Cinta Dalam Lintasan Zaman

mei hwaJudul                   : Mei Hwa Dan Sang Pelintas Zaman

Penulis               : Afifah Afra

Penerbit            : Indiva Media Kreasi

Tebal                  : 368 halaman

Terbit                 : Januari 2014

ISBN                   : 978-602-1614-11-2

“Jika ada sesuatu yang membinasakan sekaligus menghidupkan dia adalah cinta”.

Tentang cinta, begitulah kisah dalam novel Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman. Cinta yang sebuta-butanya dan cinta yang setulus-tulusnya terangkum dalam buku setebal 368 halaman. Kisah cinta memang banyak diangkat sebagai ide cerita novel namun berbeda dengan novel cinta yang pernah Saya baca. Novel ini menyuguhkan cinta dalam balutan latar sejarah Indonesia sekitar tahun 1930 an hingga tahun 2000 an.

Novel ini mengangkat kisah dua tokoh utama, dua-duanya perempuan. Sama-sama mengalami kepahitan dalam perjalanan hidupnya. Meskipun hidup dalam zaman yang berbeda, pada suatu ketika mereka bertemu. Pertemuan inilah yang mengungkap tabir rahasia diantara mereka.

Sekar Ayu Kusumastuti, seorang perempuan berparas ayu. Lahir dari seorang Ibu keturunan Jawa berdarah ningrat dan Ayah keturunan Arab dengan latar belakang pedagang. Hubungan Ayah dan Ibu Sekar Ayu sangat ditentang oleh Nenek dari pihak ibunya. Bagi Neneknya, menikah dengan keturunan non ningrat adalah sebuah aib.

Kebencian Sang Nenek pada Ayahnya membuat perseteruan yang tiada henti. Ini menjadi awal penderitaan yang dialami Sekar Ayu. Melarikan diri dari peristiwa pilu di rumahnya, dicabuli saat masih berusia 7 tahun, menjadi budak nafsu tentara Jepang, hingga perjalanan hidupnya di Negeri Sakura yang penuh liku.

Sekar Ayu memang sempat mengenyam kebahagiaan saat menjadi anak angkat pasangan Harada. Ia sempat bersekolah hingga di bangku SMA. Namun episode hidupnya berubah ketika Sekar Ayu berniat pulang ke Indonesia menemui Kakeknya, Kyai Abdulrahman, seorang ulama terpandang.

Latar belakang kehidupan Kakeknya yang religius ternyata bertentangan dengan gaya hidup Sekar Ayu. Pemberontakkan kerap dilakukannya hingga berujung pada penderitaan panjang Sekar Ayu hingga akhir hidupnya.

Suryani Cempaka Ongkokusuma/ Ong Mei Hwa, gadis cantik keturunan Thionghoa-Minahasa. Awalnya Mei Hwa hidup bahagia bersama keluarganya. Peristiwa politik yang berimbas pada kerusuhan Mei 1998 ini telah memporak-porandakan hidupnya, keluarganya dan cita-citanya. Ia menjadi korban pemerkosaan masal.

Beratnya penderitaan yang dialaminya, membuat jiwanya terganggu. Mei Hwa sempat dirawat di rumah sakit jiwa sebelum akhirnya melarikan diri. Jalinan cintanya dengan seorang lelaki pribumi berubah menjadi kebencian akibat peristiwa kerusuhan itu.

———————————————————————————————————————————

Baru kali ini Saya membaca novel berlatar belakang sejarah. Butuh berulang-ulang membaca buku ini untuk memahami detil setiap tokoh dan peristiwanya. Maklum, selama ini Saya membaca novel yang ringan saja. Namun, Saya menemukan keasyikan ketika membaca cerita ini.

Mengapa? karena latar belakang sejarah yang ditampilkan terasa hidup. Saya merasa dibawa pada masa perjuangan Indonesia merdeka dan segala gejolak politik yang terjadi. Detil dan hidup, ini komentar Saya tentang latar belakang dari novel ini. Riset mendalam sepertinya dilakukan oleh Sang Penulis sehingga sejarah dalam novel ini bukan sekedar tempelan.

Peristiwa sejarah seperti pemberontakan PKI dan pernak-perniknya seperti penghukuman terhadap para pendukung PKI (baca: gerwani), menjadikan jalinan cerita novel ini semakin kental dengan sejarah.

Hal lain yang Saya rasakan ketika membaca novel Afifah Afra ini adalah diksi atau pilihan kata. Diksinya nampak lugas namun kadang justru terasa halus dan santun. Untuk menggambarkan sesuatu yang sensitif seperti peristiwa pemerkosaan misalnya, Penulis begitu santun menuturkannya.

Aku mengerang. Meradang. Seolah-olah ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam itu menghempaskan aku pada jurang kenistaan.

Meskipun diksinya terasa lugas, Saya juga menemukan banyak kalimat metafora.

