Rumah Teh Ndoro Donker, Sensasi Tea Time Di Tengah Perkebunan Teh

Minum teh? Sudah biasa sih. Terutama saat bulan puasa, secangkir teh manis hangat biasa jadi sajian saat berbuka. Meskipun biasa minum teh, sesekali ingin juga menikmati tea time di tempat yang spesial. Nah, tempo hari, setelah berkunjung ke Candi Cetho, mampirlah saya ke Rumah Teh Ndoro Donker. Sebuah kedai yang menyajikan teh sebagai minumannya. Spesialnya, kedai ini berada di tengah hamparan kebun teh. Hm, bagaimana sensasinya?

Tanaman teh atau Camellia Sinensis berasal dari negeri Cina. Telah berabad lamanya, teh dikenal sebagai minuman obat. Persebaran tanaman ini kemudian mencapai ke banyak negara seperti Jepang, negara-negara Eropa bahkan ke Indonesia. Sekarang meminum teh bukan lagi untuk obat namun sebagai gaya hidup.

Budaya minum teh (tea time) kemudian berkembang. Tak hanya dilakukan di rumah, tea time juga bisa dilakukan di kedai-kedai teh bahkan hotel berbintang. ย Salah satu kedai teh tersebut adalah Rumah Teh Ndoro Donker. Letaknya memang jauh di pedesaan namun menarik untuk dikunjungi karena suasana yang ditawarkan.

rumah-teh-ndoro-donker2.jpg

Kesan kuno nampak dari nama kedai teh ini, Ndoro Donker. Ndoro dalam Bahasa Jawa artinya Tuan. Jaman dulu sebutan Ndoro memang populer untuk menyapa majikan ataupun orang yang dihormati karena memiliki kedudukan tinggi. Sekarang kata Ndoro sudah jarang dipakai. Sementara itu kata Donker, merujuk pada nama seorang ahli tanaman berkebangsaan Belanda yang tinggal di perkebunan teh Kemuning.

Konon ceritanya, Ndoro Donker memiliki jasa besar di balik perkebunan teh tersebut. Beliau yang mengajarkan ilmu bercocok tanam pada masyarakat sekitar. Rupanya, Ndoro Donker terlanjur cinta dengan tanah Kemuning. Sehingga ia pun menolak tawaran pemerintah Belanda untuk kembali ke negaranya dan lebih memilih menghabiskan hidupnya bersama masyarakat Kemuning. Jasa Ndoro Donker amat lekat diingatan mereka, sehingga daerah yang pernah ditinggali Ndoro Donker pun disebut dengan “ndonkeran”.

Sedangkan bangunan khas kolonial yang menjadi kedai ini adalah bekas rumah dinas Kepala Perkebunan Teh, yang telah ada sejak tahun 1700. Setelah lama tak digunakan, rumah ini kemudian disewa dan dijadikan kedai dengan konsep yang unik, menyajikan seduhan teh di tengah hamparan kebun teh. Pengunjung seolah diajak merasakan nikmatnya teh dari kebun sendiri.

ndoro-donker.jpg

Seperti tipe rumah kolonial pada umumnya, rumah ini pun memiliki halaman depan, samping dan belakang yang cukup luas. Kursi-kursi kayu yang digunakan, menambah kesan vintage kedai teh ini. Warna putih terlihat dominan untuk interior maupun eksteriornya. Tertata apik, pokoknya instagenic, deh. Banyak dari pengunjung, yang melakukan foto-foto (termasuk saya), karena memang sayang dilewatkan sih, hehehe.

Jika ingin menikmati tea time sambil menikmati hamparan pohon teh maka spot paling menarik adalah di halaman samping. Tersedia meja di bawah payung merah. Tapi sayang, saat saya berkunjung semua meja penuh, sepertinya ini memang spot favorit pengunjung.

Akhirnya saya pun memilih duduk di halaman belakang yang telah tertutup atap seluruhnya. Tak mengapa, karena di sini pun saya masih bisa menikmati semilir angin pegunungan dan menatap hijaunya hamparan pohon teh di samping saya. Hm, sejuk banget.

hamparan-kebun-teh.jpg

Ada banyak varian seduhan teh ditawarkan di kedai ini. Beberapa diantaranya masih asing di telinga maupun lidah saya. Seperti White Tea dan Radja Tea yang merupakan teh premium, dibanderol dengan harga paling mahal yaitu 55K per pocinya. Selain kedua teh tersebut, tersedia juga Kemuning Green Tea, Donker Black Tea, Ocha Tea, Chamomile Tea, Jasmine Tea, Early Grey, Passion Fruit, Mint maupun Lady Grey dan Green Tea Latte yang harga per cangkirnya 10K dan 45K untuk harga per pocinya.

Untuk makanannya, Rumah Teh Ndoro Donker menyediakan menu tradisional dan western. Ada kare ayam, nasi goreng, mie goreng, dan aneka steak. Tersedia pula aneka camilan seperti tempe Donker, bitterbalen, timus Donker, ubi goreng madu, ketela goreng dan lain-lain. Harga camilan rata-rata dibanderol dengan harga 15K-20K per porsinya.

Jujur, bingung mau pilih teh yang mana untuk dinikmati. Godaan menikmati Green Tea Latte amat kuat, hehehe. Akhirnya, saya memilih Green Tea Latte dan suami memilih Ocha Tea. Untuk camilan saya memilih bitterbalen dan ketela karena cocok buat temen ngeteh. Kami nggak makan besar karena baru saja makan sebelum mampir kemari.

Tak lama kemudian pesanan kami datang. Secangkir Green Tea Latte dan Ocha Tea hangat, disajikan dengan satu sachet gula pasir. Green Tea Latte, teh yang terbuat dari bubuk matcha dan susu. Aroma teh hijau dan susu menguar, membuat saya ingin cepat-cepat menyesapnya. Hm, ย paduan teh dan susu ternyata, nikmat. Ini pertamakali minum Green Tea Latte dan buat lidah saya sih, nggak ada masalah.

Sementara Ocha Tea, lebih terasa tehnya, karena tanpa campuran bahan lain. Warnanya hijau kekuningan dan bening. Jika kesini lagi, saya akan memilih teh tanpa campuran susu deh. Lebih segar dan tehnya juga lebih kerasa. Bagaimana untuk rasa Bitterbalen Keju nya?. Enak, manis dan gurihnya pas. Sayang, untuk ketela gorengnya, kurang empuk.

minum-teh.jpg

Menikmati secangkir teh hangat, di tengah kebun dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi itu membuat saya rileks. Suasananya bikin betah dan pengin ke sini lagi sekadar untuk ngobrol dan melepas penat. Apalagi ada alunan musik oldiest, ah, bisa lupa waktu saya kalau ngeteh di sini.

Rumah Teh Ndoro Donker, biasa jadi tempat singgah wisatawan yang berkunjung ke Candi Cetho, Candi Sukuh, maupun Air Terjun Jumog, karena memang sejalur. Mudah dijangkau karena berada di pinggir jalan raya, tepatnya, di Jln. Afdeling Kemuning No. 18. Selain itu, mudah pula dikenali karena ada papan petunjuk.

Lereng Gunung Lawu memang menawarkan pesona keindahan alam yang belum tuntas saya eksplorasi. Bagi saya, kembali ke alam akan membuat jiwa dan raga saya fresh kembali. Udara gunung yang sejuk itu selalu saya rindukan, apalagi sambil menyesap kehangatan teh di Rumah Teh Ndoro Donker.

45 thoughts on “Rumah Teh Ndoro Donker, Sensasi Tea Time Di Tengah Perkebunan Teh

  1. Ndoro Donker juga dijadiin tempat pemotretan ๐Ÿ˜€ abis keren sih tempatnya, udaranya sejuk banget. Pernah aku lihat di twitter, Paundra lagi foto di sana, keren ihhhh….
    Suka dengan teh-teh di sana, beda. Rasanya, kok baru tau ya aku ada macam-macam teh kayak gini >.<

    1. Betul Mba Ranny. Poundra kabarnya pernah kesitu.
      Tempatnya bagus buat foto-foto, asal nggak malu aja.
      Nah, soal teh, saya juga baru memperhatikan jenisnya.

    1. Hihihi, cocok banget buat ngeteh sama suami Mba Ika.
      Saya juga ngeteh di sana bareng suami. Cuma sayang nggak ada yang motoin. Jadi selfie berdua aja.

    1. Waini, saya baru pertama minum green tea latte.
      Jadi belum ada perbandingan tapi buat saya sih enak-enak aja.
      harus buktiin sendiri nih Mba Rusy, sebagai green tea latte lover.

    1. Biterrbalen itu kalau menurutku sama dengan kroket Mba Mutia.
      Dari tepung dimasak pakai susu cair dan keju, kemudian dibentuk, kasih tepung panir dan digoreng.
      Rasanya manis dan gurih.

  2. Selama ini kedai kopi jauh lebih mudah dicari daripada tempat khusus teh. Seru juga bagi yang pecinta teh kalau ada banyak tempat seperti ini. Asyik banget lagi kalau di tengah-tengah kebun teh.

    1. Iya betul Mas Nasirullah, tempat ngopi udah banyak dan mudah ditemui.
      Saya baru tahu tempat ngeteh di Solo ya Ndoro Donker ini.

    1. Mungkin masih pagi kali Pak.
      Setelah saya pulang, mulai banyak yang datang. Tapi kursi yang berpayung penuh semua itu. Cuma gak berani motret.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *