Menyelami Fenomena Wanita Memakai High Heels

High Heels

High heels? Jangan tanya saya. Wong sandal paling tinggi paling 2 centian. Sebagai bukan pengguna high heels saya merasa penasaran. Apa tidak sakit ya kakinya, memakai hak tinggi ketika jalan. Ternyata, memakai high heels tak sesederhana soal sakit atau tidak sakit ketika memakainya. Ada pesan yang ingin disampaikan pemakainya, dan ini sifatnya individual.

Banyak hal menarik dan baru saya ketahui ketika membaca buku bersampul hitam ini. Sejarah munculnya high heels cukup membuat saya terkaget-kaget. Bagaimana tidak kaget, high heels yang selama ini identik dipakai kaum wanita ternyata pada awal kemunculannya justru kaum pria juga memakainya.

Saat itu, high heels merupakan simbol status sosial. Semakin tinggi haknya semakin tinggi pula status sosialnya. Fenomena ini mungkin menggelikan bagi kita. Tapi, begitulah keberadaan high heels saat ini telah melalui perjalanan panjang dan mengalami banyak perubahan, baik dalam fungsi maupun makna yang tersirat.

Hingga kemudian para laki-laki di jaman itu menyudahi kemiripannya dengan wanita, dengan tak lagi memakai high heels. Sepatu ini pun kemudian lekat dengan kaum wanita. Tak hanya sebagai alas kaki, high heels kemudian menjadi sarana untuk menunjukkan identitas wanita yang memakainya.

Sebagian wanita bertubuh pendek, memakai high heels karena ingin kelihatan lebih tinggi. Sehingga bisa eye to eye contact dengan lawan bicara. Adapula karena tuntutan pekerjaan seperti profesi peragawati, pramugari maupun custumer service. Bagi mereka high heels adalah sarana penunjang penampilan  agar  profesional look.

High Heels

Memakai high heels memang bisa membuat kaki terlihat lebih jenjang, postur lebih tegak dan cara berjalan pun menjadi pelan dan anggun. Tapi, dibalik semua itu ada harga yang harus dibayar, yaitu soal kenyamanan. Memakai high heels dalam waktu lama tentu tak akan pernah bebas dari rasa sakit. Pertanyaan besarnya adalah mengapa wanita suka memakainya bahkan sebagian memuja high heels?.Jawabannya bisa teman-teman peroleh di buku setebal 112 halaman ini. Ada banyak testimoni diungkap oleh para pemakai high heels.

Menurut Ika, penulis buku ini, ada hal yang melatarbelakangi penggunaan high heels yaitu motif,makna, status diri dan perilaku. Kompleks ternyata, bukan sekadar ingin nampak tinggi atau memesona. Wanita memang mahluk penuh kompleksitas, bahkan untuk memahami wanita, selain logika diperlukan rasa.

Materi buku ini sebenarnya adalah pengembangan thesis yang disusun penulis dalam rangkan menyelesaikan program magisternya. Warna keilmiahan nampak pada literatur yang digunakan dalam menyusun buku, sistematika buku dan gaya bahasa penulis. Terasa sekali jika, ini bukan buku bergaya popular dengan bahasa ringan.

Buku ini lebih banyak membahas mengenai sejarah, perkembangan dan motif dibalik pemakaian high heels. Hanya sedikit mengupas tentang jenis high heels yang ada di pasaran. Sebagai referensi, buku ini memadai bagi teman-teman yang penasaran akan fenomena high heels dari masa ke masa.

Pada akhirnya, keinginan untuk terlihat cantik adalah motif jamak para pemakai high heels.Sah saja, karena semua wanita pasti ingin terlihat cantik.

Judul Buku                                          : Fenomenologi Wanita Ber-high heels

Penulis                                                 : Ika Noorharini

Penerbit                                              : PT. Artha Kencana Mandiri

Halaman                                              : 112 halaman

ISBN                                                      : 978-602-73069-0-5

26 Replies to “Menyelami Fenomena Wanita Memakai High Heels”

  1. Hiks, saya ndak mbakat pakai high heels, palingan wedges. tapi seringnya trepes mode on. Makasih tulisannya mak ety..

    1. Sama Mba. Pernah beli tapi dipakai sekali aja, nggak tahan pegel.

  2. Aku pecinta high heels loh Mak..punya yg 17 cm… hehe
    Aku nyaman pakainya, soalnya aku pendek
    Kl pake high heels keliatan tinggi dan keliatan gg anak2 lg, beda kl pake flatshoes, aki dikira anak2

    1. Keren mak Witri, 17 cm tinggi banget. Syukurlah kalau nyaman.
      Mba Witri imut2 sih jadi disangka anak-anak.

  3. High heels juga punya sejarahnya tersendiri ya. Malah nyambung ke filosofi fashion juga, berhubungan dg karakter & status sosial.

    Saya sih kurang suka pakai, karena ya itu tadi, pegel, nggak nyaman buat pake lama. Kadang pakenya wedges aja kalo pengen keliatan tinggi :D.

    1. Iya mba, sudah tua umurnya tuh..
      Pakai apa yang nyaman saja mba.

  4. Aku sukaa liat wanita berhigh heels, kaguum, keliatan keren gitu.
    Tapi kalau aku mah nyerah, nggabisa pake high heels, seringkeseleo x__x

    1. Mereka kelihatan anggun mba.
      Tapi kalau disuruh pakai, nggak kuat.

  5. Menurut International Journal of Clinical Practice sih sepatu dengan hak tinggi itu kalau dipakai terus menerus bisa berdampak buruk bagi otot kaki. Kalau sesekali sih tidak apa-apa, tetapi harus dipastikan yang nyaman dan tidak merasa sakit saat memakainya. Kesehatan lebih utama daripada sebatas gaya kan?

    1. Wah, info menarik nih buat para pemakai high heels.
      Kalau buat saya sih Iya mas Usup.

  6. Kalo aku suka pakai hak tinggi yang ga lancip ujungnya. Apa itu namanya, wedges yak kalo ga salah?

    1. Iya wedges mba.
      Saya belum pakai wedges malah.

  7. pakai high heels memang bikin wanita terlihat anggun dan sexy. namun demikian, apakah keanggunan dan keseksian seorang wanita untuk dinikmati orang banyak?

    1. Kalau soal ini, menjadi urusan masing-masing saja.

  8. Suka liat wanita pake heels, kesannya tuh PD dan sexy
    Sayang saya ga suka sama dan ga bisa pake heels padahal kadang pengeen hehe

    1. Hihihi, sama mba Yasinta, saya kalau jalan cepet-cepet sih, nggak telaten pake high heels.

  9. Tapi benar sih, ada keistimewaan tersendiri kalau lihat wanita pakai high heels, apalagi kalau pendek kaya saya 😀 hehehe, tapi suka gimana gitu, ;liat wanita tinggi masih pakai high heels, da saya mah tambah pendek jadinya :p

    1. Hahaha, tenang aja mba, saya juga pendek. Tos kita.

  10. hanya saja perlu kehati-hatian bagi wanita menggunakannya ya, jika akhirnya akan membuatnya celaka, terjatuh, atau kesrimpit dan kesleo maka itu mudharat untuknya.
    tulisan bagus mbak..

    1. Sepakat mba Candra, yang penting nyaman dan aman buat pemakai.

  11. temen kantor ku pake heel 12 cm tiap hari dan itu kata nya nyaman banget + berjalan hampir 15 th an. Sekarang usia dah 40an saat nya lelah kata nya hahaha, tiap hari pake flat shoes

    1. Ya ampuuun 12 cm selama 15 tahun? Kalau aku mana tahan. Luar biasa teman om Cumi itu.
      Wah, berarti ada masa pensiunnya yah pake high heels.

  12. kalau saya ntah kenapa dari kecil mudah jatuh. nggak ada angin nggak ada hujan, istilahnya terpelekok (ngerti nggak ya mbak istilah ini hehe). jadi emang sejak kecil sampi sekarang merasa lebih leluasa dan nyaman pakai sendal tipis. bersyukur juga karena belakangan saya dapat pemahaman kalau high heel bisa mempengaruhi cara jalan jadi nggak biasa, hingga ada kesan tabarruj. alhamdulillah 🙂

    1. Saya nggak paham istilahnya Mba Eva.. Tapi saya mendengar ttg orang-orang yang mudah jatuh sendiri.
      Yang nyaman aja buat diri sendiri Mba Eva.

  13. baru tahu sejarahnya seperti itu, btw memang heels memiliki kesan berbeda beda buat si pemakai maupun yg memperhatikan. so, tetap hati hati ketika memakai heels ya hehe

  14. Salam. Ikut nimbrung dikit ya. Kalau saya takut pakai high heels. Takut jatuh krn ndak biasa pakai.

    Salam

Leave a Reply