Malioberen, Plesiran Malioboro Bareng Komunitas Malamuseum

Malioberen, cara lain menikmati sore di Malioboro. Saya mesti bilang demikian, karena biasanya plesiran di sepanjang Malioboro itu belanja, makan-makan dan foto-foto. Hm, udah mainstream banget, kan. Nah, Malioberen ini akan memberikan pengalaman yang beda dari biasanya. Saya sih, sudah mencobanya. Bagi saya, ada wawasan baru yang saya dapat dari plesiran ini.

Seperti cerita tempo hari. Malioberen ini saya lakukan bersama Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB) yang sedang merayakan KEB5th. Sore itu, saya dan teman-teman berkumpul di titik nol kilometer sebelum memulai plesiran.

Istilah Malioberen dan Malamuseum sendiri, terdengar masih asing, ya. Hasil searching juga menunjukkan informasi yang masih minim. Singkatnya Malioberen itu sebuah wisata edukasi yang digagas oleh komunitas Malamuseum, sebuah komunitas pecinta museum, sejarah dan cagar budaya.

Siapa yang berada dibalik komunitas Malamuseum sebagai penggagas dari Malioberen dan apa aktifitasnya? Ini dia hasil obrolan saya dengan Erwin Djunaedi, salah seorang founder komunitas Malamuseum.

malioberen1
In frame : Erwin Djunaedi

Sekilas Tentang Malamuseum

Ada yang pernah nonton film “Night At The Museum?” Film pertamanya dirilis tahun 2006. Film ini dibintangi oleh Ben Stiller yang berperan sebagai Larry Daley, seorang penjaga museum. Larry mengalami mengalami petualangan seru dan menegangkan saat ia sedang bertugas di malam hari. Ternyata, film yang disutradarai oleh Shawn Levy ini telah menginspirasi sekelompok anak muda yang tinggal di kota Jogyakarta.

Mereka adalah Erwin Djunaedi, Ika Tantri Apsitasari, Ody Dwicahyo, Yayum Kumai dan Bachtiar. Kelimanya adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM. Awalnya pada tahun 2012, komunitas ini bernama Yogyakarta Night At The Museum, merupakan program kreatifitas mahasiswa (PKM) dibawah pembinaan Dikti Kemendikbud. Idenya memang terispirasi dari film Night At The Museum.

Dalam perjalanannya, PMK Kewirausahaan ini berubah menjadi komunitas nirlaba dengan nama Yogyakarta Night At The Museum atau sekarang dikenal dengan nama Malamuseum pada akhir tahun 2013. Dari kelima foundernya, hanya Mas Erwin Djunaedi yang masih aktif.

pict : malamuseum

Masih menurut, Mas Erwin Djunaedi, semua berawal dari rasa penasaran ingin mencoba berkunjung ke museum pada malam hari. Sekaligus ingin mengajak anak muda lainnya agar mau berkunjung ke museum. Mungkin Mas Erwin dan teman-temannya itu, ingin merasakan sensasi berkunjung ke museum dimalam hari, demi mendapat keseruan seperti di film itu. Qaqaqa, enggak ding!

Ide mereka keren kok, mengajak masyarakat untuk mencintai museum dengan memberikan alternatif kunjungan di malam hari. Alasannya kunjungan bisa lebih eksklusif karena hanya ada peserta jelajah museum saja, sehingga bisa leluasa mengenal isi museum. Sensasinya juga beda kali ya, ada rasa serem-seram, gitu. Secara museum di malam hari kan sepi. Apalagi suka ada cerita seram tentang benda-benda kuno yang ada di sana.

Saat ini, Malamuseum beranggotakan 25 orang mahasiswa lintas jurusan dari UGM dan UNY. Ketua komunitas untuk sekarang ini, dijabat oleh Samantha Aditya Putri, yang telah bergabung dengan Malamuseum sejak tahun 2014.

komunitas malam museum
Samantha Aditya Putri, Ketua Komunitas Malamuseum
Pict : Beranda Jogya

Apa Saja Kegiatan Malamuseum?

Komunitas Malamuseum memiliki 3 program utama yaitu:

  • Amazing Race Night At The Museum, kegiatan jelajah museum pada malam hari dengan menggunakan lampu senter dan didampingi guide dari Malamuseum.
  • Kids in Museum, ini jelajah museum khusus untuk anak-anak. Tujuannya supaya anak-anak bisa mengenal dan mencintai museum.
  • Kelas Heritage, kegiatan ini salah satunya adalah Malioberen, jelajah Malioboro dengan mengenal sejarah serta beberapa bangunan yang memiliki nilai sejarah.
kids in museum
kids in museum pict : malamuseum

Kegiatan perdana komunitas Malamuseum telah dilakukan pada tanggal 17 Maret 2012. Malamuseum pada awalnya hanya berkegiatan di malam hari. Namun pada perkembangannya, mereka juga menggelar kegiatan di pagi dan sore hari. Seperti program Kids In Museum yang berlangsung pagi hari, dan Malioberen yang berlangsung sore hari.

Bagaimana dengan minat masyarakat terhadap aktifitas mengunjungi museum? Teryata masih minim. Tempat hiburan seperti mall, waterboom dan wisata alam masih lebih menarik ketimbang wisata museum.

Seperti tagline Malamuseum yaitu Story, Culture And Leisure, pelaksanaan program dikemas secara menarik dengan games-games maupun diskusi seru. Kegiatan ini bisa diikuti baik oleh kelompok, keluarga maupun perorangan.

