ICCC 2015 : Mengembangkan Ekonomi Kreatif Indonesia

ICCC 2015

Bicara soal kreatifitas, saya jadi ingat animasi pendek di You Tube. Film ini berjudul “Pada Suatu Ketika”. Durasinya sih pendek,  hanya sekitar 4 menitan tapi saya suka, karena keren berasa melihat animasi besutan Pixar Studio atau Dreamworks Animation padahal film tersebut besutan anak muda Indonesia dari Lakon Kreatif.

Animasi tersebut bercerita tentang sarana transportasi Indonesia, dengan setting yang Indonesia banget. Disebuah keramaian, ada kopaja, ojek, bajaj dan tiba-tiba muncul alien spaceship. Sayangnya, durasi animasi ini pendek banget. Coba saja dibuat versi panjangnya, pasti seru.

Animasi memang salah satu dari 16 subsektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi industri. Saya sih membayangkan jika para insan kreatif ini diberi ruang untuk tumbuh maka Indonesia bisa memiliki karya animasi kelas dunia.

Guna mendorong tumbuhnya industri ekonomi kreatif di Indonesia Mari Elka Pangestu yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong 5 kota sebagai kota kreatif di Indonesia,yaitu Solo, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Pekalongan. Kelima kota ini kemudian membangun jejaring kota kreatif melalui Indonesia Creative Cities Conference 2015 (ICCC), di Grand Ballroom Sabha Widyasyla, Gedung Bank Indonesia, kota Solo (23/10).

16 subsektor ekonomi kreatif
16 subsektor ekonomi kreatif

Jejaring kreatif ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kota kreatif di Indonesia karena sementara ini baru kota Pekalongan yang memenuhi syarat sebagai kota kreatif. Dalam kesempatan ini, Rudy Salahuddin, Deputi IV Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, Daya Saing Koperasi dan UKM Kementerian Koordinator Perekonomian, menyebutkan jika sektor ekonomi kreatif telah memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional.

Rudy Salahuddin
Rudy Salahuddin, memberikan sambutan

Buktinya

Tahun 2014,ekonomi kreatif menyumbang 7,1% PDB nasional, mampu menyerap 12 juta tenaga kerja dan memberikan devisa sebesar 5,8%.

Bahkan dalam lima tahun kedepan sektor ini ditargetkan mampu menyumbang PDB sebesar 12%, menyerap tenaga kerja sebesar 13 juta orang dan menghasilkan devisa sebesar 10 %.

Ditengah kondisi ekonomi yang lesu, peran ekonomi kreatif diharapkan mampu memberi solusi atas kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini, bahkan ke depannya ekonomi kreatif diharapkan mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Sayangnya, pertumbuhan ekonomi kreatif memiliki kendala, diantaranya :

  1. Belum memadainya perangkat hukum yang melindungi sektor ekonomi kreatif.
  2. Terbatasnya infrastruktur yang dibutuhkan untuk berkembangnya ekonomi kreatif
  3. Belum optimalnya dukungan pemerintah kabupaten/kota terhadap keberadaan ekonomi kreatif.
Memaparkan tentang Portofolio Strategi Pariwisata Indonesia
Memaparkan tentang Portofolio Strategi Pariwisata Indonesia

Konferensi yang berlangsung dari tanggal 22-25 Oktober ini sedianya menghadirkan Arief Yahya, Menteri Pariwisata sebagai keynote speaker, namun berhalangan hadir dan diwakili oleh Asisten Deputi Pengembangan Pasar Kementerian Pariwisata, Rizky Handayani. Dalam kesempatan ini, beliau menyebutkan bahwa ekonomi kreatif itu sejalan dengan program Kementerian Pariwisata dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Rizky menyebutkan bahwa saat ini portofolio strategi pariwisata Indonesia ada 3:

  1. Alam
  2. Budaya
  3. Benda Buatan Manusia

Produk budaya menjadi portofolio unggulan pariwisata Indonesia karena produk budaya memiliki ciri khas yang tidak bisa disamai oleh negara lain. Semakin tinggi produk budaya, semakin tinggi pula nilai produk wisata.

Apalagi pemerintah telah menargetkan kunjungan wisman pada tahun 2019 mencapai 20 juta orang padahal tahun 2014 kunjungan wisman baru sekitar 14 juta orang. Nah, portofolio pariwisata budaya diharapkan mampu menjadi daya tarik kuat bagi wisman sehingga target kunjungan wisman tersebut bisa tercapai.

“Pantai Bali mungkin bisa kalah indah dari pantai-pantai di Maladewa, namun produk budaya yang tumbuh didaerah memiliki keunikan yang tidak bisa dijumpai didaerah lain ini menjadi daya tarik baru bagi wisman,” papar Rizky.

Konferensi ini diharapkan mampu menghasilkan langkah strategis dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif daerah kabupaten/kota. ICCC 2015 ini dihadiri sekitar 80 delegasi pemerintah daerah, pelaku bisnis, maupun komunitas yang berkecimpung dalam sektor ekonomi kreatif.

perfomance Peni Candra Rini menghibur peserta konferensi
Peni Candra Rini menghibur peserta konferensi

Selain konferensi, ICCC 2015 dimeriahkan dengan Expo produk ekonomi kreatif yang bertempat di Benteng Vastenberg. Dihadirkan pula perfomance art dari para seniman kota Solo dan daerah lain di Taman Balekambang. Satu hal yang tak kalah menarik adalah sosialisasi mengenai ekonomi kreatif dengan tema “Solopolah, Rakyat Bungah” pada saat Car Free Day, hari Minggu 25 Oktober 2015 di jalan Slamet Riyadi, Solo.

4 Comment

  1. hallo bu ety, akhirnya nulis juga tentang #ICCN2015 bantu ngetwit dong bu dengan hastag tersebut hari ini sama besok. biar ramai..btw keren ya acaranya..ini mirip mirip SMESCO kayaknya hehee

    1. Iya pak, kemarin lupa blas sm hastag krn khusyu ndengerin paparan

  2. Banyak juga targetnya, ya. Tapi, stelah mendapat halal award kmrn, aku yakin Indonesia bisa mencapai target.

    1. Iya idah… Aamiin

Leave a Reply