Makan Gethuk Semar Jadi Ingat Masa Kecil

Getuk Semar

“Gethuk asale soko telo…moto ngantuk iku tambane opo?”

Masih ingat lagu itu? Jiaaah, ngomongin lagu kenapa selalu bawa-bawa umur ya! langsung bapers deh, hahaha. Lagu di atas mengingatkan saya akan panganan tradisional yang terbuat dari singkong, Gethuk. Panganan ini tak hanya akrab di telinga namun akrab dengan lidah saya saat kecil. Mengapa? karena tiap kali berbelanja ke pasar, Ibu selalu membeli gethuk. Bagi saya, ini panganan murah meriah yang enak.

Jaman saya kecil memang banyak jajanan dalam kemasan. Apalagi Ibu saya kan punya warung jadi soal jajanan mudah didapat. Tapi, gethuk meskipun kelihatan jadul, nggak gaul, tetap saja saya suka. Ibu membeli gethuk di pasar untuk dijual lagi sebetulnya. Selain menjual barang kelontong, warung ibu juga menjual sayur mayur dan jajan pasar seperti gethuk.

Getuk itu terbuat dari singkong yang dikukus kemudian dihaluskan dengan ditambahkan gula dan kelapa parut. Ada sih yang kelapa parutnya buat taburan, tidak ikut ditumbuk. Buat saya keduanya sama sedapnya. Biasanya getuk dibungkus daun pisang ketika dijajakan. Sederhana ya? ya, sederhana, namanya juga makanan rakyat.

Mengapa saya suka getuk? Karena, saya suka rasa manis dan gurih dan getuk itu begitulah rasanya. Manis berasal dari gula, bisa gula merah maupun gula pasir. Sementara gurih berasal dari kelapa parut. Jika singkong yang digunakan untuk membuat getuk itu singkong yang bagus, getuknya enak, menul-menul gitu. Ditambah lagi, getuk jaman saya kecil itu nggak pakai pengawet, jadi beli pagi,siang harus sudah habis. Kalau tidak getuk akan basi dan nggak layak untuk dimakan.

Di kampung saya, ada banyak getuk yang sering dijual. Ada getuk biasa, bentuknya dipotong kotak-kotak gitu, getuk lindri, getuk mawur, dan getuk goreng yang kondang itu. Saya paling suka getuk yang biasa itu, karena suka dengan campuran antara rasa singkong, gula jawa dan kelapa parut, guriih dan manis.

Getuk jaman saya kecil tak pakai pewangi, baunya ya bau singkong dan kelapa parut. Biasa saja, nggak harum menusuk seperti getuk dalam kemasan yang warna-warni itu. Tapi jangan salah, soal rasa, selalu ngangenin. Sayangnya, susah mendapat getuk seperti itu lagi. Mungkin karena saya tinggal di daerah lain ya, jadi getuknya agak beda citarasanya.

getuk
tampak luar

Tempo hari saat jalan-jalan di Karanganyar, tak sengaja lewat depan sebuah ruko. Di situ tertulis “Gethuk Semar” dengan tagline yang menarik “Menikmati Singkong Dengan Cara Beda”. Sempat ragu sih, mau mampir apa tidak. Kawatir aja, gethuknya tak sesuai harapan saya.

Tapi, pikir saya, kalau nggak dicoba, darimana saya tahu ya, gethuk itu sesuai dengan yang saya harapkan atau tidak. Oke, saya putuskan untuk mencobanya. Dari luar, hanya nampak satu etalase dan satu meja. Sederhana banget, dan suasananya juga sepi, tidak banyak pembeli. Hanya dua orang termasuk saya.

Untungnya, di sana disediakan gethuk dengan potongan kecil-kecil yang boleh dicicipi. Jadi pembeli seperti saya diberi kesempatan untuk mencicipi lebih dulu sebelum membeli. Saya ambil satu potong kecil gethuk berwarna putih itu. Terlihat tak menarik penampilannya, putih bersih, tanpa topping apapun.

getuk
putih polos

Setelah masuk mulut, lidah saya langsung mengenali rasa gethuk itu. Ini seperti kembali ke masa kecil, serius deh!. Rasa singkong, manisnya gula, dan gurihnya kelapa parut berpadu tanpa pengawet dan tanpa pewangi makanan. Enak, seperti gethuk yang saya makan saat kecil. Rasa yang sederhana tapi saya suka.

Yakin tanpa pemanis buatan? Yakin, karena manisnya tidak nyelekit di kerongkongan. Tanpa pengawet? Iya, di sana tertulis gethuk hanya bertahan dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore. Lewat dari itu nggak bisa dimakan lagi. Wanginya juga asli? Iya, karena  nggak kecium pewangi makanan yang menusuk, nyaris nggak ada bau yang menonjol kecuali bau singkong dan kelapa parut yang samar-samar.

getuk
kemasannya sederhana

Hari itu saya membeli sekotak gethuk, harganya Rp. 13.000,00. Mahal atau murah, menurut teman-teman?. Jika dibandingkan dengan gethuk dalam kemasan di daerah saya, harga ini murah. Dalam sekotak gethuk ada sekitar 18 potong, kalau tidak salah, saya lupa menghitungnya. Maaf, karena sampai di rumah, langsung disuguhkan untuk Bapak, dan beliau langsung menyantapnya. Tahu apa komentarnya? Bapak bilang gethuknya enak.

Zahira juga bilang enak, padahal ini anak, lidahnya sudah terpapar makanan modern macam pizza dan steak gitu tapi dia bilang enak bahkan habis enam potong sekali makan, nah lho! Jadi,menurut saya Gethuk Semar itu rasanya enak.

Bagi yang suka gethuk dan tertarik dengan gethuk ini, hanya ada satu jalan deh. Harus berkunjung ke Karanganyar karena gethuk ini tanpa pengawet jadi nggak bisa dikirim lewat ekspedisi.

Gethuk Semar ini ternyata mampu mengobati kerinduan saya akan rasa gethuk yang sederhana, tanpa pengawet dan tanpa pewangi. Kerinduan akan masa kecil di kampung halaman.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

29 Comment

  1. Saya pecinta gethuk lho hehe.

    1. Tos Mba Kurnia, samaan kita.

  2. Aih aku jadi pengen getuk juga ini, di jabar jarang nih mba ety 🙁

    1. Berarti harus main ke Solo nih, Mba Handriati..

    2. yuk yg kangen sama gethuk semar,,, kini ada variant yg goreng lho.. mantappp jg deh.. yg goreng lebih tahan lama, y karena d goreng hihi,,
      utk yg jauh dari solo gak perlu khawatir,, karena permintaan konsumen yg rrruarrr biasa,, akhirnya gethuk goreng semar bisa dikirim k luar jawa juga,,, dalam keadaan beku y
      jd kl sdh sampe lgsg goreng,, srenggggg enak nih d makan musim ujan gini,
      bisa Wa saiyya y yg mau pesan, perkenalkan,, saya marketing gethuk semar asli karanganyar,, 083840513048
      variant lain hj.Nurul balung kethek original, pedas, gurih, manis
      ada juga timus putri isi bligo,, asyiiik kaan yuk d tunggu orderanya ya,, open reseller ya..

  3. Murah banget mbak..jd pengen.incip2 juga

    1. Boelh Mba, main ke Solo lagi yuk.

  4. saya suka gethuk. Skrg gethuk punya kemasan yang bagus ya…

    1. Iya mba Dewi, mengikuti perkembangan jaman.

  5. Saya juga suka gethuk Mbak Ety … jadi pengen dioleh-olehin *Eh? :P*

    1. Sayangnya getuk yang ini gak tahan lama Mba Niar, hehehe.
      Jadi Mba Niar yang harus ke Solo.

  6. Disini mudah cari gethuk, hampir semua tukang sayur bawa. Harganya juga sangat murah 1000/bungkus. tapi perasaan tak seenak gethuk jaman dulu. mungkin karena biasa makan yang enak2 jadi gethuk mulai dilupakan 🙂

    1. Iya Mba, makanya saya kaget dan senang ketika ketemu dengan getuk yang enak.

  7. Wah lama banget nggak makan getuk original gini. Aku sukanya dicocol parutan kelapa & gula pasir. Terakhir makan getuk magelang yg warna warni & getuk goreng.

    1. Kangen ya Mba sama getuk original?. Main yuk ke Solo

  8. Karanganyar sebelah mana Mbak?Arah Bejen apa Popongan?Kok aku jarang lihat kalau mudik ke Jaten, karanganyar.
    Aku juga suka gethuk. Gethuk yang warna coklat. manis Kalau yg putih kuran suka.

    1. Ini saya belinya di outlet Cangakan Mba,karanganyar kota.
      Mba Tatit jatennya mana? saya tinggal di jaten

  9. lama gak makan gethuk …kapan cimplung ikut di bahas?

    1. Jogya kan banyak gethuk Il. Kapan-kapan, harus nyari cimplung dulu.

  10. Udah lama nggak makan gethuk. Dulu sih suka makan gethuk tiga warna hehehe

    1. Terlalu banyak makanan modern kali ya. Jadi getuk jarang dimakan lagi.
      Ayo makan gethuk lagi Mba Fitri.

    2. Terlalu banyak makanan modern kali ya. Jadi getuk jarang dimakan lagi.
      Ayo makan gethuk lagi Mba Fita

  11. aku juga doyan bangets gethuk 😀

    1. Tos, kalau gitu mba Dian.

  12. Aku suka nya gepok ny ong yg di makan pake nasi anget hahaha.
    Kalo getuk suka beli di pasar gresik jaman masih kecil dulu

    1. Gepuk ny. Ong saya juga mauuu.
      Oh, pernah tinggal Gresik to Maz toro

  13. Gethuk asale soko telo… *malah nyanyi

    1. Monggo, saya nggak denger ini kalau fales, qiqiqi

  14. saya lebih suka gethuk telo lung (gethuk dari ketela rambat/ubi jalar), rasanya lebih lembut dibanding yang dari singkong
    *Duh jadi pengen makan gethuk

Leave a Reply