Sejauh ini ada 6 museum yang bersedia buka di malam hari untuk aktifitas Malamuseum. Museum tersebut adalah Museum Benteng Vredeberg, Museum Anak Kolong Tangga, Museum TNI AU, Museum Jogya Kembali, Museum Sandi dan Museum Sonobudoyo.

Sekilas tentang Malioberen

Istilah Malioberen menurut Malamuseum sebagai penggagas kegiatan ini, adalah istilah yang digunakan pada zaman pendudukan Belanda. Memiliki makna jalan-jalan atau plesiran di Malioboro. Istilah Malioberen diketahui muncul pada tahun 1940 di surat kabar Belanda.

malioberen

Malioberen kemudian diadopsi oleh komunitas Malamuseum sebagai wisata edukasi untuk mengajak masyarakat mengenal sejarah dan cagar budaya yang ada di Malioboro. Plesiran ini hadir setiap Sabtu sore pada jam 15.00 WIB dan 17.00 WIB.

Waktu itu, titik kumpul kami di nol kilometer, dipojokan Benteng Vredeberg. Saya datang agak telat, karena Mas Erwin sudah mulai bercerita. Ada 7 spot yang dibahas:

  1. Titik Nol Kilometer

Mas Erwin bercerita tentang sejarah Malioboro. Konon, Malioboro ini berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Malya Bhara. Kata ini artinya sih karangan bunga. Dahulu, di jalan ini sering dilaksanakan upacara adat keraton. Diceritakan juga tentang 4 jalan utama di Malioboro, lengkap dengan makna filosofisnya.

  1. GPIB Jemaat Marga Mulya

Diceritakan bahwa gereja ini dulunya merupakan tempat peribadatan orang-orang Belanda yang tinggal di Jogya. Dulu gereja ini bernama Protestansche Kerk. Di depan gereja, ada sebuah tugu jam yang dibangun pada zaman kolonial dan masih berfungsi hingga kini.

  1. Pasar Beringharjo

Menurut cerita Mas Erwin, Beringharjo itu berasal dari kata beringin dan harjo yang artinya beringin untuk kesejahteraan. Pasar ini merupakan pasar tertua kedua di Yogyakarta. Diceritakan pula tentang Catur Gatra dimana pasar Beringharjo ada di dalamnya.

  1. Kampung Ketandan

kampung ketandan

Kampung ini merupakan perkampungan Thionghoa. Ketandan berasal dari kata “tondho” atau tanda. Disebut begitu karena di kampung Ketandan, warga masyarakat membayar pajak. Maksud dari tanda itu merujuk pada stempel pajak.

  1. Toko-toko Tua

apotik kimia farma

Disini, Mas Erwin memberitahu kami tentang beberapa ruko atau rumah toko tua dan masih berfungsi hingga sekarang. Diantaranya toko kue Djoen yang merupakan toko kue legendaris. Ada juga Toko Obat Enteng dan Enggal Husada yang menjadi rujukan obat bagi orang Thionghoa. Sementara itu orang-orang Belanda biasa membeli obat di toko obat yang sekarang menjadi apotik Kimia Farma.

  1. Kantor DPRD

kantor dprd

Ada cerita horror di kantor DPRD yang dulunya disebut sebagai Loji Setan. Konon, jika ada orang yang masuk kesitu, nggak bakal bisa keluar. Tidak jelas pula bagaimana nasibnya kemudian.

Dulunya, kantor ini menjadi tempat pertemuan para kaum intelektual yang tergabung dalam organisasi Free Mason. Sebuah organisasi yang menganut paham bahwa setiap manusia itu setara. Lebih jauh mengenai Free Mason dan aktifitasnya bisa disimak dengan mengikuti Malioberen.

  1. Hotel Inna Garuda

Hotel ini merupakan hotel tertua di Jogyakarta, dibangun tahun 1908-1911. Sempat berubah nama menjadi Hotel Asahi saat penjajahan Jepang. Kemudian di tahun 1946, saat pemerintahan Indonesia pindah ke Jogyakarta, hotel ini menjadi kantor kabinet.

hotel inna garuda

Sejak dulu, Malioboro memang dihuni oleh multietnis seperti Thionghoa, India, Jepang, Eropa, maupun Arab. Selanjutnya, orang-orang Eropa tinggal berkelompok di daerah Kota Baru. Etnis Arab bermukim di daerah Sayyidan. Sementara orang Thionghoa tinggal di kampung Ketandan.

Inilah sekelumit cerita tentang sejarah Malioboro dan kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya. Cerita komplitnya bisa didapat dengan ikut Malioberen, Plesiran Malioboro bersama komunitas Malamuseum.

Teman-teman hanya diminta memberi seikhlasnya (pay as you wish) kok, sebagai bentuk dukungan bagi Malamuseum agar terus eksis mengajak masyarakat mengenal sejarah, budaya termasuk mencintai museum. Kalau buat saya, yang selama ini cuek dengan sejarah, banyak hal yang baru saya ketahui setelah ikut Malioberen. Menarik!

Silahkan hubungi komunitas Malamuseum di nomor 08995007066 jika ingin menghabiskan Sabtu sore dengan Malioberen.

Komunitas Malamuseum bisa diikuti di

Facebook : Malamuseum

Instagram :@malamuseum

Twitter      : @malamuseum

26 thoughts on “Malioberen, Plesiran Malioboro Bareng Komunitas Malamuseum

  1. Ooh.. Sayyidan itu kampung Arab to? Asal katanya dari kata Sayyid kali ya? Denger kata Sayidan tu di lagunya siapa itu yaa, yg liriknya:
    Di Sayidan, di jalanan
    Angkat skali lagi gelasmu, kawan..

    Gituuu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *