Ngobrol Asyik Di Kafe Tiga Tjeret

Ngobrol itu enaknya ramai-ramai, ditemani segelas wedang dan aneka camilan. Hm, ini yang membuat ngobrol jadi asyik. Seperti yang Saya lakukan hari Kamis kemarin, bersama teman-teman di Kafe Tiga Tjeret. Ngobrol bersama teman-teman IIDN Solo, dan seorang penulis dari kota Kembang membuat waktu cepat berlalu. Jika tak ingat, kalau hari sudah malam, rasanya ingin meneruskan obrolan seru nan bermanfaat.

Kafe Tiga Tjeret, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga. Ternyata tempatnya juga familiar buat Saya, sering lewat depan kafe ini tapi baru kemarin ngeh, kalau selama ini wira-wiri lewat sini tapi kok nggak melihat tulisan tiga tjeret ya? hehehe. Ternyata, tulisan tiga tjeret ada di dinding lantai dua, kalau tidak melaju pelan maka tulisan tidak akan terlihat.

Sesampainya di sana, saya sempatkan mengambil gambar beberapa jepretan. Tak lama kemudian, Mba Candra Nila datang bersama dua putrinya. Kami pun segera masuk dan mencari bintang tamu yang katanya sudah hadir di kafe sejak tadi. Hm, berbalut kaos dan jilbab berwarna ungu memang menegaskan jika beliau pecinta ungu sejati.

Kami pun segera menghampiri, saling menyapa dan mengenalkan diri. Semakin nampak keunguannya, laptop dan sebuah agenda berwarna ungu tergeletak di meja. Siapa sih beliau, taraaa…ada Mba Lygia Pecanduhujan dihadapan kami. Nggak nyangka, seorang penulis yang selama ini dikenal dengan aneka storycake dan dulu sering berinteraksi lewat dunia maya kini ada disini.

Obrolan pun mengalir, dari mulai menanyakan kabar sampai keseruan menggiati dunia menulis buku. Decak kagum kerap terlontar diantara obrolan yang seru. Banyak wawasan baru yang Saya dan teman-teman IIDN Solo peroleh. Oh, ternyata begitu ya, hahaha, kalimat itu seperti mantra. Maklum, banyak hal di dunia kepenulisan yang belum kami ketahui.

Demi mengejar matahari maka obrolan di cut sebentar untuk foto-foto.

Obrolan pun berlanjut, Mba Lygia sharing tentang soft skill yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Seperti attitude yang harus dijaga dan disiplin dalam menyelesaikan naskah (tepat DL), karena diluar kemampuan menulis yang baik, kedua hal tadi penting dalam menjaga hubungan baik dengan pihak editor maupun penerbit.

Tak hanya itu Mba Lygia juga sharing mengenai plus minus menerbitkan buku secara indie maupun melalui penerbit mayor. Yang tak kalah sedap itu membahas masalah honor yang diterima penulis. Sebagai penulis pemula, pengetahuan ini adalah modal kami untuk melangkah dalam menulis buku. Besarnya honor memang bukan segalanya bagi pecinta menulis tapi jika secara profesional kita bekerja sebagai penulis maka honor itu adalah apresiasi atas kualitas kerja atau tulisan yang kita hasilkan.

Tuh kan, ngobrol sesuatu yang kita sukai memang asyik. Waktu yang disediakan seolah nggak cukup, maunya sih bisa lebih lama lagi supaya banyak ilmu yang bisa diserap. Tapi, mau bagaimana lagi, kesempatan ini memang terbatas waktu. Saya dan teman-teman IIDN Solo pun satu persatu pulang dengan membawa banyak harapan. Salah satunya, harapan untuk bisa terus menulis.

Terimakasih Mba Lygia Pecanduhujan disela-sela waktunya menyiapkan pesta pernikahan seorang kawan masih mau berbagi ilmu, lain waktu semoga bisa ngobrol banyak lagi ya.

 

8 Comment

  1. Wuiih..seru banget ya mbak…bisa ketemuan sekaligus dapat ilmu dari Mbak Lygia.

    1. Iya Mba Nurul, senang banget akhirnya bisa bertatap muka dengan beliau.

  2. Senengnya bisa kopdar asyik sembari menimba ilmu mba Ety 🙂

    Hayu atuh kapan kopdar ke Bandung mbaaa 🙂

    1. Iya Bibi Titi, seneng banget.
      Aduuh, itu dia, kepengin banget bisake Bandung biar bisa kopdar lagi kita..
      Semoga dikasih kesempatan ke Bnadung deh suatu hari..

  3. Akhirnya, nyambang ke sini setelah kopdar KEB kemarin 🙂
    Kalau saya sih begitu dengar “tiga tjeret” langsung ingatnya angkringan depan rumah, Mbak 😆

    1. Akhirnya Mba Phie mau berkunjung kemari..makasih
      Hehehe, tiga ceret kan memang khasnya angkringan trus diambil jadi nama kafe itu

  4. wah cafe tiga ceret , cobain bu nulis di WOL (Wedangan Omah Lodjie) malah lebih deket dari jaten tuh

    1. Kapan-kapan saya coba pak, ke wedangan omah lodjie.
      btw, dimana letaknya ya? hehehe, dua tahun lebih nggak apal-apal sama Solo

Leave a Reply