Kuliner di Pasar Beringharjo

beringharjo1

Masih soal cerita sehari di kota Jogyakarta. Hehehe, jangan bosan, soalnya banyak yang ingin Saya ceritakan. Jalan-jalan di dalam Pasar Beringharjo, membuat kaki pegal dan perut lapar. Ditambah lagi, cuaca yang panas membuat kerongkongan haus, meminta segera diguyur air. Saya pun segera keluar pasar, mencari tempat makan. Kesempatan bagus mencicipi kuliner di Pasar Beringharjo. Pilihan jatuh pada penjual makanan di depan pasar.

Kenapa di Pasar Beringharjo? Ya, sebenarnya banyak alasan yang bisa melatarbelakangi siapa pun yang berkunjung ke Jogya, termasuk saya. Kalau dilihat dari letaknya, Pasar ini memang sangat strategis. Lokasinya dekat sangat dekat dengan spot-spot keramaian lainnya, seperti Malioboro, wisata Museum Benteng Vredeburg, dan Keraton, dll. Ditambah lagi dengan banyaknya pilihan homestay dan hotel-hotel budget di Jogya yang akan membuat kunjungan kita jadi lebih hemat di kantong.

Oh ya, balik lagi ke kuliner di Pasar Beringharjo…heemmm, sebenarnya ada beberapa penjual makanan yang berada di depan pintu masuk pasar. Kalau dilihat-lihat, aneka makanan yang dijual semuanya sama. Makanan khas seperti gudeg, pecel dan gudangan, nampak memikat selera. Tak hanya itu, aneka makanan pendamping seperti sate telur puyuh, tempe goreng, bakwan, dan aneka gorengan dan baceman juga menambah rasa ingin makan semakin tinggi.

Saya memilih penjual yang masih ada tempat duduk yang kosong. Semua penjual nampak penuh dengan pembeli, soalnya memang waktunya makan siang. Tadinya sempat bingung mau makan gudeg, pecel atau gudangan. Dipikir-pikir, nggak afdol kalau sudah ke Jogya tapi nggak makan gudeg.

beringharjo3

Makanan yang berbahan dasar nangka muda ini memang sudah lama dikenal sebagai makanan khas Jogya meskipun di kota lain seperti Solo, gudeg juga banyak dijual. Untuk mendapatkan gudeg yang lezat, dibutuhkan waktu yang lama dan paduan bumbu-bumbu tradisonal yang tepat.

Disamping itu proses memasak di atas tungku diyakini menjadikan citarasa gudeg semakin nikmat. Uniknya,warna coklat pada gudeg didapatkan dari daun jati yang direbus bersama nangka muda. Keunikan cara memasak, menghadirkan rasa yang nikmat dan terus disukai.

Saya pun memesan sepiring nasi gudeg, terdiri dari gudeg, sambal krecek dan lauk ayam. Tak lupa Saya meminta sambal karena suka pedas. Hm, rasa gudeg terkenal manis ya namun buat Saya gudeg yang ini terlalu manis. Ada sih rasa gurihnya namun yang paling dominan ya rasa manisnya. Sepiring nasi gudeg akhirnya habis juga dan perut Saya pun kenyang.

beringharjo5

Untuk sepiring nasi gudeg ayam harga yang Saya bayar Rp.15.000,00. Itu tanpa tambahan lauk ataupun gorengan lain. Sementara untuk harga seporsi pecel adalah Rp.7000,00. Untuk makan pecel, bisa dipilih dengan nasi maupun dengan ketupat. Mahal atau murah menurut teman-teman?

Oh ya, jika ingin makan di tempat wisata, sebaiknya tanyakan dulu harganya supaya tidak terjebak seperti yang tempo hari sempat ramai itu. Himbauan seperti ini juga terpampang di sebuah plang di trotoar, sayang Saya nggak sempat foto plangnya.

Makan di depan Pasar Beringharjo itu nggak bisa nyantai, tempat duduk terbatas dan banyak yang mau makan. Jadi, harap maklum, kalau selesai makan, segera bayar dan pergi. Tempat duduk sudah ada yang ngantri. Ini berdasarkan pengalaman kemarin, belum selesai makan, sudah ada pengunjung memesan makan padahal semua kursi penuh.

Kapan-kapan kalau ke Jogya lagi ingin juga mencoba gudeg yang terkenal seperti gudeg Yu Djum ataupun gudeg Wijilan. Kedua gudeg ini telah lama berdiri. Pelanggannya pun banyak, wisatawan biasanya membawanya untuk oleh-oleh. Bahkan dalam acara kuliner di televisi, gudeg inilah yang sering tampil.

Nah, jika teman-teman jalan-jalan ke Pasar Beringharjo, tak ada salahnya mencicipi gudeg di depan pasar. Nikmati gudeg dan sensasi makan di tengah keramaian pasar.

http-signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

23 thoughts on “Kuliner di Pasar Beringharjo

  1. Waktu ke yogya saya juga sempat menikmati gudegnya tapi bukan di pasar Beringharjo. Di suatu tempat yang saya juga gak hapal namanya he..he… mungkin karena dimasak memakai tungku, jadi rasanya berbeda dari gudeg kebanyakan ya mbak…karena saya gak begitu suka dengan makanan manis, jadi saya lebih suka dengan sambal kreceknya mbak..

  2. Wah, kalo ngomongin Jogja memang gak ada abisnya ya.. Taun ini saja saya udah 4 kali kesana xixixi.. Ditambah setiap ke Solo pasti mampir ke Jogja juga.

    Ada satu minuman favorit, tak lain dan tak bukan ialah Wedang Uwuh…