Anak Mogok Sekolah? 7 Tips Ini Bisa Dilakukan Untuk Mengatasinya

 photo Anak Mogok Sekolah- 1.jpg

Anak Mogok Sekolah? 7 Tips Ini Bisa Dilakukan Untuk Mengatasinya. Jangan panik!. Panik, justru akan membuat orangtua sulit berpikir jernih untuk mengatasi anak yang mogok sekolah. Saya bisa bilang begitu, karena saya pernah menghadapi anak mogok sekolah. Saya punya dua anak dan dua-duanya pernah mengalami yang namanya mutung alias ngambek dan nggak mau sekolah. Kurang susah apa coba saya ini? Hehehe. Mudah-mudahan sharing saya ini akan berguna buat mereka yang menghadapi masalah serupa.

Sebelum bicara mengenai cara mengatasi anak yang mogok sekolah, saya ingin bercerita dulu, mengenai apa yang anak-anak saya alami sebelum mereka mogok sekolah. Kasus anak pertama dan kedua itu beda meskipun ujungnya sama, nggak mau sekolah. Jadi, saya coba uraikan satu persatu, ya. Beginilah kronologinya:

Kasus Anak Pertama:

Anak saya ini sebenarnya tipe anak yang aktif, berani dan mandiri. Sejak TK, dia sudah berangkat sendiri dengan mobil antar jemput dari sekolahnya. Saat itu kami masih tinggal di Sumatera Selatan. Memasuki kelas dua SD, kami pindah ke Karanganyar. Di sinilah masalah ini berawal.

Anak saya justru mengalami masalah saat kelas 2 SD. Nggak pernah kebayang sebelumnya bakal mengalaminya karena sejak TK selalu mulus menghadapi lingkungan baru. Sempat panik! Selama seminggu, anak saya ini nggak mau sekolah.

Untungnya, Guru wali kelasnya sangat koperatif, bisa memahami dan membantu mencarikan solusinya.  Dalam rentang waktu satu minggu ini saya coba bicara dari hati ke hati. Saya bikin bombong (senang) deh hatinya. Hari pertama masih tutup mulut, begitu terus sampai akhirnya, di hari ketujuh, anak saya bilang kalau dia nggak nyaman jika di kelas.

Jumlah siswa yang mencapai 40 orang itu baginya terlalu bising. Sehingga Guru pun harus berteriak ketika mengajar. Gubrak! Alasan yang di luar dugaan saya, nggak pernah terpikir sebelumnya. Memang sih, kondisi sekolahnya yang dulu beda banget dengan sekolahnya yang baru.

Sekolah lamanya, untuk setiap tingkatan hanya menerima 24 siswa dan itupun dibagi menjadi dua kelas. Jadi, sekelasnya itu cuma 12 orang. Cara belajarnya juga santai, kadang sambil lesehan juga. Menurut anak saya, ini nyaman banget buat dia.

 photo anak-mogok-sekolah.jpg
kelas terlalu ramai foto: pixabay

Sesaat saya merasa bersalah karena tidak bisa mendapatkan sekolah yang ideal seperti harapan anak saya. Semua terkendala kesediaan kursi kosong untuk siswa pindahan.

Kasus Anak Kedua:

Anak kedua saya ini anaknya pendiam, serba pelan kalau mau ngapa-ngapain, nggak bisa diburu-buru, butuh waktu lebih lama untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru dan dia lengket banget dengan saya. Paham dengan kondisi ini maka saya pun mulai mengenalkan sekolah sejak playgroup, beda dengan Kakaknya yang langsung TK.

Hasilnya nampak sih, percaya dirinya mulai tumbuh, dan mulai nyaman ketika harus bersosiaisasi tanpa pendampingan saya. Kemajuan ini, sesungguhnya membuat saya tenang, karena apa yang saya upayakan agar dia siap bersekolah sudah terpenuhi.

Tapi, lagi-lagi saya mendapat hadiah plus kejutan. Anak kedua saya ini mogok sekolah setelah masuk bulan ketiga di kelas satu. Setelah bulan pertama mulus, ternyata, disaat saya merasa yakin semua terlampaui dengan baik, kenyataan justru menunjukkan sebaliknya.

Pendekatan yang sama saya lakukan, yaitu dengan bicara dari hati ke hati. Hanya saja metodenya berbeda dan waktu untuk mengorek penyebabnya juga lebih lama karena faktor anak kedua saya yang memang tak suka diburu-buru. Di sini kadang saya merasa gemeeees banget.

Usut punya usut ternyata, dia pernah ditinggal mobil antar jemput jadi dia harus pulang bareng Kakaknya yang selisih dua jam lebih lama. Waktu itu saya nggak ngeh bakal jadi pemicunya karena saat pulang telat itu, dia ketawa-ketawa. Ternyata, dia meyimpan kecewa sama Pak Sopirnya.

Dua anak, dua-duanya pernah mengalami mogok sekolah dan penyebabnya berbeda. Saya pun mengindentifikasi penyebab mogok sekolah itu.

“Anak Pertama mogok sekolah karena kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.”

“Anak Kedua mogok sekolah karena mengalami hal tak menyenangkan saat di sekolah”

Disini kesabaran saya benar-benar diuji, anak-anak yang tadinya berani bersekolah, saat masa- masa pemulihan itu, mereka meminta saya menemaninya di dalam kelas. Dicatet ya, di dalam kelas, padahal sebelumnya mereka berani tanpa saya. Padahal, anak pertama saya sudah kelas 2 SD, dan sewaktu TK justru tak mengalami yang beginian.

Selama 1 minggu, dia mau sekolah asal saya menemaninya di dalam kelas. Pelan-pelan, saya kurangi waktu tunggunya tentu dengan kerjasama yang baik dengan wali kelasnya. Awalnya sih nangis sepanjang pelajaran kata wali kelasnya, tapi saya harus tega karena demi kebaikannya juga.

Memasuki minggu kedua, anak pertama saya mulai pulih nih keberaniannya, ini karena banyak temannya yang bersimpati, mengajak ngobrol, bermain. Inilah yang membuatnya mulai merasa nyaman dan diterima.

Sementara untuk anak kedua saya, diliburkan dulu naik antar jemputnya. Pagi, suami saya mengantar ke sekolah, pulangnya saya yang menjemputnya. Itupun melalui drama harus ditunggu di dalam kelas selama semingguan.

Sempat terlintas pertanyaan, kenapa ya anak-anak saya begitu?. Apa yang salah?. Tapi ini, malah membuat saya tertekan. Akhirnya,saya ikhlaskan kondisi ini, dan jalani saja. Toh,saya terus berusaha mencari solusinya.

Sedikit lega setelah tahu, apa yang dialami anak-anak saya ternyata belum seberapa dibanding teman satu sekolahnya yang lain. Selama berbulan-bulan masih minta ditungguin Mamanya, bahkan ketika naik kelas dua kebiasaan ini masih berulang. Mendengar cerita Mamanya, saya prihatin, berbagai upaya sudah dilakukan tapi si anak tetap tidak mau sekolah jika mamanya tak menungguinya. Padahal dia seorang anak laki-laki. Di sini saya merasa lebih baik, dan bersyukur.

 photo kembali ke sekolah.jpg

Mogok sekolah ternyata tak jadi monopoli anak saya saja. Di luar sana beberapa orangtua harus mendapati kenyataan anaknya mogok sekolah dengan berbagai penyebab yang bervariasi. Alhamdulilah, mogok sekolah ini masih jauh lebih mending dan relatif mudah diatasi dibandingkan dengan phobia sekolah. Jika phobia, anak-anak benar-benar tidak ingin bersekolah lagi.

Agar mogok sekolah tak kemudian berlanjut menjadi phobia memang harus segera ditangani. Orangtua harus bekerjasama dengan Guru di sekolah. Dari apa yang saya alami, tips berikut barangkali cocok bagi siapapun yang menghadapi masalah anak mogok sekolah:

  1. Berhenti panik. Bukan tidak boleh panik sama sekali, untuk pertama-tama sih, manusiawi banget kalau sebagai orangtua apalagi ibu, merasa panik jika tiba-tiba anak tidak mau sekolah. Tapi ingat, segera kuasai diri, tenang agar bisa berpikir jernih mencari akar masalah dan solusinya.
  2. Komunikasikan dengan wali kelasnya mengenai kondisi anak yang tak mau sekolah. Bersama-sama, coba identifikasi penyebab anak enggan ke sekolah. Setelah itu, coba diskusikan solusinya.
  3. Ajak anak bicara dari hati ke hati. Disini, benar-benar menguji kesabaran kita. Anak belum tentu mau langsung mengatakan apa yang dirasakan. Pandai-pandailah orangtua mengajak bicara.
  4. Jika sudah diketahui sebabnya, segera cari solusinya. Misalnya: pelan-pelan kurangi durasi menungguinya. Sampaikan hal ini pada wali kelasnya karena ini membutuhkan kerjasama yang baik antara orangtua dan guru.
  5. Mengeksekusi solusi mungkin tak akan mulus. Anak bisa jadi menolak terhadap treatment kita. Tak apa-apa, pelan-pelan saja. Tapi, kita juga harus tega dan konsisten meskipun anak kemudian menangis ketika kita tinggalkan dia.
  6. Dekati teman-temannya, ajak mereka bekerjasama. Seperti, meminta mereka menemani anak kita bermain, mengajak ngobrol, mengajak ke perpustakaan dan lain-lain.
  7. Jangan pernah membandingkan apa yang anak kita alami dengan anak-anak lain. Ini hanya akan membuat tertekan, saya pernah berada di situasi ini. Lebih baik ikhlaskan dan fokus dengan solusi saja.

Cuma gitu doang?.Iya, tapi poin pentingnya justru kesabaran orangtua dalam menghadapi anak mogok sekolah. Memulihkan kembali minat anak ke sekolah butuh waktu. Bagi saya, yang tak bekerja kantoran tentu mudah saja harus menunggui saat-saat tersebut.

Yang lebih kompleks adalah bagi orangtua yang bekerja dua-duanya. Tidak masuk kantor beberapa hari tentu tak mudah. Tapi, membiarkan anak dalam masalah seperti ini juga tak mungkin. Semoga saja bagi orangtua dalam kondisi seperti itu segera dimudahkan dan mendapat jalan keluar.

Bagaimana dengan bantuan ahli seperti psikolog?. Ini bisa dilakukan ketika upaya orangtua tak kunjung membuahkan hasil. Alhamdulilah, anak-anak saya bisa kembali ke sekolah tanpa bantuan psikolog.

Menceritakan kembali adalah hal mudah bagi saya, tapi tidak saat itu, hehehe. Siapa tahu di luar sana ada orangtua yang menghadapi masalah serupa dengan apa yang saya alami, 7 tips mengatasi anak mogok sekolah bisa bermanfaat.

Teman-teman punya cerita apa seputar anak mogok sekolah?. Sharing, yuk!

 photo 208db4e3-f52a-4152-a4b5-8b8c0edfdee7.png

69 thoughts on “Anak Mogok Sekolah? 7 Tips Ini Bisa Dilakukan Untuk Mengatasinya

  1. Fahmi, putra saya mau sekolah, cuma harus ditemani sama emaknya ini
    hahaha…
    Alhasil saya harus ikut sekolah juga kah?
    Sebagian tips Mak Ety saya praktekkan juga tuh (kebetulan sama) Sepertinya memang butuh waktu ya 🙂

    Mohon doanya Fahmi bisa berani di kelas sendiri 🙂

    1. Fahmi kelas berapa Teh?.
      Ya, begitulah, harus pintar tarik ulurnya, biar anak kembali percaya diri.
      Aamiin,semoga Ma Fahmi bisa hebat, berani sekolah sendiri.

  2. Amay beberapa kali malas sekolah, Mba. Kalo ditanya kenapa, jawabannya berbeda-beda. Saya pikir ini cuma alibi saja karena sebenernya dia cuma malas ke sekolah. Memang sih, sekolahnya pulang jam 1. Mungkin dia kelelahan ya.. Ditambah, ustadzahnya yang mengerti dia banget, sedang cuti melahirkan. Jadi komplit deh. Akhirnya saya pakai cara ini: kalo Mas Amay semangat sekolahnya, nanti pulang sekolah mama belikan choky choky..hehe.. Dan dia nurut sih..hehe.. Tapi baik ngga ya cara ini?

    1. Jawaban anak-anak memang suka berubah-ubah Mba. Saya pun awalnya mendapat beberapa jawaban berbeda tapi setelah ngobrol dengan beberapa guru, ternyata mereka memang mendapati Zahira ditinggal mobil antar jemputnya. Zahira waktu itu nampak banget kawatir. Jadi disimpulkan itu penyebabnya.
      Saya nggak tahu pasti baik enggaknya Mba, tapi saya pernah memakai treatment itu dan gagal. Artinya memang harus diselesaikan dari akar masalahnya tanpa embel-embel diberi kesukaan dia.
      Kalau Mas Amay nya mau nggak papa.

  3. Betul, kalau panik bisa jadi malah marah-marah dan mengatakan hal yang bisa membuat anak bertambah bungkam. Apalagi kalau seperti kasus anak keduanya mba, bullying atau abusive lainnya, ga bisa kalau diatasi saat panik . >_<

    1. Iya Mba Ipeh, saya dulu sempat panik. Untungnya punya suami yang sifatnya kebalikan dari saya jadi dia bisa menenangkan saya.

  4. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak pernah mogok sekolah, Mbak. Waktu pertama kali sekolah di TK, anak kedua saya yang minta ditungguin. Tapi gak sampai di kelas, saya hanya menunggu di luar kelas, itu juga hanya seminggu.
    Hari-hari pertama, agak gak tega juga. Ngeliat anak nangis nyari ibunya. Tapi memang harus ditega-tega-in, supaya anak mandiri, ya gak?

    1. Alhamdulilah Mba Nurul, semoga lancar terus sekolahnya ya.
      Betul Mba, emang harus tega, dengan catatan gurunya kooperatif.

    1. Silahkan buat bekal ya, semoga sich nggak mengalami kayak saya.
      Biar nggak pusing pala berbei, hehehe.

  5. Membingungkan juga ya menghadapi anak-anak yang mogok sekolah. Orang tua dan guru perlu kesabaran lebih dan mencari tahu masalahnya. Untung semua teratasi ya Mbak Ety

    1. Iya Pak Agung, kalau kitanya marah, anaknya tambah ngambek nanti.
      Duuh, memang gampang-gampang susah Pak, ngadepin anak yang gak mau sekolah.

  6. Alhamdullilah anakku nggak pernah mogok sekolah, tapi nggak masuk sekali dua kali sih pernah, karena ngambek minta ditemani aku, tapi nggak bisa karena waktu itu masih kerja kantoran 😀

  7. Hahaa… aku sering ngalamin kaya gini, Mbak. Ngajar dengan ditemani orang tua di dalam kelas. rada-rada gimana gitu. Ortunya ilang, si anak suka ikut ngilang. Iya sih, faktor enggak nyaman, kecewa atau pede. tapi kalau sudah oke ya, cuek saja anaknya

    1. Hahaha, ya gitu deh Mba. Kami orangtua juga gak enak kalau nunggu di dalam kelas tapi demi mengembalikan mood anak yang kami lakukan.

    1. Nah, ini memang butuh kerjasama mak Witri, biar nggak terlanjur.
      Kalau terlanjur nggak mau sekolah kasian nanti anaknya.
      Iya, kalau orangtuanya mampu mengadakan homeschooling gak masalah tapi kalau dibiarkan nggak sekolah kan sayang banget.

  8. wah benerer banget mba ety, yang penting dari hati ke hati,. catet nih buat bekal nanti klo udah besar..

    nah mba ety masalahnya sekarang bintang baru play group dan dia sudah bía mogok sekolah… akhirnya ya kita mengalah,. -gionta ganti play grup deh… Apalagi dia belum bía ngungkapin kenapa mogok…

    1. Silahkan Mba Ira.
      Kalau masih playgrup mungkin karena bosan ya..apapun itu yang penting Mba Ira harus telaten deh memberi semangat untuk sekolah.
      Semoga nanti kalau dah SD,sudah berani.

  9. Nah ini saya mengalami puteri cantik saya yang enerjik, periang dan imut sama sekali mogok sekolah (setengah tahun masa pelajaran) mungkin karena masih kekecilan ya mbak, udah saya masukin TK.Hiks. Tapi tetep semangat nih baca postingan mbak Ety ini 🙂 Big hug

  10. intinya komunikasi yah Mba Ety 🙂
    kemarin anak saya sempat malas-malasan ke sekolah tapi alhamdulillah udah dua hari ini dia kembali rajin dan semangat ke sekolah

  11. Hahaha, jadi inget pernah anak saya sudah dandan rapi siap berangkat tapi gak mau berangkat. Pas ditanya ibunya, katanya karena saya marah-marah. Saya marah-marah karena dia dan adiknya (belum sekolah) bangun pagi tapi susah sekali disuruh mandi, malah asyik nonton YouTube. Pas mandipun masih sempat-sempatnya main, lama pula. Geramlah saya. Eh, dia nangis dan gak mau berangkat. Tapi setelah dibujuk-bujuk dan diantar ibunya akhirnya mau juga.

    Sewaktu dia pulang, saya langsung minta maaf. Dan sejak itu nggak pernah lagi sampe marah-marah kalo anak-anak susah diatur dan ujung-ujungnya terlambat. Biarinlah, namanya juga anak-anak. Hehehe…

    1. Setuju Om, namanya anak-anak memang suka gitu.
      Dan kita namnya orangtua kadang maunya sempurna, qeqeqe.
      Semoga gak pake insiden mogok sekolah deh.

  12. wah ajdi nambah ilmu mengatasi anak mogok sekolah mbak hehe… mksih mbak.. wah kalo mobil mogok mah ada tukang benerinnya, lah kalo anak… hehe kita kudu berjuang ya mbak hehe… mksih mbak nice blog salam kenal

    1. Alhamdulilah, sip.
      Pelan-pelan saja Mas heru.
      Biar anak enjoy, kalau dipaksa nanti kawatirnya malah benci.

  13. anakku sejak kecil di daycare mak, sampai suatu hari tiba tiba dia ga mau berangkat lagi ke daycare, sampai di satu titik aku tawarkan opsi sekolah di play group dan akhirnya dia mau,

    Akta masih kecil sih saat itu, baru 2.5 tahun, jadi aku coba korek korek ceritanya, aku maish bimbang dia berimajinasi atau memang kejadiannya, mungkin sekarang bisa dicoba ya 🙂 supaya ga kejadian lagi ke depannya

    1. Bisa jadi karena bosan Mba.
      Anak kecil memang suka berubah-ubah ceritanya, makanya orangtua harus bisa menandai kapan anak ngomong apa adanya kapan mulai berimajinasi.

  14. Hehehee akhirnya ditulis, bisa jadi bahan pembelajaran bagi para ibu. Bagaimanapun di sekolah mereka harus menghadapi berbagai peristiwa yang tak terduga.

  15. Mba, kalau anak saya banyak sekali alasan mogoknya, mulai dari jam sekolah yang lama, jemputan yang rutenya panjang, kelas yang bising, pelajaran yang Susah, catering yang tidak cocok, intinya dia ingin saga menemaninya sepanjang hari, padahal saya punya bayi dan ga pakai art.

    Saya sempat 2jam membujuknya di kelas agar mau ditinggal. Saat itu saya sambil bawa bayi Mba, pakai taxi karena anak ga mau pakai jemputan, dan semua usaha nihil, dia mengejar saya ketika saya pulang. Huhuhuuuu ….

    Saya sampai khilaf mengeluarkan kalimat kasar dan bertindak kasar di depan umum saat itu, karena lelah membawa bayi juga tapi sorenya langsung minta maaf, berbaikan dan pasrah saya tunggu sampai dia mau kembali ke sekolah.

    1. I feel you Mba Evi.
      Sekarang sudah nggak mogok lagi kan?.
      Anak mogok sekolah memang menguji kesabaran kita sebagai orangtua.
      Seringkali kecemasan terbesar kita adalah omongan orang. Padahal, jika itu diabaikan dan fokus sama solusi pasti terlewati meskipun butuh waktu.

  16. aku punya murid yg mogok sekolah mbak…tp ksusnya komplek sih..dia barusan ditinggal ibunya,ia tggal bersama ayah dan kakeknya..ayahnya sibuk kerja,trs anaknya di sekolahkan sampai sore..di sekolah sering nangis krn dia g bs adaptasi dg teman2nya..kami sudah silaturahmi ke rumah,dia nangis malahan dan kami diusir salah satu keluarganya yg merasa kami membuat anak itu menangis…konon kata ayahnya kluarga besarnya melarang anaknya di sekolahkan krn msh kecil

    1. Ada ya, ternyata yang kasusnya kompleks seperti itu. Saya salut , kalau guru mau berkunjung ke rumah siswa tersebut. Kalau boleh saran sih, harus melibatkan psikolog deh Mba.

    1. Waalaikumsalam Mba Rosma.
      Sudahkah dicari penyebabnya? karena 9 bulan itu waktu yang lama.
      Saran saya, cari bantuan seorang Psikolog Mba untuk mengurai persoalan ini.

  17. Saya lagi stres ma anak yg mogok skolah,pingin ya bund bs komunikasi dg wali kelas nya.sayank nya cuek n gak bs diajak diskusi,tertawa saja kalo saya temui di skolah.

    1. Saya turut prihatin.
      Coba minta bantuan psikolog Bunda.
      Sebisa mungkin bicara dengan pihak sekolah. kalau wali kelasnya blm bisa diajak diskusi, coba ke kepala sekolahnya.
      Semoga lekas teratasi ya.

  18. wah sama mbak, anak saya yang pertama sdh sekolah TK sekitar 3 bln lbih ya.. awal2 enjoy skrg srgkali ngadat bilang emong skolah, alasannya si karena trlalu lama di sekolah (fullday) pkl 8 pagi smp 4 sore.. memang anak sy pra sekolahnya lbh banyak d rumah sm pngasuh (istri sy bekrja) dn tdk jg banyak brgaul dg teman2 tetangga/1 komplek alhasil adaptasinya dia hrs mulai ktika dia msk skolah..

    agak khawatir juga sih d awal tp yakin dia bs melaluinya.. trakhr2 alasannya ada lg krn ada temannya yang mgkn suka jahil sm dia jd dia emong skolah jg hehe..

  19. anak saya juga pernah mba pas TK A mogok sekolah karena merasa ga mampu. soalnya TK A di deket rumah konvensional, anak udah belajar calistung. jadi saya minta gurunya biarin aja klo anak saya ga bisa yg penting dia happy 🙂

  20. Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru ternyata adalah kunci untuk mencari solusi mengatasi anak yang mogok masuk sekolah ya bu, sebelum terjadi phobia terhadap anak

  21. anak sy jg mogok nih mba udh 3hari, sebabnya karna gurunya membentak dia waktu dia ga bs jawab soal tambah2an. anak sy minta saya anterin kesekolah, padahal sy bekerja. sy udh bicara sama gurunya, dan akhirnya gurunya itu minta maaf sama anak saya. tapi sepertinya anak saya blom bs memaafkan. jd dia tetep mogok sekolahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *