Mommylicious And Me : Serupa Walau Tak Sama

momiliciousMenjadi mama adalah kesempatan menikmati  banyak rasa. Merasakan pengalaman bahagia saat hamil, merasakan sakit saat melahirkan, merasakan kebahagiaan sekaligus keseruan saat menjadi mama baru, dan masih banyak pengalaman lainnya yang serupa. Meskipun serupa, pengalaman para mama tak lantas sama persis karena setiap mama dihadapkan pada kondisi yang berbeda satu sama lainnya.

Membaca buku @Mommylicious_ID, saya seperti sedang menyusuri jalan kenangan. Kenangan saat pertamakali menjadi mama, kenangan saat mengasuh kakak dan adik beserta kenangan ketika menghadapi berbagai tekanan menjalankan peran sebagai mama. Pengalaman Mba Arin dan Mba Rina sebagai penulis buku ini, serupa dengan pengalaman saya bersama anak-anak.

Saya masih ingat rasa sakit saat melahirkan. Sakit yang menguras energi dan emosi. Sakit itu membuat saya kelelahan namun semua lelah itu terbayar ketika mendengar suara tangisan itu pecah. Rasanya lega sekaligus bahagia. Lega karena lepas dari rasa sakit dan bahagia karena anak yang dinantikan lahir dengan selamat. Andai masih cukup tenaga, rasanya ingin berteriak, I am a mother now.

Kegagapan di masa awal menjadi mama juga saya alami. Terutama saat menyusui untuk pertama kali. Meskipun banyak teori telah saya baca, pada kenyataannya menyusui butuh proses penyesuaian. Kaku dan sulit itu akhirnya bisa teratasi karena kami (baca saya dan anak saya) terus berjuang menjalani proses ini.

Menjadi mama baru ternyata tak melulu soal bahagia. Baru sekejap merasakan bahagia tiba-tiba dokter mengatakan jika kadar bilirubin anak saya tinggi. Untuk mengatasinya, anak saya harus menjalani terapi sinar. Meskipun hal ini jamak terjadi pada bayi baru lahir, kenyataaan ini tak urung telah membuatku sedih.

Apalagi saya harus berpisah dari anak saya, dokter telah membolehkan saya pulang ke rumah sementara anak saya masih harus dirawat untuk beberapa lama. Ingin rasanya lebay, teriak-teriak, kenapa harus saya? kenapa harus anak saya?. Untung saja, suami mengingatkan agar saya tidak boleh larut dalam kesedihan karena itu akan mempengaruhi produksi ASI. Jadilah, saya urung berbuat lebay.

Dunia mama itu dunia yang penuh tekanan dan penuh penghakiman. Soal ASI eksklusif, imunisasi, tumbuh kembang, merek susu, babysitter, juga soal pendidikan. Entah siapa yang memulai, perang opini tentang hal tersebut masih terus terjadi. Dulu, saya merasakan juga menjadi korban dari perang tersebut. I am lucky, karena ada suporter hebat yang selalu menguatkan saya, dialah suami saya.

Semua pilihan yang saya ambil berkaitan dengan hal yang kerap diperdebatkan itu selalu dibicarakan dengan suami. Kami selalu menghimpun berbagai macam informasi dari koran, majalah dan dokter. Kami yakin, bahwa Alloh melihat apa yang kami lakukan itu adalah bentuk ikhtiar terbaik bagi anak-anak kami. Kami memutuskan berdasarkan apa yang sanggup kami lihat. Adapun untuk hal-hal yang tidak nampak, kami berserah pada perlindunganNya.

Begitulah sekelumit cerita tentang pengalaman saya menjadi mama. Bagaimana pengalaman Mba Arin dan Mba Rina menjadi mama?. Semua pengalaman kedua mama tersebut tertuang dalam buku ini. Mereka adalah sahabat karib, hobi menulis telah mempertemukannya.

Cerita mereka berdua membuat saya merasa tak sendirian merasakan rasa nano-nano menjadi mama. Dalam hati, saya berkata “oh, ternyata mereka juga mengalami apa yang saya alami dan merasakan apa yang pernah saya rasakan”. Walaupun saya bukan ibu berkarir seperti mereka namun tetap saja kerepotan merawat anak juga saya alami.

Buku ini membuka mata saya bahwa setiap mama memang dituntut menjadi jagoan. Bahkan ada yang mengatakan jika mama dilarang sakit sebab jika ia sakit meranalah anak-anaknya. Mama dituntut pandai membagi waktu, mampu menyediakan makanan bergizi, mampu merawat dan mendidik dengan baik. Padahal, banyak mama yang harus memiliki peran ganda.

Jika melihat banyaknya tanggungjawab yang diemban mama, seolah mama tak memiliki ruang bagi dirinya sendiri. Mana sempat? begitu yang umum terjadi. Kesibukkan mengurus keluarga dan pekerjaan telah menghabiskan seluruh waktunya. Bagi kedua penulis buku ini, mama itu harus bahagia agar keluarga bisa bahagia.

So, me time menjadi jawabannya. Me time adalah sarana bagi mama untuk sejenak melepas penat. Caranya macam-macam, tak harus selalu mengeluarkan biaya kok. Pilih saja yang paling bisa menghilangkan penat.

Kedua mama ini membuktikan bahwa sebanyak apapun peran yang diembannya, mereka bisa menjalaninya dengan baik. Banyak? iyalah, mereka ibu bekerja meskipun akhirnya Mba Rina memilih berhenti di kemudian hari, mereka juga blogger, seorang istri dan mama tentunya.

Dalam dunia menulis Mba Arin dikenal sebagai Ratu Kontes sementara Mba Rina dikenal sering menjadi kontributor untuk majalah parenting. Sebuah pencapaian yang hebat bukan?. Ditengah kesibukan berjibaku dengan urusan keluarga dan kantor mereka masih sempat menekuni hobi dan berprestasi.

mommy2

Mommylicious seolah menjadi anak tangga yang lebih tinggi bagi keduanya. Menulis sebuah buku parenting yang berisi pengalaman pribadi dalam menjalankan peran sebagai mama menjadi tanda manis persahabatan mereka.

Kunci pencapaian mereka ada manajemen waktu, manajemen diri dan support system yang baik. Banyaknya tugas yang harus diselesaikan menuntut mama untuk menggunakan waktu secara efektif. Dengan begitu tidak ada satupun tugas yang terabaikan.

Menjadi mama, rentan akan kelelahan fisik dan stres. Mama harus merasa nyaman dengan dirinya sendiri agar keluarganya pun merasakan hal yang sama. Menyadari terbatasnya kapasitas maka kedua mama ini membangun support system yang baik seperti mendapat dukungan dari suami, kakek nenek, pembantu maupun daycare.

Lebih dari itu Mommylicious adalah pendar kebijaksanaan dari kedua mama blogger ini. Saat di luar sana terjadi perdebatan tiada henti antar mama, kedua mama ini justru mengajak untuk menghentikan perang itu. Sudahi saja karena apapun yang dipilih mama, pastilah diniatkan untuk kebaikan anak-anaknya.

Mommylicious And Me adalah cerita mama yang senantiasa berusaha memberi hanya yang terbaik bagi anak-anaknya. Cerita yang serupa walau pilihan kami tak selalu sama.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

6 thoughts on “Mommylicious And Me : Serupa Walau Tak Sama

  1. ah, punya anak itu memang sbnrnya nyenengin, walopun kdg2 aku yg kurang sabar suka marah-marah saat anakku berulah yg bikin maminya histeris ;p.. Tapi pasti ujung2nya nyesel udh marah2, apalagi pas ngeliat dia tidur, dgn muka polosnya itu ya mba 🙂

    Me time aku dan anakku itu biasanya traveling.. kita jln bertiga dgn papinya, menjelejah tempat2 yg blum prnh kita datangin..Maksudku jg utk ngelatih si kecil mandiri, dan melihat dunia. Walopun mungkin org2 bnyk bilang, dia msh di bawh 5 thn, emgnya ngerti kalo diajak kemana2? Walopun mungkin anaknya ga inget, tp kan dia bisa ngeliat2 foto2nya nanti pas dia udh rada gedean.. 😀

    1. Rasa yang sama. Emang, saya juga suka begitu mba. Kalo mereka lagi tidur suka saya ciumi.:mrgreen:
      Saya suka masak bareng, jalan-jalan pagi, atau sekedar nemenin mereka main di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *