Kisah Setangkai Mawar Putih

setangkai mawar putih
setangkai mawar putih

Musim hujan sepertinya akan segera berlalu Nak. Membawa semua kenangan tentang sedih dan sakitmu tempo hari. Musim memang akan datang silih berganti. Seperti rasa yang kerap  datang dan pergi dalam hidup kita. Percayalah, kita memang perlu merasakan sakit agar kita tahu rasanya sehat.

Petir sesekali terlihat dilangit yang semakin gelap. Hujan deras yang turun sore itu tak kunjung reda bahkan hingga hari beranjak malam. Suara guntur justru terdengar menambah rasa kawatirku. Sementara kamu terbaring menahan sakit. Seperti katamu, rasa sakitnya tak biasa, sakiiit sekali hingga kamu tak sanggup bergerak. Mawar putihku terkulai lemah. Hati Ummi perih melihatmu terbaring tak berdaya.

Alhamdulilah, Alloh mendengar permohonan Ummi agar meredakan hujan hingga kamu bisa segera dibawa ke rumah sakit. Betapa kaget Ummi, setelah mendengar vonis dokter Nak. Dalam hati Ummi menangis, mengapa harus kamu yang merasakan sakit ini.

Maafkan Ummi yang ternyata tak cukup baik menjagamu. Maafkan pula jika Ummi masih kurang hati-hati dalam merawatmu. Sungguh, Ummi tak pernah ingin kamu merasakan sakit ini. Ummi merasa sudah melakukan yang terbaik agar kalian sehat. Ummi selalu cerewet jika kalian ingin jajan sembarangan. Sekalipun akhirnya kalian ngambek dan marah sama Ummi karena tak boleh jajan. Ternyata semua itu tak cukup Nak. Kamu harus merasakan sakit ini.

Hati Ummi tambah menangis ketika melihat kamu tak bisa langsung dirawat inap karena seluruh kamar penuh pasien. Kamu tahu Nak, kami mencari rumah sakit lain agar kamu segera bisa dirawat dan ternyata rumah sakit itupun penuh. Air mata Ummi hampir tumpah jika tak ingat bahwa Ummi harus kuat agar kamu juga kuat menghadapi kenyataan ini.

Malam itu akhirnya kami membawamu pulang dengan beberapa obat yang harus kamu minum. Malam yang panjang, menanti pagi, menanti harapan, harapan untuk kesembuhanmu Nak. Semalaman Ummi terjaga karena kamu tak nyenyak tidur. Sesekali kamu merintih kesakitan. Kamu ingat Nak, Ummi selalu menggenggam tanganmu, karena Ummi ingin memberi ketenangan buatmu.

Akhirnya setitik harapan hadir pagi itu. Kamu menjalani perawatan untuk kesembuhanmu meskipun harus melalui meja operasi. Campur aduk sekali perasaan Ummimu ini Nak. Antara lega karena sakitmu akan segera diangkat tapi Ummi juga diliputi rasa sedih, kawatir dan rasa bersalah Nak.

zahara2

Di ruang inilah Nak,  dirimu dirawat. Melalui masa-masa sakitmu bersama dokter dan perawat yang mulia hati itu. Senyummu perlahan kembali merekah, seiring perginya sakit yang mencengkeram ragamu. Sesekali kulihat dirimu menahan tawa karena akan sakit jika kamu tertawa.

Lima hari di Zahara menjadi episode kita, kamu dan Ummi. Kemandirianmu selama ini hilang untuk sementara. Semua harus dengan Ummi. Jujur Nak, Ummi ingin selalu dekat dengan kamu tapi bukan dalam situasi seperti ini. Kamu juga memiliki keinginan yang sama bukan?.

Kini, tawa ceriamu kembali merekah, seperti merekahnya helaian mahkota setangkai mawar. Celotehanmu dan kejahilanmu pada Adikmu bukti bahwa dirimu perlahan kembali seperti dulu. Ummi sayang kamu Nak. Cintaku padamu ada dihelaian nafasku Nak. Kamu tak usah meragukan itu.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

10 thoughts on “Kisah Setangkai Mawar Putih

  1. Mba, anak sakit adlah bagian dari ujian kita. Uti malah sempat kehilangan buah hati Uti yang berusia 4 tahun karena DB. Semoga ada hikmahnya dari ujian yangg diberikan Allah itu ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *