Menyimak Cerita 3 Emak Gaul Keliling 3 Kota

wpid-1448885894932.png

“Museum? Hm, kuno, gelap, nggak menarik.”

Begitukah image museum dalam pikiran Anda? Jika ya, sama dong, dengan apa yang saya pikirkan tentang museum. Bukan sembarang menyimpulkan, beberapa museum yang pernah saya kunjungi memang begitu adanya. Sehingga koleksi yang memiliki nilai sejarah itupun menjadi tidak menarik untuk diketahui. Wajarlah, jika bagi saya dan sebagian besar orang Indonesia, mengunjungi museum menjadi pilihan nomor sekian sebagai destinasi wisata.

Lebih memprihatinkan lagi yang kerap terlihat mengunjungi museum adalah turis asing. Mereka pun jumlahnya tidak banyak karena nyatanya museum-museum yang ada tetap sepi pengunjung. Kenyataan inilah yang kemudian menjadi dasar ketiga Emak gaul yaitu Fenny Ferawati, Ika Koentjoro dan Muna Sungkar menyusun sebuah buku yang berisi catatan perjalanan mengunjungi museum-museum di 3 kota yaitu Jogyakarta, Solo dan Semarang.

buku 3 emak gaul keliling 3 kota

Buku dengan sampul hijau tosca ini baru saja di launching pada hari Sabtu, 28 November 2015, bertempat di Gramedia Solo Square, Solo. Ketiga Penulis buku berjudul “3 Emak Gaul Keliling 3 Kota” yang hadir mengisi acara menuturkan bahwa museum-museum yang diangkat dalam buku ini adalah museum yang terdapat di Jogyakarta, Solo dan Semarang karena ketiganya merupakan destinasi wisata penting di Jawa Tengah dan Jogyakarta. Hal ini sejalan dengan program Departemen Pariwisata dan Budaya dalam mempromosikan museum sebagai salah satu tujuan wisata.

Banyak hal menarik berhasil saya catat dari acara ini, antara lain:

Cerita Saat Mengunjungi Museum

Mba Fenny, memilih mengunjungi museum di kota Solo. Dari pengalamannya, museum-museum di kota Solo itu letaknya berada dalam jalur yang melingkar. Kecuali satu museum yang letaknya agak menyempil yaitu Museum Samanhudi. Menurutnya, jika ingin dalam satu hari mengunjungi museum-museum di kota Solo maka amat mudah.

Perjalanan mengunjungi museum tak hanya mengenal sejarah namun juga menambah wawasan. Seperti yang Mba Fenny dapatkan ketika mengunjungi Museum Danar Hadi. Museum batik ini tidak dilengkapi dengan pencahayaan yang terang karena ternyata cahaya lampu bisa merusak kain batik tulis. Wajar jika pengunjung pun dilarang untuk memotret koleksi museum ini. Selain menjaga dari kerusakan akibat cahaya kamera, juga mencegah plagiasi atas motif batik yang ada.

Lain lagi dengan cerita Mba Ika yang mengunjungi sebagian besar museum di kota Yogyakarta. Menurut ibu berputra dua ini, bahwa sebuah museum jika ingin dikunjungi banyak  wisatawan, memang harus menyediakan fasilitas yang memadai terutama fasilitas yang dibutuhkan anak-anak. Mengapa? Karena museum bisa menjadi sarana edukasi pada anak-anak tentang sejarah. Tempat yang nyaman akan membuat anak-anak betah mengunjungi museum. Beliau menyoroti keberadaan Museum Affandi dan Museum Gunung Merapi yang sudah memenuhi syarat sebagai tujuan wisata yang nyaman.

Muna Sungkar menuturkan pengalaman mengunjungi museum
Muna Sungkar menuturkan pengalaman mengunjungi museum

Mba Muna Sungkar memiliki pengalaman yang nggak kalah seru, saat dia tidak diperbolehkan masuk museum dengan alasan museum tidak dibuka untuk umum. Diperlukan surat dari dinas terkait untuk bisa masuk ke museum. Diuruslah surat izin yang diminta ke Dinas Pariwisata, setelah mengantongi surat izin Mba Muna pun kembali ke museum tersebut. Dan ternyata di luar dugaan,penjaga mengatakan jika tidak diperlukan surat izin apapun untuk masuk ke museum. Ini dibuka untuk umum baik perorangan maupun rombongan. Sia-sialah selembar surat izin yang telah terlanjur diurus itu. Qeqeqe, bumbunya menulis cerita perjalanan ini.

Dari cerita Mba Muna saya jadi tahu bahwa Indonesia patut berbangga karena memiliki Museum Kereta Api di Ambarawa dimana di sana terdapat koleksi berupa lokomotif tertua di dunia. Lokomotif ini sempat ditawar oleh negara Swiss dan Jerman untuk dibeli tapi alhamdulilah tidak dilepas oleh pemerintah kita. Tak hanya itu, museum ini juga mengoleksi mesin pencetak tiket kuno. Sayangnya, pengunjung tidak lagi bisa secara leluasa naik kereta api kuno yang tersimpan di museum tersebut. Selain alasan umur kereta yang sudah sangat tua, bahan bakar yang diperlukan juga amat mahal yaitu kayu jati.

Cerita tentang Proses Menulis

Bermodal keyakinan, ketiga penulis kemudian menyatukan diri menyusun buku setebal 192 halaman ini. Berbagi tugas dalam mengunjungi museum di 3 kota, berbagi banyaknya halaman yang harus ditulis hingga berbagi rasa mengenai judul buku yang akhirnya harus direvisi di detik-detik akhir ketika akan dicetak.

launching buku 3 emak gaul keliling 3 kota
foto bareng penulis buku

Menariknya, proses penulisan buku yang berlangsung selama 1,5 bulan ini dilakukan tanpa tatap muka. Mereka bertiga memang tinggal di 3 kota berbeda. Komunikasi mengenai penyusunan buku ini dilakukan lewat dunia maya. Perlu waktu setahun hingga akhirnya buku ini bisa terbit.

Cerita Tentang Modal Menulis Buku Travelling

Setahu saya, menulis buku travelling itu membutuhkan foto-foto pendukung dengan kualitas tertentu. Saya tentu penasaran dengan modal kamera yang mereka pakai dalam melakukan kunjungan ke museum-museum tersebut. Awalnya saya pikir, modal mereka pastilah kamera canggih yang harganya mahal. Ternyata salah seorang diantara mereka bermodal kamera hape saja dan hasilnya memenuhi syarat yang ditetapkan penerbit.

Ini  kabar melegakan buat yang berminat menulis tentang travelling namun terkendala kamera. Ternyata istilah “man behind the gun” eh maksudnya “man behind the camera”  lebih menentukan bagus tidaknya sebuah foto lho. Jadi jangan berkecil hati jika tidak memiliki kamera canggih, maksimalkan saja kamera yang dimiliki.

Cerita Tentang Harapan Mereka Terhadap Museum

Sebagai penulis travelling, Mba Muna paham bahwa museum itu harus bertransformasi menjadi tempat yang kekinian. Museum memang tempat menyimpan benda-benda kuno, benda-benda yang bernilai sejarah namun hendaknya pengolaannya jangan ikut kuno. Harus menarik, nggak masalah jika tiket masuknya mahal. Jika pengunjung bisa mendapatkan pengetahuan sejarah dengan cara yang menyenangkan maka harga tersebut senilai.

Salah satu hal yang harus dimanfaatkan dalam mempromosikan museum adalah media social. Sifatnya yang viral membuat informasi apapun bisa tersebar dengan cepat dan luas. Hal ini harus dimanfaatkan pengelola museum agar lebih banyak lagi orang tahu keberadaan museum beserta koleksinya.

Cerita Tentang Isi Buku Ini

Buku ini dicetak colourfull dengan desain layout yang menarik. Tampilan ini membuat buku enak dibaca dan tidak membosankan. Sebagai referensi buku ini cukup lengkap dengan menyajikan sejarah museum, letaknya, beragam koleksi museum, cara mencapai lokasi, jadwal kunjungan, tiket masuk hingga peraturan saat berada di museum-museum tersebut.

Suka travelling dan masih berpikir pergi ke tempat yang jauh di mata dan butuh banyak biaya?. Coba deh, kunjungi  museum. Selain murah meriah, mengunjungi museum itu upaya untuk mengenal sejarah sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa kita. Cakep kan?. Sudah saatnya juga para pengelola museum berbenah diri, agar museum menjadi menarik untuk dikunjungi.

dapat doorprizes
dapat doorprizes

Hari yang menyenangkan buat saya ketika akhirnya bisa bertemu kembali dengan Mba Fenny dan Mba Ika. Dan akhirnya untuk pertama kalinya bisa bertemu muka dengan Mba Muna Sungkar salah satu traveller blogger idola saya. Dan kebahagiaan saya komplit sudah dengan mendapatkan doorprizes serta tanda tangan ketiga penulis buku “3 Emak Gaul Keliling 3 Kota”.

 http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

30 Comment

  1. Makasih bangeeett ya mbak sudah datang di acara kami yg sederhana. Seneng banget akhirnya bisa ketemu mbak ety yg cantik.
    selamat membaca ya semoga suka sama buku kami :*

    1. Sama-sama Mba Muna cantiiik. Saya suka bukunya. Gara-gara buku itu saya jadi berminat mengunjungi museum dalam waktu dekat. Sudah ada panduannya, lengkap.

  2. Nice review mbak buku yg menarik

    1. Makasih Mba, cocok tuh mba buat yang suka travelling.

  3. uwaaa….lumayanlah ya ngurus surat izin tapi pada akhirnya ternyata g pake surat izin masuk museumnya hehehe.
    seru ya mak kalo bisa kopdar sama sesama blogger^^

    1. Hihihi, iya tuh Mak Muna membuang waktu seminggu untuk surat izin yang tak perlu.
      Seru Mak, makanya saya rajin datang ke acara blogger

  4. Menarik bukunya ya, apalagi ditulis oleh penulis yang melihat kondisi museum secara langsung. Dulu jaman si sulung masih TK, udah pernah naik kereta yang bahan bakarnya kayu, udah belasan tahun lalu sih. Sayang belum kenal blog, th 2000 itu, jadi nggak ditulis di catatan perjalanan.

    1. Iya Mba Hidayah. Wah, senangnya sudah merasakan naik kereta api kuno. Pasti tak terlupakan ya.

  5. Karena saya sukanya dengan hal-hal klasik, jadi jika dikasih pilihan pergi ke mall atau museum jelas saya bakal pillih musium. Makasih udah share 😀 😀

    1. Wah, pas banget dong ya. Panduan sudah ada.

  6. HP sekarng udah canggih2 ya mba bisa menghasilkan foto bagus 🙂

    1. Betul Mak Kania. Selain bagus juga praktis kan pake hape..

  7. kebayang serunya…congrats ya buat bukunya

    1. Namanya blogger ketemu, pasti seru aja acaranya, xixixi, begitu Mak Fitri..

  8. Seruu ya bedah bukunya…, nunggu yang di Semarang nih…

    1. Semarang tanggal 12 Desember Mba Ika, monggo ramaikan acaranya.

  9. Kehadiran mbak Ety dkk membuat bedah bukuku jadi berwarna, makasiiih dah hadir :-*

    1. Sama-sama Mba Fenny. Sukses untuk bukunya.

  10. museum di Jakarta banyak, belumpun saya ajak Faiz, padahal kepingin banget. Itu kenapa ada petugas yang iseng ya?

    1. Ayo ke museum.. Hihihi.,nggak tahu tuh mbak. Iseng bener yak

  11. selamat buat ketiga emak, udah nelurin buku baru. semoga bukunya laris ya, mak. :*

    1. Aamiin… Semoga bisa mengikuti jejak mereka.

  12. mereka emg emak gaul beneraaaan.. baru bisa ketemu sama mak ika koentjoro ajaa.. sama mba muna, selisipan terus 🙁

    skrg museum keren2 mba.. pengelolaannya mengikuti jaman kali ya 😀

    1. Belum beruntung Mak Eda… Moga lain kali bisa ketemuan.
      Iya haruslah, biar menarik, jadi banyak yang berkunjung

  13. Sering ke Yogya tapi gak pernah ke musiumnya. Jadi pingin jalan-jalan ke musium affandi sama Danar Hadi..Bedah buku di jakarta nya kapan nih mbak?

    1. Ayo mba Ayu, tempatnya mudah dijangkau… Museum affandi nggak jauh dari bandara ada sucipto. Museum danar hadi, di pusat kota solo.

  14. Mancaplah pokoke wes….emak2 gaul yang cerdas…..

    1. Mbak Lies, kemana aja siie? Kangen tau. Sepakat lah sama mbakyu

    1. Hahaha, go gaul ya.

Leave a Reply