Menikmati Kesejukan Udara Di Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu

Grojogan Sewu

Bumi sepertinya semakin panas saja. Hal ini membuat saya selalu merindukan udara yang sejuk, karena setelah menghirupnya, saya merasa mendapat energi yang positif. Atas alasan itulah liburan long weekend tempo hari saya dan suami memilih menikmati sejuknya udara di air terjun Grojogan Sewu Tawangmangu.

Kenapa sih memilih Grojogan Sewu? Buat saya, alasannya sederhana karena dekat dari rumah. Saya kan, tinggal di Karanganyar jadi kalau ke Tawangmangu hanya butuh waktu 45 menit-1 jam saja tergantung kecepatan kendaraan yang dinaiki.

Sejak pindah kemari, saya sebenarnya sudah berkali-kali diajak suami berwisata ke Tawangmangu. Tapi masih ciut nyali, mendengar kata orang jika jalan menuju kesana berkelok-kelok dan menanjak. Ya, iya lah namanya juga pergi ke gunung, hahaha. Setelah kemarin saya pergi kesana memang benar jalanan menuju ke Grojogan Sewu berkelok-kelok tajam dan menanjak tapi nggak sehoror seperti yang saya bayangkan.

Berangkat ke lokasi berdua saja dengan suami, dari rumah sekitar pukul 7.30 WIB. Masih pagi ya? sengaja, karena pagi hari biasanya udaranya masih sejuk banget dan belum banyak pula pengunjung yang datang. Jalanan juga pasti belum ramai.

Sepanjang jalan kami menikmati hijaunya alam di sisi kanan dan kiri jalan yang dilalui. Benar juga, jalanan juga belum ramai. Ada banyak hal menarik ingin saya kunjungi tapi itu nanti karena tujuan utamanya adalah ke Grojogan Sewu dulu.

Nggak sampai satu jam, kami berdua telah sampai di lokasi. Udara sejukpun bisa kami nikmati dengan puas. Nggak sabar rasanya ingin main air di sana. Kami memilih masuk lewat pintu satu, kata penduduk yang sempat kami tanyai, pintu masuk ke lokasi ada dua. Pintu dua sebenarnya lebih dekat ke air terjunnya. Tapi, kami penasaran dengan pintu satu jadi kami memilih untuk masuk lewat sini.

Grojogan Sewu

Sesampainya di loket bersama dengan kami ada serombongan wisatawan asal Surabaya, jadi lumayan ramai. Tiket masuknya seharga 15 ribu perorang untuk wisatawan lokal sementara untuk wisatawan asing saya lupa berapa harga tiketnya.

Setelah pemeriksaan tiket, di depan kami ada anak tangga yang harus dituruni untuk bisa sampai ke air terjunnya. Di sini nampak ada papan penunjuk jalan dan do and don’t yang harus dipatuhi oleh setiap pengunjung.

Berjalan menuruni anak tangga sih nggak terasa berat, walaupun ada banyak sekali anak tangga yang harus dilalui. Hanya saja bagi orang yang sudah berumur, barangkali lutut akan terasa sakit. Saya lihat beberapa orang yang sudah sepuh, merasa kepayahan ketika menuruni tangga.

Grojogan Sewu

Jika berkenan bisa lho, menuju air terjun dengan naik kuda. Dari obrolan yang saya dengar harganya sekitar 100.000 untuk sampai lokasi. Entah bisa ditawar atau tidak, karena saya tak berniat naik kuda jadi tidak iseng menawar.

Sepanjang menuruni tangga, udara sejuk dan lembab terasa sekali. Sinar matahari menembus disela-sela rindangnya pohon memberi sedikit rasa hangat bagi siapa pun yang berada di sana. Saran saja, nggak usah buru-buru deh menuruni tangga. Nikmati dulu kesejukan udara dan hijau pepohonan yang bikin mata adem.

Jika menghendaki, berhenti sejenak untuk selfie-selfie nggak dilarang kok. Kalau berani berfoto dengan kera juga boleh. Jangan kaget ya, kalau sepanjang jalan bertemu dengan banyak sekali kera. Kalau dilihat sih, mereka ini jinak. Buktinya, saya tidak diganggunya.

Hawa dingin ternyata membuat saya jadi ingin buang air kecil. Bergegas saya menuruni tangga dan mencari toilet yang ternyata ada di samping kolam renang. Wuih, baru sekali kemari jadi baru tahu kalau ada kolam renang.

Yang saya suka dari toilet di samping kolam renang itu, toiletnya bersih dan wangi. Saya senang deh, bisa menemukan toilet yang bersih dan wangi di tempat wisata. Soalnya, bagian yang satu ini suka sulit ditemukan. Biasanya bau dan kotor.

Grojogan Sewu

Baru berjalan sebentar dari toilet, pemandangan air terjun sudah nampak. Suara debur air semakin memacu langkah saya untuk sampai di bawah air terjun yang memiliki ketinggian 81 meter ini. Saya dan suami pun mendekat ke lokasi air terjun. Senang akhirnya bisa kesampaian menikmati air terjun ini.

Grojogan Sewu
Saya pikir tadinya ada air menyerupai kolam di bawah air terjunnya jadi bisa nyebur ternyata tidak ada. Di bawah air terjun ternyata lebih dominan bebatuannya dari pada airnya. Ingin lebih dekat sebenarnya tapi ada peringatan untuk tidak berada di bawah air terjun Grojogan Sewu karena berbahaya katanya. Kira-kira bahaya apa ya? apa mungkin kawatir ada bebatuan yang jatuh dari atas bukit ya?.

Saya masih bertanya-tanya mengapa di beri nama Grojogan Sewu, ya?. Padahal yang saya lihat hanya ada satu air terjun besar dan pancaran air kecil-kecil di perbukitan. Kayaknya sih nggak ada seribu. Sayangnya, nggak ada petugas yang bisa tanyai.

grojogan-sewu-tawangmangu
welfie dulu sama suami

Cipratan air terjunnya kencang lho, jadi kalau ingin dekat-dekat, hati-hati dengan handpone maupun kamera yang dibawa ya. Jangan sampai jatuh maupun terkena air kecuali yakin hape yang dibawa anti air.

Puas berfoto kami berdua menuju sungai di bawah jembatan gantung. Sebenarnya sih pengin banget foto-foto di situ tapi lagi-lagi ada peringatan tidak boleh berhenti di tengah-tengah jembatan, yaah sudahlah lupakan saja. Eh, tapi banyak lho yang bisa berfoto disitu, mungkin karena sebentar saja ya jadi nggak papa.

Akhirnya saya cukup puas berfoto di atas jembatan ini. Sambil takut-takut gitu karena goyang-goyang ketika saya melangkahkan kaki. Tapi, akhirnya bisa foto juga, yeaay.

grojogan sewu Tawangmangu

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00, sudah semakin siang dan ramai. Kami berdua memutuskan pulang, dan kembali harus melalui anak tangga yang jumlahnya banyak. Kalau tadi turun, sekarang naik. Wuih, keringatan dan ngos-ngosan lho. Untungnya di setiap belokan disediakan tempat duduk, jadi bagi yang membutuhkan bisa istirahat sejenak.

Nggak sempat menghitung jumlah tangganya, ternyata ada 1250 anak tangga. Banyak juga ya, pantesan saya gobyos alias keringetan dan kaki lumayan gempor, qeqeqe. Kalau ada yang berminat beli oleh-oleh, di sepanjang jalan banyak sekali pedagang yang menjajakan makanan, minuman, oleh-oleh maupun baju dan pernak-pernik lainnya.

grojogan-sewu-tawangmangu

Bagi teman-teman yang menghendaki menginap di Tawangmangu, ada banyak penginapan di sepanjang jalan yang dilalui menuju air terjun. Dari kelas melati hingga hotel berbintang. Jadi tinggal pilih saja sesuai selera. Banyak pula rumah-rumah penduduk yang dijadikan homestay, jadi jangan kawatir kehabisan tempat menginap.

Soal makanan juga banyak pilihan namun yang terkenal disini konon sate kelinci. Saya lihat memang ada banyak warung makan yang menjual sate kelinci. Jika teman-teman suka silahkan saja mencobanya. Kalau saya kemarin berhenti ngemil di di Resto Jejamon yang menyediakan aneka jamu sebagai minuman dan aneka makanan pengganjal perut.

Jika teman-teman dari luar kota dan naik transpotasi umum, untuk menuju Tawangmangu bisa ditempuh dengan naik bus jurusan Tawangmangu dari terminal Tirtonadi. Nanti turun di terminal Tawangmangu. Dari sini bisa naik ojek motor atau naik elp.

Grojogan Sewu

Oh, ya di sepanjang jalur menuju Tawangmangu juga ada banyak tempat wisata yang lain seperti Candi Sukuh, Candi Cetho, Kebun Teh Kemuning, maupun air terjun Jumog. Jadi, ada banyak tujuan wisata yang bisa dikunjungi ketika berada di Tawangmangu.

Udara pegunungan yang sejuk memang bikin mood asyik lagi. Badan bugar, pikiran juga fresh kembali. Bagi yang suka suasana pegunungan dengan air terjun yang menyejukkan bisa berkunjung ke Grojogan Sewu Tawangmangu untuk bisa sejenak menghilangkan penat.

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

38 Comment

  1. Grojogan Sewu mungkin karena menuju ke air terjunnya melewati 1200an anak tangga…hehe asumsi asal. Tapi, memang debit air terjun itu lumayan huwow juga ya kalau langsung berdiri di bawah airnya.

    1. Nah itu, mungkin juga mba. Masuk akan sih.
      Iya mba, agak jauh lumayan juga kena cipratannya, segeeeer.

  2. Aku dulu pas kesana lg kemarau. Alhasil grojogannya kecil banget. Krg sip deh.

    1. Itu tandanya harus kesana lagi Mba Diba. Jangan pas musim hujan juga, licin jalannya.
      Asal jangan pas kemarau panjang kali jadi debit airnya kenceng

  3. ikutan segaaaaarrr mak ety… turunnya enak, tapi naiknya itu yaa.. hosh hosh.. yg pasti tetap xperia cakep buat moto.. hihihihihi..

