Bahagianya Melihat Mereka Kompak

Masih ingat dengan ceritaku tentang anak pertamaku yang akhirnya cemburu dengan kehadiran adik?. Peristiwa ini sempat membuatku galau. Bukan galau sembarang galau, Saya galau karena usaha untuk membuat Kakak bisa hidup damai dengan Adiknya tak semulus rencana.

Drama demi drama dibuat Kakak untuk merebut perhatian. Dia seolah merasa Sang Adik telah merampas kebahagiaanya. Waktu itu Adik masih bayi, belum mengerti. Lambat laun umur Adik bertambah, dia mulai mengerti soal perhatian. Mendapat perhatian itu menyenangkan. Gantian deh, Adik yang suka merebut perhatian ketika Saya dan Kakak sedang asyik berdua. Drama lagi, drama lagi, hahaha.

Saat Saya sedang menemani Kakak belajar, Adik tiba-tiba nimbrung padahal tadinya lagi asyik bermain. Adik suka menyela ketika Saya memberi penjelasan tentang pelajaran yang belum dimengerti Kakaknya, suaranya keras pula. Kakak tentu saja terganggu konsentrasinya,dia suka kesal. Eh, Adik tetap saja tidak berhenti mencari perhatian meskipun Saya memberinya aktifitas seperti mewarnai ataupun menggambar di dekat Saya.

Tak hanya saat belajar, saat duduk santai pun mereka berebut duduk di sebelah Saya. Padahal mereka kan bisa duduk di sebelah kanan dan kiri Saya tapi persaingan tetap saja terjadi. Jika ada yang lebih dulu duduk dekat Saya maka salah satunya pasti akan berusaha merebut tempat itu meskipun disamping kanan/kiri Saya masih kosong. Duh, geleng-geleng kepala.

Ada lagi nih, saat kami beraktifitas apa saja bisa jadi sumber persaingan. Misal Saya sedang makan, Kakak juga sedang makan. Si Kakak kadang suka usil, bilang sambil nunjuk :

“makan (sambil nunjuk dirinya), makan (terus nunjuk saya), yang tidak makan (kakak nunjuk adiknya) dibuang”

Lain kali Adik gantian membalasnya saat dia dan Saya melakukan hal yang sama sementara Kakak melakukan aktifitas yang berbeda.

Masih banyak persaingan yang lainnya. Kalau persaingan itu tak berlanjut menjadi pertengkaran sih membuat Saya lega tapi kadang mereka bertengkar sampai salah satu ada yang menangis. Wajar kali ya, setiap Kakak dan Adik itu bertengkar namun Saya suka kawatir jika ini jadi kebiasaan. Saya kawatir mereka tidak bisa kompak sebagai Kakak Adik.

Saya pun suka menciptakan suasana yang akan membuat mereka bisa kompak. Kadang Saya meminta mereka makan sepiring berdua. Mandi bersama setiap sore dilakukan bahkan sampai berlama-lama di kamar mandi membuat boros sampo dan sabun yang ada, hadeh. Dilain hari Saya buatkan aktifitas yang membuat mereka harus bekerja sama seperti membuat prakarya dan percobaan ilmiah sederhana.

Memasak kue-kue sederhana seperti donat, bola-bola coklat dan pisang goreng serta membuat agar-agar juga melibatkan mereka untuk bekerjasama. Yang paling sering adalah foto bersama, untuk yang satu ini tanpa diarahkan mereka bisa kompak bergaya, hehehe.

Apa sih rasanya ketika melihat anak-anak bisa kompak dan tertawa lepas?. Wah, rasanya itu bahagia pakai banget. Namanya juga Emaknya, yang mengandung dan melahirkannya. Setiap apa yang dirasakan anak tentu dirasakan pula oleh Saya. Pertengkaran dan persaingan antara mereka semoga masih sebatas kewajaran saja dan menjadi bumbu yang membuat hubungan mereka bisa sedap dan kompak.

Lebih jauh Saya berharap anak-anak Saya bisa memahami makna persaingan dengan lebih dalam. Persaingan dalam hidup memang wajar terjadi. Bersaing mendapatkan sekolah, bersaing meraih prestasi, bersaing mendapat pekerjaan, dan lain-lain. Yang harus mereka pahami adalah mereka harus bersaing dengan sehat. Memberikan yang terbaik dari kemampuan mereka tanpa merendahkan kemampuan atau usaha yang dilakukan oranglain dalam persaingan.

Begitupun saat mereka menjadi Ibu, apapun pilihan mereka, menjadi ibu rumahtangga atau menjadi ibu berkarir tidak masalah. Yang penting mereka harus bisa menghargai pilihan dirinya dan pilihan perempuan lain. Tanpa merendahkan, tanpa menghakimi karena sejatinya mau di dalam rumah maupun di luar rumah bagi anak-anak hanya ada satu kata yaitu IBU.

Ibu yang memberikan seluruh kasih sayangnya, ibu yang berjuang untuk masa depan mereka. Ibu yang senantiasa menjadi pelipur lara, ibu juga yang ada di sampingnya ketika mereka sakit. Ibu,Ibu dan Ibu. Mari mendukung apapun pilihan Ibu. Percayalah bagi Ibu, anak-anak itu nomer satu. “Let’s Love Support And Respect”

12 thoughts on “Bahagianya Melihat Mereka Kompak

  1. Cemburu biasanya ada, sedikit atau banyak
    Cantik2, kayak Mamanya
    Semoga sehat, samart, dan menjadi wanita sholehah
    Jeng Ety termasuk salah satu npemenang Kuis Tebak Nama Model
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Anaknya cantik-cantik mbak…ternyata anak dimana-mana sama ya..anak saya juga suka berantem, saling cari perhatian ibunya meskipun mereka terpaut 5 tahun. Tapi ada waktunya juga mereka bisa rukun dan saling memperhatikan kok…semua ada masanya mbak 🙂

  3. Katanya kalau sejenis memang suka gitu, Mbak. Kalau sepasang beda lagi. Maksudnya, tambah ekstrim persaingannya. Hahaha
    Btw, keduanya kok mirip banget sama emaknya, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *