Aktif Di Dunia Digital? 5 Hal Ini Bisa Dilakukan Agar Tetap Memiliki Kendali Diri

digital-lifestyle

Dunia digital bagi saya salah satu “surga dunia”, karena banyaknya kemudahan yang ditawarkannya. Saking mudahnya, pelan tapi pasti gaya hidup saya pun berubah. Di satu sisi ini membantu saya lebih cepat dan efisien dalam menyelesaikan pekerjaan dan menyalurkan hobi. Tapi, di sisi lain dunia digital itu bisa menghilangkan kendali atas hidup saya jika tak mawas diri.

Hm, seserius itu?. Ini menurut pengamatan saya. Ketika dunia digital mulai mengubah gaya hidup banyak orang maka mulai terlihat pergeseran di sana sini. Dulu begini, sekarang begitu, sederhananya bisa diekspresikan demikian.

Lihat saja ketika sedang di ruang tunggu!. Apa yang biasanya dilakukan orang-orang sebelum dunia digital hadir?. Mengobrol, saling menyapa satu sama lain hingga akhirnya bisa mengenal namanya, bahkan obrolan menjadi hangat dan tak jarang menemukan solusi atas masalah hidup yang mereka hadapi.

Sekarang, ketika dunia digital hadir dalam bentuk benda seukuran genggaman tangan, apa yang terjadi?. Tetap duduk bersebelahan tapi saling menunduk, khusyu dengan smartphone masing-masing. Mungkin, harus menunggu ada insiden tokek jatuh untuk akhirnya bisa saling menyapa dan mengobrol.

girl-digital-lifestyle

Deskripsi di atas hanya salah satu contoh ketika gaya hidup digital telah menjangkiti sebagian besar orang, termasuk saya. Jika tak mampu seimbang menjalani kehidupan dunia digital dan sosial, maka bisa addicted. Kecanduan dengan dunia digital hingga mengabaikan kehidupan orang-orang di sekelilingnya.

Misalnya, saking asyiknya ber media sosial kemudian mengabaikan untuk hadir arisan PKK, atau undangan lainnya. Atau saking fokusnya dengan kehidupannya dengan dunia digital, jadi tak kenal dengan tetangga, tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal. Sementara itu, di dunia media sosial dikenal banyak orang dan followernya bejibun.

Bagi saya dan mama-mama lainnya, harus mawas diri nih, karena survei dari The Asian Parents ini menujukkan gaya hidup digital di kalangan Mama. Hasil survei menunjukkan, bahwa para Mama telah menjalani digital lifestyle secara intensif. Dimulai dengan memiliki akun media sosial dan aktif menggunakannya.

digital-lifestyle

Juga soal kebiasaan mencari informasi  mengenai tips parenting, nutrisi dan lain-lain lebih banyak dilakukan secara online. Di mana sebagian besar Mama mengakses informasi tersebut dari smartphone nya. Ada yang salah dengan itu semua?. Tentu tak salah ketika mengikuti kemajuan teknologi karena sebagian pekerjaan para Mama menjadi mudah.

Misalnya, dalam hal membayar tagihan, tak perlu lagi antri di loket. Atau saat berbelanja aneka kebutuhan seperti gadget, pakaian, sepatu , barang elektronik dan lainnya. Bisa dilakukan dengan hanya duduk manis. Melalui smartphone semua bisa dilakukan tanpa perlu capek keluar masuk toko.

Tak ada yang salah, asal kita tetap punya kendali atas apa yang kita lakukan di dunia digital. Apa yang kita lakukan sesuai kebutuhan dan tak berlebihan hingga mengabaikan banyak hal yang lebih penting seperti mengurus anak dan suami, mengatur keuangan rumahtangga maupun hidup bersosialisasi dengan lingkungan sekitar

Selain addicted, ada hal lain yang juga harus diwaspadai yaitu trend menebar kebencian, kebohongan, adu domba, dan menganggap kebenaran itu monopoli seseorang atau kelompok tertentu. Betapa banyak sekarang ini berita-berita bersliweran. Kadang tanpa cek dan ricek mengenai kebenaran isi berita, kita dengan mudahnya ikut menyebarkannya. Jika sudah begini, dunia digital menjadi amat bising buat saya.

Menjauhkan diri dari dunia digital jelas bukan pilihan tepat karena hobi ngeblog membuat saya harus berinternetan dan aktif di media sosial. Yang bisa saya lakukan adalah kontrol penuh atas diri saya, agar tak addicted maupun menjadi bagian dari penebar kebencian dan kawan-kawannya tadi.

5 hal ini menjadi pegangan saya selama ini :

  1. Be Smart, dunia digital itu memberikan kita banyak pilihan. Mencari informasi bisa, menyalurkan hobi pun bisa, mempermudah tugas-tugas kita juga iya. Pandai-pandailah menggunakannya untuk hal yang bermanfaat saja. Contohnya sebagai blogger dan ibu rumahtangga saya memanfaatkan dunia digital untuk hobi dan memudahkan pembayaran tagihan maupun transfer uang dengan internet banking.
  2. Be Carefull, saking bebasnya, informasi apapun ada di dunia digital. Informasi yang bersifat positif banyak dan yang bersifat negatif karena mengandung kebohongan, fitnah, olok-olok maupun menebar kebencian juga tak kalah banyak. Hati-hati, jangan sampai ikut pusara kebencian itu. Jika tak yakin dengan kebenaran informasi tersebut lebih baik tahan diri, jangan ikut menyebarkannya. Jika bersedia untuk cek dan ricek, ini lebih baik lagi.no-hate-1125176_1280
  3. Be Effective, alokasikan waktu di dunia digital dengan tepat agar kehidupan kita seimbang. Gunakan waktu di dunia digital seefektif mungkin sehingga tetap ada waktu untuk keluarga dan kehidupan sosial. Bagaimana pun kita tetap membutuhkan orang lain terutama tetangga kita. Ingatlah, jika kita mati kita tak bisa mengubur diri sendiri. Tetangga pastilah orang yang mau repot melakukannya bukan mereka yang jauh dari jangkauan apalagi hanya kenal melalui media sosial.
  4. Be Selective, kemajuan dunia digital menawarkan banyak kemudahan melalui beragam aplikasi. Pilihlah aplikasi sesuai kebutuhan, jangan terlalu banyak download aplikasi yang ternyata tidak pernah di pakai. Ini akan menghemat biaya juga menghemat waktu karena tak banyak aplikasi yang di download.
  5. Be Wise, kita suka lupa ya, jika media sosial itu amat terbuka. Siapapun bisa tahu apa yang kita pikirkan atau sedang kita lakukan melalui status maupun tulisan di blog pribadi. Saya berusaha untuk selalu berhati-hati agar status maupun tulisan di blog tak menjadi bumerang bagi diri saya. Curhat memang tak dilarang, tapi saya memilih untuk membatasi hal ini karena tak ingin menelanjangi diri sendiri.

Kelima hal tadi saya lakukan agar saya tetap memiliki kontrol penuh atas diri saya. Untuk tujuan apa saya aktif di dunia digital, kapan saya harus menggunakannya, termasuk filter diri dari hal negatif yang timbul dari dunia digital.

Jadi digital lifestyle yang saya jalani itu semata untuk mendapatkan manfaatnya seperti kemudahan, ruang untuk menjalankan hobi dan mendapatkan informasi untuk menunjang kehidupan saya.

Mama punya cerita apa dalam menjalani gaya hidup digital?. Sharing, Yuk!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Konten Viral “Digital Lifestyle” supported by Indihome

lomba-blog-digital-lifestyle

http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

89 thoughts on “Aktif Di Dunia Digital? 5 Hal Ini Bisa Dilakukan Agar Tetap Memiliki Kendali Diri

  1. Thanks sudah mengingatkan lewat blogpost ini ya mba ety. Kadang suka terhanyut di dunia digital ?

    Btw aku kok ngakak ya pas baca “nunggu tokek jatuh” ??

    1. Sama-sama Mba Cindy, ini juga biar saya sendiri nggak lupa diri.
      Hahaha, semoga nggak mengalami kejatuhan tokek.. Qiqiqi

  2. Mbak Eti saya setuju bahwa dunia digital itu mempesona. Kita punya banyak informasi dan mencarinya pun mudah. Apalagi semuanya bisa diakses lewat smartphone. Tahu-tahu kita sudah kecanduan. Memang segala sesuatu harus ada kendalinya ya. Kalau tidak dunia canggih ini akan merugikan kita 🙂

    1. Sepakaat Mas Yoga, karena mereka yang dibawah Usia tersebut masih memiliki kewajiban sekolah. Jika waktu di dunia digital tak dibatasi akan mengganggu sekolah mereka.
      Orangtua harus berperan aktif di sini.

  3. Dunia maya banyak manfaatnya tetapi juga tak sedikit mudaratnya.
    Oleh karena itu tip di atas selayaknya dipedomani agar kita tidak sesat dan menyesatkan orang lain.
    Terima kasih tipnya yang bermanfaat.
    Salam hangat dari Jombang

  4. tips-tips di atas sangat membantu banget bagi para pengguna di dunia digital. saya hanya 3 yang jadi pegangan saya. semoga bisa mengembangkan 5 hal d atas itu. thanks untuk artikelnya. remember sekali..

  5. Hihihi…bagaikan dijitak deh baca postingan ini Mbk. Soalnya saya pernah mengalami yg namany lupa waktu gara-gara main sosial media. Banyak ditegur orang rumah pula. Tapi untunglah, setelah ada Kak Ghifa kini berangsur berkurang karena dia adalah tanggung jawab saya yang utama.

    1. Hahaha, maaf, sakit tak?.
      Semoga Ghifa membuat Mba Ika terus hati-hati dan mawas diri dalam bergaya hidup digital.

  6. Tapi yaaa yang aku tau nich, orang yg aktif di social media dan demen banget berkomentar, kebanyakan adalah orang yg di dunia nyata nya pendiam
    jadi online dan offline nya beda banget hahaha

    1. Hm, ini maksudnya Om Cumi yang demen komentar di sana sini itu ternyata orangnya pendiam di dunia nyata? Ooooo… Gitu qeqeqe.

  7. Dunia digital memang jadi berasa bising banget ya mba klo kita sendiri tidak bisa memilah-milah mana yg kita butuhkan. Sibuk nanggepin hosip ini itu sampe lupa bahwa kita berdigital ria itu harus bermanfaat 🙂 Udah ngabisin waktu dan bandwidth malah ga guna kan eman2 ya.

  8. Iya, sepakat sama mbak Ety, harus pintar2 memanfaatkan, selektif, hati-hati dan bijak di dunia digital. Saya juga nih…mudah-mudahan rem saya masih pakem, jadi nggak kebablasen kemana-mana 😀

  9. Betul sekali kalau kita tidak mampu mengendalikan diri bisa addicted. Karena itu kesadaranharus tetap dijaga agar semua tugas dan hobi or passion bisa seimbang dan semua berjalan lancar. Tips yang keren.

  10. Kita memang harus lebih bijaksana menggunakan segala teknologi yang berhubungan dengan dunia digital ya, mbak! Salah penggunaan malah akan merugikan diri kita sendiri.
    Makasih tips-nya, bisa dijadikan acuan.

  11. kadang kalo udah megang gadget, plan A, B, C satupun belum dikerjakan hihi…Nice sharing mba, mengingatkan aku untuk lebih wise dan smart menggunakan waktu surfing di dunia maya.

  12. Tren nyinyir yg bikin kepala pusing. Sama tren share berita heboh tapi hoax. alokasi waktu bener2 efektif ya mba. Apalagi klo dialokasiin buat blogwalking 😀

  13. dunia digital banyak banget manfaatnya namun tidak sedikit juga mudharatnya yah Mba Ety 🙂
    butuh komitmen dan kendali diri agar kita bisa menyeimbangkan kehidupan kita 🙂

    TFS Mba Ety, artikel yang bermanfaat banget 🙂

  14. Postingannya bagus banget buat mereview sikap kita dalam menggunakan media sosial. Apalagi kaum mama2, duhhhh yaaampunn rempongnya suka ngalahin anak muda deh mba. Mama saya itu suka kadang sering banget jd kepancing sama postingan orang lain di fb, jadi nyinyir sendiri dan jadi berspekulasi sotoy. Jadi setuju banget kalo kita mesti tetep punya kendali diri terhadap medsos ini.

    1. Nah itu dia maksud saya juga..karena perempuan suka gampang bapers jadi gitu deh.
      IKutan share karena tersulut emosi dll padahal berita yang dishare belum jelas kebenarannya.

  15. Saya termasuk yang tidak begitu kecanduan sosial media, tapi kalau pas pegang, saya bisa terhanyut sampai-sampai dipanggil beberpaa kali oleh anak.

    Ya memang salah, karena pegang smartphone pas di depan anak-anak yang sedang bermain. Tapi ada kalanya saya sama sekali tidak memegang smartphone sama sekali, bisa tu smartphone non aktif dan menyibukan diri bersama anak-anak dan pekerjaan rumah.

    Sebaiknya emmang harus bijak ya, menghadapi dunia digital yang serba menawarkan kenikmatan dunia ini,

    1. Diatur saja Mba sesuai kondisi.
      Kalau saya pas anak-anak sekolah saya sendirian di rumah bisa leluasa buat ngeblog dan bw atau update status di media sosial.

    1. Aamiin, makasih doanya Mba Niar….saya mah nothing to lose aja..sudah menuliskannya, menjawab tantangan itu luar biasa rasa leganya.

  16. Membatasi pergaulan digital hanya untuk ngeblog belakangan ini dan untuk keperluan posting tulisan….And life has never been so good.. Sosmed dan instant messages time consuming sekali. Perdana mampir…salam kenal mba

  17. Prioritize! Kalau berlebihan, apapun itu pasti hasilnya tidak akan baik. Digital life memang penting namun banyak yang lebih penting :). Dan semua kontrol memang ada di tangan kita sendiri ya mba

  18. Saking asiknya update status di social media jadi lupa kalau lagi goreng ikan. Dunia digital banyak positifnya namun kita juga harus membatasi diri. Thanks for sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *