Makan dan minum harus dipenuhi karena jika ditunda atau tidak dipenuhi kita bisa sakit.

Jika bayar air ditunda maka kita tidak bisa mandi, mencuci baju, mencuci piring. Atau jika tidak bayar listrik, maka lampu tidak akan menyala. Kalau malam akan gelap, tidak bisa belajar, banyak nyamuk dan kepanasan karena kipas angin tidak bisa menyala.

Sementara keinginan itu pemenuhannya bisa ditunda seperti membeli mainan, jalan-jalan, hape, dan sebagainya. Jika keinginan belum terpenuhi saat ini maka kita akan baik-baik saja, karena masih bisa makan, minum dan lain-lain.

Keempat, memberikan uang saku.

Sempat ragu, apakah pemberian uang saku tidak membuat anak jadi konsumtif. Ternyata pemberian uang saku jika diikuti dengan bimbingan dari orangtua dalam mengelola uang saku maka ini akan menjadi latihan bagi anak agar terampil mengelola uang. Hal ini menghindarkan anak menjadi konsumtif.

Anak-anak, Saya berikan uang saku harian. Besarnya uang saku Kakak yang duduk di kelas 4 SD lebih besar dari uang saku Adik yang masih duduk di bangku TK.

Uang saku ini dialokasikan untuk beberapa pos seperti;

  • Dicelengin, Saya memberi anak-anak celengan. Mengapa bukan menabung di bank?. Saya pilih celengan sebagai sarana belajar karena lebih praktis.
  • Dimasukkan kotak amal. Seminggu tiga kali anak-anak pergi mengaji ke masjid. Nah, saat ke masjid inilah anak-anak akan memberikan sebagian uangnya untuk sedekah atau dimasukkan ke kotak infak di sekolah setiap hari Jumat.
  • Untuk kesenangan, seperti jajan, membeli isi binder, mainan, dan lainnya. Jika uang untuk membeli kesenangan itu tidak cukup, itu artinya mereka harus mengumpulkan sedikit demi sedikit sampai tercapai jumlah yang dibutuhkan untuk membeli kesenangan tersebut.

Untuk Kakak sudah bisa memegang uang sendiri, namun masih butuh diawasi. Sedangkan Sang Adik, uangnya Saya yang pegang. Uang,  diberikan ketika dia memintanya, soalnya dia masih kurang aware dengan uang, masih suka naruh uang sembarangan.

Semudah itu? tentu tidak. Awal-awal terasa berat, anak-anak protes minta uang lagi ketika uang saku telah habis. Merengek, menangis, marah dan ngambek menjadi senjata mereka agar keinginan terpenuhi. Disini komitmen Saya benar-benar diuji. Pernah, Saya luluh karena mereka sampai menangis dan berteriak-teriak minta uang karena teman-temannya jajan sementara uang mereka sudah habis.

Dan esoknya, mereka seperti mendapat angin segar untuk kembali berhasil mendapatkan keinginan mereka. Saya harus mulai dari awal lagi. Mengajak bicara dan menegaskan bahwa mereka harus mulai belajar mengelola uang lagi seperti sebelumnya. Sungguh, dalam mewujudkan usaha dan rencana  mengedukasi finansial sejak dini dibutuhkan disiplin dan konsistensi. Tanpa dua hal tadi, maka upaya tersebut akan sulit berjalan.

Terakhir, yang tak kalah penting adalah contoh dari kami, orangtuanya. Saya ajak anak-anak melihat bahwa setiap bulan Saya harus membagi uang untuk kebutuhan makan, membayar kewajiban seperti SPP, transportasi, katering, bayar listrik, bayar air, menabung, rekreasi dan sebagainya. Contoh dari orangtua itu penting karena anak-anak biasanya meniru kebiasaan orangtua.

Hasilnya?. Tentu belum bisa terlihat sekarang walaupun mulai ada perubahan perilaku. Mereka tak lagi minta uang ketika tahu uang sakunya sudah mereka belanjakan semua. Saya berharap mereka akan melek finansial ketika dewasa. Ini adalah upaya Saya menyiapkan mereka agar bisa survive didunia yang semakin kompleks.

Melek finansial merupakan salah satu keterampilan yang dibutuh agar seseorang bisa meraih taraf hidup yang baik, meliputi kemampuan menghasilkan uang, kemampuan mengelola uang, kemampuan berinvenstasi dan lain-lain. Keterampilan ini tentu tidak bisa diperoleh dalam sekejap. Dibutuhkan latihan terus-menerus agar keterampilan tersebut semakin terasah.

Memberikan edukasi finansial sejak dini menjadi penting. Semakin dini berarti semakin banyak waktu untuk mempersiapkan keterampilan melek finansial. Kelak ketika dewasa, mereka telah memiliki pemahaman dan kemampuan memadai dalam dunia finansial.

Orangtua tentu memiliki tanggungjawab dalam memberikan edukasi finansial kepada anak-anaknya. Oleh karena itu sudah seharusnya orangtua telah melek finansial terlebih dulu. Sayangnya, secara umum tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah bahkan jika dibandingkan dengan negara ASEAN seperti Filipina, Singapura, Malaysia dan Thailand, Indonesia berada di bawah mereka.

Dalam survey yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2013 lalu menyebutkan, tingkat literasi masyarakat Indonesia baru sekitar 21,8 %. Tingkat literasi secara sederhana diartikan sebagai pemahaman dan kemampuan seseorang dalam mengambil tindakan finansial serta memahami akibat dari tindakan tersebut (melek finansial).

Bagaimana mungkin mengharapkan anak-anak bisa dididik melek finansial sejak dini jika orangtuanya belum melek finansial. Edukasi melek finansial harus terlebih dahulu dilakukan pada orangtua. Sehingga orangtua melek finansial dan mampu mengedukasi finansial kepada anak-anaknya.

Peran Lembaga Jasa Keuangan

Mewujudkan masyarakat melek finansial harus diupayakan oleh semua pihak termasuk lembaga jasa keuangan seperti PT Sun Life Indonesia. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengedukasi finansial pada masyarakat termasuk para orangtua adalah:

  1. Mengedukasi orangtua agar melek finansial melalui seminar, penyebaran booklet maupun website. Orangtua diajak untuk memahami berbagai aspek dalam investasi.
  2. Menciptakan produk-produk investasi yang bisa dijangkau secara luas oleh para orangtua, seperti produk perlindungan keluarga.
  3. Memberikan informasi secara benar mengenai produk investasi tersebut. Tidak hanya menjelaskan keuntungan semata namun harus dijelaskan pula resiko dari produk investasi itu. Dengan demikian orangtua bisa menentukan dengan tepat, produk investasi yang menjadi pilihannya.
  4. Informasi mengenai dunia finansial hendaknya disampaikan secara ringan dan menarik dengan disertai solusi atas bermacam persoalan keuangan.
  5. Mengedukasi anak-anak agar melek finansial dengan melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah. Dimulai dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi.

Dalam hal penyebaran informasi mengenai dunia finansial PT. Sun Life Indonesia telah melakukannya melalui website Brighter Life.  Atas upaya ini Brighter Life mendapat penghargaan berupa IMA Outstanding Achievement 2014 untuk kategori financial information. Brighter Life dinilai mampu memberikan informasi berkualitas seputar dunia finansial secara menarik sehingga memberikan manfaat bagi banyak orang.

Mengapa Edukasi Finansial Harus Diberikan Sejak Dini?

Membangun kebiasaan baik seperti hidup hemat, menabung,dan membelanjakan uang lebih mudah dilakukan sejak kecil. Anak-anak lebih mudah diarahkan dan dibina.

Selain dilatih mengendalikan keinginan, dalam edukasi finansial anak dilatih untuk membelanjakan uang. Tujuannya agar anak tidak hanya terampil menabung namun juga terampil melakukan investasi. Sehingga kelak anak akan mampu mengendalikan konsumsi dan bisa memberi nilai lebih pada harta yang dimiliki melalui investasi. Mereka pun bisa mencapai kesejahteraan dalam hidupnya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka Lomba Menulis Blog 2014

Referensi;

Uang Saku Dan Perilaku Konsumtif Anak, Ayah Edi, hal. 5-16.

http://www.readersdigest.co.id/uang/perencanaan.keuangan/anak.melek.finansial/004/002/40

http://www.ciputraentrepreneurship.com/personal-advice/mendidik-anak-agar-melek-finansial

http://www.neraca.co.id/article/39119/Edukasi-Finansial-Sejak-Dini

Uang Saku Ideal untuk Buah Hati Anda

http://www.antaranews.com/berita/450005/tingkat-literasi-keuangan-baru-218-persen

IMA Outstanding Achievement untuk Brighterlife Indonesia

6 Comment

  1. Saya juga suka kasihan kalau lihat sepupu minta uang sampai nangis2 gitu. Tapi, saya yakin gak ada ortu yang tega, ya. Cuma masalahnya supaya anak2 bisa belajar hemat.

    Uang saku ada yang dicelengi iku ya cntoh yang kongkrit yo, Mba. 🙂

    1. Emang, apalagi nangis sampai teriak-teriak tapi gimana lagi kalau diturutin terus yo nanti jadi kebiasaan.
      Setiap minta sesuatu nangis aja biar diturutin, hehehe, modus.
      Iyo Dah, anak-anak memang mudah paham dengan sesuatu yang kongkrit.

  2. Aseekkk mbak Ety dan ilmu lagi…. Niru ah. Makasih…

    1. Silahkan Mba Zakiah…jangan lupo, mpek-mpeknyo

  3. Pendidikan finansial wajib diberikan sejak dini pada ananak agar anak cerdas membelanjakan uangnya ya mbak ^^

    1. Betul Mba Ika, melatih anak untuk bisa mengendalikan uang..

Leave a Reply