Makan Siang (Tak Terduga) dengan Dee Lestari

akhirnya bisa sedekat ini
akhirnya bisa sedekat ini

Banyak sepertinya teman-teman yang menanti cerita tentang makan siang saya dengan Dee Lestari tempo hari. Huwahaha, langsung GR. Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, bahwa saya memperoleh kesempatan langka ini karena menang live tweet di acara Dee’s Coaching Clinic di Solo. Waktunya singkat sih, tapi alhamdulilah saya jadi manusia yang beruntung itu.

Nggak ada persiapan pertanyaan apapun karena saya sendiri baru tahu saat diumumkan bahwa ada hadiah makan siang bareng Dee Lestari. Saya berupaya semaksimal mungkin jadi wartawan dadakan, qeqeqe, gayane, padahal aslinya grogi pol. Setelah masing-masing memesan makan siang maka obrolan pun mengalir begitu saja.

Saya : Mba Dee, merasa berbakat menulis nggak sih?

Dee  : Dulu sih sempat merasa bahwa saya punya bakat menulis. Apalagi setelah baca-baca cerpen di majalah-majalah. Ah, gini aja mah bisa saya. Akhirnya mulailah kirim cerpen, eh ternyata nggak dimuat. Ikut lomba, kalah melulu. Waktu itu saya terus aja menulis, dan akhirnya bisa menulis Supernova. Menurut saya sih bakat perannya sekian persen saja, sisanya ketekunan untuk berlatih menulis.

Saya: Mba Dee suka baca buku apa sih?

Dee  : Saya jarang sebetulnya, membaca karya fiksi. Kadang saya suka baca karyanya Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami. Kebanyakan saya suka baca buku-buku spiritualitas dan popular sains.

Saya  : Kenapa sih suka membaca buku tentang spiritualitas?

Dee    : Ya, itu tidak lepas dari perjalanan spiritualitas saya. Ceritanya, dalam keluarga, Mama saya adalah sosok yang berpengaruh dalam kehidupan spiritulitas kami, setelah Mama tiada, Saya merasa kehilangan pegangan dan memiliki banyak pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Itulah mengapa saya suka sekali membaca buku-buku spiritualitas untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

with dee

Saya: Berarti karya Mba Dee banyak dipengaruhi oleh perjalanan spiritualitas mba ya?

Dee : Ya, sedikit banyak terpengaruh, seperti yang saya bilang tadi saat coaching. Tapi, memang jika dicermati, tema besar karya saya memang spiritualitas dan cinta.

Saya  : Supernova kan fenomenal banget ya Mba, ada nggak cerita berkesan dibalik perjalanan Supernova?

Dee    : Ada, terutama soal kritik. Dulu, saya pernah “disidang” oleh sebuah media terkemuka. Dikritik bahis-habisan. Waktu itu saya diam saja. Saya coba menjawabnya semua kritikan tersebut melalui sebuah opini yang saya kirim ke media itu, ternyata tidak dimuat. Selang beberapa hari ada yang menulis opini bernada kritik terhadap Supernova. Tulisan ini kemudian dijawab oleh orang lain, yang memberi nada positif terhadap Supernova. Wah, saya kaget, ternyata ada juga yang membela saya dan bilang bagus. Menariknya, itu opini saling berbalas beberapakali. Saya jadi mikir, oh ternyata yang mengkritik dan membela saya itu sama banyaknya, barangkali ini yang disebut keseimbangan alam. Kalau gitu biarin aja lah, nikmati saja, jadi sekarang mau dikritik sepedes apapun atau dipuji semanis madu rasanya sama saja.

Saya  : Mba Dee, klimaks satu novel kan ada di bagian kedua ya? Kalau klimaks novel berseri itu ada dimana?

Dee   :  Ada seri terakhir, ini merupakan puncak dari semua eskalasi masing-masing seri. Jadi nanti di Intelegensia Embun Pagi, semua pertanyaan-pertanyaan akan terjawab. Makanya, selama menulis seri terakhir itu saya juga buka lagi seri-seri sebelumnya karena benang merahnya nggak boleh terputus.

Saya  : Boleh tahu dong, cara Mba Dee melatih intuisi?

Dee   : Saya suka melamun, hahaha. Dulu, waktu masih tinggal di Bandung saya suka melamun, naik loteng dan memandang langit sampai lama banget. Sampai akhirnya langit itu bicara sama saya.

Saya  : Ha? emang bisa ya Mba Dee? (yang nanya lugu banget)

Dee   : Bisa. Sekarang saya suka melamun sambil mengamati sesuatu. Contoh nih, Dee langsung menunjuk bunga, lihat aja bunganya yang lama, sampai bunga itu ngomong sesuatu sama kita.

Sambil meneruskan makan, saya mencoba memahami apa yang dikatakan Dee barusan. Belum pernah mencoba tips yang terakhir itu. Hujan masih mengguyur kota Solo saat saya dan Dee harus mengakhiri perbincangan itu. Hangat dan cerdas, itulah kesan yang melekat pada sosok penulis Madre, Perahu Kertas dan Filosofi Kopi ini.

DSC_1131(1)
welfi nggak maksimal tp sueeeneeng

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

8 thoughts on “Makan Siang (Tak Terduga) dengan Dee Lestari

  1. Keren bisa makan siang bersama penulis terkenal Indonesia. 🙂

    Menarik wawancaranya dengan Mbak Dewi Lestari. Nice wawancara Mbak!
    Coba waktu itu bisa mengulik lebih dalam lagi tentang tips menulis dari Dewi “Dee” Lestari. Pasti akan lebih seru dan menarik, Mbak! 🙂

    1. Hehehe, iya ya Mas Dhico. Pikiran saya saat itu sudah penuh dengan teknik menulis pas coaching, jadi pas makan siang nanya yang nyante aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *