Lukisan Rembulan (Review Novel)

DSC_1006_20150307210123975_20150307210807262

Judul                     : Lukisan Rembulan

Penulis                 : Pipiet Senja

Penerbit              : Mizan

Tebal.                   : 226 halaman

ISBN.                     : 979-3391-02-2

Lukisan Rembulan sudah lama terbit, sekitar tahun 2003. Terus, kenapa baru baca? karena baru tahu. Saya tertarik dengan tema novel ini karena mengangkat kehidupan perempuan muslim keturunan. Saya membayangkan akan banyak pergesekan yang terjadi dalam kehidupan perempuan itu.

Novel karya Pipiet Senja ini bercerita tentang kisah seorang gadis berdarah campuran Batak-Thionghoa. Rumondang, lahir dari seorang ibu bernama Wu Siao Lien, wanita keturunan yang berasal dari keluarga kaya. Sementara ayahnya, Sitor adalah lelaki Batak yang berprofesi sebagai seniman.

Perbedaan, diskriminasi, perjuangan dan eksistensi, adalah hal yang diangkat dalam novel setebal 226 halaman ini. Diawali dari perbedaan latarbelakang Wu dan Sitor, pernikahan yang ditentang kedua keluarga itu mengakibatkan penderitaan pada Rumondang.

Rumondang kecil dirawat oleh ompungnya. Dia tak mengenal siapa ibunya. Tak ada yang sudi menceritakan tentang asal usul ibu kandungnya. Kebencian keluarga ayahnya terhadap Wu telah mendarah daging. Diapun tak mengenal keluarga ibu kandungnya itu.

Berada di bawah asuhan ompungnya, Rumondang kerap mendapat perlakuan tidak mengenakan dari lingkungannya. Itu karena dia dianggap berbeda. Hingga suatu hari, ada peristiwa yang membuat dirinya memiliki kesempatan untuk mencari tahu asal usulnya. Ia ingin sekali bertemu dengan kedua orangtuanya. Penelusuran yang penuh liku. Ada aroma kebencian, kemarahan dan kejahatan.

Menyimak cerita Lukisan Rembulan, saya merasa bahwa ini adalah wajah Indonesia. Pernikahan berbeda latar belakang kerap menimbulkan masalah bagi pelakunya. Biasanya restu kedua keluarga menjadi masalahnya.

Konflik dalam novel ini dipertajam dengan perjalanan karier Rumondang yang bersentuhan dengan dunia kriminal. Intimidasi yang mengancam nyawa tak bisa dielakkan. Aroma suap juga mewarnai cerita ini. Ini juga wajah dunia hukum Indonesia bukan?.

Novel ini menarik, mengambil setting budaya Batak. Kosakata dalam bahasa Batak banyak dipakai di bagian awal novel. Disertakan pula terjemahan di bagian catatan kaki sehingga bagi pembaca yang bukan berasal dari Batak seperti saya, bisa memahami cerita. Sekaligus menambah wawasan tentang budaya Batak.

Sayangnya novel ini terlalu singkat buat saya. Mengingat ada konflik yang inginnya lebih dieksplor yaitu konflik Rumondang dan sepupunya yang terlibat tindak kriminal. Selain itu, proses persidangan yang sehari-hari dijalani Rumondang kurang mendapat porsi. Hehehe, maunya, biar lebih seru.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

6 thoughts on “Lukisan Rembulan (Review Novel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *