Berburu Properti Food Photography Di Pasar Gede

Berburu Properti Food PhotographyCeritanya saya ingin sekali bisa memotret makanan dengan cantik ala-ala food photographer gitu. Bisa dibilang ini efek dari projek-projek food photography yang diunggah di Instagram, seperti misalnya upload kompakan dan 52WFPP. Kebanyakan dari mereka bukan fotografer profesional lho tapi hasil fotonya keren, bikin ngiri. Sementara hasil foto saya masih seadanya, hehehe.  Apalagi lihat properti yang dipakai untuk memotret, banyak macamnya dan bagus-bagus. Trus? Hahaha, ya pengin punya juga lah.

Biasa, naluri perempuan kalau lihat yang bagus-bagus pasti ingin punya juga. Tapi saya sadar diri kok, dengan kondisi kantong, hahaha. Kalau semua yang saya lihat harus dibeli mah bisa-bisa jebol kantong saya. Suka sih kepoin olshop yang jual properti seperti itu tapi ya sekali lagi harganya gak aman buat kantong. Jadi ya suka saya akal-akalin, pakai yang mirip aja plus harganya murah.

Salah satu yang saya akalin adalah alas foto. Saya sih baru punya dua, rencana mau nambah dengan motif lain. Alas yang saya maksud adalah kertas foto yang bermotif. Saya membelinya dari seorang teman yang hobi memotret. Dia ngeprint motif tertentu di atas kertas foto dan dilaminating supaya aman jika terkena air.

alas foto
ini hasil ngeprint

Model begini ini akur banget dengan kantong sayaaah. Alas foto tersebut sudah biasa saya pakai, sampai bosen sebenarnya pengin punya motif baru tapi belum sempat searching motif. Jadi ya, sementara ditahan-tahanin aja pakai yang itu.

Alas foto baru salah satu dari properti yang dipakai buat memotret, masih banyak benda lain, misalnya piring, gelas, sendok, serbet, dan masih banyak lagi printilan lainnya. Kalau benda macam piring, sendok, gelas kan sudah punya ya? iya, kalau piring dan sendok biasa mah punya. Tapi kalau piring dan perabot lain yang berbau-bau jadul gitu mah nggak punya.

Sewaktu jalan-jalan di Pasar Gede tempo hari itu, saya sempat melewati deretan kios yang penjual aneka perabot yang menarik mata saya. Ada piring, piring kecil baik berbentuk bulat maupun kotak, kukusan, tempat dimsum dan lain-lain. Ada juga perabot dari tanah liat dengan berbagai ukuran seperti piring, tempat sambal dan masih banyak lagi.

pintu masuk pasar gede
lurus saja

Deretan kios pedagang ini ada di lantai satu pas dibagian paling belakang. Jadi dari pintu masuk utama, lurus sampai mentok deh, nanti keliatan kok, beberapa kios yang menjual perabot tersebut.

Mata saya pun langsung mencari-cari sesuatu yang bisa dibawa pulang. Maksudnya beli ya, bukan main ambil aja, qeqeqe. Saya langsung ingin membeli piring dari anyaman lidi yang bisa di pakai di rumah makan itu lho. Saya mbatin, ini dia yang saya cari, perabot yang bisa dipakai buat properti food photography.

kios pedagang pasar gede
banyak pilihan

Sebelum beli tentu tanya-tanya harganya kan ya. Kata nenek yang jual harga piring yang terbuat dari anyaman lidi ukuran sedang  itu “enemlikur”. Hadeeh, sempat bingung, enemlikur sih saya tahu artinya, yaitu dua puluh enam. Yang membingungkan harganya dua puluh enam ribu atau dua ribu enam ratus?, hahaha, roaming deh.

Akhirnya saya nanya lagi, maksudnya “enemlikur” , Alhamdulilah harganya dua ribu enam ratus, hahaha. Kalau dua puluh enam ribu gak jadi beli lah. Sudah niat soalnya pengin beli dawet yang legendaries itu. Dasar emak-emak, niatnya sih beli satu saja tapi kok ya sayang udah jauh-jauh mosok beli satu biji doang. Daripada bolak-balik kan ya, akhirnya saya beli piring kecil dan tempat sambal dari tanah liat.

piring etnik
ini dia yang saya beli

Saya membeli 5 buah perabot, yaitu 1 piring berukuran sedang, dua piring berukuran kecil, dan dua tempat sambal dari tanah liat dihargai Rp. 10.500,00. Murah atau mahal ya? saya nggak nawar soalnya nggak tega aja sama penjualnya yang seorang nenek.

Masih banyak sebenarnya perabot dapur yang menarik perhatian saya, tapi saya sudah pengin sekali menikmati semangkok dawet selasih yang menyegarkan itu.  Lain kali, saya akan kembali lagi ke Pasar Gede Hardjonagoro, sebuah pasar dengan konsep arsitektur Jawa, Belanda dan China. Sebuah simbol harmoni kota Solo di masa lampau yang selalu menarik untuk dieksplorasi.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

39 thoughts on “Berburu Properti Food Photography Di Pasar Gede

    1. Mba Nurin,
      Upload kompakan itu akun di instagram yang menggelar aktifitas upload foto secara beramai-ramai dengan tema tertentu. Foto yang paling kece biasanya akan di grid.
      52FWPP itu aktifitas upload foto di instagram yang diinisiasi oleh beberapa food photograper. Ini juga dengan tema tertentu. Nanti dipilih 3 foto terbaik.

  1. Mbaaak…boleh nitip nggaaak? Hahahaa…disini nggak ada Mak, huhuhu…beli di olshop jebol harga plus ongkirnya. Itu murah2 bangeet..

  2. Pasarnya keliatan bersih ya, nggak kotor.
    Aku jarang nih ke pasar tradisional, krn beli sayurnya di tukang sayur keliling. Kapan-kapan mau ke pasar ah, siapa tau nemu peralatan makan yg unik2 dan lucu 🙂

    1. Depannya kelihatan bersih Mba Lianny.
      Dalamnya ya seperti pasar lainnya hanya memang lebih bersih dibanding pasar lain.

  3. senengnya ke pasar nemu yang unik dan murah meriah ya…., jadi pengen masuk pasar juga…
    nampan kayu juga cakep mbak dijadiian alas foto.., fjngsional pula kan
    ditunggu hasil foto kerennya

  4. belanja di pasar tradisional itu syurga banget ya mbaakk

    apalagi di Solo, Klaten juga.. udah barangnya unik2 harganya murmer!

    saya kalo ke Klaten, suka sengaja beli tempe bungkus, murah meriah kedele semua, sehattt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *