Ini Dia 6 Tips Mengatasi Masalah Yang Kerap Dialami Ibu Bekerja

Hai, teman-teman! Apa kabar nih?. Semoga semuanya sehat, semuanya bahagia, ya!

Iya dong, namanya harapan kan harus yang baik-baik saja. Btw, kali ini saya mau share tentang masalah yang kerap dihadapi ibu bekerja dan cara mengatasinya. Ceritanya, ada seorang teman bersedia sharing nih, trus saya tulis di sini. Siapa tahu ada manfaatnya buat ibu bekerja di luar sana yang menghadapi persoalan yang sama.

Di zaman yang sudah maju seperti saat ini, nggak aneh jika kaum ibu memiliki karir di luar rumah. Kalau saya bilang, ini tuntutan zaman yang nggak bisa ditepis. Ya, sekarang kan kesempatan menikmati pendidikan itu terbuka untuk perempuan. Jadi, perempuan dengan kualifikasi pendidikan tinggi semakin banyak jumlahnya. Konsekuensinya, banyak dari mereka kemudian bekerja dan mendapat kesempatan berkarir setinggi-tingginya.

Ketika menikah dan menjadi ibu, banyak dari mereka menjalankan peran ganda. Selain karena kebutuhan akan kualitas hidup yang lebih baik bagi keluarganya. Sebagian perempuan lain merasa cocok menjadi wanita karir dan menjalankan peran ganda daripada menjadi ibu rumahtangga sepenuhnya. Nggak ada yang keliru, sich, dari pilihan ini.

Begini ya, sebagai ibu rumahtangga yang tidak berkarir di luar rumah, terus terang saya membutuhkan kehadiran perempuan untuk banyak job. Ini pendapat saya sich, saya butuh dokter perempuan, apalagi untuk dokter kandungan. Saya lebih nyaman jika yang memeriksa itu dokter perempuan. Terus, karena saya masih takut naik motor di jalan raya, saya kadang butuh ojek untuk mengantar ke tempat yang saya belum kenali. Nah, kalau ada perempuan yang jadi tukang ojek, saya tentu terbantu.

arifah wulansari bersama keluarga

Alasan-alasan yang seperti inilah yang membuat saya setuju kalau perempuan yang sudah menikah, berminat untuk bekerja di luar rumah itu it’s okay, selama dia sadar dan bertanggungjawab terhadap peran gandanya.

Tapi, kadang yang namanya kenyataan kan nggak seindah dan semudah angan-angan. Maunya sih, semua bisa berjalan baik, seimbang, dan selalu bahagia. Namanya hidup pasti kan ada masalah yang menimpa tanpa diminta. Ibu bekerja juga kerap mengalami masalah. Nah, supaya tidak berlarut-larut, harus dong dicari solusinya. Menurut Arifah Wulansari, ada beberapa masalah yang dialami selama menjalankan tiga peran, sebagai ibu dan seorang PNS serta seorang blogger, diantaranya:

  1. Masalah waktu

Banyaknya tugas yang harus dikerjakan, membuat waktu 24 jam sehari seolah tak cukup. Tiap hari harus bangun pagi, sederet pekerjaan rumah tangga harus diselesaikan seperti menyiapkan makan pagi, keperluan anak-anak sekolah, menyiapkan baju kerja baik untuk suami maupun diri sendiri.

Sepulang kantor, pekerjaan rumah yang lain sudah menanti seperti mencuci baju, menyapu, mengepel, ataupun menyetrika baju. Belum lagi waktu kebersamaan dengan anak-anak yang juga harus dipenuhi. Pastinya membutuhkan energi yang besar.

Jika pekerjaan sepulang kantor masih seabgrek, bagaimana dengan waktu istirahat ya? Ini, nggak boleh diabaikan lho, supaya badan teman-teman bisa istirahat, lepas dari segala kepenatan.

Cara Mengatasinya:

bikin jadwal
bikin jadwal

Harus ada manajeman waktu yang baik, ini kuncinya. Mba Arifah memilih membuat jadwal harian. Apa yang harus dilakukan, jam berapa dilakukan dan butuh waktu berapa lama untuk melakukannya. Dengan adanya jadwal tadi, dia jadi punya patokan, mana dulu yang mau dikerjakan. Teman-teman bisa melakukan hal ini juga, untuk bisa mengatur waktu dengan baik.

  1. Beban Pekerjaan yang Banyak

Menjalankan peran lebih dari satu, konsekuensinya pasti pekerjaannya lebih banyak daripada mereka yang memiliki satu peran saja. Pekerjaan kantor terkadang harus dibawa ke rumah. Sementara itu pekerjaan rumahtangga nggak kalah banyaknya.

Tentunya para ibu bekerja menginginkan semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik, kan!. Jika semua pekerjaan rumahtangga dikerjakan sendiri, kira-kira sanggup nggak?. Di sini, ibu bekerja harus mengukur kemampuan diri, yakin mau semua pekerjaan rumahtangga dikerjakan sendiri?.

Jangan sampai, ibu bekerja merasa kelebihan beban sehingga kelelahan dan tak lagi memiliki energi yang cukup untuk menemani anak-anak belajar maupun menghabiskan waktu bercengkerama dengan anak-anak dan suami.

cleaning-lady-258520_1280

 

Cara Mengatasinya:

Mba Arifah menyadari bahwa ia tidak mungkin mengerjakan semua pekerjaan rumahtangga sendiri maka yang dilakukannya adalah cari bantuan. Caranya bisa dengan mengsubkontrakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Bisa dengan mempekerjakan asisten rumahtangga, atau berbagi tugas dengan suami.

Nah, beliau lebih memilih kerjasama dengan suami untuk beberapa pekerjaan seperti Mba Arifah menyiapkan keperluan anak yang mau sekolah sementara suaminya menyiapkan sarapan. Beberapa pekerjaan seperti menyetrika baju, diserahkan ke laundry kiloan. Untuk memasak jarang dilakukan, seringnya membeli makanan matang. Nggak papa, demi waktu yang lebih banyak untuk anak-anak, ini bisa dilakukan.

  1. Jenuh

Tiap hari harus berjibaku dengan tumpukan pekerjaan kantor maupun pekerjaan rumahtangga pasti membuat fisik maupun pikiran terkuras. Belum lagi drama anak-anak berangkat sekolah mungkin saja bikin mood jadi berantakan.

Ibu bekerja tentu membutuhkan waktu untuk rehat dan mengembalikan staminanya. Ini penting agar ia tetap sehat baik fisik maupun mental. Jangan sampai anak-anak dan suami jadi sasaran kejenuhan yang tak berujung.

Cara Mengatasinya:

Luangkan waktu untuk “me time”. Jangan merasa bersalah seolah-olah mengambil jatah hak anak terhadap ibunya. Justru dengan meluangkan waktu rehat dan mengembalikan stamina, sesungguhnya ibu sedang berupaya memenuhi hak anak untuk diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh ibunya.

arifah dan kawan blogger
bersama blogger Jogya

Mba Arifah  ber me time dengan ngeblog dan ke salon. Pilihan aktifitas me time yang wajar menurut saya. Mba Arifah suka menulis bahkan menurut saya pandai menulis. Beliau ini kerap menjuarai lomba blog. Sudah banyak penghargaan ia raih sebagai seorang blogger. Sementara ke salon, adalah bentuk perhargaan terhadap diri sendiri dan membahagiakan suami.

Jadi, ibu bekerja yang lain, bisa melakukan me time sesuai dengan minatnya. Jika dilakukan sesuai porsi dan bukan hal yang terlarang, me time itu menyehatkan untuk kehidupan rumahtangga.

  1. Bad Day

Sekali waktu para ibu bekerja akan mengalami yang namanya “bad day”. Jadwal yang sudah tersusun rapi tiba-tiba jadi berantakan karena sebab tertentu. Misalnya: saat anak tiba-tiba rewel bahkan mogok sekolah. Mau tidak mau ibu harus menenangkan anak terlebih dulu. Konsekuensinya, mungkin akan telat datang ke kantor. Huft, ini bisa merusak mood kan, bu?.

Mba Arifah juga pernah mengalaminya, lho. Saat di kantor sedang banyak tugas, tiba-tiba ada telepon dari sekolah anaknya. Gurunya mengabarkan kalau Tayo jatuh dan bajunya basah semua. Langsung buyarlah konsentrasi, padahal harus meeting, membimbing mahasiswa yang sedang praktek, mengatasi staf bermasalah, mengurus persiapan acara outbond dan menyiapkan dokumen yang belum kelar.

Mba Arifah harus pulang ke rumah ambil baju, terus ke sekolah Tayo mengantar baju. Sesampainya di sekolah drama pun terjadi, Tayo nangis, minta pulang. Mba Arifah pun harus membujuk Tayo pelan-pelan agar mau tetap sekolah. Meski berhasil membujuk Tayo, lelah pun dirasakan. Apalagi harus ke kantor lagi menyelesaikan tugas yang tertunda. Duh, kalau tak bisa menguasai mood, bisa-bisa seharian bisa bete dan tugas kantor terbengkalai.

arifah wulansari diklat

Cara Mengatasi:

Meski mungkin susah untuk dilakukan, tetap tenang menjadi mantra. Tenang membuat ibu segera bisa berpikir mencari solusi atas persoalan yang sudah membuat berantakan hari itu.

Kalau harus izin dari kantor sebentar, lakukan saja meskipun mungkin ada kosekuensi gak enak seperti potong gaji ataupun gagal mendapat tunjangan. It’s okay, toh nggak setiap hari seperti itu kan? Maafkan diri sendiri, jangan merasa bersalah berlebihan hingga menganggu mood.

  1. Anak sakit

Untuk yang satu ini mungkin dilema terbesar buat ibu bekerja. Jika anak sakit maka ibu tentu harus merawatnya. Tapi, bagaimana dengan tugas-tugas kantor yang tentu tak bisa diabaikan begitu saja. Ibu mungkin merasa sudah berusaha menjaga kesehatan anak-anak dengan baik tapi kadang tetap sakit juga. Kalau sudah begini, ibu harus mampu membuat prioritas.

Cara Mengatasi:

Minta izinlah dari kantor sehari dua hari. Jika ternyata sakitnya parah dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit maka ambilah cuti. Tak usah galau karena meninggalkan tugas kantor untuk sementara waktu. Jika memang terpaksa, pekerjaan harus dibawa ke rumah, maka ini bisa dilakukan. Mba Arifah sendiri dalam situasi tertentu kerap menyelesaikan pekerjaan kantor dirumah.

influenza-156098_1280

Mba Arifah mempercayai jika rezeki itu tak selalu berwujud materi, kesehatan juga rezeki yang patut di syukuri. Oleh karena itu, ibu beranak dua ini memilih untuk selalu bersedekah. Tujuannya agar dijaga rezeki sehatnya sama Alloh SWT. Teman-teman juga bisa melakukan hal ini karena sedekah bisa melipatgandakan rezeki kita.

  1. Omongan Negatif

Salah satu resiko hidup di masyarakat itu ya mendapat omongan negatif. Meskipun, bisa saja ibu bekerja tidak melakukan kesalahan. Omongan negatif yang kerap menimpa ibu bekerja biasanya anggapan tak becus merawat dan mendidik anak. Ada pula yang mengatakan ibu bekerja itu egois karena lebih mementingkan karir.

Adanya omongan negatif itu biasanya karena generalisasi. Mereka anggap semua ibu bekerja itu sama. Hanya karena mereka melihat ada salah satu ibu bekerja yang ternyata tak seimbang dalam menjalankan perannya. Nah, ini kan kesimpulan sesat.

Cara Mengatasi:

Buktikan kalau ibu adalah seorang ibu yang bertanggungjawab terhadap keluarganya. Bukan dengan pernyataan namun dengan tindakan. Bahwa benar ibu merawat dan mendidik anak dengan baik, dekat dan penuh kasih sayang dengan mereka.

hadir di momen penting anak
hadir di momen penting anak

Mba Arifah, memilih untuk mendelegasikan beberapa tugas rumah tangga demi waktu yang lebih banyak dan berkualitas untuk anak-anaknya. Jangan  memaksakan diri menjadi super mom, semua dikerjakan sendiri namun akhirnya kelelahan. Jika sudah begini anak-anak mungkin kurang terperhatikan.

Jika melihat keberhasilan Mba Arifah Wulansari dalam menjalankan tugasnya sebagai Kasubag Tata Usaha di sebuah Puskesmas di Bantul, tentu karena beliau bisa bekerja secara profesional. Dan jika melihat tumbuh kembang anak-anaknya, kebetulan saya pernah beberapakali bertemu dengan beliau dan Tayo, maka beliau adalah ibu yang hebat. Tayo adalah anak yang sehat dan cerdas.

Nah, bagaimana dengan teman-teman, punya pengalaman mengatasi masalah yang kerap menimpa ibu bekerja?. Silahkan sharing di kolom komentar, ya!

62 thoughts on “Ini Dia 6 Tips Mengatasi Masalah Yang Kerap Dialami Ibu Bekerja

  1. Salut banget sama mba Arifah dan para ibu-ibu bekerja yang lain. Karena aku aja yang dirumah suka gak kepegang dan jadwal masih berantakan, masih harus sering belajar sama working mom nih 🙂

  2. Salut dg Mak Arifah..masya Allah…semoga waktunya penuh barokah.dan juga emak2 yang bekerja di luar rumah.

    Saya juga pwrnah merasakan bekerja selama 10thn….dan rasanya gado-gado.

    Mak Ety tulisannya (y), makasih sharingnya Mak.

  3. mak arifah memang hebat.
    saya ibu setengah bekerja (cuma kerja setengah hari). salut dengan energi para ibu yg bekerja di kantor seharian, plus urusan rumah dan anak2 tetap aman terkendali.

    1. Iya Mba Alida, belajar dari ibu bekerja yang sanggup seimbang itu biasanya support systemnya bagus.
      Jadi keluarga terawat dan pekerjaan juga tertunaikan dengan baik.

  4. Selalu salut sama ibu yang bekerja, terasa oleh aku.
    Begitu giat menyeimbangkan peran, ibu, istri dan ibu bekerja.
    Yang terkadang orang lain hanya bisa menilai saja, sementara kita pelakunya sibuk sendiri dengan kegiatan rutinitasnya.

    Salut buat Mba Arifah, ya begitu lah tak jauh beda denganku .
    Semangat2…

    1. Iya Mba Lidha, dipikirnya senang-senang ,hura-hura tak berguna. Padahal emang tubuh butuh istirahat butuh refreshing kok.
      Tinggal caranya dipilih yg paling realistis lah.

  5. Aku acung jempol deh buat ibu bekerja, apalagi kalau performa sebagai ibu bagus, sebagai pekerja juga bagus. Dulu pas masih jadi wartawan, suka lihat teman-temanku yang udah punya anak suka kewalahan soalnya di masalah pekerjaan. Mbak atau ART nggak datang aja bisa izin atau nggak masuk kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *