Anak Bermain Games? Pertimbangkanlah 4 Hal Sebelum Mengizinkannya

Anak bermain games, nampaknya sudah menjadi kelaziman. Termasuk anak-anak saya juga suka bermain games. Ya, zaman memang sudah berubah. Sejak internet muncul, media bermain anak-anak menjadi bergeser. Yang tadinya, dalam bermain itu melibatkan banyak anggota badan untuk bergerak, kini cukup jari-jarinya saja yang bergerak sudah disebut sedang bermain. Iya, bermain games! Orangtua seperti saya harus hati-hati, jika tak terukur maka akan jadi masalah di kemudian hari.

Emang sih, beda jauh sama zaman kita kecil kan, teman-teman. Mainan kita zaman dulu itu sederhana, seperti main bekel, main mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, main kelereng, petak umpet, gobak sodor, main di sawah, berenang di sungai, dll. Kalau mau main ya pasti keluar rumah. Mainnya ramai-ramai sama teman-teman. Seruu!

Sementara itu anak-anak sekarang, kadang cukup di kamar sendirian, pegang gadget, main game, itu sudah merupakan hiburan bagi mereka. Seolah-olah, mereka gak butuh teman. Dulu, saya juga sempat bangga dengan kemampuan anak saya yang masih balita. Hanya diajarin sekali, ia paham apa yang harus dilakukan ketika akan main games. Hadeeh,  padahal ada resiko yang mengancam anak-anak saya, yaitu kecanduan games.

Awalnya, anak-anak bermain games edukatif. Menurut saya ini salah satu metode belajar yang bakal menarik bagi mereka. Dan terbukti, dari game edukatif anak-anak saya bertambah pengetahuannya. Lama-kelamaan, seiring bertambahnya usia, anak-anak bermain games yang sifatnya untuk hiburan semata, seperti My Talking Tom, Piano Tales, dll.

anak-bermain

Darimana Anak-anak Mengakses Games?

Dulu, anak-anak mengakses games melalui PC maupun laptop. Orangtua akan menginstall berbagai macam games untuk dimainkan. Anak-anak sayapun mengenal games pertama kali dari PC.

Kini, akses terhadap games menjadi lebih mudah dengan adanya smartphone dan tab. Ukuran smartphone dan tab yang lebih kecil dan ringkas membuat anak-anak mampu memegangnya tanpa bantuan. Apalagi harganya juga semakin murah saja. Membuat banyak kalangan mampu membelinya.

Diisilah gadget itu dengan beragam games. Anak-anak pun akhirnya terbiasa memainkan games dari perangkat pintar tadi. Jangan heran, kalau balita sekarang fasih bermain games.

Persoalannya, apakah orangtua paham mengenai alasan memberikan izin bermain games pada anak-anaknya?. Ternyata, tak semua orangtua memiliki alasan yang jelas mengenai hal ini. Pengetahuan ini saya dapat dari Arisan Ilmu KEB Jogya dengan  materi Internet Baik. Dari acara ini mendapat buku yang isinya penting diketahui oleh pengguna internet seperti saya.

Berdasarkan survey, yang saya kutip di buku “17 Rumus Keren Internet Baik”, menyebutkan:

“Sekitar 65% orangtua memberikan fasilitas games pada anaknya yang berusia 3 hingga 5 tahun. Kebanyakan orangtua beralasan agar anaknya bisa memainkan games. Sementara itu sekitar 36% orangtua memberikan fasilitas tersebut tanpa alasan yang jelas.”

anak-bermain-games-2

Jadi mikir, saya termasuk orangtua yang mana, ya? Hehehe, berasa dikitik-kitik sama hasil surveinya. Ada nggak yang alasannya seperti ini?

 “Kan, kasih hiburan buat anak-anak!”

(Hehehe, iya sih, hiburan yang mudah didapat!)

“Anak saya bakal anteng kalau main games, jadi gampang untuk disambi menyelesaikan kerjaan rumah!”

(Wkwkwk, benar juga, kalau mereka anteng, kerjaan bakal beres tanpa disela rengekan!)

“Biar anak-anak gak gaptek, dong!

(Betuuul, tapi kan harus diperhitungkan dampaknya)

Itu baru sebagian alasan saja, orangtua di luar sana barangkali memiliki alasan yang berbeda. Apapun alasannya, kalau main bolehin saja tanpa pengawasan ya, bahaya. Internet itu ibarat hutan belantara, dimana mara bahaya itu bisa datang dari arah mana saja.

Oleh karena itulah, orangtua harus cermat sebelum mengizinkan anak-anak bermain games apalagi games online. Setidaknya ada 4 hal yang harus dicermati, sebelum memberikan izin:

  1. Konten

Di internet banyak sekali games yang bisa diunduh maupun dimainkan secara online. Tidak semua games, kontennya cocok untuk anak-anak. Misalnya games tersebut mengandung kekerasan. Games dengan konten kekerasan tentu tidak baik untuk perkembangan anak-anak.

Otak anak itu cepat sekali menyerap informasi. Daya serapnya itu 2x lebih cepat dan lebih aktif dari otak orang dewasa. Jika dia melihat sesuatu yang negatif seperti kekerasan dalam games, maka itu akan terekam dalam memorinya. Ini berbahaya, karena anak bisa menirukan apa yang sudah dilihatnya tadi.

“Otak bayi luar biasa. Mampu menirukan gerak manusia bahkan sejak hari pertama”

– Andrew Meltzoff, Ph.D –

(University of Washington)

Orangtua harus turun tangan memilihkan games untuk anak-anaknya. Pilih yang benar-benar pas untuk anak-anak. Penting bagi orangtua untuk mencoba lebih dulu gamesnya agar yakin dengan kontennya. Jika ingin menginstalnya ke gadget, perhatikan lagi apakah games tersebut mengandung iklan yang tak pantas untuk dikonsumsi anak-anak. Salah satu problem ketika instal games anak adalah disisipi layanan iklan yang berbau kekerasan atau pornografi.

Mengapa kita sebagai orangtua harus hati-hati, karena ada hubungan antara otak dan perilaku. Informasi yang masuk akan mempengaruhi pola perilaku. Jika banyak informasi yang mengandung kekerasan yang masuk maka ini akan mendominasi pola perilaku sehari-hari.

hubungan-otak-dan-perilaku
hubungan otak dan perilaku

Beberapa games di list ini, dinilai mengandung kekerasan, hingga tak seharusnya dimainkan anak-anak:

  • Death Race
  • Mortal Combat
  • Grand Theft Auto
  • Silent Hill
  • Resident Evil
  • Mass Effect
  • Postal
  • Tomb Rider dll
  1. Rating

Cara untuk mengetahui apakah games tersebut sesuai untuk anak-anak adalah dengan mengecek rating games tersebut. Masyarakat dunia telah menyepakati pembatasan konten games dengan sistem rating yang disebut dengan ESRB Rating. Tujuannya agar orangtua terbantu dalam memilihkan games yang cocok untuk anak-anaknya.

Berikut ini ESRB Rating (USA) :

rating-games-2
sumber : internet baik
rating-games
sumber: Internet Baik

Nah, pilihlah game berdasarkan rating yang sesuai dengan usia anak. Jika ini konsisten dilakukan, diharapkan bisa mengurangi dampak negatif dari bermain games

  1. Durasi Bermain Games

Berapa lama sih sebaiknya, anak-anak kita boleh main games dalam sehari? Wow, ternyata anak sebelum usia 2 tahun tidak boleh main gadget, ya! Menurut The American Academy Of Pediatrics (AAP). Duh, bertolak belakang dengan fakta yang sering ditemui di lingkungan sekitar, nih.

durasi-bermain-games

Apa sih yang dikawatirkan?

Paparan cahaya dari gadget itu berbahaya bagi kesehatan mata anak-anak karena menyebabkan terkikisnya lapisan Lutein, yang merupakan pelapis pelindung retina mata. Tanpa Lutein, pandangan mata akan kabur. Sementara itu paparan radiasi sinyal dari gadget ditengarai dapat menganggu perkembangan neuron pada anak.

Jadi, poin ini juga harus menjadi pertimbangan orangtua ya, sebelum mengeluarkan izin.

  1. Dampaknya

Sudahkah kita, sebagai orangtua paham akan dampak negatif yang akan timbul ketika anak-anak bermain games secara berlebihan? Berikut ini beberapa yang mungkin timbul:

  • Gangguan kesehatan : nyeri tulang belakang akibat, duduk dalam posisi membungkuk, lutein terkikis, kejang tangan
  • Aktifitas dunia nyata berantakan : sulit tidur, susah makan, malas belajar
  • Kecanduan games
  • Terpapar pornografi dan judi
  • Perilaku negatif, menjadi kasar, bahkan memalak dan mencuri
dampak-negatif-main-games
sumber: anggaali1995.blogspot.co.id

Bicara mengenai kecanduan games kita harusnya tidak menyepelekannya. Betapa sudah sering kita dengar, anak-anak yang kecanduan games bisa kehilangan masa depannya. Sekolahnya bisa kacau, kesehatan badan dan jiwanya juga terganggu. Sayang, banget kan!

Memang ada beberapa dari mereka yang bertahun-tahun kecanduan games akhirnya bisa sembuh. Tapi ingat, usaha mencapai kesembuhan itu tak mudah. Seperti pemuda yang akrab di sapa Mumu, dia adalah Co Founder dan CEO dari aplikasi Kakatu. Aplikasi ini diciptakan oleh Mumu berdasarkan pengalamannya yang bertahun-tahun kecanduan games.

Kakatu ini adalah aplikasi parental control yang bisa digunakan oleh orangtua sebagai alat untuk bisa mengendalikan anak dalam bermain gadget maupun games. Tapi, harus diingat, keberadaan aplikasi secanggih apapun tak bisa menghilangkan peran orangtua dalam mengawasi anak-anaknya.

“Teknologi adalah penunjang masa depan dan dibuat untuk membantu memecahkan masalah setiap orang, tetapi pengasuhan orangtua tetap tidak dapat dipindahtangankan terhadap canggihnya teknologi”

~ Mumu~

Sebagai orangtua, tentu kita ingin anak-anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik bukan? Kita boleh sibuk mencari nafkah demi masa depan anak yang baik. Tapi, kita tak boleh abai dalam mengawasi anak bermain games. Jika abai, bisa sia-sialah kerja keras kita sebagai orangtua. Ya, beginilah, tantangan orangtua di era digital.

Semoga, 4 hal tadi bisa dipertimbangkan secara matang ya, sebelum orangtua mengizinkan anak bermain games.

Sumber :

17 Rumus Keren #Internet Baik

 

49 Comments

    1. Ety Abdoel

      September 26, 2016 at 9:01 am

      Makasih Mas Budi.

  1. Nisful Ardi

    September 24, 2016 at 12:54 pm

    Sebenernya sih kalau aku ya gampang aja mbak.. kalau aku sih, waktunya sekolah ya berarti full time sekolah *eh enggak juga deng, kadang nyolong” megang gadget*
    dan kalau waktunya udah selesai sekolah baru deh main game, tapi mainnya gak kira” kadang aja dari jam 17.00 sampe 23.00 dipotong waktu sholat.. hehehe parah gak mak?

    1. Ety Abdoel

      September 26, 2016 at 9:02 am

      Lama bener main gamenya.
      Nggak sakit pinggang apa De?

  2. yuni

    September 24, 2016 at 2:29 pm

    Sangat memotivasi

    1. Ety Abdoel

      September 26, 2016 at 9:07 am

      Makasih Bunda..

  3. ruli retno

    September 24, 2016 at 9:49 pm

    Kita sering sih mengabaikan durasi utk anak bermain. Ujung2nya mata anak minus baru deh nyadar

    1. Ety Abdoel

      September 26, 2016 at 9:08 am

      Betul Mba Ruli, saya juga harus lebih hati-hati dalam memberi izin

  4. Lily Kanaya Widjaja

    September 24, 2016 at 11:38 pm

    Dan sebaiknya selalu didampingi orang tua, kalo bisa tayangan atau gamenya bisa di view di tv…Kita orang tua lebih mudah memonitornya 🙂

    1. Ety Abdoel

      September 26, 2016 at 9:11 am

      Betul Mba, orangtua memang sebaiknya mendampingi.
      Meskipun sudah memilihkan game sesuai usia anak

  5. entik

    September 25, 2016 at 4:21 am

    hua…emang susah memisahkan anak-anak dari game. Aku melakukan pembatasan waktu maksimal 2 jam sehari sama anak, tapi ketika anak sudah megang hape lengket dan susye banget diingatkan kalau waktunya maen game dah habis.
    Btw ini ulasan yang menarik.

    salam kenal
    dari jogja 😉

    1. Ety Abdoel

      September 26, 2016 at 9:13 am

      Itu problem kita bersama Mba.
      harus uletkalau anak masih ngeyel padahal jatah main game dah habis.
      Makasih Mba Entik.
      Salam kenal

  6. Ratna

    September 25, 2016 at 5:39 am

    iya mbak iklan di game itu banyak yang tak patut. pernah anakku main game di hp. game nya sih aman, tapi tiap ganti sesi, muncul iklan pop up yang gambar-gambar seronok…hiiii

    1. Ety Abdoel

      September 26, 2016 at 9:27 am

      Nah, itu dia poblemnya juga.
      Kita harus ekstra memilih kan. Gak cuma kontennya, tapi iklan pop up yang kerap nyelonong.

  7. Titis Ayuningsih

    September 26, 2016 at 11:08 am

    Berbicara tentang games, dulu saya kecanduan main ps harvestmoon mbak setiap hari selalu main hehe

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 9:56 am

      Alhamdulilah sekarang nggak lagi kan Mba Titis.

  8. Khoirur Rohmah

    September 26, 2016 at 12:24 pm

    Cukup gelisah juga sma keponakan kecanduan. Bahkan pernah ketika saya sedang pergi ke pusat belanja. Dia asyik main game dan saya sudah lbih dlu jalan utk pulang. Ga taunya dia fokus liatin hpenya. Duhhh….

    Trima kasih bnyak buat sharingnya ya mbak. Bagaimana pun juga, orangtua memiliki peran penting dan juga harus mengetahui btul dmpak dan juga manfaat membri game. Jadi nggak *syukur2* hhee

    ^_^

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 9:58 am

      Waduw, main game sambil jalan?
      Nggak save aja, bisa nabrak sesuatu karena nggak fokus.
      Untung langsung sadar ya Mba.
      Kalau udahjauh kan kasian anaknya.

  9. liza

    September 26, 2016 at 12:34 pm

    adiksi game juga salah satu gangguan jiwa lho mbak, saya sering mendapatkan kasus ini

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 9:59 am

      Makasih infonya bu dokter.
      Salah satu bahaya yangwajib orangtua ketahui nih.

  10. Blogger Kendal

    September 26, 2016 at 1:27 pm

    Saya anak paling yang ga suka games di antara teman lainnya
    entah kenapa, seneng tapi ga bisa mainnya.
    pengen belajar, tapi ga mau ribetnya
    hahahah bingung deh, tapi makasih artikelnya bun, aku jadi luamyan milikin ilmu jika punya ana kelak.

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:00 am

      Siip, nanti kalau udah punya anak jadi tahu cara menghadapinya ya.

  11. Helena

    September 26, 2016 at 5:23 pm

    Orang tua harus selektif memilih game untuk anak. Bahaya kalau sampe kecanduan.

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:01 am

      Betul Mba, selain memilihkan juga harus mengawasi.

  12. Lingga

    September 26, 2016 at 6:32 pm

    Keren mba tipsnya..anakku yg baru 2 tahun aja demen bgt nonton youtube..aduuuh harus dibenerin nih orangtuanya..tfs mba

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:01 am

      Lebih baik begitu Mba, sebelum terlanjur.
      Kita sama-sama belajar.

  13. Lendyagasshi

    September 27, 2016 at 12:55 am

    Mba Ety kalo nulis selalu dalaaamm dan bermakna.
    Bisa jadi inspirasi nulis ttg mba Ety niih..

    Alhamdulillah.

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:03 am

      Waduuw, Mba Lendy bisa aja.
      Itu menyampaikan ulang saja dari internet baik kok.

  14. Nchie Hanie

    September 27, 2016 at 2:24 am

    Anak jaman sekarang emang mayoritas begitu ya Mak, bakalan anteng sendiri dengan bermain games.
    Tinggal pinter2 ortu aja ya membatasi dan memberikan nasehat kapan boleh baik gamesnya. Khawatir anak jadi kecanduan dan akan merusak mata dan jiwanya .

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:05 am

      Sepakat Teh, harus pake aturan dan konsisten.
      Mata sehat dan jiwapun sehat.

  15. Shona Vitrilia

    September 27, 2016 at 6:18 am

    Games oh games.. anak2, 2 n 3th juga mulai tertarik sama games, tp syukurnya blm pd bisa mainin hehe

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:06 am

      Bagus Mba, lebih baik jangan dulu sebelum orangtua menyiapkan aturannya.

  16. ira duniabiza

    September 27, 2016 at 6:47 am

    Duh iya banget mba Ety, Anak zaman sekarang ga bisa lepas dari gadget. Bintang belum 3 tahun udah piawai utak2 dan pilih sendiri game yg dia mau. Memang orang tua kudu ekstra lagi ya mengawasi mereka..

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:07 am

      Sebaiknya gadgetnya difilter Mba Ira, jadi pilihannya sudah tersaring.
      Betul kita gak boleh lengah.

  17. PutriKPM

    September 27, 2016 at 10:28 am

    Bener! Sayangnya banyak orang tua yang belum aware soal games gini. Jadi ada yang beberapa ngebebasin tanpa ngasih aturan ke anaknya. Nah kalau aku nanti jadi orang tua, ndak tau lah bakalan kayak gimana wkwk belom kepikiran

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 10:09 am

      Iya Mba, wajar kalau belum kepikiran soalnya belum di depan mata kan?
      Simpen aja dulu, suatu hari akan berguna

  18. Nurul Fitri Fatkhani

    September 27, 2016 at 5:06 pm

    Wah, ada PR nih! Mencari tau rating game yang suka dimainin anak saya. Anak yang besar, sekarang udah gak tertarik lagi dengan game, tapi yang kecil masih sering main game. Sekarang saya batasi jam untuk bermain gamenya. Biar gak kecanduan, Mbak.

    1. Ety Abdoel

      September 28, 2016 at 11:00 am

      Iya Mba Nurul.
      Banyak PR orangtua jaman sekarang

  19. Rotun DF

    September 28, 2016 at 9:11 pm

    Gadget memang dilema tiada akhir ya Mba. Sampai sekarang aku belum pernah memberi games untuk anak-anak. Baru sebatas video, itupun yang sudah disimpan offline.
    Meski banyak yang bilang banyak juga games edukatif untuk anak, tapi nanti dulu kayaknya. Masih terlalu kecil anak-anakku 🙂

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 9:39 am

      Bagus, Nyak, mending jangan dikenalin dulu kalau belum cukup umurnya.
      Ya, begitulah, sebaiknya dikenalkan padausia yang tepat, dan jangan diberikan tanpa ada aturan sih.

  20. Ranny

    September 29, 2016 at 5:34 am

    Kalo Athar gak ada unduh game tapi ke youtube >.< sebelumnya youtube sih udah disetting dan awasin dia nonton apa, banyakan nonton cars dan tutorialnya. Sampai kemarin bingung loh udah nyasar ke bahasa Rusia :D. Gak setiap hari main yutub *mampus lah kuota hahahha seminggu dua kali dengan durasi 1 jam.
    Tapi memang untuk game ini perlu filter banget, karena bikin ketagihan. Ada memang beberapa game ya yang rawan untuk dimainkan anak-anak.
    Nice info mbak ^^

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 9:43 am

      Wkwkwk, betul kalau yutuban tiap hari bisa nggak ngeblog ya emaknya.
      Betul, karena yang nyebelin itu kadang iklan pop up nya.
      Gak sesuai dengan usia anak-anak.
      Makanya selain difilter gadgetnya, juga harus diawasi.
      Sama-sama Mak rani

  21. cputriarty

    September 29, 2016 at 6:03 am

    Tips kece badai ini bisa saya terapkan nih mbk sama anak-anak di rumah😊biar gak kebablasan☺

    1. Ety Abdoel

      September 29, 2016 at 9:49 am

      Sama-sama Mba Putri.Apa kabar nih?
      Lama nggak bersua

  22. @deravee

    September 29, 2016 at 12:41 pm

    gawat ya mba kalau sampai mengubah struktur otak, makasih sharenya, jadi warning buat aku

    1. Ety Abdoel

      September 30, 2016 at 11:35 am

      Iya, Mba, kita harus hati-hati. Bukan menjauhkan mereka dari teknologi tapi mengenalkan dengan cara yang tepat

  23. Alma Wahdie

    October 10, 2016 at 8:48 am

    Keponakanku di rumah lumayan dibatasi akses gamenya. Eh tapi di sekolah temennya bawa hp x_x baru nyadar ternyata dia malah udah fasih ngegame.

    Keponakan lainnya malah udah kecanduan banget. Takut deh. Tapi ya itu, ibunya membolehkan dg alasan daripada main di luar. Padahal kan …

    1. Ety Abdoel

      October 11, 2016 at 9:57 am

      Ponakannya kelas berapa Mba Alma?
      Moga bukan SD ya. Kalau di sekolah anakku gak boleh tuh bawa hape.
      Ya, begitu sih dilemanya, padahal main di luar gak selamanya buruk.

  24. Ahmad

    February 7, 2017 at 6:54 am

    anak aku , aku kasi waktu main games sktar 1 jam aja

Leave a Reply