9 Pesan Menteri Anies Baswedan Untuk Meningkatkan Minat Baca Anak-anak

 photo 9 Pesan Anies Baswedan 1.jpg

9 Pesan Menteri Anies Baswedan Untuk Meningkatkan Minat Baca Anak-anak ini di sampaikan pada acara Talkshow bertema Menumbuhkan Budaya Literasi Di Era Digital, bertempat di Benteng Vastenberg, Solo. Talkshow yang berlangsung kurang lebih dua jam ini menghadirkan bintang tamu Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia memang sarat pesan postif. Apa yang disampaikan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan patut menjadi perhatian bersama seperti orangtua, guru, penerbit dan pemerintah.

Bisa hadir ditengah ratusan masyarakat Solo, saya merasa beruntung, bukan karena bisa melihat Najwa Shihab dan Pak Anies Baswedan dari dekat, bukan, bukan karena itu!. Ini soal isi pembicaraan yang memang sesuai dengan dunia saya, sebagai seorang ibu maupun seorang blogger.

Bicara mengenai literasi, Pak Anies menyebutkan bahwa secara sederhana literasi itu bermakna melek. Pada awalnya literasi ini hanya dikaitkan pada aktifitas membaca. Namun kemudian berkembang sehingga bermakna lebih luas seperti melek politik, melek keuangan, melek pajak dan lain-lain.

Kaitannya dengan tingkat literasi membaca bangsa Indonesia, Pak Menteri tak terlampau kawatir dengan angka-angka hasil survei yang hampir selalu menempatkan Indonesia di urutan bawah. Apa sebab? Karena jumlah penduduk Indonesia yang besar, menjadikan bilangan pembaginya juga besar. Jadi jika hasil survey menunjukkan angka yang rendah itu wajar. Namun beliau tidak menampik bahwa budaya membaca di masyarakat kita memang masih rendah.

Menurut Pak Anies membaca itu buka mengeja tapi memahami apa yang dibacanya. Orang yang bisa membaca akan memiliki pengetahuan lebih banyak dari orang yang tak bisa membaca. Oleh karena itu, membaca itu harus menjadi kebiasaan.

 photo talkshow bersama Anies Baswedan dan Najwa Shihab.jpg

Membaca itu banyak sekali manfaatnya, salah satunya adalah menghaluskan rasa. Orang yang memiliki kehalusan rasa dan budi pasti tak akan mudah untuk mencaci. Apalagi untuk anak-anak, membaca itu bisa menumbuhkan imajinasi.

Menumbuhkan minat baca memang telah menjadi perhatian kementerian yang dipimpinnya. Seperti kita ketahui bersama, sebelum pelajaran dimulai ada kewajiban membaca selama 15 menit. Dalam waktu 15 menit ini anak dibiasakan untuk membaca buku. Menurut Pak Anies, setelah kewajiban ini berjalan angka kunjungan ke perpustakaan itu meningkat, berdasarkan riset Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudah sepatutnya, menumbuhkan minat baca itu dimulai dari rumah. Saya, sepakat sekali Pak Menteri, hehehe. Rumah, adalah tempat anak belajar pertama kalinya. Jadi jika sejak awal sudah dikenalkan dengan buku, menumbuhkan minat baca tak lagi sulit.

Baca juga Ingin Anak Gemar Membaca? 5 Langkah Ini Bisa Dilakukan Orangtua

Apa saja pesan Pak Anies untuk kita semua agar bisa menumbuhkan minat baca anak-anak kita?. Ini 9 dia pesan Pak Anies:

  1. Sediakan buku di rumah. Taruh buku di meja, tidak perlu cerewet menyuruh anak membaca, lama-lama anak akan penasaran juga. Menyediakan bukan berarti harus membeli, bisa juga dengan meminjam ke perpustakaan.
  2. Teladan dari orangtua. Anak itu melakukan apa yang dilihatnya. Jika ia melihat orangtuanya rajin membaca maka ia pun akan dengan suka hati turut membaca seperti orangtuanya.
  3. Ajak anak ke perpustakaan. Kenalkan anak-anak dengan perpustakaan. Beri wawasan pada anak tentang buku dan apa manfaat perpustakaan. Jika tak ada perpustakaan daerah, coba cari informasi tentang perpustakaan keliling. Jika ini pun tak ada coba ke perpustakaan sekolah, karena tak semua anak sekolah senang berkunjung ke perpustakaan.
  4. Lakukan kebiasaan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Guru dituntut kreatif dalam menerapkan kebijakan ini. Seperti misalnya, satu anak membaca yang lain menyimak. Bisa juga dengan membaca bergantian masing-masing satu paragraf. Yang penting bukan membaca diam, karena jika membaca diam ada potensi anak tak benar-benar membaca.
  5. Bebaskan anak membaca buku tema apa saja asal sesuai dengan usianya. Membaca novel, komik, kartun tak apa-apa. Biarkan imajinasi anak-anak berkembang karena ini juga penting.
  6. Perpustakaan sekolah harus memperbaharui koleksi buku-bukunya. Sediakan buku sesuai minat anak, selain buku pengetahuan yang wajib. Buku-buku pengayaan juga harus bervariasi.
  7. Kepada para Guru dan Kepala Sekolah, Pak Anies menekankan agar menyediakan buku bacaan untuk anak didik jangan berdasarkan selera Guru/Kepala Sekolah/Dinas apalagi berdasarkan komisi. Big No kata Pak Menteri, bisa rusak anak-anak ini. SSt, begini kata beliau: “Republik ini sudah terlalu lama diatur dibelakang layar, saatnya kini dibuat transparan”.
  8. Penerbit juga harus mengkurasi buku-buku terbitannya dengan baik sehingga layak untuk dibaca oleh anak-anak Indonesia.
  9. Setelah minat baca tumbuh, lanjutkan dengan menumbuhkan daya baca. Ini adalah kemampuan membaca panjang dan komperhensif.

 photo anies baswedan.jpg

Menumbuhkan minat baca anak-anak memang menjadi tanggungjawab bersama ya. Bahkan Pak Anies menggarisbawahi ini menjadi tugas orangtua dan guru. Pada taraf menumbuhkan minat baca ini beliau juga menegaskan agar jangan mengkhawatirkan jenis bacaan anak asal sesuai dengan usianya.

Semua buku-buku itu bisa untuk menumbuhkan imajinasi anak-anak. Inilah bedanya buku pelajaran dengan buku pengayaan. Untuk jenis buku pengayaan, Pak Anies mempersilahkan untuk diperkaya saja jenis buku yang dibaca anak-anak karena ini akan merangsang minat baca anak-anak.

Diakhir sesi Pak Anies berpesan agar kita sama-sama memastikan agar buta budaya membaca ini bisa diatasi. Setelah membaca, hendaknya anak-anak juga dilatih untuk menulis, dengan menulis kita tak hanya menyerap pengetahuan tapi juga membagikan pengetahuan itu kepada orang lain.

 http---signatures.mylivesignature.com-54492-344-51343A10920A1763355CE01CAE8FABCA

32 Comments

  1. andyhardiyanti

    May 4, 2016 at 9:21 am

    Betul sekali itu mak. Si kecil di rumah juga gitu. Emaknya yang doyan beli buku, biar ada isi rak belajarnya dia. Eh ternyata dianya juga tertarik lihat buku-buku itu, gak lama malah jadi doyan baca sendiri 😀

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:28 am

      Alhamdulilah Mba Andi, dirimu sudah memulainya. Semoga anak-anak bisa konsisten baca bukunya.

  2. ophi ziadah

    May 4, 2016 at 11:56 am

    rasanya surga banget klo sekeluarga bs cinta buku dan hobby melahap buku..di mulai dr rumah kemudian disuppoet oleh lingkungan n sekolah ya

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:31 am

      Betul Mba, mudah-mudahan setelah ini kesadaran bersama bisa meningkat.

  3. Ira guslina

    May 4, 2016 at 4:28 pm

    Wah senangnya.. iya mba setuju pertama sediakan dulu bacaan di rumah.. eh tapi di rumah saya malah buku bukan habis dibaca tapi disobek.. hehehe maklum baru dua tahun. Ga apa deh yg penting mereka kenal buku dulu.. 🙂

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:38 am

      Kalau untuk usia balita coba sediakan buku-buku yang berbahan kain atau kertas tebal agar tidak mudah rusak Mba Ira.
      Saya melakukan ini dan buku-buku anak sayasaat mereka balita masih awet sampai sekarang.

  4. arisiras

    May 4, 2016 at 4:42 pm

    Banyak pihak harus bekerjasama untuk menumbuhkan minat membaca sejak dini. Gak cuma orang tua, terkadang lingkungan sekitar juga penting.

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:39 am

      Betul sekali Arisiras, lingkungan juga penting untuk mendukung budaya baca ini.

  5. Kania

    May 4, 2016 at 5:00 pm

    Gadget kdang membuat anak teralihkan dr baca buki 🙁

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:40 am

      Godaan besar di abad ini Mba Kania, qeqeqe.

  6. Lia Harahap

    May 4, 2016 at 9:41 pm

    Saya punya minat membaca. Tapi membaca yang seperti majalah atau novel-novel tertentu. Apakah bisa dikategorikan punya minat membaca yang baik? 🙂

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:42 am

      Menurut Pak Menteri itu tergolong memiliki minat baca yang baik Mba. Novel menurut Pak Anies juga bisa menjadi sarana mengolah rasa karena di sana ada konflik dan karakter yang bermain.

  7. Heru Jati Blora

    May 4, 2016 at 9:44 pm

    Saya waktu msh Sd suka baca majalah BOBO, trs ada juga itu perpustakaan sekolah jadi suka pinjam untuk baca baca. tapi sekarang kok jarang peminatnya. entahlah…

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:44 am

      Mungkin koleksi perpustakaannya kurang uptodate.
      Dan godaan untuk menonton atau bersosial media juga besar.

      1. Heru Jati Blora

        May 16, 2016 at 11:35 pm

        Betul juga mbak. misal mau diterapkan wajib membaca olek pemerintah juga pasti ada pro dan kontra… hahaa jadi serba salah

        1. Ety Abdoel

          May 17, 2016 at 8:23 pm

          Hehehe, banyak orang, beda-beda pula isi kepalanya

  8. Rosanna Simanjuntak

    May 5, 2016 at 7:13 am

    Karena membaca adalah membuka jendela dunia.
    Membantu mendongkrak kepercayaan diri

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:46 am

      Betul Mba Rosiana, dan ini penting untuk terus disebarluaskan agar banyak yang meminati membaca.

  9. nur rochma

    May 5, 2016 at 8:34 am

    Mengajak anak suka membaca sejak kecil, jadinya kini kalau belanja buku, ada jatah buat anak2. jatah emaknya yang berkurang saja, hiks..hiks..

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:47 am

      Hahaha, tos, Mba Nur, saya juga gitu.
      Nggak cuma jatah bacaan emaknya yang dikurangi tapi juga jatah beli baju emaknya diambil juga buat beli buku.

  10. Dian farida

    May 5, 2016 at 5:28 pm

    Saya suka baca buku, dan anak-anak akhirnya juga dibiasakan

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:48 am

      Orangtua teladan, memang lebih mudah mengajarkan anak suka membaca ketika orangtua telah lebih dulu membaca.

  11. Adriana Dian

    May 5, 2016 at 8:12 pm

    Waaah setuju sekali sama pesan Pak Anies. Semoga kelak perpus sekolah bisa menyediakan buku yang benar-benar baru dan menarik untuk anak-anak ya.. Keingetan dulu jaman SD, bukunya sama sekali nggak ada yang menarik, perpusnya sepi sampe berdebu dan malah berkesan horor.. Makasi infonya ya Mbak.. 🙂

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:49 am

      Betul Mba, semoga semua perpustakaan bisa memiliki koleksi buku-buku yang bagus dan bervariasi jadi bisa menarik minat baca anak-anak.

  12. Nchie Hanie

    May 5, 2016 at 9:52 pm

    sepakat sama pa Anies,
    Semoga balik lagi ke jaman dulu ya, membaca bener2 hobby, hmm jaman sekarang kebanyakan membacanya by gadget xixiix

    1. Ety Abdoel

      May 6, 2016 at 9:51 am

      Membaca by gadget untuk buku-buku digital, nggak papa Teh nchie.
      Asal jangan kebanyakan membaca dari situs-situs penyebar berita hoax aja, qiqiqi.

  13. Indah Nuria

    May 8, 2016 at 1:21 am

    Memberi contoh itu sangat penting.. Dan semoga semakin banyak teman-teman yang menyukai membaca ya mba

    1. Ety Abdoel

      May 12, 2016 at 11:44 am

      Betul.. Anak melakukan apa yang dilihatnya terus-menerus.

  14. rita dewi

    May 16, 2016 at 5:26 pm

    kalo jaman sekarang anak2 membaca artikel2 yg bermanfaat di ggogle juga termasuk minat membaca kan ya?

    1. Ety Abdoel

      May 17, 2016 at 8:18 pm

      Boleh Mba Rita Dewi tapi ajak pula membaca buku yang sekiranya menarik minat.
      Karena buku bisa untuk melatih daya baca anak untuk bisa memahami sesuatu dengan lebih lengkap.

  15. Nurul Fitri Fatkhani

    July 28, 2016 at 12:09 pm

    Ini, salah satu cita-cita saya, Mbak. Menumbuhkan minat baca pada anak-anak saya. Selama ini, buku yang ada di rumah rata-rata sudah dibaca oleh mereka. Kayaknya perlu menambah koleksi buku, ya, agar mereka tetap rajin membaca.

    1. Ety Abdoel

      July 28, 2016 at 5:06 pm

      Semoga dimudahkan ya Mba Nurul. Butuh effort yang nggak sedikit. Apalagi godaan tv atau gadget besar banget hari ini.

Leave a Reply