    1. Pokoknya seger bangeet.
      Hihihi, iya mak naiknya benar-benar ngos-ngosan.
      Tetap di hati pokoknya.

  4. Aku punya pengalaman heboh di air terjun, di geret rame2 ke bawah pancuran air terjun. Panik banget krn gak bisa renang, sampe2 lupa klo di saku celana ada HP. Sukses lah hapeku matot

    1. Waduuuh, itu jaman kapan? Kuliah?
      Qeqeqe, kalau di Grojogan Sewu mah gak bisa deket-deket mba Rie.

  5. dingin n adem ngeliat fotonya mbak

    1. Iya mba, saya pengin kesana lagi.
      Suka sama suasananya.

  6. Sabtu minggu awal April kemarin aku sekeluarga nginap di hotel bintang mbak. Enggak ke grojogan sewu, kami pilih taman miniatur dunia. Dulu jaman masih muda udah pernah kesana, kali ini pilih yg belum pernah disambangi hehe

    1. Aku belum sempat ke taman miniatur dunia.
      Kapan-kapanlah kesana.

  7. Kalau ke grojokan sewu naiknya kagak nahan

    1. Naik kuda aja Mba Ika.
      Aku juga ngos-ngosan naiknya.

  8. air terjun ini terkenal bangeet.. tapi aku blm pernah ke sana 🙁

    1. Iya mba terkenal dari jaman aku Sd sdh jadi bahan pertanyaan saat tes cawu.
      Eh, sekarang malah tinggal deket situ.

  9. Aku udah juga nih kesini…harus ngubek. Gubek foto kayaknya …

    1. Tahun berapa Mba Ade? Ayo, kesini lagi.

  10. membayangkan betapa sejuknya uidara disana..brrrrrr… dingin malah…hi2

    1. Hihihi, buat yang biasa di kota besar barangkali akan terasa dingin.
      Kemarin seingat saya nggak terlalu dingin dan kata orang-orang daerah situ nggak lagi sedingin dulu.
      Mungkin efek pemanasan global.

  11. belum pernah kesini sih mbak, cuman namanya familiar banget, soalnya di daerahku ada air terjun namanya grojogan sewu juga.
    salam kenal ya mbak 🙂

    1. Wah, sama ya namanya?
      Mba Pipit tinggal di mana?

  12. Temen-temen sering cerita soal air terjun ini nih, asli ngiler banget deh mba!

    1. Hayuk kemari mba Elisa, sekali-kali menikmati hawa gunung.

  13. Tawangmangu ini iikonik banget ya mba., dan ternyata baca postingan mba eti jadi tahu. dan menmang layak ini nih jadi ikonik… cantik pisan,..

    1. Iya mba Ira.
      Pemandangannya indah.

  14. Saya pernah k siniMbak, bertahun2 lalu… aduh jadi pengen ke sana

    1. Bertahun-tahun lalu, aduuh itu sih udah lamaaaa banget mba.
      Coba kesini lagi, pasti ada yang berubah.

  15. Air terjunnya cantik, Mbak.

    Seneng deh kalo fasilitas kayak wc umum yang bersih juga 🙂

    1. Iya Mba, seger deh kalau kesitu.
      Yang satu itu kadang memang bikin sebel kan. Banyak tempat wisata, wc umumnya bau.

  16. Uti sudah lama ngga kesana Mba. Sebetulnya itu tempat favorit keluarga.. sekalian ngetes kaki.. kan turunnya lumayan tuh

    1. Ayo uti kesana lagi.
      Betul Uti, turun dan naiknya lumayan.

  17. Saya masih trauma ke daerah sana hahahah akibat pengalaman gak enak ke Candi Cetho 🙁 tapi emang mesti dipending dulu, mau ke sana bawa dua krucils ini bisa pengsan hehehhe

    1. Weh, aku juga belum berani lho ke Candi Cetho.
      Jalannya lebih nanjak, tajam dan lebih sempit.
      Baru suamiku aja yang sudah kesana.

  18. waah seger…seger…
    Anak2ku suka banget nih main ke air terjun atau curug gini mbak
    itu jembatannya menantang bangetttt…berani gak ya? :p

    1. Jembatannya itu pendek jaraknya dengan sungai di bawahnya.
      Akunya aja yang penakut, lama nggak pernah mainan kayak ini.
      Jaman pramuka mah, naik di dua utas tali di atas sungai, qiqiqi.

  19. Haduh pengin ke grojokan sewu lagiiii. Dulu kalo ke rumah nenek di Solo, sering ke sini waktu kecil, nginep di tawangmangu, dingin sekali hawanya.

    1. Hayuk Mba refreshing ke sini.
      Tawangmangu kata orang-orang sudah nggak sedingin dulu mba.

Leave a Reply