Memilih Masa Tua

Saya belum sempat menanyakan namanya meskipun Saya sudah menjadi pelanggannya. Saya rutin membeli telur ayam kampung yang dijajakan oleh seorang nenek. Ia berkeliling dari komplek ke komplek, dari kampung ke kampung dengan naik becak yang dikayuh suaminya.

Sebungkus telur dijualnya dengan harga Rp.17.000,00. Saya biasa membeli sebungkus untuk satu minggu. Setelah habis, Saya akan membelinya lagi, hingga nenek itupun hafal dan akan berhenti di depan rumah ketika ia berjualan. Kadang, suaminya tak bisa mengantar karena ada pekerjaan menebang pohon maka nenek pun berjualan dengan mengayuh sepeda.

Naik sepeda? ya, meskipun nenek itu memakai kain jarik dan kebaya, dia tidak canggung mengayuh sepeda. Yang membuat Saya kagum adalah energinya yang luar biasa. Setua itu masih kuat bersepeda keliling menjajakan dagangan. Kekaguman yang lain adalah tentang pilihannya untuk berjualan ketimbang meminta-minta. Jika ia memilih mengemis, pasti banyak yang memberi uang.

Saya penasaran, di usia tuanya kok masih bekerja keras, kemana anak-anaknya?. Ah, tapi Saya tak sampai hati untuk bertanya. Saya pun mengubur rasa ingin tahu itu. Setiap kali ingat nenek itu, Saya lalu bercermin, bagaimana masa tua Saya nanti?.

Menua, akan dialami setiap manusia. Saat itu, raga mulai berkurang kekuatannya. Kulit menjadi keriput, ketampanan dan kecantikan pun memudar. Gigi perlahan tanggal satu persatu sehingga untuk mengunyah itu sebuah perjuangan. Tak jarang kualitas hidup pun semakin menurun.

Pikiran Saya kembali melayang, lalu apa yang Saya lakukan saat tua?. Hidup santai menikmati uang pensiun atau masih berjibaku memeras keringat demi menyambung hidup?. Uang pensiun? mungkinkah? Saya bukan seorang pegawai negeri. Juga bukan pegawai BUMN yang bakal mendapat pesangon saat pensiun tiba.

Saya seorang freelancer, yang tidak setiap hari bekerja. Jika tak ada pekerjaan maka tak ada uang yang Saya dapat. Mengetik huruf demi huruf menjadi kata dan merangkai setiap kata menjadi kalimat. Otak Saya lambat laun berkurang daya kerjanya. Walaupun tentu Saya sangat berharap, sehat walfiat hingga tua nanti. Satu hal, Saya tidak tahu sampai kapan masih kuat menulis.

Cita-cita Masa Tua

Sejahtera dimasa tua itu menjadi impian Saya. Sejahtera tanpa merepotkan anak-anak. Hidup berkecukupan tanpa ada tuntutan bekerja untuk mencari nafkah. Bukan berarti Saya ingin menikmati masa tua dengan ongkang-ongkang kaki saja. Tetap aktif didunia tulis menulis, di kehidupan sosial namun tak perlu lagi memeras keringat untuk mencari makan.

Tanpa uang pensiun ditangan Saya tentu harus berupaya lebih keras daripada mereka yang hidupnya dijamin uang pensiun ataupun pesangon. Selain itu, pekerjaan yang adanya tidak tentu itu juga menjadi tantangan. Saya harus menyiapkan uang pensiun secara mandiri.

Selama ini kebutuhan hidup Saya sudah dicukupi oleh Suami. Honor yang Saya terima itu menjadi milik Saya seutuhnya namun tak serta merta membuat Saya bisa menyimpan seluruh pendapatan untuk masa tua nanti.

Keinginan untuk menikmati hasil jerih payah justru menghambat Saya untuk memiliki simpanan. Untuk ini Saya berusaha tak hanya mencari pendapatan dan membelajakannya dengan bijak namun juga mengelolanya. Semua ini penting agar pendapatan Saya tak habis untuk kebutuhan konsumtif.

Hm, rupanya Saya harus bisa disiplin dalam mengelola pendapatan. Harus mulai selektif dengan beragam keinginan membeli ini dan itu. Sepertinya, Saya juga harus memilih investasi yang cocok untuk bisa mengkover kebutuhan hidup dimasa tua nanti.

Asuransi, Investasi Untuk Masa Tua

Bicara soal investasi maka ada banyak jenis investasi bisa dipilih untuk mempersiapkan masa tua. Salah satu investasi yang bisa dipilih adalah asuransi. Pilihan asuransi juga tak sedikit. Ada yang bersifat proteksi murni dan ada yang sekaligus bermanfaat sebagai investasi.

Sebelum membeli asuransi sebaiknya dihitung dulu besarnya kebutuhan hidup dimasa tua yang diinginkan. Nah ini dia, mengukur kebutuhan dimasa tua, itu berarti Saya harus mengira-ira gaya hidup yang diinginkan saat tua nanti. Soal ini nggak muluk-muluk keinginan Saya, bisa makan dan minum setiap hari, kalau sakit tidak pusing lagi dengan biaya, bisa tetap menulis dan bisa liburan, nggak usah jauh-jauh, wisata domestik saja.

Mengapa harus repot menghitung kebutuhan hidup masa tua ya?. Tentu saja agar asuransi yang dipilih bisa membiayai hidup dimasa tua kelak. Bukankah akan sia-sia, memiliki asuransi pensiun namun tak cukup untuk membiayai hidup dimasa tua.

Setelah menentukan besarnya kebutuhan hidup, langkah selanjutnya adalah menentukan asuransi mana yang akan dibeli. Sayangnya, memilih asuransi memang tak semudah memilih bintang yang hanya tinggal menggeser layar tab. Harus memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan dalam membayar premi.

Intinya sebelum menentukan pilihan, Saya harus mengumpulkan informasi akurat sebanyak-banyaknya dan mendetil mengenai produk asuransi pensiun. Termasuk tata cara pengajuan klaim asuransi supaya tidak ditolak karena ini salah satu kekawatiran Saya. Sudah capek-capek mengumpulkan uang ternyata uang itu tak bisa dinikmati, rasanya pasti kecewa.

Allianz Menyediakan Produk Asuransi Untuk Beragam Kebutuhan

Beragamnya produk asuransi yang ditawarkan membuat konsumen seperti Saya lebih leluasa memilih. Allianz sebagai salah satu perusahaan asuransi terkemuka juga memiliki berbagai jenis asuransi. Diantaranya :

  1. Asuransi Jiwa
  2. Asuransi Kesehatan
  3. Asuransi Umum
  4. Asuransi Kumpulan
  5. Asuransi Syariah
  6. Asuransi Jiwa Bank

Masing-masing dari asuransi yang disebutkan diatas memiliki beberapa macam produk. Allianz juga menyediakan layanan yang membantu calon nasabah dalam memilih produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Caranya mudah, kunjungi web Alliandz menuju ke laman tujuan finansial. Di sana pengunjung akan diminta untuk mengisi kuisioner. Nanti jawaban akan diproses dan muncullah saran pilihan asuransi yang sesuai dengan jawaban di kuisioner tersebut.

Sekarang Atau Menyesal Kemudian

Jika sekarang Anda mungkin seusia Saya, 35 tahun, lebih baik memulai memiliki asuransi agar bisa sejahtera dimasa tua. Idealnya, memiliki asuransi di usia yang lebih muda dari usia Saya. Selain memiliki kesempatan mengumpulkan lebih banyak investasi. Memiliki asuransi pensiun sejak dini juga akan meringankan beban dalam membayar premi. Besarnya premi yang dibayar setiap bulan lebih kecil.

Seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Jangan ragu untuk mengikuti program dana pensiun meskipun jangka waktu untuk berinvestasi semakin pendek. Memang, konsekuensinya premi yang harus dibayar setiap bulannya akan lebih tinggi. Tak apa, melihat manfaat yang akan diperoleh, Saya pikir pengorbanan ini tak akan sia-sia.

Mengikuti program dana pensiun akan memaksa kita menabung. Ini menguntungkan bagi siapapun yang sulit menyisihkan uang untuk menabung dengan tabungan biasa. Jika ikhtiar telah dijalankan maka Insyaalloh, cita-cita hidup sejahtera dimasa tua bisa terwujud.

Saya dan Anda pastilah tak ingin menjalani masa tua dengan kerja keras seperti yang dilakukan nenek penjual telur ayam kampung. Tak ada yang hina memang tentang apa yang dilakukan oleh nenek penjual telur ayam kampung itu. Jika bisa memilih, bukankah kita ingin memiliki masa tua yang lebih baik dari nenek tersebut?.

Kita memiliki kesempatan untuk memilih masa tua seperti apa yang ingin dijalani. Selagi ada kesempatan, tepatlah kiranya untuk membeli produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan, agar bisa hidup bahagia dan sejahtera saat tua. Pilihan ada ditangan kita, sekarang atau menyesal saat tua nanti.

http-signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

19 Comment

  1. Ikutan mikir, gimana masa tua nanti ya..
    Maunya suami udah gak kerja, saat anak udah dewasa, saya dan suami bisa traveling ^.^

    1. Pasti menyenangkan bisa traveling bareng suami di masa tua.

  2. suka sedih mbak lihat kakek2 dan nenek2 masih harus bekerja keras

    1. Sama Mba, nggak tega lihatnya..

  3. kadang kalo ngeliat nenek2 yang masih jualan suka iba campur kesel.
    Ibanya kenapa orang setua itu masih aja kerja. Keselnya, anak2 mereka pada kemana sih? ko tega ngeliat orang tuanya masih aja nyari uang

    1. Kalau anaknya tak ada seharusnya menjadi tanggung jawab negara

  4. Kerja keras di masa muda, supaya masa tua tinggal menikmati saja tetapi yang tua sudah pernah muda, dan yang muda belum tentu sampai tua.

    1. Iya betul, paling tidak sedia payung sebelum hujan. Kalau diberi kesempatan hidup sampai tua, maka ada perlindungan

  5. Memang masa depan harus dipersiapkan dari sekarang ya mak.
    Good luck mak Ety :))

    1. Iya Mak Nurul..makasih

  6. Sya sering banget bertemu pedagang2 tua yg rambutnya sudah putih semua, keriput tak menyisakan tempat. Kasihan sekali. Lalu saya ingat ibu sendiri yg sama sepuhnya tapi tetap pengen dagang meski anak2nya mampu secara materi.
    Kadang pedih, kadang geli. tapi tak mau tersinggung. karena itu maunya ibu, dan justru saya lebih sering menambah modal karena jualan ibu super murah (pakai sekali) hingga sering merugi.

    1. Wah, jempolan semangatnya. Kalau biasa bekerja memang susah diminta berhenti Mba. Nganggur malah suka sakit.

  7. Sedih lihat fotonya …
    Ya … yang namanya jaminan hari tua itu sangat penting …
    saya bukan asal ngomong …
    saya merasakannya sendiri …
    Saya ikut dana pensiun di Kantor … dan juga Jamsostek …
    ketika saya keluar dari perusahaan … Alhamdulillah … saya bisa tersenyum lega … karena jumlahnya lumayan Mbak …

    Salam saya Mbak Ety
    (1/11 : 18)

    1. Iya Om, patut dicontoh nih langkah Om Nh.
      Nggak terlena saat usia produktif..

  8. Alhamdulillah nenek itu masih bisa naik sepeda ya Mbak … ada yang berjalan terseok2 menjajakan dagangannya 🙁

    Sukses ya lombanya 🙂

    1. Iya Mba, alhamdulilah masih sehat. Walaupun badannya kurus.
      Amin. Terimakasih Mba Niar

  9. Kagum sama semangat nenek itu, tetap semangat bekerja walaupun seharusnya di masa tuanya bisa lebih santai menikmati hidup..barangkali itu memang pilihan yang harus dijalaninya ya mbak,,

    1. Sama Mba Nurul,
      ada yang masih kuat tenaganya malah kerjanya meminta-minta.
      Suka geregetan, simbah aja mili milih jualan, kok yang masih bregas waras malah milih jalan pintas

  10. ndak tega lihatnya…. 🙁

    nenekku juga memilih untuk tetap produktif di masa tuanya. beliau masih berdagang (tapi di rumah). karena kata nenek, kalau gak ngapa2in nanti malah sakit. hehehehe…..

Leave a Reply