Seseorang telah menyulapnya menjadi kayu. Kayu yang telah kehilangan berat basahnya karena terlalu lama terpanggang di oven kehidupan.

Mungkin tak benar-benar sebatang kayu, karena yang tegak kini sejatinya hanya onggokkan belulang yang terbebat selapis tipis penuh keriput, bak lembaran daun jeruk purut yang cairannya tersedot si kutu kebul.

Metafora semacam ini membuat novel Mei Hwa ini terasa “nyastra”, ini menurut pendapat Saya yang biasanya membaca novel pop.

Novel ini memiliki banyak tokoh. Masing-masing tokoh digambarkan secara detil karakternya, dan perannya dalam membangun keseluruhan cerita. Plot dibangun amat rapi, meskipun alurnya loncat-loncat. Masing-masing bagian tidak kehilangan koneksi sehingga gambaran cerita secara utuh bisa didapat.

Hanya saja ada beberapa poin yang menurut kacamata Saya terlalu mudah terjadi. Contohnya, kematian Ayah Sekar Ayu yang terlalu mudah, tidak digambarkan sakitnya yang menahun. Hanya diberikan kalimat:

Raden Kerta tidak tahu sebelumnya bahwa Mudhor memiliki sebuah penyakit yang cukup parah. Setelah tiga hari terbaring di rumah sakit, dia menghembuskan nafas terakhir.

Padahal sebelumnya perseteruan antara Mudhor dan Besan perempuannya begitu sengit, mengapa disela-sela nya tidak ada peristiwa Mudhor berulangkali sakit. Menurut Saya ini lebih masuk akal.

Bagian lain yang menurut Saya terlalu mudah adalah pertemuan antara Sekar Ayu dan Kyai Abdurrahman, Kakeknya. Terpisah puluhan tahun saat Sekar Ayu masih kecil menurut Saya akan membuat pertemuan mereka banyak lika-likunya. Apalagi keberadaan Sekar Ayu di negara lain.

Secara keseluruhan novel ini terangkai apik. Membuat Saya yang tak gemar novel sejarah menjadi jatuh cinta. Ternyata novel sejarah tak selamanya berat dan membosankan. Buktinya, Saya bisa menikmati novel Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

18 Comment

  1. Uti ucapkan selamat mengikuti lomba dan berharap bisa menang. Uti salah satu penggemar Karya Mba Afifah Afra

    1. Makasih Uti, Amin.
      Saya sudah mendengar namanya dari dulu tapi baru sekarang membaca novelnya, qeqeqe.

  2. Terkadang saya sika takut baca novel yang menguras airmata, padahal mungkin bisa saja kita menemukan hal baru dan menginspirasi…

    1. Hehehe, dibawa nyantai saja Mba Puji.
      Benar sekali, novel ini juga memberi inspirasi tentang resiko pilihan jalan hidup.

  3. Kayaknya novel ini menambah daftar “a must have book” saya deh.. Hehe.. Terima kasih reviewnya mba ety.. Selalu apik dan teliti. 🙂

    1. Hahaha, monggo Mba Arin.
      Rekomended novel pokoke.
      Makasih deh.

  4. Cinta memang bisa membuat manusia bahagia, namun tak sedikit yang malahan menderita.
    Cinta harus diartikan dan diapliksaikan dengan benar agar tak menyimpang dari koridor
    Resensi yang memikat dengan alur yang bagus
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    1. Iya Pakde.
      Terimakasih. Amin.
      Tunggu resensi saya untuk buku pakde ya

  5. Resensinya keren mbak Etty… jadi pengen baca novel ini juga… Smoga sukses di lomba ini yaa…

    1. Huwaaa, mba mechta bisa aja.
      Amin. Makasih ya

  6. agak mikir sepertinya pas baca ya mbak karena latar belakang sejarah. eh gak deh itu sih aku aja kali ya 🙂

    1. Hehehe, saya begitu mba. Bolak-balik padahal belum selesai baca sebuku. Qeqeqe

  7. Mba, Sang pelintas zamannya apa to yg dimaksud?
    Keren nih ya ceritanya, mau ikutan baca aaahhh…

    1. Itu salah satu tokoh utamanya mba uniek. Dia hidup dari zaman penjajahan hingga reformasi makanya disebut sang pelintas zaman.
      Monggo dibaca saja, menurut saya begitu mba.

  8. Menyulap menjadi kayu yang kehilangan berat basah……> dari part ini, sptnya di sebagian penceritaannya ada gaya sain-nya ya mbak

    1. Ya Mba Ririe, mungkin karena latar belakang beliau yang lulusan biologi ya.

  9. Saya jg klo baca novel setting sejarah rada lama, mikir ini itu

    menarik tp ini

    1. Saya juga mulai novel jenis ini deh. Padahal kalau baca buku sejarah malasnya minta ampun.

Leave a Reply