Cabuk Rambak, Makanan Khas Solo Yang Semakin Langka

cabuk rambak

Salah satu hal yang saya suka dari Kota Solo adalah kulinernya. Dari kuliner yang ringan hingga berat ada, harganya pun terjangkau. Kuliner Solo menurut saya memiliki citarasa yang berbeda dengan daerah lain meskipun nama dan wujudnya bisa saja sama. Kali ini saya ingin bercerita tentang salah satu kuliner yang memiliki citarasa unik, yaitu Cabuk Rambak. Selain unik, dari sisi rasa, Cabuk Rambak semakin sulit ditemui keberadaannya.

Hari itu, saya sengaja mengunjungi Pasar Gede, menurut beberapa kawan, di situlah saya akan bisa menemukan penjual Cabuk Rambak. Benar saja, tak jauh dari pintu masuk utama pasar ada seorang Ibu penjual Cabuk Rambak. Sangat sederhana, bukan berjualan di kios pasar melainkan hanya menggelar dagangan di depan salah satu kios.

Ibu ini berjualan tak jauh dari pintu masuk pasar gede
Ibu ini berjualan tak jauh dari pintu masuk pasar gede

Tidak ada meja dan tempat duduk, layaknya penjual makanan lainnya. Cabuk Rambak dijajakan dalam tampah (wadah yang dibuat dari anyaman bambu berbentuk lingkaran). Tampah ini ditaruh di atas keranjang plastik. Jadi, jika akan menjajakan Cabuk Rambak dengan berkeliling, tinggal taruh tampah tadi di atas kepala, sementara keranjang plastiknya dijinjing.

Cabuk Rambak, terdiri dari cabuk yang menurut beberapa sumber disebut sebagai kuah yang terbuat dari wijen sangrai dan parutan kelapa muda yang ditumbuk bersama bumbu seperti bawang putih, kencur, kemiri, merica, gula, garam dan daun jeruk. Sedangkan rambak adalah sebutan untuk kerupuk kulit. Namun, sekarang kerupuk kulit tak digunakan lagi. Sekarang digantikan oleh karak atau kerupuk nasi tapi namanya tetaplah Cabuk Rambak.

Jadi seperti apa wujud dan rasa Cabuk Rambak?

Cabuk Rambak, terdiri dari irisan ketupat gendar yang disiram dengan kuah wijen berbumbu yang tadi saya sebutkan di atas, ditambah dengan karak. Hanya itu? Iya, sederhana sekali bukan?. Ketupatnya yang rasanya tawar dipadu kuah wijen terasa gurih, ada asin dan manis sedikit. Kuah wijennya terlihat agak pucat tak seperti sambal kacang.

inilah Cabuk Rambak itu
inilah Cabuk Rambak itu

Saya pun memesan satu porsi Cabuk Rambak. Tak ada tempat duduk, maka jika ingin makan ditempat harus rela makan sambil jongkok. Ini pertamakalinya saya merasakan kuah wijen. Rasa asin dan manisnya ringan sekali tak seperti sambal pecel, yang manisnya terasa sekali. Awalnya agak aneh di lidah,Β lama-kelamaan terasa enak juga. Selain rasa dari wijen, Cabuk Rambak juga memiliki aroma khas daun jeruk. Saya melihat ada irisian tipis daun jeruk pada Cabuk Rambak yang saya beli.

Cabuk Rambak biasanya disajikan dengan pincuk atau daun pisang yang dibentuk menyerupai mangkok. Sedangkan Ibu penjual yang saya temui di Pasar Gede, menggunakan kertas pembungkus nasi sebagai alas daun pisang. Isi satu porsinya tidak banyak, jadi buat saya tidak mengenyangkan. Ini cocok sebagai makanan sela saja. Sepincuk Cabuk Rambak dijual dengan harga Rp. 3500,00, murah bukan?. Murah meriah, karena ini adalah makanan rakyat.

Cabuk Rambak Semakin Langka

Setidaknya di Pasar Gede, saya hanya menemukan satu penjual Cabuk Rambak. Menurut kawan saya, sehari-harinya memang hanya Ibu itulah yang berjualan Cabuk Rambak. Di kampung-kampung juga semakin jarang ditemukan penjual Cabuk Rambak. Padahal dahulu, mereka kerap berkeliling kampung menjajakan dagangannya.

Di tempat lain, penjual Cabuk Rambak bisa ditemui di seputar Stadion Manahan pada Hari Minggu saat ada acara Sunday Market. Atau jika hari biasa coba berkunjung ke seputar jalan Ledoksari, di sana juga ada yang berjualan Cabuk Rambak. Jika ingin menikmati Cabuk Rambak pada malam hari maka kita bisa mengunjungi Pasar Malam (Night Market) Windujenar dan Pasar Ngarsopuro pada Sabtu Malam.

irisan tipis ketupat akan disiram kuah wijen
irisan tipis ketupat akan disiram kuah wijen

Nah, jika berkunjung ke kota Solo saat Sekatenan maka penjual Cabuk Rambak biasanya bisa ditemukan di arena sekaten. Memang, penjual Cabuk Rambak tak sebanyak dulu dan hanya bisa ditemukan dibeberapa tempat saja sekarang ini.

Tertarik atau penasaran dengan rasa Cabuk Rambak, kuliner khas Solo yang semakin langka?. Mumpung masih liburan nih, silahkan kunjungi kota Solo. Barangkali ada yang sedang berlibur di Kota Solo, coba deh untuk tidak melewatkan kesempatan menikmati sepincuk Cabuk Rambak.

Puas menikmati sepincuk Cabuk Rambak, saya pun melangkahkan kaki keluar, seraya menikmati kemegahan bangunan Pasar Gede yang menjadi saksi bisu perjalanan saya siang itu. Semakin langka, semoga tidak sampai punah ya. Saya berharap, Cabuk Rambak bisa tetap lestari keberadaannya.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

47 thoughts on “Cabuk Rambak, Makanan Khas Solo Yang Semakin Langka

    1. Sama Mba, disini rambak itu kerupuk kulit. Cuma sekarang Cabuk Rambak nggak pakai kerupuk kulit tapi diganti karak alias kerupuk nasi tapi namanya tetep cabuk rambak.

    1. Iya Mba Rambak memang kerupuk kulit.
      Serabi Solo memang enak Mba, lembut, gurih dan manis.
      Kalau makanan khas lebih afdol beli di tempat asalnya deh.

  1. Aku tertarik sama sensasi rasa asin, manis dan gurihnya itu. Ah, sayang, dirimu baru nulis ini sebulan sesudah aku mengunjungi Solo hehehe Mudah-mudahan bisa ke sana lagi. Seporsi cuma 3.500an itu murah banget, mbak.

  2. mertuaku org solo… tiap mudik ke solo, makanan yg prtama aku cari udh pasti cabuk rambak :).. sukaaaa bgt ama makanan rakyat ini… dan untungnya, tiap pagi dan malam di deket rumah mertua ada yg jual… di jl yos sudarso deket ama gang cakra mba… itu juga enak cabuk rambaknya…

    1. Halo Mba Fanny, baru tahu kalau di Yos Sudarso juga ada yang jual cabuk rambak. Makasih infonya.
      Kalau orangtua sih pada kenal dan suka, yang muda kayak kita belum tentu kenal sama Cabuk Rambak.

  3. Bayangin Cabuk Rambak saya malah kepikiran pecel, Mbak Ety. Tapi beda banget ya teksturnya. Untuk rasa manis asin bumbu wijen bayanginnya ke bubuk ketan hihi.. Ah, jadi penasaran Cabuk Rambak. Seandainya Cabuk Rambak di kasih sayur gimana ya rasanya.. hehe

    1. Iya Mba Astin, kerupuk kulit itu. Saya juga baru sekali makan Cabuk Rambak, harus ke Pasar Gede soalnya.
      Ini yang paling dekat dari rumah.

  4. Rambak itu terbuat dari kulit apa, mbak? Saya agak takut nih skrg makan kerupuk kulit kalo gak lihat mentahnya. Soalnya ada yg terbuat dari kulit non halal. Semoga rambak ini halal ya mbak.

  5. Wah enak tuh mbak,,,, biasanya rambak kan di sayur tapi ini dicampur dengan cabuk,,,, Loh mbak misal diganti dengan kerupuk lainnya seperti kerak atau kerupuk nasi, kok bisa masih disebut Cabuk Rambak yaw mbak? padahal kan rambak sendiri dari kulit hewan yang halal. Nah ini dari kulit nasi, hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *